-----
PEDOMAN KARYA
Jumat, 26 Juni 2026
Sejarah Piala Dunia Sepak Bola FIFA (11):
Mario Kempes Bawa Argentina Juarai Piala
Dunia 1978
Oleh: Asnawin Aminuddin
Piala Dunia FIFA 1978 adalah edisi Piala
Dunia FIFA ke-11, diselenggarakan di Argentina dari 01 Juni hingga 25 Juni
1978. Argentina terpilih sebagai tuan rumah oleh FIFA pada bulan Juli 1966.
Piala Dunia FIFA 1978 dimenangkan
Argentina yang mengalahkan Belanda 3-1 setelah perpanjangan waktu di final. Ini
adalah gelar pertama bagi Argentina yang menjadi tim ke enam (setelah Uruguay,
Italia, Jerman Barat, Brasil, dan Inggris) yang menjadi juara.
Turnamen ini dirusak oleh kontroversi yang
mencolok, politik dalam negeri, dan dugaan campur tangan dan pengaturan
pertandingan oleh pemerintah junta militer otoriter Argentina, yang menggunakan
turnamen ini sebagai kesempatan untuk propaganda nasionalis.
Piala Dunia ini dianggap sebagai cara
untuk mendapatkan prestise di dunia internasional oleh rezim militer Argentina.
Selama beberapa bulan menjelang Piala Dunia, junta militer berniat untuk
membubarkan mereka yang menentang dan meredakan kritik publik terhadap
kebijakan mereka.
Di Indonesia, untuk pertama kalinya,
pertandingan final dan perebutan juara ketiga disiarkan secara langsung oleh
TVRI. Beberapa pertandingan lainnya disiarkan secara tunda di sore hari
sehingga makin menyemarakkan euforia Piala Dunia di Indonesia.
Maskot ofisial Piala Dunia kali ini adalah
Gauchito, seorang anak lelaki yang memakai kostum Argentina. Ia memakai topi
(dengan kata ARGENTINA '78), bandana leher dan cambuk yang merupakan ciri-ciri
seorang gaucho (koboy Amerika Latin).
Peserta
Inggris gagal lolos kualifikasi untuk yang
kedua kalinya pada kualifikasi Piala Dunia, dikalahkan Italia. Yugoslavia dan
Uni Soviet juga gagal lolos turnamen kualifikasi. Tim yang menjadi debut adalah
Iran dan Tunisia, serta Prancis kembali lagi untuk pertama kalinya sejak 1966.
Sama seperti edisi sebelumnya di Jerman,
Piala Dunia 1978 diikuti oleh 16 tim peserta dengan dibagi menjadi dua babak
grup. Ke-16 tim peserta Piala Dunia 1978 adalah Argentina selaku tuan rumah,
Brasil, Peru, Meksiko, Iran, Tunisia, Austria, Perancis, Hongaria, Italia,
Belanda, Polandia, Skotlandia, Spanyol, Swedia, dan Jerman.
Adapun pembagian fase grup pertama Piala
Dunia 1978 adalah sebagai berikut. Grup 1: Italia, Argentina, Perancis,
Hongaria Grup 2: Polandia, Jerman, Tunisia, Meksiko Grup 3: Austria, Brasil,
Spanyol, Swedia Grup 4: Peru, Belanda, Skotlandia, Iran
Kontroversi Sebelum Turnamen
Penyelenggaraan Piala Dunia 1978 di
Argentina berada di bawah bayang-bayang kepemimpinan diktator Jorge Rafael
Videla. Di bawah kekuasaan Videla, rakyat Argentina dihantui rasa takut.
Menurut laporan BBC pada 2013, dilansir
dari Goal International, kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) memperkirakan ada
30.000 orang “dihilangkan” selama periode 1976-1983.
Sebagian besar dari mereka yang menghilang
adalah serikat pekerja, aktivis mahasiswa, jurnalis kritis dan seniman serta
individu yang aktif di gereja atau kampanye anti-kemiskinan.
Piala Dunia 1978 pun dilaksanakan di
tengah-tengah kediktatoran militer berdarah yang sering disebut sebagai Perang
Kotor. Di lain sisi, Jorge Videla ingin menggunakan Piala Dunia 1978 sebagai
momentum untuk mengubah citranya menjadi lebih baik.
Sang diktator ingin Piala Dunia di
negaranya itu berjalan sesukses mungkin. Bahkan, kalau perlu, Argentina harus
menjadi juara.
Sebagai pesan bahwa Argentina telah
dirundung duka akibat kediktatoran Jorge Videla, kelompok oposisi lantas
mengecat tiap gawang stadion dengan lingkaran hitam di bagian bawah.
Gelar Perdana Argentina
Piala Dunia 1978 merupakan edisi ke-11.
Format yang dipakai adalah sistem 2 kali penyisihan grup. Fase grup pertama
diisi oleh 16 tim yang terbagi ke dalam 4 grup. Masing-masing juara grup dan
runner-up berhak lolos ke babak 8 besar.
Di penyisihan grup pertama Argentina
berhasil finis sebagai runner-up Grup 1, di bawah Italia. Mario Kempes dan
kawan-kawan meraih 4 poin dari 3 pertandingan. Berkat hasil itu, Argentina
berhak lolos ke babak 8 besar.
Babak perempat final ini masih menerapkan
sistem penyisihan grup. Sebanyak 8 tim yang berhasil lolos akan terbagi ke
dalam 2 grup, dengan anggota masing-masing 4.
La Albiceleste tergabung dalam Grup B
bersama tim-tim kuat seperti Polandia, Brasil, dan Peru. Di fase ini, hanya
juara grup yang akan melaju ke babak final, sementara tim runner up akan
memperebutkan posisi di tempat ke-3.
Mengutip laporan BBC, beragam kontroversi
mulai terjadi di babak perempat final ini, terutama dalam laga yang melibatkan
tuan rumah. Pasalnya, untuk bisa melaju ke final, Argentina harus menjadi juara
grup.
Di laga pertama, Argentina berhasil
mengalahkan Polandia dengan skor 2-0 melalui dwigol yang dicetak oleh Mario
Kempes. Akan tetapi, La Albiceleste hanya bisa bermain imbang 0-0 menghadapi
Brasil pada matchday ke-2. Hasil itu membuat Brasil lebih diuntungkan secara
matematis, sebab di laga pertama mereka sukses menghantam Peru 3-0.
Laga pemungkas Grup B menjadi kunci
penentu. Argentina akan berhadapan dengan Peru sedangkan Brasil dijadwalkan
bertemu Polandia.
Brasil bermain lebih dulu menghadapi
Polandia. Laga di Estadio Ciudad de Mendoza itu pun berakhir dengan skor 1-3
untuk kemenangan Tim “Selecao” Brasil.
Kemenangan yang diraih Brasil itu membuat
Argentina ketar ketir. Mereka harus menang minimal dengan selisih lebih dari 4
gol. Namun tanpa disangka, mereka berhasil melakukannya. Mario Kempes dan
kolega menghajar Peru 6 gol tanpa balas.
Banyak orang menyebut bahwa kemenangan itu
adalah hasil dari “pengaturan skor”. Fakta bahwa kiper Peru, Ramon Quiroga,
lahir di Argentina semakin memperkuat desas-desus tersebut.
Terlepas dari itu, Argentina pun tetap
melenggang ke partai final berkat keberhasilannya memimpin klasemen Grup A.
Mario Kempes dan kolega memiliki poin sama dengan Brasil yakni 5, tetapi unggul
produktivitas gol.
Laga Final
Peristiwa ganjil tidak berhenti, meskipun
Argentina sudah berhasil lolos ke babak final. Sebelum partai puncak antara
Argentina vs Belanda berlangsung, panitia penyelenggara tiba-tiba mengganti
wasit pertandingan tanpa alasan yang jelas. Rencana semula, laga itu bakal
dipimpin oleh wasit asal Israel, Abraham Klein.
Namun, kebijakan pihak penyelenggara
membuat Klein terpaksa dipindah untuk memimpin laga perebutan peringkat 3
antara Brasil vs Italia. Sementara itu, duel Argentina vs Belanda dipimpin oleh
wasit Sergio Gonella, asal Italia.
Laga final pun digelar. Argentina berhasil
unggul lebih dulu melalui gol Mario Kempes pada menit ke-38. Akan tetapi,
penyerang Belanda Dick Nanninga berhasil menyamakan kedudukan, 8 menit sebelum
waktu normal usai. Gol itu pun menunda pesta kemenangan tuan rumah dan memaksa
laga berlanjut ke perpanjangan waktu.
Sayangnya, Belanda gagal mencetak
comeback. Di sisi lain, tuan rumah justru semakin garang. Pada menit 105, Mario
Kempes lagi-lagi membuat Argentina unggul 2-1. Kemenangan La Albiceleste
akhirnya disempurnakan oleh gol Daniel Bertoni, 5 menit sebelum peluit panjang
berbunyi.
Skor telak 3-1 itu sekaligus memastikan
Argentina memboyong gelar juara Piala Dunia untuk pertama kali di negaranya
sendiri.
Argentina pun tercatat sebagai negara ke-6
yang berhasil menjuarai Piala Dunia setelah Uruguay, Italia, Jerman Barat,
Brasil, dan Inggris. Belanda untuk kedua kalinya secara beruntun gagal meraih
trofi. Pada edisi sebelumnya, Piala Dunia 1974, Die Oranje dikalahkan Jerman
Barat di partai final, dengan skor 2-1.
Hingga saat ini, Tim Oranye masih belum
sekali pun mampu merengkuh gelar juara Piala Dunia. (bersambung)
.......
Referensi:
Piala
Dunia FIFA 1978; https://id.wikipedia.org/wiki/Piala_Dunia_FIFA_1978; dikutip
pada Rabu, 24 Juni 2026
Kilas
Balik Piala Dunia 1978: Argentina Juara di Tengah Kontroversi; https://www.kompas.com/sports/read/2022/10/06/18200078/kilas-balik-piala-dunia-1978--argentina-juara-di-tengah-kontroversi?page=all;
dikutip pada Kamis, 25 Juni 2026
Kilas
Balik Piala Dunia 1978: Argentina Juara Belanda Gagal Lagi; https://tirto.id/kilas-balik-piala-dunia-1978-argentina-juara-belanda-gagal-lagi-gxtP,
dikutip pada Kamis, 25 Juni 2026
