![]() |
| Ajoeba Wartabone (kanan) bersalaman dengan Presiden Soekarno. (int) |
------
PEDOMAN KARYASabtu, 20 Juni 2026
Catatan dari Bedah Buku Ayuba Wartabone:
”Sekali Ke Djokja Tetap ke Djokja”:
Melacak Arsip Ajoeba Wartabone di Makassar
Oleh: Eddy Thamrin
(Sastrawan, Budayawan)
Kota Makassar awal 1947 berfungsi sebagai
ibukota suatu “Negara Bagian”, yakni Negara Indonesia Timur, NIT, yang nantinya
menjadi bagian dalam “Negara Indonesia Serikat” (NIS).
NIS dikonsep dan diperjuangkan oleh Wakil
Pemerintah Belanda di Indonesia, Dr. Hubertus Johannes Van Mook, melalui
Konferensi Malino dan Denpasar. Di tempat konferensi terakhir itulah dilahirkan
“Bayi” NIT. (L.E Manuhua, 1995. Hal 40)
Di Kota Makassar yang kosmopolitan dan
multietnis membuat kota didatangi para politisi dari seluruh penjuru Indonesia
bagian timur maupun politisi dan wartawan dari Negeri Belanda dan negara-negara
lain.
Maka tak pelak berlangsung berbagai
kegiatan yang masing-masing bertujuan berbeda. Para republikan berjuang untuk
meruntuhkan keberadaan embrio negara bagian tersebut. Mereka gencar dalam
tarung ideologis yang dilancarkan di dalam dan di luar perlemen oleh golongan
Republikein pendungkung proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. (Dias
Pradadimara, Juli 2004)
Dan hari itu, Selasa, tanggal 29 April
1947 berlangsung sidang parlemen NIT, Ajoeba Wartabone dari faksi progresif,
republikan, di depan faksi federalis ketika mendapat giliran menyampaikan
pandangan umum di sidang parlemen, dengan lantang meneriakkan pernyataan “Sekali
ke Djokja, Tetap ke Djokja”. (Basri Amin, 2025)
Apakah sidang parlemen NIT itu berlangsung
di Gouverneurskantoor Celebes, Kantor Gubernur Celebes, Makassar yang dibangun
tahun 1937?
Kantor Gubernur Celebes, berlokasi di
kawasan Kerkplein, suatu kawasan aun-alun dekat gereja, terletak di sisi timur
Benteng Fort Rotterdam. Tepat di depan Gereja Protestan Immanuel.
Kantor ini berlantai dua, kompleks itu di
utara dibatasi oleh Hooge pad, Jalan Jenderal
Ahmad Yani, dimana terdapat pintu masuk utama, di sebelah Timur ada
Gouverneurs laan, jalan Balai Kota, dan di Barat oleh Ravelinjnsweg, Jalan
Slamet Riyadi. (SIMCABUD Makassar)
Di seberang Hooge pad, di utara kantor
Gubernur ada hotel Oranje yang bergaya art deco, dibangun sekira tahun 1920-an.
Para anggota parlemen diduga menginap di hotel Oranje yang kemudian berganti
nama jadi Grand Hotel yang kini jadi kantor BRI Makassar.
Di sebelah barat hotel ada jalan
Klapperlan yang kemudian berubah namanya menjadi Jalan Jampea dan sekarang
bernama jalan Ho Eng Djie. Jalan tersebut yang mengantarai Grand Hotel dengan
Gedung Societeit de Harmonie.
Atau.
Dari sumber lain ada yang menginformasikan
bahwa tempat pelaksanaan sidang pertama Parlemen NIT, dilaksanakan di Gedung
Societeit de Harmonie, GSdH, yang dibangun tahun 1896. Bangunan ikonik ini
semua merupakan tempat eksklusif untuk dansa, pesta, dan pertemuan petinggi
militer serta bangsawan Eropa.
Mengapa GSdH diinformasikan pernah jadi
lokasi sidang Parlemen Negara Indonesia Timur NIT. Karena kerap digunakan untuk
acara-acara seremonial besar, rapat pleno, dan resepsi formal kenegaraan NIT,
kapasitasnya besar dan ruangannya luas.
Kedua gedung itu yang sangat
reperesentatif di tahun 1947 untuk melaksanakan perhelatan besar yang
melibatkan 70-an delegasi dan rombongannya.
Atau di gedung parlemen NIT yang berada di
belakang Gereja Katedral, tepatnya di bagian belakang bangunan sekolah Frater
si jalan Thamrin no 3 Makassar?
Tidak tercantum penegasan tentang alamat
yang tepat dimana pelaksanaan sidang Perelemen NIT ketika itu, pada buku yang
ditulis Basri Amin edisi pertama.
Padahal di lokasi itulah dinamika
perdebatan politik besar, termasuk orasi-orasi masing-masing fraksi, banyak
disuarakan dan disaksikan oleh publik.
Kehadiran Ajoeba di sidang parlemen NIT
adalah sebagai Anggota Badan Perwakilan sementara. Pernyataan Ajoeba di sidang
parlemen NIT disambut riuh tepuk tangan dan siulan dari hadirin. (Basri Amin
2025. 4)
Ketika direcek ternyata versi Massiara
yang tertulis adalah nama Nani Wartabone-adik Ajoeba. (Massiara, 1988,274)
Teriakan Ayuba ketika itu memicu situasi
puncak ketegangan perdebatan, adu argumentasi antar faksi pada sidang Parlemen
Negara Indonesia Timur NIT yang selanjutnya mengubah peta kekuatan politik di
dalamnya. Moment yang menjadi penanda, Ajoeba kian menegaskan bahwa dirinya
sebagai nasionalis sejati.
Perdebatan dalam parlemen kemudian
diwarnai oleh mosi tidak percaya kepada kabinet yang sedang berkuasa yang
mengakibatkan usia kabinet tidak bertahan lama. (Luhukay, manuskrip
t.th.).
Hanoch Luhukay mencatat bahwa ketegangan
di dalam Gedung sidang memang tidak berdiri sendiri. Setiap kali debat memanas,
suasananya langsung merembet ke jalanan kota Makassar.
Di tempat lain, konflik di luar parlemen
terjadi dalam banyak bentuk aksi solidaritas, demonstrasi, pemasangan pamflet
slogan, selebaran gelap dan coretan dinding di sudut-sudut kota Makassar,
pemuatan karikatur dalam surat kabar, pemasangan poster di tempat-tempat umum,
mogok kerja massal dari serikat buruh pelabuhan dan pemuda di Makassar dan
lain-lain.
Semua bentuk drama politik tersebut adalah
upaya untuk membubarkan Negara Indonesia Timur (NIT) dan kembali ke Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut mempertegas kegagalan Belanda dalam
menjinakkan opini publik di Indonesia Timur. Ajoeba pada kesempatan ini
mengukuhkan perannya sebagai republiken, nasionalis sejati.
Secara simbolik, keberadaan kelompok
oposisi pro-Republik di parlemen NIT dipahami sebagai “kuda troya” yang
kemudian sukses melumpuhkan pengaruh kaum kolonial dari dalam sistem mereka.
Puncak dari protes dan tuntutan tersebut
terjadi ketika dilaksanakannya sosialisasi Proklamasi RI, di Polombangkeng,
Takalar. Aksi Penolakan Negara Indonesia Timur (NIT), oleh masyarakat kian
menguat dengan melakukan penekan besar-besaran yang menampilkan karikatur
perlawanan, protes anti-federalis dan menuntut pembubaran NIT agar kembali ke
NKRI
Slogan “Sekali ke Djokja, Tetap ke Djokja”
yang disuarakan di sidang parlemen kemudian digunakan menjadi simbol perlawanan
politik-intelektual untuk menolak federalisme ala Belanda sekaligus menegaskan
kesetiaan mutlak anak bangsa kepada Republik Indonesia yang berpusat di
Yogyakarta.
Terbilang sedikit pewarta yang
memberitakan peristiwa monumental itu di media massa. Hanya ada di liputan
koran Kedaulatan Rakyat (KR) dan Harian Merdeka: Surat kabar pro republik yang
terbit di Yogyakarta.
Liputan kedua surat kabar tersebut
diketahui sering membakar semangat para pejuang di Jawa dengan narasi bahwa
saudara-saudara mereka di Makassar, Bali, dan Manado juga sedang melewati jalur
diplomasi di parlemen.
Pemberitaan yang cukup luas terutama
melalui jejaring organisasi kebangsaan dan persebaran kabar-kabar parlemen oleh
surat kabar pro-Republik dari Makassar ke seluruh Indonesia makin menebalkan
pergolakan antara federalisme dan unitarianisme di Indonesia Timur.
Lalu bagaimana pemberitaan koran di Makassar? (bersambung)
