Balla Barakkaka ri Galesong, Pustaka, dan Pusaka Syekh Yusuf

BALLA BARAKKA. Prof Aminuddin Salle Karaeng Patoto (berdiri di tengah, keempat dari kiri) foto bersama beberapa tamunya yang berkunjung di Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG), Takalar, Kamis, 02 Juli 2026. (ist)  

 

-----

PEDOMAN KARYA

Ahad, 05 Juli 2026

 

Balla Barakkaka ri Galesong, Pustaka, dan Pusaka Syekh Yusuf

 

Rampea golla, naku rampeki kaluku

 

Oleh: Rusdin Tompo

(Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

 

Ada prosesi penyambutan yang sarat makna filosofis, yang dilakukan Prof Aminuddin Salle Karaeng Patoto, pada setiap tamunya yang berkunjung di Balla Barakkaka ri Galesong (BBrG).

Secara simbolik, pendiri Kampung Adat, Budaya, dan Konstitusi BBrG, menjamu tamu kehormatannya dengan umba-umba (onde-onde atau klepon). Bahkan beliau sendiri yang mengambil umba-umba dari bosara yang sudah disediakan, lalu disuapkan ke tamunya, dengan mengucapkan basmalah.

“Umba-umba ini simbol dari hidup bahagia dan sejahtera. Ini kue khas Makassar. Pada saat masih mentah dan dimasukkan ke dalam air mendidih, dia tenggelam. Begitu matang, dia akan muncul ke atas, disebut ammumbai. Siapapun yang datang, apakah dia seorang menteri, panglima, duta besar, Ketua MK, kami upayakan suguhkan umba-umba. Ini dimakan, tidak boleh disentuh. Jadi bayangkan, dari tanganku, kita sama-sama berdoa, semoga senantiasa hidup tenang, bahagia, sejahtera, salewangang. Bismillah,” kata Prof Aminuddin Salle Karaeng Patoto.

Kami, satu-satu maju mendekat, lalu disuap umba-umba oleh Karaeng Patoto, yang pada tanggal 02 Juli 2026, genap berusia 78 tahun.

Prof Hamdar Arraiyyah, Prof Kembong Daeng, Yudhistira Sukatanya dan istrinya, Dewi Ritayana, mendapat giliran pertama, disusul Syahril Rani Daeng Nassa, dan M. Amir Jaya.

Saya juga diminta maju untuk disuapi umba-umba. Prosesi ini disaksikan istri Karaeng Patoto, Hj. Suryana Daeng Memang, dan anaknya Dr. Buyung Romadhoni, yang juga merupakan Kepala Sekolah Adat, Budaya, dan Konstitusi BBrG.

Hadir di atas Balla Barakka—yang merupakan bangunan utama—Abdul Jalil Mattewakkang, penggiat budaya dan literasi, serta Muhammad Hijaz Daeng Temba, salah seorang keturunan Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari.

 

Bangun Masjid Al-Amin

Selama berada di BBrG, kami banyak mendengar cerita Karaeng Patoto tentang upayanya menghadirkan sebuah perubahan tanpa perlu grasah-grusuh. Sebagai dosen dan pakar hukum adat, beliau paham metode mendekati masyarakat dengan nilai budaya dan kearifan lokal Makassar.

Dalam bahasa agama, beliau melakukan dakwah bil hal, sekaligus dakwah bil lisan, dengan memberi contoh langsung melalui perbuatan dan tindakan, bukan sekadar berteori.

Kesan ini saya tangkap, setelah mendengar kisah sejarah pembangunan Masjid Al-Amin, yang berada di sisi selatan Balla Barakka. Katanya, tanah masjid yang ditempati, tadinya bukan termasuk miliknya. Kondisinya masih berupa rawa-rawa, dan sangat kotor, ketika dibeli. Ada juga palontang (tempat minum ballok atau tuak) di situ. Kemudian beliau bangunkan masjid di atas tanah tersebut.

“Suatu ketika, di antara mereka yang punya tanah, bertengkar, memperebutkan tanah warisan orangtuanya. Ketika saya dengar, saya panggil. Saya bilang, bagaimana kalau saya beli ini tanah, lalu kalian bagi-bagi. Berhentimaki’ bertengkar. Alhamdulillah, sekarang ada masjid, sebagai penanda dan pengingat,” cerita Karaeng Patoto.

Ketika membagikan kisah pendirian masjidnya, beliau menyelipkan sebuah dialog yang penuh makna. Bahkan kalimatnya diulang pelan-pelan, agar kami mencamkannya. Bahwa ada konsekuensi dari setiap kebijakan dan sikap tegas yang diambil, termasuk bila itu dilakukan penguasa.

“Nasabak punna ballomo nilakleang, tenamo tubarani. Napunna kabotorangamo nitongkok, tenamo sima. Punna akjinamo nipassalese, tena maki antu akkoasa.”

Beliau mengapresiasi semangat orang-orang yang dengan murah hati dan tulus berdonasi. Kebaikan yang ditunjukkan oleh berbagai pihak sedemikian besar, dalam pembangunan masjid.

Begitu peletakan batu pertama, kata beliau, langsung masuk sumbangan. Peletakan batu pertama Masjid Al-Amin BBrG, dilakukan oleh Bupati Takalar, Syamsari Kitta, pada 01 Juli 2018.

Hanya dalam rentang lebih setahun, masjid pun diresmikan, tepat pada 27 Oktober 2019, juga oleh Syamsari Kitta. Acara peresmian bersamaan dengan kunjungan Bupati Takalar, saat kegiatan Gema Tasamara Camp 2019.

Kawasan BBrG ini, memang dipersiapkan oleh Karaeng Patoto sebagai lokasi pengembangan dan pelestarian adat, budaya, nilai-nilai konstitusi dalam falsafah dan kearifan kultural Makassar, serta seni dan aksara Lontarak Mangkasarak.

Apa yang dilakukan Karaeng Patoto telah ditulis dan didokumentasikan dalam buku berjudul Aminuddin Salle: Sang Pelestari Aksara, karya Abdul Jalil Mattewakkang, S,Pd, MH, MM, Muhammad Iqramsyah Djalil, dan Muhammad Asmin Rahman, terbit tahun 2023. (bersambung)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama