![]() |
| Selamat Spanyol! Kalian telah memenangkan hati para pejuang kemanusiaan dan keadilan, jauh sebelum kalian memenangkan trophy itu. (Foto tangkapan layar Youtube: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA) |
-----
PEDOMAN KARYA
Senin, 20 Juli 2026
Dari Kita Semua, Gracias
Espana
Oleh: Shamsi Ali
Al-Nuyorki
(Pecinta Sepak
Bola di Kota New York)
Entah kenapa, saya
sangat menggemari sepak bola. Saya mengikuti Piala Dunia sepak bola kali ini
sejak awal. Berusaha paham seluk beluk dan arah pergerakan kompetisi. Sejak
kecil sepak bola selalu menjadi kesukaan saya, walau saya bukan pemain bola
yang baik.
Namun kali ini,
hal yang menarik perhatian bahkan menyentuh hati saya, bukan sekadar bola dan Piala
Dunia. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam dan mulia dari sekadar Piala Dunia sepak
bola.
Simpati dan dukungan
saya untuk Spanyol. Hari ini saya bahagia. Tim favorit saya, Spanyol, tidak
saja memenangkan Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah, tapi
mendominasi permainan melawan Argentina yang ditengarai anak emas FIFA.
Jutaan orang
bertepuk tangan dan merayakan taktik permainannya yang cantik. Lalu pada
menit-menit terakhir berhasil mendobrak gawang lawan, mewujudkan mimpi untuk
mengangkat trofi itu.
Sejujurnya,
simpati dan dukungan saya kepada Spanyol sudah tumbuh jauh sebelum peluit di
pertandingan ditiupkan. Simpati dan dukungan saya bermula ketika Gaza melewati
masa-masa tergelapnya, dan Spanyol menolak untuk memalingkan muka.
Ketika banyak
negara dunia memilih diam, jalan dan lorong-lorong di Spanyol justru memilih
untuk bersuara lantang. Dari Madrid hingga Barcelona, dari Valencia hingga
Sevilla, lautan manusia tumpah ruah: mahasiswa, pekerja, keluarga, membawa
bendera Palestina dan meneriakkan penentangan kepada kezholiman dan genosida.
Mereka menuntut
agar penderitaan bangsa Palestina segera dihentikan, agar mereka juga dipandang
sebagai manusia.
Di saat politik
dunia dikuasai oleh kepentingan, kalkulasi, dan standar ganda, Spanyol di
banyak momen sulit yang kritis justru memilih untuk menempatkan kemanusiaan dan
keadilan di atas segalanya.
Saya sangat sadar,
tidak ada negara yang sempurna. Saya tahu politik tidak pernah sesederhana itu.
Namun Spanyol menjadi salah satu negara dengan suara paling lantang di Eropa
untuk membela hak-hak Palestina.
Spanyol mengakui
Negara Palestina, menyerukan penghentian pengiriman senjata, dan membangun
dukungan dan solidaritas di ruang-ruang publik, walau dalam tekanan yang berat.
Coba sesaat
bayangkan. Jika kamu dan saya hidup di bawah pemboman setiap waktu, dibuntuti
pembantaian sadis, pastinya kamu dan saya akan ingat jelas siapa yang
memalingkan wajahnya dan siapa yang tetap berdiri di sampingmu.
Maka ketika hari
ini saya berteriak lantang: “Selamat Spanyol!”, saya tidak hanya memberi
selamat kepada sebelas pemain di atas lapangan. Saya memberi selamat kepada
sebuah bangsa: rakyat dan pemerintahnya.
Saya memberi
selamat kepada rakyat Spanyol yang telah membuka jalan-jalan mereka untuk
perjuangan bangsa Palestina tetap membara, membela hak mereka untuk hidup
dengan martabat dan merdeka, dan membuktikan bahwa rasa welas asih masih hidup
di dunia ini.
Untuk pemerintahan
Spanyol, terima kasih atas komitmen dan kosistensi dalam membela kebenaran dan
keadilan. Tanpa ragu memutuskan hubungan diplomasi dengan negara penjajah yang
kejam, yang tidak memiliki pri-keadilan dan kemanusiaan.
Pertandingan sepak
bola telah selesai. Stadion sudah kosong. Trofi suatu hari nanti akan berdebu
di dalam museum. Tapi pembelaan kalian kepada keadilan dan kemanusiaan akan
hidup selamanya.
Selamat Spanyol! Kalian
telah memenangkan hati para pejuang kemanusiaan dan keadilan, jauh sebelum
kalian memenangkan trophy itu.
Dari para pejuang
kemanusiaan dan keadilan terkirim cinta: Gracias, España. Terima kasih telah
berdiri bersama mereka yang lemah dan terlemahkan: bangsa Palestina!
Jamaica Hills, 19 Juli 2026
