-----
PEDOMAN KARYA
Senin, 06 Juli 2026
Indonesia SAKTI
Oleh: Syamril
(Direktur Sekolah Islam Athirah)
Beberapa pengamat khususnya yang kritis
mengatakan bahwa Indonesia sedang sakit, kondisi tidak baik-baik saja. Apa yang
dibutuhkan agar Indonesia tidak tambah sakit? Bisa kuat dan menjadi sehat?
Saya mencoba mengambil dari kata sakit,
dengan menukar dua huruf terakhir dan membentuk kata SAKTI. Ada 5 huruf dan
membentuk kata Syukur, Amanah, Kerja sama, Tindakan, Iptek-imtaq.
Pertama, syukur. Indonesia dianugerahi
oleh Allah sumber daya alam yang sangat kaya. Juga sumber daya manusia yang
masuk dalam usia produktif yang sangat besar, mencapai 65%. Jika semua anugrah
itu bisa disyukuri dengan cara digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran
rakyat maka Indonesia akan menjadi negara maju dan sejahtera.
Permasalahannya sekarang hanya dinikmati
oleh segelintir kaum elit. Para oligarki, pengusaha dan oknum penguasa
menikmati keuntungan besar dari sumber daya alam yang ada. Pemerintahan
Presiden Prabowo bertekad kuat untuk melakukan pembenahan. Harapannya sumber
daya alam dinikmati oleh rakyat banyak.
Kedua, yaitu amanah. Negara butuh tata
kelola dan pengelola yang amanah. Tata kelola terkait dengan sistem, regulasi,
peraturan dan lainnya. Tata kelola yang baik memiliki ciri-ciri TARIF yaitu
transparan, akuntabel, responsif, inklusif dan fair. Tata kelola harus didukung
oleh pengelola negara yang berintegritas, profesional, dan kredibel. Memiliki
trust dan respek yang tinggi.
Problem besar dihadapi oleh bangsa
Indonesia pada sisi ini. Ketidakstabilan ekonomi diduga salah satu penyebabnya
karena tata kelola dan pengelola yang belum amanah. Ada harapan saat awal
diangkat, Presiden Prabowo segera melakukan perubahan yang radikal dan
mendasar. Namun harapan itu belum terwujud.
Mungkin kalkulasinya tidak sederhana.
Semoga segera ada perbaikan sehingga tata kelola dan pengelola negara ini
adalah orang-orang yang amanah.
Ketiga, yaitu kolaborasi atau kerja sama.
Era sekarang bukan lagi era super human tapi super team yang saling sinergi,
topang menopang, menguatkan dan kerja sama. Bahkan dengan pesaing pun tidak
hanya berkompetisi (bersaing) tapi juga berkoopetisi (bekerja sama). Saling
memadukan potensi untuk membangun sinergi bahkan dengan 'lawan' sekalipun.
Disinilah perlunya pemerintah mengelola
dengan baik kelompok masyarakat yang kritis dari LSM, mahasiswa, dosen,
pengamat, jurnalis, dan lainnya. Jangan dimusuhi tapi diajak berdialog dengan
kepala dingin dan hati terbuka.
Jangan diabaikan apalagi dibenturkan
dengan kelompok lain sesama anak bangsa. Lihat apa yang disampaikan, bukan
siapa yang menyampaikan. Selama semua berangkat dari semangat cinta Indonesia,
maka akan ada titik temu dan sinergi bersama.
Keempat, yaitu tindakan. Salah satu
penyebab tidak ada kemajuan karena berputar di wacana, narasi, omon-omon. Perlu
ada tindakan agar apa yang dimimpikan bisa terwujud.
Ingin Indonesia bebas dari korupsi segera
bertindak berantas korupsi. Ingin Indonesia cerdas segera bertindak
prioritaskan pembangunan pendidikan. Ingin Indonesia lepas dari cengkeraman
oligarki hitam, segera bertindak dengan tegas tanpa pandang bulu.
Kelima yaitu iptek dan imtaq. Dengan ilmu
pengetahuan dan teknologi sumber daya alam akan menghasilkan nilai tambah yang
besar karena diolah. Sumber daya manusia juga
berdaya saing tinggi karena kompeten. Juga perlu dilandasi iman dan
taqwa. Itulah kunci keberkahan agar kemakmuran yang dihasilkan memberi kebaikan
yang berkelanjutan.
Itulah 5 kunci yang bisa membuat Indonesia
sehat, kuat dan disegani di pergaulan dunia. Syukur, Amanah, Kerja sama,
Tindakan, Imtaq - Iptek (SAKTI).
Membangun manusia Indonesia seutuhnya yang
seimbang iman, ilmu dan amal. Kehidupan bangsa dan negara yang adil, makmur,
sejahtera lahir dan batin, selamat dunia akhirat.***
