------
PEDOMAN KARYA
Rabu, 15 Juli 2026
Siswa Disabilitas SLB 1 Makassar Tampilkan Teater Monolog
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA).
Ada yang berbeda di hari ketiga kegiatan Masa
Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Kota
Makassar, tepatnya di Aula Handayani Kompleks SLB Negeri 1 Makassar, Jalan
Daeng Tata Perumahan Hartaco Indah, Rabu, 15 Juli 2026.
Aula yang berkapasitas 500 orang lebih ini
sudah dipadati oleh orang tua siswa dan siswa sekolah tersebut sejak pukul 08.00
Wita. Yang menarik minat dari kepadatan ini adalah tampilnya sebuah pertunjukan
teater oleh seorang siswa berkebutuhan khusus di sekolah tersebut.
Ia mementaskan sebuah teaterikal di atas
panggung selama 15 menit seorang diri. Bertema monolog hening, Abdirrohman Ash
Shiddiq alias Noval sukses memukau orang
tua, guru serta rekan-rekannya melalui berbagai gerak dan mimik tubuh
memperagakan sebuah cerita teater agar dipahamai oleh penonton.
Keterbatasan fisik berupa tak mendengar
dan tak bersuara, tak membuat Noval memiliki hambatan untuk menunjukkan
bakatnya yang luar biasa di atas panggung. Buktinya selama belasan menit aksi
panggungnya, Noval mampu membuat penonton di bawah panggung berdecak kagum dan
diapresiasi tepuk tangan berkali-kali.
Pementasan teater yang pertama di sekolah
khusus di Sulawesi Selatan ini, dimentori langsung oleh Komunitas Kala Teater,
sebuah komunitas seni pertunjukan paling aktif di Kota Makassar sejak eksis di tahun
2026 lalu.
Yang menarik dari teater monolog yang
diperankan Noval ini, tak membutuhkan waktu lama untuk dilatih dalam seni peran
dan pertunjukan. Waktu tak lebih dari sepekan, tangan kreatif sutaradara dari
Kala Teater Muhammad Irsan, mampu membentuk karakter baru bagi Noval.
Inisiator Program Monolog Hening ini,
mengubah Noval dari siswa berkebutuhan khusus mampu menyamai siswa normal untuk
urusan seni dan pertunjukan seorang diri.
Dalam Monolog Hening yang dipentaskan
Noval ini, mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda tuli yang berusaha
menjalani kehidupan dengan penuh semangat di tengah masyarakat yang minim
memahami keberadaan disabilitas di sekitarnya.
Melalui sudut pandang pribadi yang
diperankan, Noval membawa pesan kepada masyarakat agar menyelami dunia yang
kerap disalahartikan sebagai “sunyi”, padahal baginya dunia ini penuh warna,
gerak, dan makna.
Muhammad Irsan, mengatakan, tema monolog
hening yang diperagakan Noval, mengajak masyarakat menjadi dewasa, agar tak ada
lagi terjadi sikap diskriminasi, melecehkan dan memperlakukan keterbatasan
anak-anak disabilitas menjadi tindakan bulliyan yang merugikan.
“Mereka juga adalah anak-anak yang butuh
berkembang di tengah masyarakat secara sosial, butuh masa depan yang akan
membawanya menjadi manusia yang sukses dan bekrualitas kelak,” kata Irsan.
Noval adalah satu dari ratusan siswa
berkebutuhan khusus di SLBN 1 Kota Makassar. Ia adalah persona dari ribuan anak
yang memiliki keterbatasan di Sulawesi Selatan yang serupa
Plt. Kepala Sekolah SLBN 1 Kota Makassar,
Dr Muhammad Nur MPd, mengaku sangat mengapresiasi hadirnya kelas teater di
sekolah yang dipimpinnya.
Ia mengatakan bahwa untuk mengembangkan
talenta dan bakata siswa, dibutuhkan sebuah kolaborasi dengan berbagai pihak
yang akan mencari dan membentuk bakat siswa yang sangat berguna sebagai
penunjang kehebatannya kelak.
“Sekolah itu bisa maju kalau ada
kolaborasi dengan masyarakat, dengan industri, apalagi pemerintah. Hadirnya
Kala Teater membawa dampak tak sedikit untuk anak-anak. Mereka bisa mengenal
apa itu teater dan sebelumnya yang mereka tak pahami. Ini tak hanya berguna
bagi pengembangan karakter bagi siswa, tapi juga memberi inspirasi bagi
guru-guru dalam mengembangkan khazanah mengajar di kelas,” kata Muhammad Nur.
Ia berharap bahwa kelas teater ini akan
berjalan menjadi sebuah kegiatan ekstra disekolah yang menjadi tempat berlajar
bagi siswa dalam mengembangkan diri, bakat dan karyanya.
Kepala Bidang PKPLK Disdik Provinsi
Sulsel, Sary Diana Muallim, mengungkapkan apresiasi sepenuhnya kegiatan Monolog
Hening ini. Ia begitu bangga dengan kegiatan yang memberi perhatian khusus
kepada anak-anak disabilitas terutama dalam pengembangan diri dan potensi yang
dimiliknya.
“Saya berharap, kegiatan seperti ini tak
hanya dilaksanakan di sekolah ini (SLBN 1), tapi juga dilaksanakan di sekolah-sekolah
luar biasa lainnya yang jumlahnya demikian besar hingga ke daerah-daerah di Sulawesi
Selatan. Kenapa seperti itu? Karena anak-anak kita, selalu mengikuti lomba
kegiatan hingga ke tingkat nasional seperti lomba pantomin dan lain sebagainya.
Maka dengan bimbingan seperti ini, anak-anak akan memiliki skill yang baru
dengan kemampuan yang bisa diandalkan menjadi anak-anak hebat dengan berbagai
bakat,” kata Sary Diana.
Teater monolog yang berlangsung hari ini
juga menjadi penanda diresmikannya sebuah kelas baru bernama kelas Program
Khusus Pengembangan Diri. Selain itu, secara sembolis juga dilakukan
pengguntingan pita merah oleh Kepala Bidang PKPLK Disdik Propinsi Sulsel, Sary
Diana Muallim didampingi oleh Ketua Aptadi Provinsi Sulsel Dr Iis Masdiana, Plt
Kepsek SLBN 1 Muhammad Nur, mantan Kepsek SLBN 1 Andi Hamjan, serta Ketua
Komite SLBN 1, Drs. Sederhana Ali.
Dalam doanya sebelum menggunting pita
merah, Sary Diana berharap, hadirnya kelas program khusus ini mampu menjawab
tantangan kebutuhan pengembangan diri bagi siswa-siswa disabilitas di sekolah
tersebut.
Siswa tak hanya butuh pendidikan akademik,
tapi pengembangan diri dan talenta anak juga menjadi bagian penting bagi
kemajuan sekolah dan siswa itu sendiri. Pengguntingan pita ini disambut dengan
apresiasi tepuk tangan guru-guru yang hadir.
Dalam kelas pengembangan diri ini terdapat
sejumlah kegiatan belajar dan ekstra kokurikuler yang sudah berjalan di SLBN 1
sejak lama, seperti kelas marching band, kelas Pramuka, kelas menari, kelas
seni membatik, kelas menjahit, kelas teknik pertukangan dan yang terbaru kelas
seni teater.
Dari sejumlah kelas ekskul ini, beberapa
di antaranya telah menyabet juara dalam lomba baik tingkat provinsi maupun
tingkat nasional.
Tak hanya launching kelas program khusus
dan teater monol hening, akhir kegiatan dirangkaikan dengan dua dialog publik
di Alua Handayani.
Dialog publik yang berlangsung pagi hingga
siang hari dengan narasumber, inisiator dan sutradara monolog hening, Muhammad
Irsan, Iis Masdiana, Plt Kepsek Dr Muhammad Nur, M.Pd yang dipandu oleh guru
SLBN 1, Andi Hamjan, S.Pd, M.Pd.
Dialog publik berlangsung sore hari di tempat
yang sama. Muhammad Irsan dan Iis Masdiana membahas tentang kesetaraan dan
diskriminasi terhadap penyandang disabilitas atas kesempatan yang sama tanpa
memandang perbedaan. (ita)
