-----
PEDOMAN KARYA
Jumat, 17 Juli 2026
Sejarah Piala Dunia Sepak Bola FIFA (16):
Piala Dunia 1998, Brasil Difavoritkan,
Prancis yang Juara
Oleh: Asnawin Aminuddin
Piala Dunia FIFA 1998 merupakan edisi ke-16
dari Piala Dunia FIFA, yang diselenggarakan di Prancis pada 10 Juni hingga 12
Juli 1998. Prancis dipilih FIFA pada bulan Juli 1992 dalam pemilihan di Zürich,
Swiss, mengalahkan dua calon lainnya, Maroko dan Swiss.
Piala Dunia 1998 dimenangkan tuan rumah
Prancis. Di final, Prancis mengalahkan Brasil dengan skor 3-0 dalam
pertandingan yang digelar di Stade de France, Saint-Denis. Tim kuda hitam
Kroasia meraih juara ketiga setelah menekuk Belanda 2-1 dalam pertandingan yang
diadakan di Stadion Parc des Princes, Paris.
![]() |
| Ronaldo Nazario, pemain Brasil menjadi pemain terbaik Piala Dunia 1998. |
Ronaldo, pemain Brasil menjadi pemain
terbaik dalam turnamen edisi ini, sementara Davor Suker, pemain Kroasia menjadi
pencetak gol terbanyak dengan 6 gol.
Bola resmi pertandingan untuk edisi ini
adalah bola buatan Adidas, yang diberi nama Tricolore, yang dalam bahasa
Indonesia berarti “tiga warna”, sementara maskot resmi adalah Footix.
Lagu resmi turnamen edisi ini adalah lagu
yang dibawakan penyanyi Ricky Martin, berjudul “The Cup of Life”, sementara
lagu himne edisi ini adalah lagu berjudul “La Cour des Grands”, yang dibawakan
oleh Youssou N'Dour dan Axelle Red.
Piala Dunia edisi ini pada saat tersebut
merupakan Piala Dunia dengan jumlah pengeluaran kartu merah terbanyak, yaitu 22
kali. Rekor ini kemudian pecah pada edisi 2006.
![]() |
| Davor Suker, pemain Kroasia menjadi pencetak gol terbanyak dengan 6 gol pada Piala Dunia 1998. |
Maskot
Maskot resmi Piala Dunia edisi kali ini
dinamai “Footix”, yang digambarkan sebagai seekor unggas, yang merupakan salah
satu dari simbol nasional negara tuan rumah penyelenggara, Prancis, yang
mengenakan pakaian berwarna biru, yang merupakan pakaian seragam tim nasional
sepak bola Prancis, dengan tulisan “FRANCE 98” di dada. Bulunya berwarna merah,
dan digambarkan tengah memegang bola resmi Piala Dunia FIFA 1998.
Kata “footix” merupakan sebuah kata
lakuran dari “sepak bola”, yang diberi akhiran “-ix” dari kata Astérix.
Sebelumnya, ada beberapa nama lain yang sempat diajukan, yakni “Raffy”, “Houpi”,
dan “Gallik.”
Jules Rimet
Perancis merupakan negara yang sangat erat
kaitannya dengan Piala Dunia, bahkan jauh sebelum disegani seperti
sekarang. Pada 1928, seorang Perancis
bernama Jules Rimet selaku Presiden FIFA kala itu tidak lain adalah pencetus
festival sepak bola terbesar sejagat.
Selain itu, Perancis juga pernah dipercaya
menjadi tuan rumah Piala Dunia edisi ketiga pada 1938. Tim Ayam Jago pun termasuk salah satu
kesebelasan yang paling rajin berpartisipasi sepanjang sejarah hajatan empat tahunan
tersebut.
Namun, semua hal itu ternyata tak lantas
menjamin keberhasilan Prancis di Piala Dunia. Prestasi terbaik Les Bleus
sebelum 1998 sebatas menempati peringkat ketiga.
Momen itu terjadi pada Piala Dunia 1986
kendati bermaterikan generasi emas, salah satunya sang maestro sepak bola,
Michel Platini. Karena itulah, ketika Prancis kembali ditunjuk sebagai tuan
rumah Piala Dunia 1998, tidak ada yang menyangka Zinedine Zidane dkk bisa
melangkah jauh.
Zinedine Zidane Menggila
Faktanya, pasukan Aime Jacquet mampu
melenggang lumayan mulus hingga ke partai puncak menantang Brasil, 12 Juli
1998.
Brasil tentu lebih difavoritkan menjadi
kampiun lantaran diperkuat pemain-pemain bintang, seperti Roberto Carlos,
Dunga, Rivaldo, Bebeto, serta Sang Fenomena, Ronaldo Nazario. Namun,
pemandangan yang terjadi di atas lapangan justru sebaliknya. Perancis lebih
mendominasi pertandingan.
Kuartet gelandang Didier
Deschamps-Zinedine Zidane-Christian Karembeu-Emmanuel Petit berhasil mematikan
kreativitas para penari samba sekaliber Leonardo dan Rivaldo.
Perancis berhasil membuka keunggulan via
tandukan Zidane menyambut sepak pojok Petit pada menit ke-27.
Menjelang akhir babak pertama, Les Bleus
mampu menggandakan skor lagi-lagi via ayunan kepala Zidane.
“Saya ingin mencetak gol di final dan
kenyataannya saya berhasil, bukan cuma sekali, melainkan dua kali,” ucap
Zidane.
Dia mengatakan hal sungguh mengagumkan,
padahal dirinya kurang bagus dalam urusan menyundul bola.
“Saya cuma berada di posisi yang tepat
ketika itu,” kata Zidane.
Ujung Penantian Perancis
Memasuki babak kedua, Perancis
mengendurkan serangan sehingga Brasil mendapatkan momentum untuk mencari gol
balasan.
Terlebih setelah Marcel Desailly diganjar
kartu kuning kedua alias kartu merah menyusul jegalan ilegal terhadap Cafu pada
menit ke-68. Meski begitu, Brasil tetap saja tak bisa menjebol gawang Perancis
yang dikawal kiper plontos nan legendaris, Fabien Barthez.
Justru Perancis yang menambah keunggulan
menjelang bubaran lewat sepakan Petit memaksimalkan umpan terobosan Patrick
Vieira. Perancis menang telak tiga gol
tanpa balas sekaligus menciptakan sejarah baru sebagai negara ketujuh yang
mendapatkan trofi Piala Dunia.***
-----
Piala
Dunia FIFA 1998; https://id.wikipedia.org/wiki/Piala_Dunia_FIFA_1998
Kala
Zidane Pimpin Perancis Bantai Brasil di Final Piala Dunia 1998;
https://bola.kompas.com/read/2026/07/12/13010008/kala-zidane-pimpin-perancis-bantai-brasil-di-final-piala-dunia-1998?page=all#page2.
Piala
Dunia 1998: Keanehan Ronaldo dan Magis Zidane; https://www.cnnindonesia.com/olahraga/20260531135457-142-1363889/piala-dunia-1998-keanehan-ronaldo-dan-magis-zidane.


