Tiga Dosen Fisip Unhas Raih Guru Besar

 



Sabtu, 18 Juli 2026

 

Tiga Dosen Fisip Unhas Raih Guru Besar

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Tiga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) dan satu dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar meraih guru besar atau profesor dan dikukuhkan oleh Rektor Prof Jamaluddin Jompa, dalam Rapat Paripurna Senat Akademik Terbatas, di Ruang Senat Akademik Unhas, Lantai 2 Gedung Rektorat, Kampus Tamalanrea, Makassar, Jumat, 17 Juli 2026.

Keempat profesor tersebut yaitu Prof. Drs. Darwis, MA, PhD (Guru Besar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prof. Dr. Muhammad Yunus, MA (Guru Besar Bidang Manajemen Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Selanjutnya, Prof. Dr. Mohamad Tahir Haning, MSi (Guru Besar Bidang Administrasi Pembangunan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), dan Prof. Drs. Kaharuddin, MHum PhD (Guru Besar Bidang Fonologi, Fakultas Ilmu Budaya).

Dalam upacara pengukuhan guru besar itu, keempat profesor membawakan pidato ilmiah dengan fokus kajian seputar dinamika geopolitik global, reformasi birokrasi, penguatan organisasi publik, hingga pelestarian bahasa daerah.

Prof. Drs. Darwis, MA PhD membawakan pidato ilmiah berjudul: “Rekalibrasi Politik Luar Negeri Indonesia di ASEAN dalam Dinamika Geopolitik dan Geostrategis Indo-Pasifik: Perspektif Regional Security Complex dan Realisme Neoklasik.”

Ia mengatakan, perubahan konteks geopolitik global telah memengaruhi arah politik luar negeri Indonesia di kawasan ASEAN. Rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok mendorong negara-negara middle power, termasuk Indonesia, untuk menyesuaikan strategi diplomasi melalui rekalibrasi kebijakan luar negeri.

Prof. Darwis menguraikan bahwa melalui konsep Two-Level Game yang diperkenalkan Putnam (1988), kebijakan luar negeri merupakan hasil interaksi simultan antara tekanan internasional dan dinamika politik domestik.

“Berdasarkan analisis tersebut, politik luar negeri Indonesia mengalami pergeseran dari Cycle Centris Foreign Policy menuju Intermestic Foreign Policy,” jelas Prof. Darwis.

Ia menambahkan, pergeseran tersebut dipahami melalui perspektif Regional Security Complex Theory (RSCT) dan Realisme Neoklasik, dengan ASEAN tetap menjadi cornerstone politik luar negeri Indonesia.

“Oleh karena itu, Indonesia memerlukan kebijakan luar negeri yang lebih adaptif dan proaktif untuk menjaga otonomi strategis serta stabilitas kawasan,” kata Prof Darwis.

Prof. Dr. Muhammad Yunus, MA, membawakan pidato ilmiah berjudul: “Restrukturisasi Organisasi: Mewujudkan Birokrasi Publik yang Adaptif.”

Topik ini menguraikan bagaimana perubahan lingkungan yang dipengaruhi perkembangan teknologi, regulasi, tuntutan masyarakat, dan globalisasi menuntut organisasi publik melakukan restrukturisasi agar mampu merespons perubahan secara cepat, inovatif, dan responsif.

Ia menjelaskan bahwa restrukturisasi organisasi bukan sekadar perampingan struktur birokrasi, tetapi merupakan proses pembenahan sistem kerja melalui penguatan sumber daya manusia, digitalisasi organisasi, desentralisasi kewenangan, serta kolaborasi multipihak.

“Keempat aspek tersebut menjadi fondasi terbentuknya organisasi publik yang adaptif sehingga mampu mendukung penerapan good public governance,” ujar Prof. Muhammad Yunus.

Menurutnya, organisasi publik yang adaptif akan menghasilkan pelayanan yang lebih efektif, efisien, transparan, akuntabel, serta berkelanjutan sesuai tuntutan masyarakat yang terus berkembang.

Prof. Dr. Mohamad Tahir Haning, MSi, membawakan pidato ilmiah berjudul: “Membangun Kepercayaan Publik terhadap Kebijakan Pemerintah melalui Reformasi Birokrasi di Indonesia.”

Pada era globalisasi dan digitalisasi, katanya, ilmu administrasi pembangunan dituntut menghasilkan kebijakan yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan sebagai prasyarat terbentuknya kepercayaan publik (public trust).

Menurutnya, reformasi birokrasi tidak hanya berorientasi pada penyempurnaan tata kelola pemerintahan, tetapi juga pada penguatan kepercayaan masyarakat terhadap integritas, transparansi, dan akuntabilitas pemerintah dalam merumuskan serta mengimplementasikan kebijakan pembangunan.

“Dalam perspektif New Public Governance, kepercayaan menjadi mekanisme penting yang memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan dan menentukan efektivitas implementasi kebijakan publik,” jelas Prof. Tahir Haning.

Ia menambahkan, kepercayaan publik dibangun melalui interaksi yang berkelanjutan antara pemerintah dan masyarakat, didukung oleh kinerja kebijakan yang nyata serta pengalaman masyarakat dalam merasakan manfaat pembangunan.

“Oleh karena itu, reformasi birokrasi perlu memperkuat keadilan, legitimasi, dan partisipasi masyarakat agar mampu mendukung pencapaian tujuan pembangunan di bidang sosial, ekonomi, maupun politik,” kata Prof Tahir Haning.

 

Korespondensi Fonem dalam Bahasa Bugis–Makassar

Prof. Drs. Kaharuddin, MHum PhD, membawakan pidato ilmiah berjudul: “Korespondensi Fonem dalam Bahasa Bugis–Makassar.”

Ia menjelaskan, fonologi berperan penting dalam memahami pola bunyi, struktur suku kata, tekanan, intonasi, serta proses perubahan bunyi dalam berbagai bahasa dan dialek.

Kajian fonologi tidak hanya menjadi landasan dalam memahami sistem bahasa, tetapi juga mendukung pengembangan teknologi bahasa, pembelajaran, dokumentasi, dan pelestarian bahasa daerah.

Dari hasil penelitiannya, Prof. Kaharuddin menemukan adanya korespondensi fonem antara bahasa Bugis dan bahasa Makassar pada posisi awal, tengah, dan akhir kata.

“Korespondensi fonem tersebut tidak terjadi secara kebetulan, melainkan disebabkan oleh adanya hukum bunyi yang berlaku dalam bahasa Bugis–Makassar,” jelas Prof. Kaharuddin.

Salah satu kaidah yang ditemukan adalah perubahan fonem /ɔ/ dalam bahasa Bugis menjadi /a/ dalam bahasa Makassar pada sejumlah kosakata yang memiliki makna yang sama. Temuan tersebut memperkaya kajian fonologi sekaligus mendukung upaya dokumentasi dan pelestarian bahasa daerah sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia. (asnawin)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama