Tauhid: Mesin Penggerak Transformasi Sosial

Berhala modern mungkin tidak lagi berupa patung batu, seperti Lata, Uzza dan Manaf, tetapi dapat hadir dalam bentuk penyalahgunaan kekuasaan, oligarki ekonomi,  feodalisme politik, diskriminasi sosial, dan segala sistem yang merendahkan martabat manusia.

 

----

PEDOMAN KARYA

Jumat, 03 Juli 2026

 

Tauhid: Mesin Penggerak Transformasi Sosial

 

Oleh: Usman Lonta

(Ketua LHKP Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar)

 

Ketika kita belajar tauhid di masa sekolah dasar dulu, kita diajarkan bahwa Allah Maha Esa. Dialah Tuhan yang berhak disembah. Menyembah selain Allah adalah musyrik. Ajaran seperti ini adalah ajaran dasar keimanan yang mendorong manusia untuk melaksanakan shalat, agar terhindar dari api neraka di akhirat nanti.

Sampai disini muncul pertanyaan yang sangat sederhana. Mengapa elit kafir Quraisy begitu terguncang dan bahkan mendeklarasikan permusuhan kepada Nabi Muhammad SAW atas ajaran tauhid tersebut?

Bahkan dalam satu riwayat, elit kafir Quraisy menawarkan perdamaian dengan saling toleransi dalam sistem penyembahan. Hari ini kafir Quraisy bersedia menyembah Allah, besok harinya Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya menyembah tuhan kafir Quraisy, Lata, Uzza dan Manaf.

Atas tawaran ini Nabi Muhammad dengan sangat tegas menolaknya. Pada titik inilah permusuhan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad saw dimulai.

Kafir Quraisy menolak ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW bukan semata-mata disebabkan oleh ajaran tauhid yang menolak penyembahan terhadap berhala seperti Lata, Uzza, dan Manat, tetapi kafir Quraisy memahami betul bahwa implikasi sosial, ekonomi dan politik akan mengalami guncangan yang sangat dahsyat ketika ajaran tauhid ini tumbuh menjadi sistem sosial bagi masyarakat Arab. 

Oleh karena itu, penolakan dan permusuhan terhadap ajaran tauhid sangat keras hingga berujung pada penyiksaan, pemboikotan, pengusiran, dan bahkan rencana pembunuhan terhadap Rasulullah Muhammad saw.

Tauhid yang dibawa Nabi Muhammad SAW bukan hanya mengubah cara manusia beribadah, tetapi juga mengubah cara manusia memandang kekuasaan, harta, martabat, dan hubungan sosial. Tauhid tidak berhenti sebagai konsep teologis, melainkan melahirkan transformasi sosial yang mengguncang fondasi struktur masyarakat kafir Quraisy.

Masyarakat Mekah sebelum Islam datang yang dikenal dengan masyarakat jahiliyah, dibangun di atas struktur sosial yang sangat hierarkis. Kaum bangsawan menguasai perdagangan, kekayaan, dan kepemimpinan politik.

Budak diperlakukan sebagai barang dagangan. Perempuan memiliki kedudukan yang rendah. Orang miskin hidup di bawah belas kasihan para pemilik modal. Kekuasaan diwariskan berdasarkan garis keturunan dan kesukuan.

Dalam struktur seperti itu, agama berhala yang mereka anut bukan hanya persoalan keyakinan, tetapi juga menjadi instrumen legitimasi kekuasaan. Berhala-berhala di Ka'bah menopang prestise politik sekaligus kepentingan ekonomi elite Quraisy.

Lalu datanglah Nabi Muhammad SAW dengan satu kalimat yang sederhana tetapi memiliki daya revolusioner yang luar biasa: “La ilaha illallah.”

Kalimat ini bukan sekadar menolak keberadaan berhala. Kalimat ini juga membatalkan segala bentuk penghambaan manusia kepada manusia. Jika hanya Allah yang Maha Tinggi, maka tidak ada manusia yang berhak menganggap dirinya lebih mulia hanya karena kekayaan, keturunan, warna kulit, ataupun kekuasaan. Inilah yang membuat ajaran tauhid menjadi ancaman bagi elite Quraisy.

Tauhid melahirkan kesetaraan. Seorang budak seperti Bilal bin Rabah berdiri sejajar dengan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan para bangsawan Quraisy dalam satu shaf shalat. Ukuran kemuliaan bukan lagi status sosial, melainkan ketakwaan. (QS. 49. 13)

Tauhid juga melahirkan keadilan sosial. Islam memerintahkan zakat, infak, sedekah, dan pembelaan terhadap fakir miskin. Kekayaan tidak boleh hanya beredar di tangan kelompok tertentu. (QS 59.7). Harta dipandang sebagai amanah yang mengandung hak orang lain.

Tauhid melahirkan pembebasan. Memerdekakan budak menjadi amal yang sangat mulia. Bahkan menjadi penebus / kaffarat atas kelalaian terhadap ibadah tertentu. Penyiksaan terhadap manusia tidak lagi dapat dibenarkan atas nama status sosial. Bilal bin Rabah, Khabbab bin al-Aratt, Ammar bin Yasir, dan banyak sahabat dari kalangan budak,  memperoleh kehormatan yang sama sebagai orang-orang beriman.

Karena itu, kemarahan Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf, dan elite Quraisy lainnya bukan semata-mata karena Nabi Muhammad SAW mengajak manusia menyembah Allah. Yang mereka khawatirkan adalah lahirnya masyarakat baru yang tidak lagi tunduk kepada dominasi mereka.

Dalam perspektif ini, tauhid adalah deklarasi kemerdekaan manusia. Ia membebaskan manusia dari penyembahan terhadap berhala, sekaligus dari penghambaan kepada kekuasaan, kekayaan, kesukuan, dan segala bentuk tirani.

Pandangan seperti ini menemukan resonansinya dalam pemikiran Kuntowijoyo. Menurutnya, ajaran Islam tidak berhenti pada tataran interpretasi, tetapi harus diwujudkan dalam aksi yang mentransformasikan masyarakat. Tauhid menjadi energi moral yang mendorong pembebasan, pemberdayaan, dan humanisasi.

Pesan inilah yang tetap relevan hingga hari ini. Berhala modern mungkin tidak lagi berupa patung batu, seperti Lata, Uzza dan Manaf, tetapi dapat hadir dalam bentuk penyalahgunaan kekuasaan, oligarki ekonomi,  feodalisme politik, diskriminasi sosial, dan segala sistem yang merendahkan martabat manusia.

Karena itu, menghidupkan tauhid pada abad ini tidak cukup hanya memperbanyak ritual. Tauhid harus menjadi kekuatan penggerak yang melahirkan keberanian melawan kezaliman, membela kaum lemah, menegakkan keadilan, dan membangun masyarakat yang menjunjung persamaan derajat seluruh manusia di hadapan Allah.

Inilah tauhid yang dahulu ditakuti oleh elite Quraisy. Bukan sekadar karena tauhid menghapus berhala, tetapi karena ia menghapus segala bentuk penghambaan manusia kepada manusia. Tauhid yang sejati selalu melahirkan manusia yang merdeka, masyarakat yang adil, dan peradaban yang bermartabat. Wallahu a’lam bishshawab

 

Sungguminasa, 03 Juli 2026

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama