Kekuatan MUI Dibangun di Atas Tiga Prinsip Ukhuwah

TIGA PRINSIP UKHUWAH. Sekjen MUI Pusat, Buya Amirsyah Tambunan, memberikan sambutan pada Musda IX MUI Sulsel, di Hotel Four Point By Sheraton, Makassar, Sabtu, 22 Agustus 2026. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)  

 

-----

Ahad, 23 Agustus 2026

 

Kekuatan MUI Dibangun di Atas Tiga Prinsip Ukhuwah

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Kekuatan Majelis Ulama Indonesia (MUI) harus dibangun di atas tiga prinsip ukhuwah, yakni ukhuwah Islamiyah berupa persaudaraan sesama muslim, ukhuwah wathaniyah yakni persaudaraan sebagai sesama anak bangsa, serta ukhuwah insaniyah yakni persaudaraan sesama manusia.

“Tiga ukhuwah ini menjadi bagian dari janji diri para ulama,” kata Sekjen MUI Pusat, Buya Amirsyah Tambunan dalam sambutannya pada Musyawarah Daerah (Musda) IX MUI Sulawesi Selatan, di Hotel Four Points By Sheraton, Makassar, Sabtu, 22 Agustus 2026.

MUI harus mampu menjadi rumah besar umat yang mempersatukan berbagai organisasi Islam dan elemen masyarakat dalam menghadapi tantangan umat dan bangsa.

MUI bukan milik kelompok atau organisasi tertentu. MUI harus menjadi tenda besar yang mampu merangkul seluruh organisasi yang memiliki visi dan misi sejalan dalam membangun umat.

“MUI bukanlah milik satu organisasi. MUI itu rumah besar umat yang harus mampu mempersatukan semua organisasi yang memiliki visi-misi yang sama dengan Majelis Ulama Indonesia,” tegas Amirsyah.

Ia menyebut, kerja strategis MUI adalah khidmat umat, yakni melayani kepentingan umat, sekaligus membangun kemitraan dengan pemerintah dalam rangka memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa.

MUI tidak boleh berhenti pada persoalan kepemimpinan dan simbol kelembagaan. Yang lebih penting adalah membuktikan secara nyata bahwa MUI mampu menjadi wadah bersama.

“Jangan sekadar simbol. Secara kelembagaan, kita harus membuktikan bahwa MUI ini adalah rumah besar yang kita berbagi bersama,” kata Amirsyah.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengendalikan ego organisasi. Menurutnya, membangun kebersamaan sering kali lebih sulit dibandingkan sekadar menikmati hasil bersama.

Ia kemudian mengibaratkan MUI seperti sampan yang sedang berlayar di tengah lautan. Selama nakhoda dan seluruh penumpang memiliki arah yang sama, perjalanan akan berjalan baik. Namun, jika mulai terjadi perbedaan kepentingan, saling menyindir dan mempertanyakan, maka sampan tersebut berpotensi kehilangan arah bahkan terbalik.

“Ketika ombak mulai datang, antara rombongan dan nakhoda sudah mulai berbeda pendapat, saling sindir, saling mempertanyakan, maka lama-lama sampan akan terbalik. Mudah-mudahan tidak akan,” ujar Amirsyah.

Ia berharap Musda IX MUI Sulsel tidak hanya menghasilkan struktur kepengurusan baru, tetapi juga melahirkan komitmen bersama untuk memperkuat peran MUI dalam menjawab persoalan umat dan bangsa.

“Marilah kita musyawarahkan bersama untuk menjadikan Majelis Ulama sebagai bukti, bukan sekadar kata dan bukan sekadar simbol,” kata Amirsyah.

Buya Amirsyah turut menyampaikan apresiasi kepada para kepala daerah di Sulawesi Selatan yang selama ini memberikan perhatian terhadap keberadaan dan program MUI di tingkat kabupaten dan kota.

Ia berharap dukungan tersebut terus diperkuat sehingga MUI di seluruh tingkatan dapat menjalankan fungsi pelayanan umat secara optimal. (asnawin)

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama