Ahad, 23 Agustus 2026
KH Najamuddin Abduh
Shafa Pimpin Kembali MUI Sulsel
Didampingi Tiga
Waketum, serta Sekum, dan Bendum
Ketua Dewan
Pertimbangan Prof Faried Wadjedy
MAKASSAR, (PEDOMAN
KARYA).
Prof KH Najamuddin Abduh Shafa terpilih memimpin kembali Majelis Ulama
Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan pada Musyawarah Daerah MUI Sulsel, di
Hotel Four Point By Sherathon, Makassar, Sabtu dan Ahad, 22-23 Agustus 2026.
KH Najamuddin terpilih secara
aklamasi tanpa acara pemilihan melalui pemungutan suara. Pemilihan ketua hanya dilakukan
oleh 15 formatur yang diketuai Ir. H. Andi Thaswin Abdullah, pada hari kedua
Musda, Ahad, 23 Agustus 2026.
Formatur 15 memilih KH Najamuddin
sebagai Ketua Umum, serta tiga Wakil Ketua Umum yakni Prof KH M. Ghalib, Prof KH
Mustari Bosra, dan Prof KH Muammar Bakry, serta Sekretaris Umum Prof H. Andi
Marjuni, dan Bendahara Umum Ir. H. Andi Thaswin Abdullah.
Formatur juga memilih Dewan
Pertimbangan MUI Sulsel yang terdiri atas Ketua Prof. KH Faried Wadjedy, Wakil
Ketua Prof. KH Ambo Asse, Drs. KH Nurullah, dan Prof. KH Hamzah Harun, serta Sekretaris
Dr KH Rahim Razak.
Untuk perumusan dan penyusunan
jajaran pengurus di tingkat komisi, lembaga, serta badan otonom di bawah
struktur pimpinan inti, Tim Formatur dijadwalkan bakal menggelar rapat lanjutan
dalam waktu dekat.
Rapat lanjutan tersebut bertujuan
melengkapi seluruh personalia kepengurusan agar jajaran pengurus MUI Sulsel
periode 2026–2031 dapat segera dilantik dan menjalankan program-program
strategisnya.
KH Najamuddin dalam pidatonya pada
penutupan Musda menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya Musda MUI Sulsel
dan terima kasih atas kepercayaan para ulama dan ormas Islam se-Sulawesi
Selatan kepada dirinya untuk memimpin kembali MUI Sulsel lima tahun ke depan.
Ia menegaskan komitmennya untuk
terus memperkuat sinergi keumatan, memajukan dakwah Islam yang sejuk, serta
mengawal fatwa-fatwa strategis demi kemaslahatan masyarakat Sulawesi Selatan.
Najamuddin mengungkapkan bahwa memimpin
MUI merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat berat di hadapan Allah SWT dan
umat. Jabatan ini bukanlah bentuk kebanggaan, melainkan amanah kepemimpinan
yang menuntut keikhlasan dan pengabdian penuh.
“Kami butuh dukungan dan sinergi
bersama,” katanya.
Ia mengungkapkan rasa optimisnya
karena melihat tingginya komitmen dan kesiapan dari berbagai pihak, baik
jajaran pengurus, pimpinan ormas, maupun para ulama yang menyatakan kesediaan
untuk membantu dan berjalan bersama memajukan organisasi.
Dengan kolaborasi yang solid, ia
meyakini kepengurusan periode 2026–2031 akan mampu menorehkan pencapaian yang
lebih baik dan melampaui prestasi yang telah diraih pada periode-periode
sebelumnya.
Mengutip keteladanan para pemimpin
besar Islam saat menerima amanah kekhalifahan, ia menekankan pentingnya
kerendahan hati. Ia meminta agar seluruh elemen umat tidak ragu untuk
mengingatkan dan mengoreksi langkah kepengurusan jika terdapat kekeliruan dalam
menjalankan roda organisasi.
Di akhir pidatonya, KH Najamuddin
mengajak seluruh pengurus dan da’i untuk merapatkan barisan dalam memperkuat
strategi dakwah berbasis digital. Transisi ini dinilai sangat krusial agar
pesan-pesan keislaman yang menyejukkan, wasathiyah (moderat), dan edukatif
dapat menjangkau generasi muda secara lebih efektif di ruang siber. (asnawin)