Trilema Masyarakat Sipil: Dilema Moral, Intelektualitas, dan Hegemoni Kekuasaan

TRILEMA POLITIK masyarakat sipil, yaitu sebuah formula yang mendeskripsikan bahwa kejujuran, kapasitas intelektual, dan keberpihakan pada pemerintah tidak akan pernah sanggup berdiri sejajar dalam satu kolam yang sama.

 

------

PEDOMAN KARYA

Selasa, 11 Agustus 2026

 

Trilema Masyarakat Sipil: Dilema Moral, Intelektualitas, dan Hegemoni Kekuasaan

 

(Suatu Analisis Sosiologi Politik)

 

Oleh: Usman Lonta

(Ketua LHKP Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar)

 

Pasca-Reformasi 1998, dinamika politik di Indonesia memperlihatkan kecenderungan pergeseran dalam pola hubungan antara negara (state) dan masyarakat sipil (civil society). Ruang publik yang dahulunya diharapkan menjadi arena diskursus rasional kini kerap diwarnai skeptisisme mendalam terhadap independensi kaum intelektual.

Ketegangan ini mengkristal dalam sebuah konstruksi wacana yang dikenal sebagai trilema politik masyarakat sipil, yaitu sebuah formula yang mendeskripsikan bahwa kejujuran, kapasitas intelektual, dan keberpihakan pada pemerintah tidak akan pernah sanggup berdiri sejajar dalam satu kolam yang sama.

Dalam perspektif sosiologi politik, trilema ini bukan sekadar ungkapan yang bersifat sinisme, melainkan cerminan dari struktur kekuasaan, dan mekanisme kooptasi kekuasaan. Dalam trilema masyarakat sipil terdiri atas tiga sudut.

Sudut pertama, jujur dan pro-pemerintah, namun dianggap tidak pintar. Kondisi ini dianggap tidak merepresentasikan kelompok sosial yang mengalami dominasi simbolik (symbolic domination).

Dengan mengutip pemikiran Pierre Bourdieu, kelompok ini memiliki modal kultural yang terbatas untuk membedakan antara legitimasi politik yang tulus dan manipulasi wacana.

Keikhlasan mereka dalam mendukung rezim menjadi instrumen yang efisien bagi penguasa untuk memproduksi konsensus artifisial, sebab kepolosan politik dalam bagian ini berpotensi mengekalkan ketimpangan pemahaman atas realitas struktural dalam tata kelola pemerintahan.

Masyarakat sipil yang jujur dan pro-pemerintah sering kali terjebak dalam kepolosan komunikatif. Mereka menilai bahwa pemerintah mempunyai niat baik yang tampak di permukaan, tanpa memahami bagaimana rasionalitas teknokratis dan administratif kekuasaan memanipulasi dukungan mereka untuk melanggengkan agenda politik teknokratis yang tak adil.

Misalnya program bantuan sosial yang sangat massif menjelang Pemilu, menghimpun semua kekuatan politik dalam pemerintahan dengan alasan stabilitas, tanpa oposisi yang mengontrol jalannya pemerintahan, dan menampung suara-suara yang berbeda dengan kekuasaan.

Sebaliknya, sudut kedua, yaitu pintar dan pro-pemerintah, namun tidak jujur. Kondisi ini menjelaskan bahwa fenomena integrasi intelektual ke dalam mesin kekuasaan melalui mekanisme kooptasi.

Dalam kondisis ini, Antonio Gramsci memperkenalkan intelektual organik, bahwa kelompok terpelajar ini sejatinya memiliki modal simbolik dan intelektual yang mumpuni untuk menganalisis cacat kebijakan, ketimpangan sosial, ketidakadilan, dan sejumlah penyimpangan politik, namun ketika mereka memilih bersekutu dengan elite kekuasaan demi mempertahankan akses jabatan, maka terjadi kompromi atas independensi moral.

Kecerdasan mereka akhirnya mengalami pergeseran fungsi, yaitu tidak lagi digunakan untuk membebaskan (emancipatory), melainkan untuk merasionalisasi dan memproduksi apologi atas penyimpangan kekuasaan.

Selanjutnya James Goleman memperkenalkan teori pertukaran sosial. Teori ini menjelaskan bahwa tindakan politik adalah hasil dari kalkulasi cost-benefit (biaya-manfaat). Dalam sistem politik patronase, masuk ke lingkaran kekuasaan, akan mendapatkan manfaat berupa insentif material (resources), status sosial, dan akses kebijakan yang terlampau tinggi. Dalam kondisi demikian kejujuran intelektual dapat menjadi komoditi, demi keuntungan politis.

Sudut ketiga adalah jujur dan pintar, namun tidak pro-pemerintah. Kondisi ini mencerminkan posisi intelektual kritis yang menolak tunduk pada logika kekuasaan.

Berada di luar lingkaran kekuasaan menjadi konsekuensi logis dari sikap menolak moral hazard. Intelektual semacam ini berfungsi sebagai publik edukator, membangun kesadaran kolektif masyarakat hingga terjadinya perubahan sosial.

Sosiolog Ali Sshariati berpandangan bahwa cendekiawan sejati (orang pintar dan jujur), tidak boleh menetap di “menara gading” akademis. Pengetahuannya harus berorientasi pada aksi nyata (praksis).

Kepintaran tanpa keterlibatan sosial untuk membela kaum tertindas (mustad'afin) adalah bentuk pengkhianatan intelektual. Bagi Ali Shariati, tugas cendekiawan, tidaklah semata-mata memproduksi teori ilmiah demi reputasi pribadi, apalagi justifikasi kebijakan yang tidak adil,  melainkan menjadi obor kesadaran yang membebaskan kaum tertindas (mustad'afin) dari belenggu tirani, eksploitasi ekonomi, dan pembodohan ideologis.

Trilema ini pada akhirnya mengonfirmasi terjadinya krisis kelembagaan dalam demokrasi deliberatif di Indonesia.

Jika dikotomi ini terus dibiarkan mengkristal, masyarakat sipil akan terjebak dalam demoralisasi yang sangat akut, di mana menjadi bagian dari pemerintah yang diidentikkan dengan cacat moral, dan menjadi kritis diidentikkan dengan ketidakmampuan berkuasa.

Tantangan mendesak dalam sosiologi politik hari ini adalah membongkar jebakan trilema tersebut, guna mendorong lahirnya iklim politik yang memungkinkan kecerdasan dan kejujuran terintegrasi secara nyata dalam tata kelola Pemerintahan.

Saya tutup esai ini dengan sebuah cerita inspiratif dalam menghadapi dilema. Cerita ini saya dengar ketika masih duduk di bangku SD.

Dalam sebuah desa hiduplah seorang nakhoda perahu. Suatu hari dia akan menyeberangi sungai dengan muatan kambing, serigala dan sejumlah ikat kangkung. Ketiga jenis muatan ini tidak muat untuk diangkut secara bersamaan. Harus diangkut satu persatu.

Muncul masalah. Jika serigala yang duluan diantar, maka kangkung akan dimakan oleh kambing. Jika kangkung yang duluan diangkut maka kambing akan dimakan oleh serigala. Oleh karena itu, nakhoda perahu mengambil inisiatif bahwa yang harus diangkut duluan adalah kambing. Setelah itu dia balik untuk mengangkut serigala.

Dilema yang terjadi adalah ketika ingin kembali ingin mengangkut kangkung, pasti muncul masalah baru yaitu kambing akan dimakan oleh serigala. Atau sebaliknya, dia angkut dulu kangkung untuk menyeberang, pasti kangkung akan dimakan oleh kambing.

Dalam kondisi seperti ini guru saya mengakhiri cerita ini dengan solusi yang sangat bijak, yaitu setelah serigala dia letakkan di seberang sungai, kambing dibawanya menyeberang kembali untuk mengambil kangkung, dan kambing disimpan di tempat penyeberangan awal, dan menyeberangkan kangkung tersebut.

Setelah itu baru nakhoda kembali mengambil kambing ini, dan pada akhirnya ketiga barang yang mau diangkut tersebut, menyeberang dengan selamat, tanpa ada yang korban. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Sungguminasa, 10 Agustus 2026

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama