![]() |
| Foto kenangan penulis Ismail Rasulong (paling kiri) bersama Mahmud Nuhung (kedua dari kiri), Samsul Rizal (kedua dari kanan) dan Syamsir Rahim. (Foto diambil dari akun FB Ismail Rasulong) |
-----
PEDOMAN KARYA
Jumat, 25 September 2026
In Memoriam Mahmud Nuhung:
Ada Orang yang Pergi, tetapi Tidak Pernah
Benar-benar Meninggalkan Kita
Oleh: Ismail Rasulong
(Dosen FEB Unismuh Makassar)
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Saya mencoba mencari kalimat yang tepat
untuk melepas kepergian Dr. H. Mahmud Nuhung, SE., MA, tetapi setiap kali
mencoba menulis, saya justru terdiam. Sebab bagaimana mungkin saya meringkas
seseorang yang jejaknya begitu panjang dalam perjalanan hidup saya?
Beliau memang dosen saya, tetapi menyebut
beliau hanya sebagai dosen terasa terlalu sedikit. Beliau mentor, kakak,
sahabat dalam pengabdian, penasihat, dan dalam perjalanan waktu telah mengambil
tempat seperti seorang ayah dalam kehidupan saya.
Ada satu hal yang mungkin tidak banyak
orang tahu. Beliau hadir dan menjadi penguat pada masa-masa ketika hidup saya
tidak sedang baik-baik saja.
Ketika jalan terasa sempit, beliau tidak
datang membawa banyak kata. Beliau memberi saya sesuatu yang jauh lebih
berharga: kepercayaan.
Beliaulah yang pertama mengajak saya
menjadi partner dalam berbagai kerja sosial di luar kampus. Bersamanya dunia
saya perlahan menjadi lebih luas. Saya mengenal banyak orang dan tokoh,
memasuki ruang-ruang yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan, dan membangun
jejaring yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya.
Yang selalu saya ingat, beliau tidak
pernah membuat saya merasa sebagai orang yang sedang “dibawa”. Beliau
memperkenalkan saya sebagai kawan, sebagai partner. Beliau memberi saya tempat
untuk berdiri sejajar, lalu membiarkan saya belajar menemukan jalan sendiri.
Ketika beliau menjadi Dekan Fakultas
Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unismuh Makassar, saya kembali dipercaya
mendampinginya sebagai Wakil Dekan II. Kami bekerja, menghadapi persoalan,
berdiskusi, dan melewati banyak hal bersama. Hingga ketika masa kepemimpinannya
berakhir, beliau tetap menjadi penasihat dan penguat, bahkan ikut mengantarkan
saya melanjutkan estafet kepemimpinan sebagai Dekan FEB.
Hari ini saya semakin memahami: Mungkin
selama bertahun-tahun itu beliau sebenarnya sedang mempersiapkan saya. Beliau
mengajak saya bekerja agar saya belajar. Membawa saya bertemu banyak orang agar
dunia saya menjadi luas. Memberi saya tanggung jawab agar saya berani. Dan
berdiri di samping saya pada masa sulit agar saya tidak menyerah.
Kakanda Mahmud... Entah apakah selama ini
saya sudah cukup mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena pernah percaya
kepada saya ketika mungkin saya sendiri sedang kesulitan mempercayai jalan
hidup saya.
Terima kasih telah membuka begitu banyak
pintu, mempertemukan saya dengan begitu banyak orang baik, dan menggandeng saya
melewati sebagian jalan kehidupan.
Hari ini saya kehilangan bukan hanya
seorang guru. Saya kehilangan salah seorang saksi perjalanan hidup saya.
Kini Kakanda telah berjalan lebih dahulu. Jika
dahulu Kakanda menggandeng saya melewati sebagian jalan kehidupan, hari ini
saya hanya mampu mengantar dengan doa.
Selamat jalan, Guruku. Selamat jalan,
Mentorku. Selamat jalan, Kakandaku.
Selamat jalan, sosok ayah yang Allah
hadirkan dalam perjalanan hidupku.
Semoga semua jalan yang pernah Kakanda
bukakan untuk orang lain, kini menjadi jalan yang Allah lapangkan menuju rahmat
dan surga-Nya. Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu.***
