-----
Senin, 19 Oktober 2026
Dubes Inggris Dominic Jermey Bawakan
Kuliah Umum Ekonomi Hijau di Unhas
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA).
Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, H.E. Dominic Jermey CVO
OBE, membawakan kuliah umum bertajuk “Green Economy and Low Carbon Growth: The
UK and Indonesia’s Shared Agenda for the Future” (Ekonomi Hijau dan Pertumbuhan
Rendah Karbon: Agenda Bersama Inggris dan Indonesia untuk Masa Depan), di Kampus
Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Senin, 19 Oktober 2026.
Kuliah umum yang digelar di Ruang Senat,
Lantai 2 Gedung Rektorat, Kampus Unhas Tamalanrea, dan dipandu Direktur
Kemitraan Strategis Unhas, Abdullah Sanusi, SE MBA PhD, dihadiri langsung
Rektor Unhas Prod Jamaluddin Jompa, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Manusia,
Pengembangan Talenta, dan Kesejahteraan (WR III) Prof Farida Patittingi, serta dua
ratusan dosen dan mahasiswa Unhas.
Dominic Jermey dalam kuliah umumnya
mengatakan, pengembangan ekonomi hijau membutuhkan sumber daya manusia yang
mampu menghasilkan inovasi dan beradaptasi dengan perubahan.
Perubahan iklim dan pembangunan ekonomi,
katanya, memiliki hubungan yang erat. Keputusan dalam mengelola perekonomian
akan berdampak pada lingkungan, sementara perubahan iklim juga dapat
memengaruhi keberlangsungan kegiatan ekonomi. Karena itu, upaya menekan emisi
karbon perlu berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi.
“Kita tidak dapat mengatasi perubahan
iklim tanpa mengembangkan sumber daya manusia. Kita membutuhkan orang-orang
yang mampu menghasilkan gagasan dan teknologi baru, membangun usaha, serta
mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk menciptakan ekonomi yang lebih
berkelanjutan,” jelas Jermey.
Peralihan menuju ekonomi rendah karbon
tidak hanya membutuhkan kemajuan teknologi, tetapi keterlibatan masyarakat.
Pemahaman dan dukungan publik diperlukan agar perubahan dalam cara kerja
perekonomian dapat berlangsung dengan baik.
Menurut Dubes Jermey, setiap orang
memiliki kesempatan untuk mengambil bagian dalam upaya tersebut, termasuk
mahasiswa melalui bidang keilmuan yang ditekuni.
“Sepanjang kuliah ini, saya ingin kalian
mengingat satu pertanyaan: apa yang bisa saya lakukan? Kalian tidak harus
memiliki semua jawaban dan tidak perlu menjadi ilmuwan iklim. Namun, yang
paling utama adalah harus memiliki kemauan untuk membawa perubahan,” tambah
Jermey.
Jermey menilai, perguruan tinggi memiliki
peran penting dalam menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan perubahan
iklim. Melalui pendidikan dan penelitian, universitas dapat melahirkan gagasan
serta solusi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
“Universitas adalah tempat yang tepat
untuk mengembangkan gagasan dan mendorong perubahan. Penelitian memiliki dampak
yang berkelanjutan dalam jangka panjang. Kita membutuhkan kekuatan pendidikan
untuk menghadapi berbagai tantangan iklim yang sedang kita hadapi saat ini,”
ungkapnya.
Dalam kuliah umum tersebut, Jermey turut
mengangkat Stern Review, kajian mengenai aspek ekonomi perubahan iklim yang
diterbitkan di Inggris pada 2006. Kajian tersebut membahas konsekuensi ekonomi
akibat perubahan iklim dan risiko yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan
kebijakan. Gagasan dalam kajian tersebut masih relevan hingga saat ini.
“Perubahan iklim tidak dapat dipisahkan
dari pembangunan ekonomi. Pilihan yang kita ambil dalam mengelola perekonomian
akan memengaruhi kondisi iklim kita. Sebaliknya, perubahan iklim juga akan
memengaruhi perekonomian. Keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat,” kata
Jermey.
Selain menyoroti aspek ekonomi, Jermey
mengutip pemikiran Nelson Mandela tentang pendidikan sebagai sarana untuk
mengubah dunia. Dirinya meyakini bahwa pendidikan dapat membantu masyarakat
memahami persoalan iklim sekaligus membekali generasi muda dengan pengetahuan
dan keterampilan untuk mengembangkan solusi.
Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa, dalam
sambutannya menegaskan pentingnya memperluas kerja sama internasional,
khususnya dengan Inggris, agar manfaat kolaborasi tidak hanya dirasakan oleh
Unhas, tetapi juga oleh perguruan tinggi di kawasan Indonesia Timur.
Unhas sebagai Konsorsium Perguruan Tinggi Negeri Kawasan
Indonesia Timur memiliki peran strategis dalam memperkuat jejaring akademik dan
membuka peluang kolaborasi yang lebih luas bagi perguruan tinggi di kawasan tersebut.
“Kami berharap, kunjungan ini tidak hanya
memberikan manfaat bagi Unhas, tetapi juga untuk kawasan Indonesia Timur secara
keseluruhan. Kami ingin semakin banyak kerja sama dengan berbagai institusi di
Inggris yang dapat membuka peluang dan memberikan manfaat nyata bagi perguruan
tinggi di kawasan ini,” jelas Prof. JJ.
Dirinya juga berharap Proyek Low Carbon
Development Initiative–Innovation and Technology Fund (LCDI-ITF) yang
pembangunannya didukung Pemerintah Inggris dapat segera rampung dan beroperasi
dengan baik, sehingga memberikan manfaat serta menjadi contoh bagi pengembangan
fasilitas di Makassar, Sulawesi Selatan, dan Indonesia.
Setelah paparan materi, kemudian
dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara pemateri dan para peserta. (kia)
