Raja yang Dipuji dalam Ketelanjangan

Di sebuah negeri antah-berantah hiduplah seorang raja yang setiap hari berjalan menyusuri gang-gang sempit di tengah permukiman rakyatnya dalam keadaan telanjang. Anehnya, tidak seorang pun berani mengingatkan sang raja tentang keadaannya. Kalaupun ada orang yang bermaksud mengingatkannya, para pemujanya membelanya dengan sangat gigih. Setiap kali raja melintas, rakyat serentak menundukkan kepala. Sontak dari mulut mereka terdengar pujian yang bersahutan. (int)   

 

-----

PEDOMAN KARYA

Selasa, 27 Oktober 2026

 

Raja yang Dipuji dalam Ketelanjangan

 

(Perspektif Sosiologi Politik – Bagian 2)

 

Oleh: Usman Lonta

(Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar)

 

Saudaraku, saya mengawali esai ini dengan sebuah cerita inspiratif. Cerita ini juga sifatnya fiksi. Baiklah kita mulai saja ceritanya.

Di sebuah negeri antah-berantah hiduplah seorang raja yang setiap hari berjalan menyusuri gang-gang sempit di tengah permukiman rakyatnya dalam keadaan telanjang.

Anehnya, tidak seorang pun berani mengingatkan sang raja tentang keadaannya. Kalaupun ada orang yang bermaksud mengingatkannya, para pemujanya membelanya dengan sangat gigih. Setiap kali raja melintas, rakyat serentak menundukkan kepala. Sontak dari mulut mereka terdengar pujian yang bersahutan.

“Betapa agung raja kita!”

“Betapa bijaksana pemimpin kita!”

“Tidak ada raja yang menyamai kebesaran kedekatannya dengan rakyat.”

Saudaraku, dengan pemujaan tanpa batas ini, Raja pun semakin yakin bahwa dirinya dicintai rakyatnya. Beliau menganggap bahwa pujian-pujian itu sebagai bukti keberhasilan kepemimpinannya.

Beliau tidak pernah menyadari bahwa rakyat yang memujinya justru tidak berani menatap dirinya secara utuh. Mereka menundukkan kepala bukan karena hormat yang lahir dari kesadaran, melainkan karena takut melihat sesuatu yang tidak boleh mereka bicarakan. Mereka memuji bukan karena mengenal watak sang raja, melainkan karena pujian terasa lebih aman daripada kejujuran.

Saudaraku, lama-kelamaan, sang raja kehilangan kemampuan untuk membedakan penghormatan yang tulus dari kepatuhan yang dibuat-buat. Raja mengira bahwa kesunyian adalah tanda persetujuan, pujian adalah bukti keberhasilan, dan ketundukan adalah ukuran kecintaan rakyat.

Padahal, yang sesungguhnya telanjang bukan semata-mata tubuh sang raja, melainkan juga akal sehat dalam kehidupan istana dan keberanian moral dalam kehidupan masyarakat.

Cerita fiksi ini mengajarkan bahwa seorang pemimpin dapat hidup dalam kemegahan pujian, tetapi sekaligus terasing dari kebenaran. Seorang pemimpin mungkin dikelilingi banyak orang, tetapi tidak memiliki seorang pun yang berani menyampaikan kenyataan. Mungkin hanya mendengar suara dukungan setiap hari, tetapi tidak pernah berminat mendengar suara hati rakyat yang tidak memujinya.

Sampai di sini, kita dapat memahami bahwa tragedi kekuasaan bukan hanya ketika seorang raja kehilangan rasa malu, melainkan juga ketika rakyat kehilangan keberanian untuk mengatakan bahwa rajanya sedang telanjang.

Dalam kehidupan politik modern, keadaan semacam ini dapat menjelma menjadi budaya penjilatan, politik pencitraan, dan pengultusan pemimpin. Para pendukung berlomba memuji, tidak mengenal status sosial, boleh jadi ustadz, rakyat jelata, bahkan akademisi. Para pejabat, pengusaha juga sibuk menyenangkan sang Raja. Di sisi lain, sebagian masyarakat lebih memilih membenarkan kekuasaan daripada menguji kebijakannya.

Akibatnya, pemimpin tidak lagi memperoleh informasi yang jujur tentang keadaan rakyat. Kritik dianggap sebagai permusuhan, perbedaan pendapat dicurigai sebagai pembangkangan, dan kesetiaan diukur dari kesanggupan mengulang pujian. Para buzzer pun berpesta menyerang secara serempak terhadap masyarakat yang kritis.

Padahal, pemimpin yang benar-benar kuat tidak membutuhkan rakyat yang selalu menundukkan kepala. Pemimpin membutuhkan rakyat yang berani mengangkat kepala, melihat kenyataan, dan menyampaikan kebenaran.

Demokrasi juga tidak seharusnya berhenti pada kebebasan memilih pemimpin. Demokrasi harus memberikan ruang bagi rakyat untuk mengawasi, mengkritik, dan mengoreksi kekuasaan setelah pemimpin terpilih.

Saudaraku, pujian tanpa pengetahuan adalah pemujaan, kepatuhan tanpa kesadaran adalah ketundukan, dan kekuasaan tanpa kritik adalah jalan menuju kesewenang-wenangan.

Kita perlu bertanya: apakah seorang pemimpin benar-benar dicintai rakyatnya, ataukah ia hanya dikelilingi orang-orang yang takut kehilangan akses, kedudukan, dan keselamatan apabila berhenti memujinya?

Pertanyaan itu penting sebagai bahan refleksi,  karena seorang raja yang telanjang mungkin masih dapat menyelamatkan martabatnya apabila ada seseorang yang berani membawakan pakaian untuk menutup auratnya. Namun, ketika semua orang memilih menundukkan kepala, ketelanjangan itu akan terus dipertahankan sebagai kemegahan.

Dan pada saat itulah, yang paling berbahaya bukan lagi seorang raja yang tidak menyadari kekurangannya, melainkan sebuah masyarakat yang sepakat untuk tidak membicarakannya yang akan berujung malapetaka bagi negerinya. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Jakarta, 27 Oktober 2026


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama