------
Selasa, 13 Oktober 2026
Ujian Promosi Doktor di Unismuh Makassar, Mendikdasmen
Pertanyakan Perbedaan Pemikiran Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari
Wamen PPMI Dzulfikar Ahmad Tawalla Berikan
Testimoni
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof Abdul Mu’ti, mendalami relevansi pemikiran pendidikan Islam pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy'ari, dalam sidang promosi doktor Elly Oschar, di Ruang I-GIFT, Menara Iqra lantai 2, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Senin, 12 Oktober 2026.
Abdul Mu’ti hadir via zoom meeting sebagai penguji eksternal dalam sidang promosi doktor Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Pascasarjana Unismuh.
Elly mempertahankan disertasi berjudul “Pemikiran Pendidikan Islam KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari: Studi Komparatif dan Kontribusinya terhadap Pengembangan Pendidikan Indonesia.”
Dalam sesi pengujian, Mu’ti mengajak
promovendus mendalami perbedaan dan titik temu pemikiran kedua tokoh, termasuk
relevansinya dengan perkembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah dan Nahdlatul
Ulama (NU).
“Pasti ada perbedaannya. Dan apa yang
menyebabkan perbedaan itu?” tanya Mu'ti ketika meminta Elly menjelaskan latar
belakang perbedaan pendekatan pendidikan kedua tokoh tersebut.
Pembahasan kemudian berlanjut pada
kesinambungan pemikiran Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari dengan praktik
pendidikan yang berkembang saat ini.
“Atau sudah mengalami proses diskoneksi?”
tanya Mu’ti, saat mendalami hubungan antara gagasan para pendiri dan
perkembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah serta NU.
Dialog tersebut menjadi ruang pertukaran
pandangan mengenai sejarah, tradisi keilmuan, dan pembaruan pendidikan Islam.
Mu’ti juga mengajak Elly memperjelas
landasan pemikirannya agar sintesis yang ditawarkan memiliki argumentasi
akademik yang kuat serta dapat dikembangkan melalui penelitian lanjutan.
Elly menjelaskan bahwa penelitiannya
berangkat dari kecenderungan memahami pemikiran kedua tokoh secara terpisah.
“Kedua tokoh ini sering disalahpahami,”
ujar Elly dalam wawancara seusai sidang, merujuk pada pandangan yang
menempatkan Ahmad Dahlan sebagai simbol modernisme dan Hasyim Asy'ari sebagai
representasi tradisionalisme.
Menurut Elly, yang saat ini merupakan
Wakil Dekan III FAI Unismuh, Ahmad Dahlan menekankan pentingnya integrasi ilmu
agama dan ilmu umum, disertai penerapan pengetahuan dalam tindakan nyata,
sedangkan Hasyim Asy'ari memberikan perhatian besar pada pendidikan adab,
pembentukan karakter, dan keteladanan guru sebagai fondasi proses pendidikan.
Dari kajian komparatif tersebut, Elly
menemukan sejumlah titik temu yang dapat memperkaya pengembangan pendidikan
Islam di Indonesia.
“Kedua tokoh ini sama-sama sepakat menolak
dikotomi ilmu,” ujar Elly dalam pemaparan disertasinya, seraya menjelaskan
bahwa keduanya juga menempatkan akhlak sebagai tujuan penting pendidikan dan
berkomitmen pada pembaruan untuk kemajuan umat.
Temuan tersebut kemudian dikembangkan
menjadi kerangka konseptual Pendidikan Integratif Adab Nusantara (PIAN).
Kerangka ini memadukan semangat integrasi ilmu dalam pemikiran Ahmad Dahlan
dengan pendidikan berbasis adab dan keteladanan yang ditekankan Hasyim Asy'ari.
Elly menjelaskan bahwa PIAN memiliki lima
pilar, yakni integrasi nilai etika dan spiritual dalam seluruh mata pelajaran,
guru sebagai teladan, sekolah sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, evaluasi
pendidikan secara menyeluruh, serta digitalisasi yang berlandaskan etika.
Kelima pilar tersebut diarahkan untuk
membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan,
tetapi juga pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial peserta didik.
Meski demikian, Elly mengakui bahwa
kerangka tersebut masih berupa sintesis pemikiran yang dihasilkan melalui
penelitian kepustakaan.
“Ini belum diuji secara empiris,” ujarnya,
sembari menjelaskan bahwa penelitian lanjutan diperlukan untuk mengetahui
efektivitas penerapan kerangka tersebut di lembaga pendidikan.
Sidang promosi doktor dipimpin Wakil
Rektor I Unismuh, Prof Andi Sukri Syamsuri, yang mewakili Rektor Dr Abd Rakhim
Nanda karena sedang berada di Jepang.
Tim penguji lainnya terdiri atas Prof
Erwin Akib, Dr Dahlan Lamabawa, dan Dr Sulaiman Masnan, sedangkan Prof Ambo
Asse bertindak sebagai promotor dan Prof Bahaking Rama sebagai kopromotor.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil
Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia sekaligus Ketua Umum Pimpinan
Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dzulfikar Ahmad Tawalla.
Dalam testimoninya, Dzulfikar menekankan
pentingnya menghubungkan ilmu pengetahuan dengan pengamalan dalam kehidupan,
sehingga capaian akademik dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Setelah melalui rangkaian pengujian, Elly
dinyatakan lulus sebagai doktor ke-53 Unismuh dan doktor ke-40 pada Program
Studi Doktor PAI. Capaian tersebut menambah jumlah lulusan pendidikan doktoral
yang dihasilkan Unismuh melalui program pascasarjananya.
Prof Andis, sapaan akrab Andi Sukri
Syamsuri, menilai promosi doktor tersebut menjadi bagian dari kontribusi
Unismuh dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus mengembangkan kajian
pendidikan Islam.
“Kita mengharapkan dalam disertasi itu
melahirkan ide-ide baru,” ujar Prof Andis, seraya mendorong semakin banyak
akademisi melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor dan mengembangkan
gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. (asnawin)
