------
Selasa, 13 Oktober 2026
Unhas Jadi Hub Pengembangan Mineral Kritis
Indonesia Timur
-- Logam Tanah Jarang, Vitamin Teknologi
Modern
-- Pemerintah Dorong Kolaborasi Pentahelix
-- Targetkan Proyek Kolaboratif dan Fasilitas
Pengolahan
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA).
Universitas Hasanuddin (Unhas) diarahkan menjadi pusat koordinasi atau hub
pengembangan mineral kritis di kawasan timur Indonesia.
Melalui Institute for Critical Mineral
(ICM-Unhas), perguruan tinggi ini diharapkan mampu memperkuat riset,
mempercepat penguasaan teknologi pengolahan mineral, serta membangun kolaborasi
antara pemerintah, industri, lembaga riset, dan perguruan tinggi untuk
mendukung hilirisasi mineral nasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam
Simposium Nasional bertema “Optimalisasi Peran Institute for Critical Mineral
Universitas Hasanuddin (ICM-Unhas) dalam Rangka Sinergitas Pemangku Kepentingan
untuk Mendukung Program Hilirisasi Mineral Kritis di Indonesia”, di Ruang Senat
Lantai 2 Gedung Rektorat Unhas, Makassar, Senin, 12 Oktober 2026.
Simposium ini mempertemukan unsur
pemerintah, pelaku industri pertambangan, lembaga riset, dan akademisi untuk
membahas strategi pengembangan mineral kritis, khususnya logam tanah jarang
(LTJ), yang memiliki peran penting dalam industri teknologi modern.
Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa, yang
diwakili Direktur Eksekutif Global Research Institute Unhas sekaligus Ketua
ICM-Unhas, Prof. Adi Maulana, menegaskan bahwa institut tersebut dibangun bukan
untuk bersaing dengan perguruan tinggi lain, melainkan menjadi ruang kolaborasi
dalam pengembangan mineral strategis dari hulu hingga hilir.
“Institut Critical Mineral ini bukan ingin
bersaing dengan UI, ITB, UGM maupun perguruan tinggi lainnya, tetapi justru
kita ingin berkolaborasi. Karena kebutuhan terhadap mineral strategis ini
sangat besar sehingga harus dikerjakan bersama-sama,” ungkap Adi Maulana.
Menurut Adi, Indonesia memiliki potensi
sumber daya mineral yang besar. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya
diimbangi penguasaan teknologi pemisahan dan pemurnian mineral, khususnya logam
tanah jarang.
Sejumlah penelitian telah dilakukan,
tetapi sebagian masih berada pada skala laboratorium sehingga membutuhkan
pengembangan lebih lanjut agar dapat diterapkan dalam skala industri.
“Di hulunya sebenarnya kita sudah punya
potensi yang sangat besar. Persoalannya sekarang bagaimana teknologi
pemisahannya. Kita ingin mempercepat dari skala laboratorium menuju skala
komersial,” jelas Adi.
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut,
Unhas membuka peluang kerja sama dengan perguruan tinggi dan lembaga riset di
dalam maupun luar negeri. Salah satu mitra yang dijajaki adalah Sustainable
Mining Institute di The University of Queensland (UQ), Australia, yang memiliki
pengalaman dalam penelitian dan pengelolaan pertambangan berkelanjutan.
Kerja sama tersebut diarahkan pada riset
bersama, transfer teknologi, pelatihan tenaga ahli, pengembangan tata kelola
pertambangan, hingga peluang pengembangan paten bersama. Unhas juga menjajaki
kerja sama dengan Central South University di China untuk memperkuat penelitian
di bidang mineral.
Adi menilai kolaborasi internasional
penting untuk mempercepat penguasaan teknologi yang selama ini telah
dikembangkan negara-negara lain. Dengan kerja sama yang terarah, Indonesia
diharapkan tidak hanya menjadi pemilik sumber daya mineral, tetapi juga mampu
menguasai teknologi pengolahan dan rantai pasoknya.
Penguasaan teknologi tersebut dinilai
dapat membuka peluang pengembangan industri manufaktur di dalam negeri,
meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta mengurangi ketergantungan
terhadap teknologi dari luar negeri.
Logam Tanah Jarang, Vitamin Teknologi
Modern
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Dr.
Ir. Surono, menekankan pentingnya pengembangan logam tanah jarang sebagai salah
satu komponen strategis dalam kemajuan teknologi. Ia mengibaratkan LTJ sebagai
vitamin bagi teknologi modern karena dibutuhkan dalam jumlah relatif kecil,
tetapi memiliki fungsi yang sangat penting.
“Logam tanah jarang itu vitaminnya
teknologi maju. Kebutuhannya sedikit tetapi sangat urgen. Seperti kita minum
vitamin, kebutuhannya sedikit tetapi sangat bermanfaat,” ujarnya.
LTJ antara lain dimanfaatkan dalam
pengembangan kendaraan listrik, peningkatan efisiensi generator, perangkat
elektronik, energi terbarukan, dan berbagai teknologi strategis lainnya.
Surono secara khusus menyoroti potensi
logam tanah jarang di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Menurutnya, potensi
tersebut perlu dikembangkan agar dapat memberikan nilai tambah bagi
perekonomian nasional, sekaligus mendukung kemandirian teknologi Indonesia.
Ia mengingatkan agar Indonesia tidak terus
bergantung pada ekspor mineral mentah, sementara pengolahan dan penguasaan
teknologi bernilai tinggi dilakukan negara lain.
“Jangan sampai kita hanya mengekspor
barang mentah. Kita akan menjadi penonton teknologi maju di dunia. LTJ itu
kunci negara maju,” tegasnya.
Meski demikian, Surono mengingatkan bahwa
pengembangan LTJ harus disertai kajian lingkungan yang ketat. Seluruh tahapan
kegiatan pertambangan, mulai dari proses awal hingga reklamasi, harus mengikuti
ketentuan dan dokumen lingkungan yang berlaku.
Selain perlindungan lingkungan,
kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan juga harus menjadi
perhatian utama. Kekayaan mineral, menurutnya, tidak boleh hanya memberikan
keuntungan bagi negara dan pelaku industri, tetapi harus turut meningkatkan
kesejahteraan masyarakat setempat.
“Kalau LTJ ini membuat kaya negara, ya
masyarakat di sekitarnya harus sejahtera. Masyarakat jangan ditinggalkan,”
ujarnya.
Surono juga mendorong perguruan tinggi,
termasuk Unhas, menjalankan peran sebagai think tank yang independen. Kampus
diharapkan tidak hanya membantu industri mengembangkan teknologi, tetapi juga
memberikan informasi yang terbuka kepada masyarakat mengenai manfaat, risiko,
dan dampak kegiatan pertambangan.
Dengan demikian, masyarakat dapat memahami
pengembangan mineral kritis berdasarkan penjelasan ilmiah yang objektif dan
transparan.
Pemerintah Dorong Kolaborasi Pentahelix
Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM) Bidang Hubungan Kelembagaan, Prof. Dr. Tirta Nugraha Mursitama,
Ph.D., menyatakan pemerintah mendukung inisiatif ICM-Unhas sebagai bagian dari
strategi hilirisasi mineral melalui industrialisasi.
Menurutnya, pengembangan mineral kritis
membutuhkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, serta kolaborasi antara
pemerintah, akademisi, industri, masyarakat, dan organisasi nonpemerintah atau
NGO melalui pendekatan pentahelix.
“Kuncinya adalah Asta Cita 2 dan 5,
hilirisasi melalui industrialisasi. Itulah pesan Pak Prabowo, kita laksanakan
saja,” katanya.
Tirta menjelaskan, Unhas diharapkan
menjadi simpul koordinasi yang dapat merangkul perguruan tinggi lain di seluruh
Indonesia sesuai kompetensi masing-masing. Dengan demikian, pengembangan
mineral kritis tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi didukung jaringan riset
dan pengembangan teknologi yang saling melengkapi.
Ia juga menekankan pentingnya transfer
teknologi dan pengembangan sumber daya manusia. Perusahaan yang memperoleh
insentif dan menjalankan kegiatan usaha di Indonesia diharapkan berkontribusi
terhadap peningkatan kompetensi tenaga kerja, pembangunan fasilitas penelitian,
serta pengembangan teknologi dalam negeri.
“Pendirian ICM ini adalah bagian dari
transfer teknologi dan pengembangan SDM. Perusahaan investor yang sudah
mendapat insentif perlu berbagi dalam pengembangan SDM dan teknologi,” ujarnya.
Menurut Tirta, kerja sama tersebut perlu
disusun secara terstruktur agar manfaat pengembangan mineral kritis dapat
dirasakan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, industri, akademisi, hingga
masyarakat.
Targetkan Proyek Kolaboratif dan Fasilitas
Pengolahan
Dalam simposium tersebut, para peserta
juga membahas perlunya percepatan koordinasi lintas institusi untuk
memperpendek tahapan eksplorasi mineral strategis.
Dalam pemaparan forum, waktu eksplorasi
yang dalam kondisi normal dapat mencapai enam tahun disebut berpotensi
dipangkas menjadi satu tahun melalui koordinasi dan kolaborasi yang lebih
efektif, dengan tetap memenuhi persyaratan teknis, perizinan, dan perlindungan
lingkungan.
Upaya tersebut melibatkan sejumlah pihak,
termasuk Badan Industri Mineral (BIM), Perusahaan Mineral Strategis (Perminas),
serta instansi terkait.
Pembahasan juga mencakup kebutuhan
investasi untuk membangun fasilitas penelitian dan pengolahan mineral, termasuk
gagasan pembentukan konsorsium investasi guna mendukung pembangunan fasilitas
percontohan atau pilot plant pengolahan logam tanah jarang.
Fasilitas tersebut diharapkan menjadi
penghubung antara hasil penelitian laboratorium dan kebutuhan industri,
terutama dalam pengembangan teknologi pemisahan, pemurnian, serta pemanfaatan
mineral untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Salah satu arah pengembangan yang dibahas
adalah pemanfaatan LTJ sebagai bahan baku material magnet permanen yang
digunakan dalam berbagai teknologi modern.
Simposium membagi pembahasan ke dalam tiga
sesi panel utama, yakni kebijakan pemerintah, kesiapan industri, serta
pengembangan riset dan sumber daya manusia. Panel pemerintah melibatkan unsur
DEN, Kementerian ESDM, BIM, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Badan
Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Geologi.
Sementara itu, sesi industri menghadirkan
sejumlah perusahaan, antara lain MIND ID, PT Perminas, PT Vale Indonesia, PT
Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang
(Antam), dan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP).
Keterlibatan berbagai pihak tersebut
diharapkan dapat mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan penelitian
dan teknologi perguruan tinggi. Pembahasan juga diarahkan untuk menghasilkan
dua hingga tiga konsep proyek kolaboratif yang mencakup karakterisasi mineral,
pemulihan unsur bernilai, pengembangan teknologi pemisahan, dan validasi produk
hasil pengolahan. (asnawin)
