iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » Yang Terakhir


Pedoman Karya 7:50 AM 0


Suatu hari ibu kita menelpon
Ibu kita bilang engkau menanyakanku
Bertanya mengapa aku
Tak pernah menelponmu









-----------------


Yang Terakhir



Puisi Asnawin Aminuddin

Suatu hari saat kupulang kampung
Engkau mengajakku ke pasar
Membelikanku sepasang sepatu
Kukenakan bekerja sehari-hari

Suatu hari seusai berobat
Engkau mengajakku makan siang
Kita makan nasi kuning di tepi jalan
Sambil berbincang-bincang

Suatu hari menjelang magrib
Engkau berkunjung
Bersama seorang kawanmu
Menginap di rumah kontrakanku

Suatu hari ibu kita menelpon
Ibu kita bilang engkau menanyakanku
Bertanya mengapa aku
Tak pernah menelponmu

Suatu hari di bulan November
Engkau meninggal kami selama-lamanya
Aku tak sempat melihat jenazahmu
Aku terlambat dalam perjalanan pulang kampung

Rupanya, sepatu yang engkau belikan untukku
Rupanya, makan siang di tepi jalan
Rupanya, kedatanganmu menginap di rumahku
Rupanya, telponmu melalui ibu kita

Adalah yang terakhir
Yang terakhir
Kenangan terakhir
Yang terakhir

Adikku
Maafkan aku
Maafkan tak mampu
Menangkap isyarat darimu

Semoga di alam sana
Engkau tenang
Semoga Sang Maha Pengasih
Mengampuni dosa-dosamu

-------
@Makassar, 24 Juni 2009
PUISI ini kubuat untuk mengenang adikku almarhum Asran Faizal, yang akrab kami panggil Accang. Saya selalu menangis mengenangnya. Air mataku selalu menetes dan mengalir setiap mengingatnya, terutama saat saya melintas di tempat kami berdua makan nasi kuning untuk terakhir kalinya di tepi jalan di Jalan Boulevard, Makassar.***

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply