iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok


“Mengeluh boleh, tapi janganmaki tawwa maki-maki PLN, karena jangankan aliran listrik, orang juga bisa tiba-tiba sakit, apalagi kalau kaget karena jadi tersangka,” kata Daeng Tompo’ sambil tersenyum.“Ah, kita’ itu,” kata Daeng Nappa’ balas tersenyum.


“Hebat bagaimana? Hebat bikin susah rakyat,” kata Daeng Nappa’.
“Itumi maksudku’. PLN bisa mematikan lampu hingga berjam-jam dan tidak bisa dituntut oleh masyarakat, tapi kalau kita terlambat bayar iuran listrik, langsungki didenda,” tutur Daeng Tompo’.

“Tapi tadi banyak kemacetan karena mahasiswa demo Hari Pahlawan,” tukas Daeng Nappa’.
“Itu juga mahasiswayya, selaluna demo,” kata Daeng Tompo’.
“Mautongi kapang jadi pahlawan,” kata Daeng Nappa’ sambil tersenyum.


“Bagaimana kalau ada pejabat, katakanlah presiden, gubernur, atau bupati yang menikahkan anaknya? Terus banyak tamuna. Perlukah itu dikritik?” tanya Daeng Nappa’. 


“Itu ‘kan urusan pribadi tawwa. Bahayana itu kalau presiden tidak boleh menikahkan anaknya,” ujar Daeng Tompo’.

“Kalau ada pejabat yang selalu disoroti media massa karena kehebatan dan kasusnya, misalnya seorang pimpinan parpol yang juga pimpinan lembaga legislatif, yang terjerat kasus korupsi, itu masuk kategori mana, sinetron atau telenovela?” tanya Daeng Nappa’.