Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

BIMTEK CAPACITY BUILDING. Puluhan ASN dan non-ASN lingkup Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Provinsi Sulsel mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (Capacity Building), di Hotel Maxone, Makassar, Sabtu, 26 November 2022. (ist)


 

------

Ahad, 27 November 2022

 

 

Biro Adpim Setda Sulsel Gelar Bimtek Peningkatan Kapasitas SDM

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Provinsi Sulsel menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (Capacity Building), di Hotel Maxone, Makassar, Sabtu, 26 November 2022.

Bimtek yang dibuka Kepala Biro Adpim Setda Provinsi Sulsel, Andi Winarno Eka Putra, diikuti ASN dan tenaga non-ASN lingkup Biro Adpim Setda Provinsi Sulsel. Pemateri yang dihadirkan yaitu Agus Haruna dan Hilman Wirawan.

Kepala Biro Adpim Setda Provinsi Sulsel, Andi Winarno Eka Putra, dalam sambutannya mengatakan, Bimtek Capacity Building diharapkan lebih meningkatkan kedisiplinan, semangat kerja, profesionalitas dan solidaritas sebagai satu kesatuan Tim Work yang solid, baik rekan-rekan ASN maupun Tenaga Non ASN yang ada di lingkungan Biro Administrasi Pimpinan.

Semangat itu, katanya, sejalan dengan Visi Misi Bapak Gubernur Sulawesi Selatan yaitu “Pemerintahan yang berorientasi melayani, inovatif, dan berkarakter”, yang hanya dapat dicapai melalui peningkatan kapasitas dan kompetensi SDM Aparatur yang terarah dan berkesinambungan pada setiap level tingkatan unit kerja maupun Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Sumber daya manusia memiliki peran yang sangat penting dalam suatu instansi atau OPD untuk mencapai keunggulan yang kompetitif. Perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan menjadikan SDM sebagai faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan suatu OPD.

“Potensi yang dimiliki oleh SDM juga sangat berpengaruh terhadap upaya suatu organisasi dalam mencapai target atau tujuannya. Meskipun, teknologi semakin maju dan terus berkembang, penyebaran informasi semakin mudah dan cepat, serta berbagai sarana dan prasarana yang semakin memadai tapi tanpa adanya SDM yang berkualitas maka tujuan atau keberhasilan suatu OPD sulit untuk tercapai,” tutur Andi Winarno.

Secara umum, lanjutnya, dapat diartikan sebagai proses meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan (skills), sikap (attitude) dan perilaku (behaviour) individu di dalam suatu organisasi.

Proses tersebut dapat dilakukan antara lain melalui pelatihan yang berkesinambungan dalam aspek-aspek penting, seperti kemampuan berkomunikasi, motivasi diri, kemampuan problem solving, kreativitas, dan kepemimpinan.

“Saya menekankan kepada rekan-rekan, khususnya kepada para Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan, pejabat struktural maupun staf terkait, untuk lebih mengoptimalkan dan memaksimalkan lagi pelaksanaan program maupun kegiatan, serta serapan dan realisasi anggaran, dengan tetap berpedoman kepada norma-norma serta kaidah peraturan perundang-undangan yang berlaku,” urai Andi Winarno.

Dalam rangka penegakan disiplin pegawai dilingkungan Biro Administrasi, ia mengimbau kepada para pejabat struktural untuk senantiasa mengevaluasi kinerja secara berkala dan melaksanakan pembinaan secara proporsional terhadap PNS maupun Tenaga Non ASN yang berada di bawah kewenangannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Saya berharap kepada ASN maupun Tenaga Non ASN yang ada di Biro Administrasi Pimpinan agar dapat menyikapinya dengan bijak dan objektif. Tetap bekerja dan melaksanakan tupoksi dengan baik dan profesional, tentunya sebagai bawahan kita senantiasa harus mendukung dan mengikuti setiap kebijakan pimpinan yang bersifat positif,” kata Andi Winarno.

Ia yakin pimpinan sebelum memutuskan dan mengambil suatu kebijakan, pasti telah melalui kajian serta proses pertimbangan yang panjang, matang dan mendalam, baik dari aspek teknis maupun pertimbangan-pertimbangan objektif lainnya.

“Saya berharap kegiatan ini diikuti dengan sungguh-sungguh oleh seluruh pegawai yang ada dilingkungan Biro Administrasi Pimpinan agar dapat memberikan nilai dan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kita,” kata Andi Winarno. (fit)

 

KURIKULUM MERDEKA JALUR MANDIRI. Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu Timur mengadakan kegiatan Pendampingan Implementasi Kurikulum Merdeka Jalur Mandiri, di Hotel Lagaligo, Malili, Luwu Timur, Kamis, 24 November 2022. (ist)





-----

Sabtu, 26 November 2022

 

 

Komitmen Majukan Pendidikan, Luwu Timur Berupaya Implementasikan Kurikulum Merdeka

 

 

LUWU TIMUR, (PEDOMAN KARYA). Pemerintah Kabupaten Luwu Timur sangat berkomitmen memajukan pendidikan di daerah tersebut. Komitmen tersebut antara lain ditandatanganinya perjanjian kesepakatan kerjasama antara Pemkab Luwu Timur dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset, dan Teknologi, terkait implementasi kurikulum merdeka.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu Timur, Drs La Besse, ketika membuka pertemuan Pendampingan Implementasi Kurikulum Merdeka Jalur Mandiri, di Hotel Lagaligo, Malili, Luwu Timur, Kamis, 24 November 2022.

Kegiatan Pendampingan Implementasi Kurikulum Merdeka Jalur Mandiri yang dilaksanakan oleh Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu Timur itu, diikuti 40 peserta utusan sejumlah sekolah dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Luwu Timur.

Peserta mendapatkan materi pembelajaran dari dua narasumber dari Balai Besar Guru Penggerak Sulawesi Selatan, masing-masing Dr Arwin, dan Dr Jamaluddin.

Kepada peserta, La Besse mengingatkan agar serius mengikuti materi yang diberikan, karena yang berat dilakukan dalam setiap kegiatan adalah implementasi, termasuk implementasi kurikulum merdeka jalur mandiri ini.

“Yang berat dilakukan itu adalah implementasinya. Tidak seberat dengan belajar teori dan hal lainnya,” kata La Besse memotivasi peserta.

Kebijakan pendidikan di Luwu Timur setelah penandatanganan MoU implementasi kurikulum merdeka, katanya, terlihat pada konsistensi pemerintah menjalankan UUD 1945 dan UU Sistem Pendidikan Nasional.

APBD Luwu Timur, lanjut La Besse, sudah memenuhi amanat Undang Undang Sistem Pendikan Nasional. Alokasi anggaran untuk mendukung pembangunan bidang pendidikan sudah di atas 25 persen.

 

Kendala di Lapangan

 

Usai pembukaan, narasumber dari Balai Besar Guru Penggerak Sulsel, Dr Arwin, memberi materi pengantar kemudian membagi peserta menjadi sembilan kelompok berdasarkan kecamatan asal sekolahnya.

Setiap kelompok memaparkan potensi dan kendala yang dihadapi oleh masing-masing guru di sekolahnya, terkait implementasi kurikulum merdeka jalur mandiri.

Dalam diskusi itu, terungkap banyak hal, yang paling menonjol umumnya mereka terkendala di ketersediaan jaringan internet yang kurang memadai, khususnya sekolah yang jauh dari kota. Yang paling berat adalah, mereka yang sekolahnya berada di seberang danau atau sungai.

Selain itu, banyak juga guru yang sudah lanjut usia dan menjelang pensiun sehingga tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi. Seperti diungkapkan kelompok dari Kecamatan Towuti. Bahkan, di daerah itu belum ada wi-fi.

Di daerah tersebut, banyak kepala sekolah yang menjadi guru biasa, sehingga anjlok produktivitasnya. Mereka sudah kurang bersemangat untuk mengembangkan diri lagi.

Kendala lainnya adalah, partisipasi orang tua murid di wilayah itu nyaris tidak ada. Mungkin karena mereka umumnya bermata pencaharian nelayan dan petani, sehingga perhatian terhadap pendidikan anak-anaknya kurang memadai.

Pasokan listrik dari PLN yang kadang-kadang putus tiba-tiba juga menjadi salah satu kendala yang sangat mengganggu.

“Jika sementara login atau melakukan pembelajaran, tiba-tiba listrik padam maka apa yang kami kerjakan menjadi sia-sia,” ungkap salah seorang guru dalam diskusi itu.

 

Mengatasi Kendala

 

Setelah memahami potensi dan kendala yang dihadapi terkait implementasi kurikulum merdeka di sekolah masing-masing, peserta pendampingan kemudian dipandu oleh pemateri lainnya dari BBGP Sulsel, Dr Jamaluddin, untuk mengatasi setiap permasalahan, termasuk membuat aksi nyata yang belum dipahami.

Mereka juga dimotivasi agar bisa menjadi motor penggerak di sekolah masing-masing, bahkan di sekolah lain di wilayah kerjanya untuk menyukseskan implementasi kurikulum merdeka jalur mandiri ini.

Terkait manfaat pendampingan yang berlangsung sejak pagi hingga sore itu, Sunarto, salah seorang peserta dari PKBM Buludeceng, mengaku bersyukur mendapat pencerahan untuk implementasi kurikulum merdeka ini.

“Sebelumnya, kami ini ibarat bis malam yang berjalan tanpa lampu penerangan, sekarang kami sudah paham dan merasa ikut terpanggil untuk mengimplementasikan ilmu yang kami peroleh hari ini,” kata Sunarto.

Kendati demikian, dia berharap, tim dari Balai Besar Guru Penggerak Sulsel terus memantau perkembangan dan memberi arahan agar tujuan pendidikan tercapai.

Hal senada dikemukakan juga peserta lainnya, Damaris, dari SD 194 Maleku, Kecamatan Mangkutana. Dia mengatakan, pendampingan ini membuka wawasannya tentang implementasi kurikulum merdeka.

“Sebelumnya, kami tak paham sama sekali apa itu kurikulum merdeka, tetapi sekarang wawasan kami sudah terbuka,” kata Damaris, seraya menambahkan bawa dirinya akan tetap bertanya untuk menyelesaikan setiap masalah yang mereka hadapi. (re)


TERASA DATAR. Mahrus Andis (kanan) dan Yudhistira Sukatanya tampil sebagai pembicara pada Peluncuran dan Bedah Buku “Maharku; Pedang dan Kain Kafan (Jilid 2)”, di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Rabu, 23 November 2022. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)
 




------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 26 November 2022

 

Catatan dari Diskusi Buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan, Jilid 2” (3):

 

 

Dinamika Plot Novel “Maharku; Pedang dan Kain Kafan” Terasa Datar

 

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

(Wartawan)

 

Salah satu bagian yang paling penting dalam sebuah cerita adalah konflik. Konflik bisa disebut juga percekcokan, pertentangan atau perselisihan. Bentuk peristiwa dalam sebuah cerita, dapat berupa peristiwa fisik atau batin.

Peristiwa fisik biasanya melibatkan aktivitas fisik seperti, ada interaksi antara seorang tokoh cerita dengan sesuatu yang berasal dari luar dirinya, sedangkan peristiwa batin, yakni sesuatu yang berasal dari dirinya sendiri atau peristiwa yang terjadi dalam batin, pemikiran dan hati tokoh dalam suatu cerita.

Kedua bentuk peristiwa itu saling berkaitan, saling menyebabkan terjadinya satu sama lain.

Konflik adalah kejadian yang tergolong penting dan berfungsi menggerakkan plot (alur cerita), sehingga konflik merupakan unsur yang esensial dalam pengembangan plot. Bahkan sebenarnya, yang dihadapi dan yang menyita perhatian pembaca sewaktu membaca suatu karya naratif adalah (terutama) peristiwa-peristiwa konflik, konflik yang semakin memuncak, klimaks dan penyelesaiannya.

Karena itulah, kemampuan pengarang untuk memilih dan membangun konflik melalui berbagai peristiwa (baik aksi maupun kejadian) akan sangat menentukan kadar kemenarikan pembaca.

Konflik memegang peranan penting dalam suatu jalannya cerita, tanpa konflik jalan cerita akan terasa hambar. Konflik terbagi dua, konflik fisik dan konflik batin. Konflik fisik melibatkan tokoh dengan lingkungannya, sedangkan konflik batin melibatkan tokoh dengan dirinya sendiri.

Unsur konflik inilah yang terasa kurang dalam novel “Maharku; Pedang dan Kain Kafan (jilid 2)” karya Rahman Rumaday, sehingga kritikus sastra Mahrus Andis mengatakan; “….dinamika plot terasa datar.”

Mahrus mengatakan, novel “Maharku; Pedang dan Kain Kafan (Jilid 2)” adalah cerita kehidupan rumah tangga yang tergolong otobiografis. Rahman Rumaday selaku pengarang menukilkan kisah dirinya dengan teknik penulisan sastra.

“Unsur-unsur fisik dan batin sebuah karya sastra, seperti majas atau figurative language, kata konkret, tema sentral, nada dan amanah, dapat ditemukan di dalam cerita ini. Karakter pelaku cukup tergarap. Namun demikian, dinamika plot terasa agak datar. Pergerakan tokoh, suspens, klimaks dan antiklimaks belum terbina secara organis,” kata Mahrus.

Penilaian itu ia sampaikan saat tampil sebagai salah satu pembahas dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku “Maharku; Pedang dan Kain Kafan (Jilid 2)” yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Rabu, 23 November 2022.

Bedah buku menampilkan tiga pembahas, yakni Mahrus Andis (Kritikus Sastra), Yudhistira Sukatanya (Seniman, Sutradara Teater), Lily Rachim (Pegiat Keadilan Gender), dan dipandu oleh Arwan Rusli yang lebih dikenal dengan nama Arwan Awing (Pemred Bugispos.com) selaku moderator.

Hadir dalam peluncuran dan diskusi buku antara lain S Fatma Assegaf (Aktris, Produser & Sutradara Film), Zulkarnain Hamson (akademisi, penulis), Fadly Andi Natsif (akademisi, penulis), Ishakim (seniman), Idwar Anwar (sastrawan, penulis), serta sejumlah wartawan dan undangan lainnya.

Mahrus Andis mengatakan, novel “Maharku; Pedang dan Kain Kafan” adalah seulas kisah rumah tangga yang menggugah. Bolehlah disebut otobiografi bergaya sastra yang dituturkan seorang suami atas kecintaan terhadap istrinya.

“Rahman Rumaday menuliskannya dengan bahasa yang rapi, sehingga buku jilid kedua ini menawarkan keindahan yang lentur dan menyentuh batin. Walaupun dirasakan adanya ganjalan dari beberapa aspek, terutama dinamika plot, yang masih lemah dan belum terbangun secara cerdas,” kritik Mahrus.

Terlepas dari semua itu, dimensi moral cerita ini sangat jelas. Ada kesan pembangkangan tradisi leluhur yang dinilai tidak Islami. Dan di tataran ini daya tariknya: ada dialektika yang mengundang perenungan.

Buku “Maharku; Pedang dan Kain Kafan (Jilid 1) yang sudah dibincangkan sebelumnya, memuat gagasan penulis yang membuat pembaca harus berhadapan dengan nilai syariat agama (Islam) dan tradisi budaya masyarakat (Bugis-Makassar).

“Pada jilid dua ini pun cukup masif memfreming eksistensi sebuah rumah tangga yang bersyariat. Hal ini dapat dilihat pada struktur bagian-bagian episudnya,” kata Mahrus.

 

Malam Pertama Pernikahan

 

Bagian 1, penulis memaparkan suasana malam pertama pernikahannya. Di masyarakat Bugis-Makassar, malam pertama pernikahan merupakan suasana yang dianggap sakral. Karena itu, sesudah selesai mempelai bersanding di pelaminan, keduanya harus dipisahkan dan dianggap tabu berduaan secara langsung di dalam kamar.

Menurut filosofi leluhur, malam pertama sesudah mempelai duduk pengantin, adalah momentum pesta pora para iblis di dalam kerajaan nafsu. Karena itu, sebelum kedua mempelai memasuki kamar pengantin pada malam pertama, maka gejolak hawa nafsu (birahi) yang ditunggangi oleh iblis harus diredakan melalui satu ritual khusus yang disebut “mattamaq ri biliq.”

“Prosesi ritual ini biasanya diisi dengan doa-doa keluarga ketika si istri akan bermalam selama tiga malam (maqbenni tellumpenni) di rumah suaminya,” kata Mahrus.

Di bagian ke-1 buku “Maharku; Pedang dan Kain Kafan”, penulis membangkang terhadap tradisi leluhur itu. Namun, perilaku pembangkangannya tetap bersifat rasional, yakni kedua mempelai langsung memasuki kamar pengantin yang diisi dengan dzikir, shalat tahajud dan bahkan penandatanganan komitmen perjanjian keluarga.

Bagian ke-1 cerita ini menyodorkan sebuah gagasan yang bisa disebut sebagai konsep diri penulisnya. Bang Maman menulis: “Jodoh terindah adalah jodoh yang didapatkan dari sejauh mana orang itu memperbaiki keimanan dalam dirinya.”

“Dengan konsep diri ini, penulis seakan ingin menjelaskan sebuah kontradiksi pemahaman aspek syariat dan aspek budaya tentang perjodohan,” ulas Mahrus.

Secara kultural (pemikiran budaya), jodoh tidak perlu dicari karena sudah ditetapkan takdirnya oleh Tuhan (dalam istilah Bugis disebut “totoq mannessae, selain kelahiran dan kematian).

Namun dari aspek keagamaan, jodoh itu harus dicari berdasarkan kriteria yang dianjurkan oleh Nabi, yakni: kaya (li maaliha), cantik (li jamaaliha), keturunan baik (linasaabiha) dan beragama (lidiiniha).

“Apabila keempat kriteria ini harus dipilih salah satunya, maka pilihlah agamanya. Dalam cerita ini, rupanya Bang Maman selaku penulis, telah ditakdirkan memilih seorang istri yang mungkin sempurna memenuhi keempat kriteria tersebut,” kata Mahrus. (bersambung)


GOL KEDUA. Richarlison mencetak gol kedua Brasil ke gawang Serbia pada menit ke-73, dalam pertandingan babak penyisihan Grup G Piala Dunia 2022, di Stadion Lusail, Doha, Qatar, Kamis waktu setempat, 24 November 2022. Brasil menang 2-0 pada pertandingan tersebut. (Foto tangkapan layar: Asnawin)
 





------

Jumat, 25 November 2022

 

Piala Dunia Sepakbola 2022:

 

 

Brasil dan Portugal Menang, Korsel Tahan Imbang Uruguay

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Tim favorit Brasil dan Portugal berhasil memenangkan pertandingan pertama mereka di grup masing-masing, sedangkan Korea Selatan (Korsel) berhasil menahan imbang tanpa gol tim kuat lainnya, Uruguay, pada babak penyisihan grup Piala Dunia 2022, Kamis, 24 November 2022 waktu setempat.

Satu pertandingan lainnya di hari yang sama antara Swiss versus Kamerun, dimenangi Swiss dengan skor 1-0, berkat gol yang dicetak Breel Embolo.

Brasil yang bertanding di grup G, mengalahkan Serbia dengan skor 2-0. Dua gol yang tercipta dalam pertandingan di Stadion Lusail, semuanya dicetak oleh Richarlison pada menit ke-62 dan 73.

Pada pertandingan lainnya di Stadium 974, Doha, Qatar, Portugal menang 3-2 berkat penalti Cristiano Ronaldo, serta gol-gol Joao Felix dan Rafael Leao, sedangkan dua gol balasan Ghana dibukukan oleh Andre Ayew dan Osman Bukari.

Kemenangan atas Ghana sekaligus membuat kapten Portugal, Cristiano Ronaldo, mengukir rekor baru di pentas Piala Dunia. Pemain berinisial CR7 tersebut menjadi pesepak bola pertama yang berhasil mencetak gol dalam lima edisi Piala Dunia, yaitu Piala Dunia 2006 di Jerman, Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, Piala Dunia 2014 di Brasil, Piala Dunia 2018 di Rusia, dan Piala Dunia 2022 di Qatar.

 

Sementara itu, pertandingan Grup G lainnya mempertemukan Swiss vs Kamerun yang dimenangi oleh Granit Xhaka dkk.  Swiss menang 1-0 atas Kamerun berkat gol semata wayang Breel Embolo. Di sisi lain, laga Grup H Uruguay vs Korea Selatan tuntas tanpa gol.

 

Klasemen sementara

 

Grup A

(Main, Menang, Seri, Kalah, Gol Memasukkan, Gol Kemasukan, Selisih Gol, Poin)

1. Belanda = 1 - 1 - 0 - 0 - 2 - 0 - 2 - 3

2. Ekuador = 1 - 1 - 0 - 0 - 2 - 0 - 2 - 3

3. Senegal = 1 - 0 - 0 - 1 - 0 - 2 - -2 - 0

4. Qatar = 1 - 0 - 0 - 1 - 0 - 2 - (-2) - 0

 

Grup B

1. Inggris = 1 - 1 - 0 - 0 - 6 - 2 - 4 - 3

2. Wales = 1 - 0 - 1 - 0 - 1 - 1 - 0 - 3

3. Amerika Serikat = 1 - 0 - 1 - 0 - 1 - 1 - 0 - 3

4. Iran = 1 - 0 - 0 - 1 - 2 - 6 - (-4) - 0

 

Grup C

1. Arab Saudi = 1 - 1 - 0 - 0 - 2 - 1 - 1 - 3

2. Polandia = 1 - 0 - 1 - 0 - 0 - 0 - 0 - 1

3. Meksiko = 1 - 0 - 1 - 0 - 0 - 0 - 0 - 1

4. Argentina = 1 - 0 - 0 - 1 - 1 - 2 - (-1) - 0

 

Grup D

1. Prancis = 1 - 1 - 0 - 0 - 4 - 1 - 3 - 3

2. Tunisia = 1 - 0 - 1 - 0 - 0 - 0 - 0 - 1

3. Denmark = 1 - 0 - 1 - 0 - 0 - 0 - 0 - 1

4. Australia = 1 - 0 - 0 - 1 - 1 - 4 - (-3) - 0

 

Grup E

1. Spanyol = 1 - 1 - 0 - 0 - 7 - 0 - 7 - 3

2. Jepang = 1 - 1 - 0 - 0 - 2 - 1 - 1 - 3

3. Jerman = 1 - 0 - 0 - 1 - 1 - 2 - (-1) - 0

4. Kosta Rika = 1 - 0 - 0 - 1 - 0 - 7 - (-7) - 0

 

Grup F

1. Belgia = 1 - 1 - 0 - 0 - 1 - 0 - 1 - 3

2. Kroasia = 1 - 0 - 1 - 0 - 1 - 1 - 0 - 1

3. Maroko = 1 - 0 - 1 - 0 - 1 - 1 - 0 - 1

4. Kanada = 1 - 0 - 0 - 1 - 0 - 1 - (-1) - 0

 

Grup G

1. Brasil = 1 - 1 - 0 - 0 - 2 - 0 - 2 - 3

2. Swiss = 1 - 1 - 0 - 0 - 1 - 0 - 1 - 3

3. Kamerun = 1 - 0 - 0 - 1 - 0 - 1 - (-1) - 0

4. Serbia = 1 - 0 - 0 - 1 - 0 - 2 - (-2) - 0

 

Grup H

1. Portugal = 1 - 1 - 0 - 0 - 3 - 2 - 1 - 3

2. Korea Selatan = 1 - 0 - 1 - 0 - 0 - 0 - 0 - 1

3. Uruguay = 1 - 0 - 1 - 0 - 0 - 0 - 0 - 1

4. Ghana = 1 - 0 - 0 - 1 - 2 - 3 - (-1) - 0. (yat)