Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Dari beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang memberikan kabar gembira tersebut dan dua sabda Rasulullah, termasuk kisah yang disampaikan Anas bin Malik tersebut, kiranya kita dapat mengambil pelajaran bahwa amalan-amalan yang ringan pun, seperti menyingkirkan gangguan sebatang pohon di tengah jalan, serta selalu menjaga kebersihan hati, dapat mengantarkan kita masuk surga.


 


------

PEDOMAN KARYA

Senin, 06 Desember 2021


KULTUM 

 

Amalan Ringan Yang Dapat Mengantarkan Kita Masuk Surga

 

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

(Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Sulsel)

 

Seorang teman dosen, seorang doktor lulusan perguruan tinggi di Malaysia yang insya Allah beliau seorang ahli shalat dan ahli ibadah, pada suatu hari dalam sebuah pertemuan, bertanya kepada saya.

“Bisakah itu para ustadz, saat ceramah di mimbar, tidak menakut-nakuti jamaah?” tanya teman itu.

“Kenapa ki’ bertanya begitu?” saya balik bertanya dalam Bahasa Indonesia logat Makassar.

“Soalnya, kadang-kadang ada ustadz, kalau ceramah, selalu bicara neraka. Selalu bicara ancaman api neraka. Akhirnya jamaah jadi takut. Kenapa tidak bicara surga, supaya jamaah senang?” katanya.

Saya bilang, bagus juga itu. Saya kemudian membaca-baca dalam Al-Qur’an, dan ternyata cukup banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menganjurkan menyampaikan kabar gembira. Saya menemukan sebanyak 46 ayat dengan kata kunci “kabar gembira.”

Dalam Surah Al-Baqarah, surah ke-2, ayat 25, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Pada surah yang sama, Surah Al-Baqarah, ayat 223, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman.”

Begitu pula dalam Surah Al-Hajj, surah ke-22, ayat 37, “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Di Surah Al-Ahzab, surah ke-33, ayat 47, Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.”

Kabar gembira berikutnya, untuk masuk surga, kita tidak harus shalat lail atau shalat tahajjud setiap malam. Untuk masuk surga, kita tidak harus puasa Senin – Kamis, apalagi Puasa Daud (satu hari puasa, hari berikutnya makan, begitu seterusnya).

Untuk masuk surga, kita tidak harus mengeluarkan uang banyak, tidak harus bersedekah setiap hari atau bersedekah setiap Jumat.

Tidak harus begitu. Melakukan perbuatan kecil yang bermanfaat bagi orang banyak, seperti menyingkirkan gangguan di jalan, atau menyingkirkan batu di jalan yang bisa menyebabkan orang jatuh atau celaka karenanya, itu bisa menjadi penyebab kita masuk surga.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh aku telah melihat seorang laki-laki, mondar-mandir di dalam surga, hanya karena ia menyingkirkan gangguan, sebatang pohon di tengah jalan.” (HR. Muslim)

 

Penduduk Surga

 

Anas bin Malik, salah satu sahabat Rasulullah yang juga pernah menjadi pembantunya, mengisahkan, kami sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda, “Sebentar lagi, akan muncul di hadapan kalian, seorang penduduk surge.”

Baru saja Rasulullah diam dari sabdanya, tampak seorang sahabat Anshar datang, jenggotnya masih basah terkena bekas air wudlu, terlihat tangan kirinya sedang menenteng kedua sandal yang ia punya.

Esok harinya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali mengatakan hal yang sama persis dengan yang kemarin.

“Sebentar lagi, akan muncul di hadapan kalian, seorang penduduk surga,” dan muncul kembali orang dan ciri-ciri yang sama.

Hari ketiga Rasulullah mengulangi ucapan yang sama, “Sebentar lagi, akan muncul di hadapan kalian, seorang penduduk surga,” dan lagi-lagi muncul orang yang sama.

Pada hari ketiga tersebut, usai Rasulullah berdiri meninggalkan majelis, salah seorang sahabat, Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash membuntuti orang Anshar itu, lalu berkata kepadanya, “Aku sedang punya masalah dengan ayahku. Dan aku bersumpah untuk tidak masuk ke rumahnya selama tiga hari. Bolehkah aku menginap di rumahmu sampai tiga hari?”

“Oh, silahkan,” jawab lelaki yang dipastikan Rasulullah akan masuk surga ini.

Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash kemudian menginap di rumah lelaki tersebut selama tiga malam. Ia sama sekali tidak melihat sang tuan rumah mengerjakan shalat malam (shalat tahajjud).

Hanya saja, jika ia sedang terjaga di malam hari dan berbolak-balik di tempat tidur, maka ia hanya tampak berdzikir kepada Allah dan bertakbir sampai ia bangun untuk menjalankan ibadah salat subuh.

Dalam kisah yang disampaikan Abdullah, ia menyebutkan, “Tidak ada yang istimewa dari lelaki tadi. Hanya saja, aku tidak pernah mendengarnya mengatakan apapun kecuali dengan ucapan yang baik.”

“Dan saat berlalu tiga hari,” kenang Abdullah, “Hampir saja aku meremehkan kegiatan yang dilakukan orang Anshar itu. Maka aku pun terus terang berkata kepadanya. Wahai hamba Allah (fulan), sesungguhnya antara aku dan ayahku tidak ada masalah, apalagi hingga memboikot tidak mau datang ke rumahnya, sama sekali tidak.”

Abdullah diam sejenak, kemudian melanjutkan, “Tapi aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata hingga sebanyak tiga kali, akan muncul di hadapan kalian seorang penduduk surga, lantas engkaulah yang tiba-tiba datang. Hal itu mendorong aku untuk menginap bersamamu supaya aku bisa melihat apa saja amalanmu. Dengan begitu, aku aku bisa menirunya. Namun aku justru tidak melihat dirimu melakukan banyak beramal. Sebenarnya amalan apa yang mengantarkanmu, hingga pada derajat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, (bahwa kamu min ahlil jannah)?”

Lelaki ini menjawab “Tidak ada yang istimewa dari amalanku kecuali sebagaimana telah engkau lihat.”

Dalam hadits tersebut, Anas bin Malik melanjutkan riwayatnya, Abdullah lalu mengatakan, “Saat aku beranjak pergi maka iapun memanggilku dan berkata, amalanku hanyalah yang engkau lihat, hanya saja aku tidak menemukan perasaan dengki (jengkel) dalam hatiku kepada seorang muslim pun, dan aku tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya.”

Mendapat jawaban memuaskan ini, Abdullah menimpali “Nah, inilah amalan yang mengantarkan engkau (menjadi penduduk surga, red). Dan inilah yang kami tidak mampu.” (HR Ahmad : 12236)

Dari beberapa ayat dalam Al-Qur’an yang memberikan kabar gembira tersebut dan dua sabda Rasulullah, termasuk kisah yang disampaikan Anas bin Malik tersebut, kiranya kita dapat mengambil pelajaran bahwa amalan-amalan yang ringan pun, seperti menyingkirkan gangguan sebatang pohon di tengah jalan, serta selalu menjaga kebersihan hati, dapat mengantarkan kita masuk surga.


------ 

Baca juga:

Tidak Perlu Berdo’a Panjang Umur

Hati-hatilah dalam Menerima dan Meneruskan Informasi

Global Ugrad merupakan program pertukaran mahasiswa S1/D4 Indonesia yang berkuliah di universitas di dalam negeri pada semester tiga atau lima.

Penerima beasiswa akan merasakan pengalaman yang berharga menjalankan kuliah di universitas /community colegge di Amerika Serikat selama satu semester dengan mengambil mata kuliah yang relavan dengan bidang studi yang ditempuhnya di Indonesia.



------ 

Senin, 06 Desember 2021

 

 

Unhas dan AMINEF Gelar Sosialisasi Penerimaan Beasiswa Global Ugrad

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar melalui Direktorat Pendidikan bekerja sama dengan American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) menyelenggarakan sosialisasi beasiswa Global Undergraduate and Exchange Program (Global Ugrad).

Kegiatan berlangsung mulai pukul 09.00 Wita dan terhubung secara virtual melalui aplikasi zoom meeting, Senin, 06 Desember 2021.

Wakil Rektor Bidang Akademik Unhas, Prof Muhammad Restu, dalam sambutan pada acara pembukaan menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemdikbud-Ristek) telah mengeluarkan kebijakan terkait pemberian fasilitas kepada mahasiswa untuk melakukan pembelajaran dalam negeri dan luar negeri.

Sejalan dengan hal tersebut, katanya, Unhas berhasil mengikuti program International Student Mobility Awards (IISMA) dengan mengirimkan sebanyak 14 mahasiswa yang lolos bersaing dengan mahasiswa se-Indonesia.

“Melalui sosialisasi ini kita kembali memberikan fasilitas kepada mahasiswa untuk mendapatkan informasi mengenai beasiswa. Olehnya itu, kita berharap untuk program studi dapat pula memberikan fasilitas yang sama berupa sosialisasi agar para mahasiswa dapat termotivasi dan lebih matang untuk mempersiapkan diri,” tutur Muhammad Restu.

Dalam sosialisasi ini, hadir sebagai narasumber yakni Nita Kurminasari PhD (Dosen FIKP Unhas) dan Miftahul Mardiyah (perwakilan dari Jakarta). Sosialisasi dipandu oleh Direktur Pendidikan Unhas, Dr Ida Leida M.

 

Pertukaran Mahasiswa

 

Miftahul Mardiyah menjelaskan Global Ugrad merupakan program pertukaran mahasiswa S1/D4 Indonesia yang berkuliah di universitas di dalam negeri pada semester tiga atau lima.

Penerima beasiswa akan merasakan pengalaman yang berharga menjalankan kuliah di universitas /community colegge di Amerika Serikat selama satu semester dengan mengambil mata kuliah yang relavan dengan bidang studi yang ditempuhnya di Indonesia.

“Peserta wajib mengambil satu mata kuliah 3 SKS untuk meningkatkan pemahaman tentang Amerika Serikat dengan metode perkuliahan di dalam kelas dan workshop kepemimpinan. Beberapa fasilitas yang disediakan berupa tiket peswat domestik pulang-pergi, akomodasi, uang pendidikan dan asuransi kesehatan,” jelas Miftahul.

 

Tips Mendapatkan Beasiswa

 

Pada kesempatan yang sama, Dosen FIKP Unhas Nita Kurminasari, yang juga alumni Global Ugrad berbagi tips dan trik untuk mendapatkan beasiswa dari luar negeri.

Beliau juga menjelaskan beberapa keuntungan selama mengikuti perkuliahan di luar negeri, yakni dapat memperluas networking internasional dan berkesempatan mengenal dan mempelajari budaya negara setempat. Tidak menutup kemungkinan dapat pula membuka peluang karir setelah lulus.

“Untuk mendapatkan semua itu tentu perlu persiapan yang matang dengan mempersiapkan semua dokumen yang diperlukan, kita juga harus lebih dahulu mempelajari universitas dan prodi yang akan dituju, salah satunya terkait persyaratan dari penyedia beasiswa,” urai Nita.

Kemampuan Bahasa Inggris, lanjutnya, sangat dibutuhkan sebagai bekal untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan dan kemudahan dalam mempelajari kebudayaan luar negeri.

“Yang tak kalah pentingnya adalah mempersiapkan fisik dan mental untuk berkuliah di luar negeri,” kata Nita. (kiya)

 

 

Rasulullah kemudian menghubungi Suhail bin Amr dari Bani Amr bin Lu’ay, tetapi ia juga menolak. Akhirnya Al Muth’im bin Adi bersedia memberi perlindungan. sEok paginya, Al Muth'im menuju Ka'bah dan mengumumkan perlindungannya. (int)





----- 

PEDOMAN KARYA

Senin, 06 Desember 2021

 

Kisah Nabi Muhammad SAW (52):

 

 

Muth’im bin Adi Memberikan Perlindungan kepada Rasulullah

 

 

Penulis: Abdul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi

 

Di Kebun Anggur

 

Melihat penderitaan yang begitu buruk dialami Rasulullah, Utbah dan Syaibah merasa iba. Mereka menyuruh seorang budak mereka untuk memberikan buah anggur kepada Rasulullah.

Rasulullah menjulurkan tangan untuk memgambil anggur seraya mengucap, “Bismillah.”

Budak itu terkejut keheranan mendengar ucapan itu, “Kata-kata itu tidak pernah diucapkan oleh penduduk negeri ini.”

Kemudian, Rasulullah bertanya kepada sang budak siapa namanya dan dari negeri mana dia berasal, serta apa agamanya.

“Namaku Addas, aku berasal dari Niniveh di Mesopotamia. Aku beragama Nasrani,” jawab Addas.

Rasulullah kemudian berkata lagi, “Dari negeri baik-baik, Yunus bin Matta.”

Dengan rasa heran yang lebih besar daripada sebelumnya, Addas bertanya, “Darimana Tuan tahu nama Yunus bin Matta?”

“Dia saudaraku,” jawab Rasulullah, “Dia seorang nabi dan aku juga seorang nabi.”

Mendengar itu, hati Addas dipenuhi rasa haru yang menyengat. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia mencium kepala, tangan, dan kaki Rasulullah.

Utbah dan Syaibah memerhatikan hal itu dengan heran.

“Lihat, ia merusak budakmu,” kata Syaibah.

Ketika Addas kembali, mereka bertanya dengan marah,

“Mengapa pula engkau cium kepala, tangan, dan kaki orang itu?” tanya Syaibah.

“Itulah laki-laki yang paling baik di negeri ini,” jawab Addas, “Ia mengatakan sesuatu yang hanya diketahui oleh para nabi.”

Utbah dan Syaibah saling pandang sebelum berkata dengan keras, “Addas, jangan sampai orang itu memalingkan engkau dari agamamu. Agamamu itu lebih baik daripada agamanya.”

 

Saat Paling Getir

 

Jibril dan Malaikat Penjaga Gunung, menawarkan diri untuk menghancurkan Tha'if. Namun, Rasulullah menolak, beliau bahkan mendoakan kebaikan bagi penduduk Tha'if.

 

Kembali ke Mekah

 

Setelah Abu Thalib meninggal, Abu Lahab lah yang terpilih sebagai pemimpin kabilah Bani Hasyim. Abu Lahab langsung mengumumkan kepada khalayak bahwa Bani Hasyim kini tidak lagi melindungi Rasulullah. Hal itu berarti Rasulullah boleh dianiaya, bahkan sampai dibunuh oleh siapa pun tidak akan ada yang menuntut balas kematiannya.

Dalam perjalanan kembali ke Mekah, keadaan Nabi yang tanpa perlindungan ini merisaukan Zaid.

Zaid pun bertanya, “Wahai Rasulullah! Apa yang akan kita lakukan jika kita kembali ke Mekah tanpa perlindungan? Aku khawatir jika orang akan berbuat sewenang-wenang kepada Anda.”

Rasulullah menatap Zaid dengan pandangan menghibur sambil berkata dengan keyakinan penuh, “Allah akan melindungi agama dan Rasul-Nya.”

Tiba-tiba di luar Mekah, melalui seorang penduduk, Rasulullah menghubungi Al Akhnas bin Syariq untuk menanyakan apakah ia mau memberi perlindungan. Namun, Al Akhnas menolak.

Rasulullah kemudian menghubungi Suhail bin Amr dari Bani Amr bin Lu’ay, tetapi ia juga menolak. Akhirnya Al Muth’im bin Adi bersedia memberi perlindungan.

Esok paginya, Al Muth'im menuju Ka'bah dan mengumumkan perlindungannya. Abu Lahab datang dan memprotes dengan ejekan, “Kamu memberi perlindungan atau menjadi pengikutnya?”

“Kami memberi perlindungan kepada orang yang seharusnya engkau lindungi,” jawab Al Muth'im.

Suatu hari, Rasulullah pergi ke Ka'bah, Abu Jahal melihatnya dan berseru kepada sekumpulan orang Quraisy dengan nada menghina, “Wahai keturunan Abdu Manaf, inilah Nabi kalian.”

Menanggapi olokan itu, Utbah bin Rabi'ah berkata, “Peduli apa pula engkau? Apakah kita ini mempunyai seorang nabi atau raja?”

Rasulullah mendekati keduanya dan berkata, “Wahai Utbah! Demi Allah, ucapanmu adalah tanggunganmu sendiri. Sementara untukmu, Abu Jahal, nasib jelek akan menimpamu, sehingga kelak engkau akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

 

Saat Penuh Perjuangan

 

Setelah Abu Thalib meninggal, ruang gerak dakwah Rasulullah di Mekah semakin sempit. Beliau pun mencoba mengalihkan dakwah Islam ke suku-suku Arab lain yang sering berdatangan ke Mekah pada bulan-bulan haji.

Setiap hari Rasulullah mengunjungi perkemahan Badui, setiap kali itu pula Abu Lahab mengikuti beliau. Setelah beliau beranjak pergi, Abu Lahab mendekat dan berkata, “Orang yang tadi hanya ingin menukar kepercayaan Anda kepada Latta dan Uzza, serta jin-jin sekutu Anda, dengan agama sesat yang dibawanya.”

Seorang pemuka kabilah Badui pernah bertanya kepada Rasulullah, “Kalau kami jadi pengikutmu dan Tuhan memberimu kemenangan menghadapi lawanmu, apakah kami akan berkuasa setelah Anda?”

Rasulullah menjawab, “Kekuasaan adalah pemberian Allah ketika Ia menghendaki.”

Dengan muka masam, pemimpin kabilah itu berkata ketus, “Dugaan saya, Anda ini mengharap kami melindungi Anda dari orang Badui dengan dada kami, lalu kalau Anda menang orang lain akan memetik untung! Tidak, terima kasih.” (bersambung)


-----

Kisah sebelumnya:

Abu Lahab Lepas Perlindungan Bani Hasyim kepada Rasulullah, Orang Tha’if Melempari Batu

Rasulullah Mengenang Keluhuran Budi Khadijah


TANPA UNDANGAN. Bupati Bulukumba, Muchtar Ali Yusuf (paling kanan) melantik dan mengambil sumpah jabatan 169 ASN Lingkup Pemkab Bulukumba, di Lapangan Upacara Kantor Bupati Bulukumba, Senin pagi, 06 Desember 2021. (ist)

 




------

Senin, 06 Desember 2021

 

 

Tanpa Pemberitahuan dan Undangan, 169 ASN Pemkab Bulukumba Langsung Dilantik

 

 

-         Dilantik di Lapangan Upacara

-         Sebanyak 24 Administrator dan 145 Pengawas

 

 

BULUKUMBA, (PEDOMAN KARYA). Tanpa pemberitahua sebelumnya dan juga tanpa undangan, sebanyak 169 Aparatur Sipil Negara (ASN) Lingkup Pemkab Bulukumba langsung dilantik seusai mengikuti Apel Gabungan Organisasi Perangkat Daerah, di Lapangan Upacara Kantor Bupati Bulukumba, Senin pagi, 06 Desember 2021.

Ke-169 ASN yang dilantik tersebut terdiri atas 24 orang dilantik pada jabatan Administrator / Eselon III, dan 145 orang pada jabatan Pengawas / Eselon IV.

Sebelum pelantikan dimulai, Bupati Bulukumba Muchtar Ali Yusuf yang menjadi pembina apel memerintahkan para Kepala OPD mengecek pegawainya di barisan masing-masing untuk memastikan seluruh pegawai ASN-nya hadir mengikuti Apel Gabungan.

“Hari ini kita melaksanakan pelantikan, saya minta para Kepala OPD untuk mengecek kehadiran para pegawainya,” kata Andi Utta, sapaan Muchtar Ali Yusuf.

Setelah Apel Gabungan selesai, satu persatu ASN yang masuk dalam daftar mutasi dipanggil mengambil tempat di depan barisan untuk dilantik.

Andi Utta menyampaikan bahwa pelantikan setelah apel gabungan tentu sebuah kejutan sekaligus menunjukkan bahwa penggodokan yang telah dilakukan sudah matang sesuai perencanaan dan regulasi yang ada.

Bupati kemudian menantang para pejabat yang dilantik untuk membuktikan bahwa mereka adalah pilihan terbaik dalam membantu Bupati dan Wakil Bupati, serta mampu bekerja dan bersinergi dalam memaksimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki.

“Selaku pimpinan, tentu kami membutuhkan aparat pemerintah atau pejabat yang siap bekerja dan memiliki dedikasi yang tinggi dalam melaksanakan tugas dan fungsinya,” beber Andi Utta.

Tahun anggaran 2022, katanya, adalah tahun pertama seluruh sumber daya anggaran diarahkan menuju pencapaian Visi Misi Pemerintah Daerah, sehingga Andi Utta berharap dengan penempatan pejabat baru tersebut, maka kinerja pemerintahan akan lebih baik dengan berbagai terobosan dan inovasi yang dilakukan.

“Jika itu kebaikan kita bersama atau kebaikan Bulukumba yang kita cintai, maka mari kita berjalan bersama, bekerja bersama untuk Bulukumba yang lebih maju dan sejahtera,” bupati yang berlatar pengusaha ini.

Dikonfirmasi seusai upacara, Kabid Mutasi BKPSDM Ahmad Rais Haq membenarkan skenario proses pelantikan yang dilaksanakan di momentum Apel Gabungan. Menurutnya, tidak beredarnya undangan kepada ASN untuk dilantik, menjadi kejutan, karena tidak perlu berlama-lama menunggu kepastian jabatan apa yang akan diembannya.

“Momentum kali ini cukup efektif, karena pelantikan ini bisa disaksikan seluruh ASN,” ungkap Rais Haq.

Pada pelantikan tersebut, beberapa ASN mendapat promosi jabatan, baik menjadi pejabat Administrator maupun menjadi pejabat Pengawas. Pada jabatan Pengawas rata-rata hanya mengalami pergeseran posisi untuk menyesuaikan kualifikasi keilmuan dan pengalaman dan tetap Eselon IV-A.

Begitu pula pada jabatan Administrator tetap Eselon III-B, kecuali Arie Hamzah SP, yang promosi ke eselon III-A dari Kepala Bidang Perencanaan Makro Pembiayaan dan Pengendalian Pembangunan Bappeda menjadi Sekretaris Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan. (dar)

KOTA THAIF. Foto kiri atas bawah, pemandangan Kota Thaif. Foto kanan, ilustrasi saat Rasulullah berdakwah ke Tha'if pada tahun 10 kenabian (akhir Mei 619) dan disambut dengan lemparan batu masyarakat Thaif.  




----- 

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 04 Desember 2021

 

Kisah Nabi Muhammad SAW (51):

 

 

Abu Lahab Lepas Perlindungan Bani Hasyim kepada Rasulullah, Orang Tha’if Melempari Batu

 

 

Penulis: Abdul Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi

 

Tindakan Bengis Abu Lahab

 

Sepeninggal Abu Thalib, Abu Lahab terpilih sebagai ketua Bani Hasyim. Segera setelah ia terpilih, Abu Lahab menyatakan melepas perlindungan terhadap diri Rasulullah dengan memberikan pengumuman secara terbuka di Pasar Ukazh dan di Ka’bah. Ini adalah tindakan yang amat kejam, sampai Rasulullah sempat minta perlindungan dari keluarga selain Bani Hasyim.

Bani Hasyim adalah satu di antara sekian banyak kabilah. Pemimpin sebuah kabilah dipilih karena bijak, berani, dan tegas. Pemimpin kabilah menduduki kedudukan terhormat. Pemimpin kabilah biasanya dipilih setelah berusia 40 tahun.

Dalam pertempuran, kaum muda berjuang di garis depan melindungi pemimpin kabilah dan sesepuh di garis belakang.

 

Cara Rasulullah Berdakwah

 

Ada 6 cara yang dilakukan Rasulullah untuk berdakwah:

1. Mengumpulkan orang.

2. Mendatangi tempat-tempat pertemuan dan keramaian.

3. Mendatangi kota-kota lain.

4. Menugasi setiap muslim untuk berdakwah.

5. Menugasi muslim pilihan untuk mengajar.

6. Mengirimkan surat dan utusan kepada para raja dan pemimpin.

 

Tha’if

 

Rasulullah berdakwah ke Tha'if pada tahun 10 kenabian (akhir Mei 619). Tha'if terletak 100 kilometer sebelah tenggara Mekah. Tha'if adalah kota pegunungan dengan ketinggian hampir 2.000 meter di atas permukaan laut. Tha'if adalah kota dagang dengan hasil bumi dan perkebunan buah seperti anggur.

Rasulullah mencoba mengalihkan dakwah langsung keluar Kota Mekah. Bersama Zaid bin Haritsah, Rasulullah pergi ke kota Tha'if. Tiba di kota itu, Rasulullah menemui tiga orang pembesar kota dan menawarkan Islam kepada mereka. Apa tanggapan mereka?

“Bahkan akan kusobek-sobek selubung Ka’bah untuk membuktikan bahwa demikian tidak percayanya aku padamu!” ujar seseorang.

Mendengar temannya bicara seperti itu, yang lain tersenyum mengejek sambil berkata, “Apakah Tuhan tidak mendapatkan orang yang lebih baik daripada kamu? Kalau engkau seorang nabi, pastilah engkau terlalu mulia untuk menjadi teman bicaraku. Kalau bukan, maka engkau terlalu rendah kulayani.”

Rasulullah meminta tiga pembesar Tha'if yaitu Mas'ud, Abdu Yalail, dan Habib, tidak mengumumkan kepada masyarakat penolakan mereka terhadap beliau. Akan tetapi, ketiga pembesar itu tidak mengabulkan permintaan Rasulullah. Mereka malah menghasut agar para pemuda mengolok-olok Rasulullah.

Mereka keluar dan berteriak kepada orang banyak, “Wahai penduduk Tha'if! Lihat orang ini! Ia mencoba mengganti para berhala kita dengan satu Tuhan baru yang tidak terlihat!”

Para pemuda mulai datang bergerombol dengan wajah memerah karena murka.

“Orang ini rupanya berniat menipu dan membodohi kalian! Apa yang akan kalian perbuat?” kata mereka.

“Usir dia!” ujar yang lain.

“Jangan cuma diusir, lempar dia dengan batu agar jera dan tidak berani membawa kegilaannya kemari!” timpal yang lain lagi.

Kemudian, mulailah para pemuda melempari Rasulullah dengan batu. Melihat hal itu, orang-orang kaya tidak mau ketinggalan. Mereka menyuruh budak-budaknya,

“Hei, tunggu apalagi? Ambil batu dan lempari dia! Sekaranglah saatnya kalian bersenang-senang!” kata salah seorang di antara mereka.

Rasulullah dan Zaid berlari di sepanjang jalan ke luar Kota Tha'if. Mereka diikuti hujan batu disertai gemuruh caci maki dan cemooh gerombolan pemuda dan budak. Batu-batu terbang berbunyi debag-debug menghantam seluruh tubuh Rasulullah meski sudah dilindungi Zaid. Darah suci Rasulullah berceceran di sepanjang jalan.

 

Doa Rasululllah

 

Setelah jauh keluar dari kota, gerombolan orang yang mengejar Rasulullah pun membubarkan diri dengan senyum puas dan mengejek. Saat itu Rasulullah bertemu dengan seorang istri pembesar Tha'if dari Bani Jumah yang sedang lewat. Perempuan itu memandang Rasulullah dengan rasa kasihan bercampur heran.

“Lihatlah, apa yang ditimpakan kepada kami oleh rakyat suamimu,” sabda Rasulullah.

Mendengar orang Tha'iflah yang menganiaya beliau, perempuan itu berlalu dengan perasaan takut jika diketahui orang bahwa ia menunjukkan belas kasihan kepada Rasulullah.

Untuk melepas lelah dan membasuh luka, Rasulullah dan Zaid berlindung di sebuah kebun anggur milik Utbah dan Syaibah. Keduanya anak Rabi'ah, seorang pembesar Quraisy. Saat itu, keluarga Rabi'ah memerhatikan Rasulullah dari jauh, tetapi mereka tidak berbuat apa pun.

Setelah napasnya kembali normal, Rasulullah mengangkat kepala dan menengadah ke langit. Beliau memanjatkan doa yang amat mengharukan.

“Allahuma ya Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kemampuanku, serta kehinaanku di hadapan manusia,” kata Rasulullah.

Beliau melanjutkan, “Oh Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang, Engkaulah Pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan aku? Kepada orang jauh yang berwajah muram, kepadaku, atau kepada musuh yang akan menguasai diriku?”

“Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli, karena sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan, dunia, dan akhirat. Janganlah kemurkaan-Mu menimpa aku,” pinta Rasulullah.

Kemudian beliau melanjutkan, “Kepada-Mu lah aku menghamba sampai Engkau puas sesuai kehendak-Mu. Tiada yang lebih kuat dan kuasa dari pada-Mu.” (bersambung)