Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

“Menurut saya, di tataran tradisi budaya masyarakat Indonesia, khususnya subkultur Seram-Maluku dan subkultur Enrekang-Sulawesi, permintaan mahar berupa pedang dan kain kafan semacam itu belum pernah terjadi. Selain dinilai menyimpang dari tradisi masyarakat Islam, juga tidak sesuai dengan syariat yang diajarkan agama.” 

- Mahrus Andis -

 


----

PEDOMAN KARYA

Kamis, 30 Juni 2022

 

 

Catatan dari Bedah Buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan” (3):

 

 

Mahar Pedang dan Kain Kafan Menyimpang dari Tradisi Masyarakat Islam

 

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

 

Buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan” adalah sebuah kisah nyata yang diangkat ke dalam cerita panjang setebal 150 halaman, dengan 17 episode. Cerita yang dibukukan itu ditulis Rahman Rumaday dan diterbitkan oleh Pustaka Sawerigading, cetakan pertama November 2021.

Buku ini tergolong serius, bernomor ISBN: 978- 602-9248-56-2, dan sudah pernah dibedah (dua kali) sebelum masuk dapur Forum Sastra Indonesia Timur (FOSAIT).

“Begitu pentingnya risalah di buku ini sampai Fosait membedah kembali untuk ketiga kalinya hari ini,” kata kritikus sastra Mahrus Andis, saat tampil sebagai salah satu dari tiga pembahas pada Diskusi Buku “Maharku, Pedang & Kain Kafan” karya Rahman Rumaday, di Kafebaca, Jl. Adhyaksa, Makassar, Ahad sore, 26 Juni 2022.

Membaca buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan”, kata Mahrus, seakan kita menangkap kesan horor di dalamnya, padahal sesungguhnya tidaklah sampai ke tataran itu. Walaupun harus diakui bahwa dalam perjalanan kisahnya, ada ketidak-sejajaran antara mitologi budaya kehidupan kampung dengan konsepsi pemikiran manusia kota.

“Di buku ini, banyak menyoal tentang syariat agama sebagai sikap perlawanan penulis terhadap adat istiadat yang berkembang di lingkungannya. Boleh disebut, moralitas cerita ini berfokus pada pemahaman syariat Islam, lebih khusus tentang fiqih mencari jodoh atau fiqih keluarga kontemporer,” kata Mahrus yang karya-karya sastranya sudah banyak dibukukan.

Maman (sapaan akrab Rahman Rumaday) sebagai penulis buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan” menjelaskan bahwa setelah tamat dari MAN Fakfak, ia banyak mendapat dorongan dari Pak Lukman Santoso, gurunya di sekolah dan sekaligus pembimbing ruhaninya (murobbi). Pak Lukman, orang pertama yang menyuruhnya membaca buku-buku tebal dan berat.

“... Buku pertama yang beliau berikan padaku merupakan buku yang sangat tebal karena mencapai 500-an halaman, yakni Fiqih Kontemporer, ditulis oleh Dr. Yusuf Qardhawi.” Demikian tulis Maman dalam bukunya (hal. 13-14).

“Dari narasi di atas, kita sudah mampu menakar pribadi seorang Maman, bahwa dia berbekal kajian fiqih yang, mungkin saja, itu menjadi pedang untuk membabat konsepsi tradisi-budaya lingkungannya yang dinilai berseberangan dengan syariat yang dia pahami. Pemahaman atas hasil kajian fiqih itu pula yang membuat Maman merasa mampu meyakinkan orang tuanya tentang alasan Esti, calon istrinya, meminta mahar berupa pedang dan kain kafan,” tutur Mahrus.

Pada hal 123, Maman menulis, “Aku berharap, penjelasan ini bisa mengubah kebiasaan dan pemikiran yang sedikit kolot yang ada di keluargaku.”

Mahar, adalah syariat Islam yang wajib ada di dalam suatu pernikahan. Di awal “Kata Pengantar”, Maman mengutip ayat Al-Qur'an yang artinya: “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.” (QS 4 / Annisa: ayat 4)

“Sebagai syariat, tentu mahar wajib dilihat dari sudut pandang sah atau tidaknya sebuah pernikahan. Dan ini adalah tugas para ulama, sesuai bidang keahliannya, untuk melakukan kajian atas status hukum tersebut,” kata Mahrus yang juga seorang da’i.

Berbeda dengan uang belanja (bahasa Bugis-Makassar: doi’ balanca/doe’ panai’), maka status mahar (Bugis-Mks: Sunreng atau sunrang) adalah syarat sahnya suatu pernikahan berdasarkan perintah Al-Qur’an, Surah An-Nisa, ayat 4 di atas.

Status dan jenis kewajibannya pun jelas, yaitu berupa “Maskawin” yang diberikan secara ikhlas (tidak dipaksakan atau dilakukan berdasarkan keinginan sepihak dari wanita yang ingin dinikahi).

Di level pemahaman ini, tentu terjadi benturan pemikiran (baca: mungkin juga terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqih: khilafiyah), khususnya bagi pribadi Mahrus Andis. Karena itu, muncul pertanyaan: Apakah status mahar itu berwujud “pemberian emas” dari calon suami, sesuai perintah Al-Qur’an Surah An-Nisa, ayat 4, ataukah mahar itu berstatus “permintaan” dari calon istri, seperti halnya permintaan mahar berupa pedang dan kain kafan?

“Menurut saya, di tataran tradisi budaya masyarakat Indonesia, khususnya subkultur Seram-Maluku dan subkultur Enrekang-Sulawesi, permintaan mahar berupa pedang dan kain kafan semacam itu belum pernah terjadi. Selain dinilai menyimpang dari tradisi masyarakat Islam, juga tidak sesuai dengan syariat yang diajarkan agama,” urai pria kelahiran Bulukumba, 20 September 1958.

Argumentasi Rahman Rumaday sebagai penulis buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan” tentang adanya riwayat para Sahabat Nabi memberikan mahar kepada calon istrinya berupa: sepasang sandal, atau hanya dalam bentuk hafalan ayat-ayat Al-Qur’an (simbol keimanan) dan, bahkan di dalam sejarah diriwayatkan pernikahan Siti Fatimah (Putri Rasulullah) dengan Ali Bin Abi Thalib dengan mahar baju besi; tentu harus dipahami secara kontekstual.

Misalnya, siapakah Ummu Sulaim dan Abu Thalhah itu yang menikah dengan mahar keimanan (syahadat), atau siapakah wanita dari Bani Fazarah dengan mahar sepasang sandal? Bagaimana keadaan ekonomi mereka saat itu? Atau, mengapa Rasulullah SAW mengizinkan Ali Bin Abi Thalib menikahi putrinya Fatimah dengan mahar baju besi (pakaian perang)?

“Hal-hal seperti inilah, sesungguhnya, yang menjadi objek kajian para ulama fiqih, dan tentu saja ini menyangkut asbabul wurud, atau sebab-sebab dikeluarkannya suatu hadis,” kata Mahrus yang bernama lengkap Drs H Andi Mahrus Syarief MSi.

Lantas, adakah mahar berupa “Pedang dan Kain Kafan” itu bertentangan dengan ajaran Islam? Jawabnya dapat kita baca pada episode 13 sebagai berikut:

“ ... Selain pedang dan kain kafan, mahar yang saya minta dari antum adalah satu Al-Qur’an Khadijah, satu paket kitab Riyadhussholihin dua jilid, seperangkat alat shalat, serta sebuah cincin. Terserah antum, berapa gram yang antum mau berikan ...” (hal. 104).

Mahrus mengatakan, frasa “sebuah cincin” yang diminta oleh Esti, sebagai calon istri, sudah mewakili status mahar yang sah sesuai perintah Al-Qur’an, Surah An-Nisa, ayat 4, apalagi terdapat penjelasan sesudahnya tentang jumlah gram (baca: ukuran ini menandakan benda berupa maskawin) sesuai keikhlasan Si Maman, calon suami Esti.

Adapun perangkat lainnya seperti: pedang, kain kafan, Al-Qur’an Khadijah, Kitab Riyadhussholihin, dan alat shalat; hanyalah simbol-simbol budaya yang melengkapi syariat mahar dalam bentuk sebuah cincin.

“Terlepas mau diapakan cincin tersebut, itu hak sepenuhnya sang istri di kemudian hari,” kata Mahrus yang alumni Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.

 

Narasi Khilafiyah

 

Mahrus Andis yang tak pernah berhenti berkarya sejak kuliah, selama kurang lebih 30 tahun tenggelam dalam dunia birokrasi, sampai memasuki masa pensiun, mengatakan, membaca keseluruhan isi buku “Maharku: Pedang dan kain Kafan”, dirinya berkesimpulan bahwa Rahman Rumaday, sebagai pelaku dan penulis, ingin membagi ilmu fiqih yang dia pahami melalui kisah otobiografinya.

Keinginan itu tampak mendominasi moral ceritanya, terutama ketika kita sampai pada narasi episode 7 dengan subjudul “Ini Proposalku!”

Ada 22 halaman di buku tersebut (dari hal. 43-65) isinya nasihat perkawinan yang, boleh disebut, inti dakwah sepihak dari penulisnya, sebab sebagian narasi yang penulis kemukakan sebagai bentuk proposal dalam mencari jodoh, ada yang bersifat multitafsir atau berada dalam bingkai khilafiyah (perbedaan pendapat di tengah masyarakat).

Narasi-narasi khilafiyah yang dimaksud, antara lain, oleh Maman sebagai penulis dikatakan bahwa penyelenggaraan pernikahan tidak boleh bermaksiat kepada Allah. Narasi ini benar. Namun, ketika penulis memaparkan contoh “bermaksiat” seperti: tidak ada pemisahan antara tamu laki-laki dan wanita, tidak makan sambil berdiri (standing party ala pesta metropolitan), pengantin tidak disandingkan, dan tidak bersalaman (maksudnya: jabat tangan) dengan lawan jenis; maka narasi ini menimbulkan benturan pemikiran budaya di kalangan masyarakat.

Mengapa? Tentu jawabnya bahwa narasi tentang makna kemaksiatan dimaksud masih membutuhkan pandangan lain dari sudut kausaprima (sebab-akibat) terjadinya peristiwa seperti itu.

“Terlepas dari narasi-narasi dakwah sepihak itu, Maman telah berhasil meyakinkan lingkungan keluarganya bahwa apa yang dia lakukan bersama Esti, calon istrinya itu adalah benar dan sesuai dengan syariat yang diajarkan oleh agama Islam,” kata Mahrus. (bersambung)


----

Artikel sebelumnya:

Mahar Apa yang Diberikan Nabi Adam kepada Siti Hawa?

Sudah 3x Dibedah, Ishakim: Berarti Ada Sesuatu Yang Menarik dalam Buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan”

Tumalompoa berdiri dari duduknya, berjalan bolak-balik di depan jendela kamar kerjanya. Rindunya bergejolak penuh gairah dalam dadanya sekarang. Hatinya tak tenang lagi, terbayang terus wajah Maipa Deapati di ruang matanya. Akhirnya nafsu menguasai dirinya. Ia tak kuasa lagi berangan-angan berkepanjangan. Ia ingin secepat mungkin menguasai wanita milik Datu Museng. 

 



-----

PEDOMAN KARYA

Rabu, 29 Juni 2022

 

Datu Museng dan Maipa Deapati (31):

 

 

Rindunya Bergejolak, Tumalompoa Ingin Segera Miliki Maipa Deapati

 

 

Oleh: Verdy R. Baso

(Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

 

“Begini Jurubahasa! Bukankah Datu Museng dan isterinya yang bernama Maipa Deapati sekarang berada di Makassar ini? Sudah berapa lama mereka berada di tanah tempat kita berkuasa? Apa maksudnya kemari? Sebagai pedagang? Sebagai sahabat atau sebagai musuh? Jangan-jangan dia mencari hubungan dengan orang Gowa?”

Tumalompoa berhenti sejenak sambil meraba-raba dagunya dan mencabut-cabut bulu yang tumbuh jarang-jarang.

“Tuanku, kudengar iA datang tak sembarangan datang. Ia datang untuk menyelesaikan soal pengakuan Datu Jarewe sebagai yang dipertuan di Sumbawa. Itulah tujuan utamanya. Yang lain belum hamba maklumi. Mengenai hal itu sedang hamba selidiki. Adapun waktu tibanya di sini, sudah tiga purnama, tuanku.”

“Tiga purnama? Bukankah itu waktu yang cukup lama? Dan hasil penyelidikan belum kau peroleh? Bagaimana mungkin ini semua?” kata Tumalompoa sambil meremas-remas tangannya.

“Tapi baiklah, kau tentu sudah cukup berusaha. Aku selalu tak meragukan tindakanmu, Jurubahasa. Aku juga mengerti bahwa Datu Museng yang kau sedang selidiki itu orang istimewa yang tak mudah masuk perangkap. Justru itulah aku selalu merasa dia sangat berbahaya. Ya, terlalu berbahaya bagi pemerintahan kita. Kau mengerti?”

Tumalompoa berhenti lagi sesaat, menelan air-liur, lalu sambungnya lagi, “Begini saja. Kau..., kau harus berusaha sekuat-kuatnya memisahkan dia dari isterinya!”

Lega perasaan Tumalompoa setelah mengeluarkan kalimat terakhir ini.

“Diceraikan, tuanku?” Jurubahasa terperanjat mendengar perintah yang tak diduga-duganya itu.

“Ya, diceraikan! Karena dia terlalu berbahaya. Menurut pengalamanku, jika hendak meruntuhkan seseorang yang kuat, pukullah dahulu semangatnya. Kacaukan pikirannya, ia pasti berkelahi tanpa perhitungan yang matang. Begitu juga dengan Datu Museng. Ceraikan dari isterinya puteri Maipa yang kabarnya sangat dicintainya itu, maka ia tentu akan bertindak gegabah, mudah memasukkannya ke dalam perangkap.”

“Tapi itu berarti mati, tuan besar,” jawab Jurubahasa terbata-bata.

“Memang, itulah kehendakku! Aku yakin, kedatangannya kemari, di samping menentang Datu Jarewe, ia akan menentang pula kita. Ia orang yang cukup cerdik. Cepat atau lambat akan diketahuinya juga bahwa kitalah yang berdiri di belakang Datu Jarewe. Itu berarti ia akan menentang kekuasaan dan kedaulatan Belanda di negeri ini. Kukira ia sekarang sedang main mata dengan orang-orang Gowa untuk bekerjasama menggulingkan kekuasaan kita. Apabila berhasil usahanya, maka ia akan didudukkan di Sumbawa sebagai Sultan, menggantikan mertuanya Maggauka sekarang, yang kurang kita sukai karena masih setia dan taat secara sembunyi-sembunyi pada orang-orang Gowa. Adanya dia di Makassar ini bagai duri dalam daging kita. Dan sebelum duri itu merusak daging, sebaiknya kita cabut sekarang juga, jangan tunggu berlama-lama,” kata Tumalompoa, sambil menatap tajam-tajam Jurubahasa.

Sebenarnya hati kecil I Tuan Jurubahasa berat sekali menerima perintah itu. Ia tahu siapa Datu Museng sebenarnya. Ia maklum akan kesaktian menantu Maggauka Datu Taliwang ini yang sudah tersohor kemana-mana. Akan tetapi karena ia penjilat yang berbakat yang menyebabkan ia sekarang menduduki jabatan tertinggi di antara anak negeri, dengan sendirinya ia tak berani menentang kemauan Tumalompoa.

Dengan gaya penjilatnya yang mahir, Jurubahasa berkata: “Tuanku, sebenarnya hamba sudah mempunyai pikiran seperti itu, tapi belum dapat hamba sampaikan karena belakangan ini hamba lihat tuan besar selalu repot, banyak urusan. Hamba tak sampai hati mengusik tuanku. Hamba sebenarnya menunggu saat yang baik untuk menyampaikannya. Tapi kiranya tuan besar yang mendahului. Jadi apa yang tuanku minta tadi, akan hamba laksanakan sebaik dan sekuat-kuasa mungkin.”

Jurubahasa terdiam. Tumalompoa juga berpikir. Di benak Jurubahasa terbayang Datu Museng yang akan dihadapinya dengan kemungkinan untung-rugi. Sedang dalam pikiran Tumalompoa, terlukis kemolekan Maipa Deapati yang telah menyiksa batinnya berkepanjangan.

Tanpa dapat menahan emosi, ia kemudian berkata: “Kecantikan dan kemolekan tubuh isteri Datu Museng itu tiba di telingaku bagai suatu nyanyian yang sangat indah. Hanya sayang, keindahan lagu ini mendatangkan duka dan sakit dalam kalbu. Konon kabarnya, kecantikan Maipa masyhur bukan di Sumbawa dan Makassar saja, tapi ke lain-lain daerah pun sudah terdengar dan menjadi buah bibir setiap orang. Tak ada tara dan tandingannya lagi. Sehingga..., aku turut menjadi gila pula dibuatnya.”

Kata yang terakhir ini diucapkan Tumalompoa perlahan sekali, seakan malu didengar orang lain, selain I Tuan Jurubahasa. Ia kemudian merenung sejenak, lalu menarik napas panjang dan menatap bawahan kepercayaannya itu sambil melepaskan sesungging senyum tawar.

“Ya, rasanya setiap lelaki yang punya naluri sempurna, tergila-gila padanya, tuanku. Sekurang-kurangnya menyimpan dalam hati, karena tak kuat atau tak berani untuk....” Jurubahasa sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya untuk memancing dan menghasut tuannya.

“Untuk apa, Jurubahasa?” sela Tumalompoa agak bernafsu, “Teruskan bicaramu!”

“Untuk merebut dan memilikinya, tuanku.”

“Yang kau maksudkan aku?”

“Oh, bukan tuanku!” jawab Jurubahasa cepat.

Dan sambil menjilat-jilat bibirnya, ia melanjutkan: “Tuan besar, orang yang maha kuasa di daratan Makassar. Jika tuanku mau, soal Maipa Deapati adalah soal yang amat mudah. Kukira wanita itu pun tak akan menolak. Selain cukup tampan, tuan juga adalah orang yang memerintah di negeri ini. Satu kelebihan yang diidamkan setiap wanita.”

Kata-kata yang diucapkannya tepat mengenai sasaran. Tumalompoa berdiri dari duduknya, berjalan bolak-balik di depan jendela kamar kerjanya. Rindunya bergejolak penuh gairah dalam dadanya sekarang. Hatinya tak tenang lagi, terbayang terus wajah Maipa Deapati di ruang matanya.

Akhirnya nafsu menguasai dirinya. Ia tak kuasa lagi berangan-angan berkepanjangan. Ia ingin secepat mungkin menguasai wanita milik Datu Museng. Ya, jika tak dapat dengan damai, menumpahkan darah pun jadilah. Ia tokh orang berkuasa, dapat mengerahkan ratusan, bahkan ribuan serdadu dan tubarani untuk mengambilnya. Jika perlu lebih dari itu pun bisa. Kini tegas sudah pendiriannya, nafsu binatang telah merajai kalbunya. Tak ingat sopan-santun lagi, iblis telah menempati hati. (bersambung)


-----

Kisah sebelumnya:

Tumalompoa di Makassar Jatuh Cinta kepada Maipa Deapati

ADVOKASI TAMBANG. Muhammad Taufik Parende (tengah) didampingi Herli dan Ady Anugrah Pratama dari Koalisi Advokasi Tambang (KATA) Sulawesi Selatan, memberikan keterangan dalam konferensi pers di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Rabu, 29 Juni 2022. (ist)


 



----

Rabu, 29 Juni 2022

 

 

Gubernur Sulsel Diminta Hentikan Aktivitas Usaha Pertambangan PT CLM di Luwu Timur

 


- PT CLM Selalu Menaati Aturan

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Gubernur Sulawesi Selatan cq. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, diminta segera menghentikan sementara aktivitas atau mencabut izin usaha pertambangan operasi produksi PT Citra Lampia Mandiri (CLM).

“Kami juga meminta PT CLM segera memulihkan Sungai Malili dan pesisir laut Lampia di Kecamatan Malili, Luwu Timur,” kata Muhammad Taufik Parende, yang didampingi Herli dan Ady Anugrah Pratama dari Koalisi Advokasi Tambang (KATA) Sulawesi Selatan, dalam konferensi pers di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Rabu, 29 Juni 2022.

Koalisi Advokasi Tambang Sulawesi Selatan, kata Taufik, mendesak pihak terkait, dalam hal ini Kementrian ESDM cq. Direktorat Teknik dan Lingkungan Ditjen Minerba, segera menindak tegas PT CLM yang mengabaikan rekomendasi Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mengurus Izin Pembuangan Limbah B3.

“Gakkum KLHK juga segera melakukan penegakan hukum dan memberikan sanksi tegas atas pelanggaran hukum yang dilakukan oleh PT CLM,” tandas Taufik.

Gubernur Sulawesi Selatan cq. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu segera menghentikan sementara aktivitas atau mencabut izin usaha pertambangan operasi produksi PT CLM.

Penguasaan Sumber Daya Alam di Kawasan Hutan Sulawesi Selatan, katanya, lebih banyak didominasi oleh perusahaan yang bergerak di sektor industri pertambangan, ketimbang masyarakat lokal.

Catatan Koalisi Advokasi Tambang (KATA) Sulawesi Selatan tahun 2022, sekitar 128.824,82 hektar kawasan hutan Sulsel telah dibebani konsesi izin industri pertambangan dengan jumlah Izin Usaha Pertambangan (IUP) eksplorasi dan operasi produksi sebanyak 114 izin.

Sejak 2021, KATA Sulawesi Selatan telah melakukan review perizinan atas beberapa perusahaan. Salah satu perusahaan, yakni PT CLM, diduga kuat memiliki banyak pelanggaran sejak pengurusan awal perizinan hingga mulai melakukan operasi produksi.

Temuan dugaan pelanggaran tersebut antara lain, pertama, PT CLM tidak memiliki Izin Limbah B3 dan mengabaikan rekomendasi Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral untuk mengurus Izin Pembuangan Limbah B3.

“Namun hingga saat ini, PT CLM belum menindaklanjuti rekomendasi dari Direktorat Teknik dan Lingkungan Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Ini menandakan bahwa PT CLM bebal terhadap aturan yang berlaku, serta lemahnya penindakan dari penegak hukum dan pengawasan pemerintah,” tutur Taufik.

Kedua, Aktivitas Pertambangan PT Citra Lampia Mandiri menjadi salah satu sumber pencemaran sungai dan pesisir-laut Malili, di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Hal ini diperkuat dengan hasil investigasi Tim KATA Sulawesi Selatan menyebutkan sepanjang 2020 sampai 2021 PT CLM sudah empat kali mencemari Sungai Malili, yang paling parah bulan November 2021.

Ketiga, selama melakukan aktivitas eksplorasi, PT CLM tidak memiliki Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan. Hal ini diperkuat dengan dokumen AMDAL sebelum Addendum. Dalam dokumen tersebut juga tidak dijelaskan secara eksplisit bahwa PT CLM telah memiliki IPPKH.

Selain itu, PT CLM menggunakan IPPKH kadaluarsa dalam melakukan aktivitas operasi produksi. Dalam dokumen IPPKH 2012, jika pelaku usaha tidak melakukan aktivitas nyata di lapangan selama dua tahun sejak diterbitkan izin, maka IPPKH tersebut batal dengan sendirinya.

KATA Sulawesi Selatan menemukan bahwa PT CLM baru melakukan aktivitas operasi produksi bulan Januari 2018, sebagaimana tertuang dalam laporan Rencana Kegiatan dan Anggaran Biaya (RKAB) PT CLM 2019.

Keempat, dalam penyusunan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Rencana Pertambangan Nikel dan Pengikutnya dan Pembangunan Pelabuhan di perairan Lampia yang dilakukan oleh pemrakarsa, tidak terbuka dan tidak partisipatif.

PT CLM diduga tidak melakukan konsultasi publik secara terbuka dan partisipatif terkait penyusunan dokumen AMDAL sebelum dan sesudah addendum, sehingga nelayan, petani merica, petani tambak, dan perempuan yang bermukim di Desa Harapan, Desa Pasi-Pasi dan Desa Pongkeru, Kecamatan Malili, Luwu Timur, mendapatkan dampak buruk dari aktivitas pertambangan tersebut.

 

Koalisi Advokasi Tambang Sulawesi Selatan

 

Taufik menjelaskan, Koalisi Advokasi Tambang Sulawesi Selatan yang disingkat dengan KATA Sulawesi Selatan adalah koalisi yang dibentuk oleh beberapa organisasi masyarakat sipil/NGO di Sulawesi Selatan, yaitu, JURnaL Celebes, LBH Makassar, LAPAR Sulawesi Selatan, WALHI Sulawesi Selatan, Perkumpulan Wallacea, Solidaritas Perempuan- AM, KPA Wilyah Sulawesi Selatan, Enviromental Law Forum (ELF) Unhas.

“Tujuan dari koalisi ini adalah mendorong penegakan hukum terhadap industri-industri yang diduga melakukan pelanggaran di sektor sumber daya alam dan lingkungan hidup,” jelas Taufik. 

 

Koalisi Advokasi Tambang Sulawesi Selatan

 

Taufik menjelaskan, Koalisi Advokasi Tambang Sulawesi Selatan yang disingkat dengan KATA Sulawesi Selatan adalah koalisi yang dibentuk oleh beberapa organisasi masyarakat sipil/NGO di Sulawesi Selatan, yaitu, JURnaL Celebes, LBH Makassar, LAPAR Sulawesi Selatan, WALHI Sulawesi Selatan, Perkumpulan Wallacea, Solidaritas Perempuan- AM, KPA Wilyah Sulawesi Selatan, Enviromental Law Forum (ELF) Unhas.

“Tujuan dari koalisi ini adalah mendorong penegakan hukum terhadap industri-industri yang diduga melakukan pelanggaran di sektor sumber daya alam dan lingkungan hidup,” jelas Taufik. (rls)

 

PT Citra Lampia Mandiri

 

Sehubungan dengan pemberitaan ini, kami telah meminta hak jawab kepada PT Citra Lampia Mandiri melalui surat elektronik (email), Rabu sore, 29 Juni 2022, tapi sampai berita ini diturunkan, jawaban atas email kami tersebut belum terbalas.

Dalam dalam PT Citra Lampia Mandiri (https://www.clmmining.com/) dijelaskan bahwa PT Citra Lampia Mandiri adalah perusahaan lokal pertambangan nikel dari Luwu Timur yang menerapkan Good Mining Practice secara menyeluruh serta satu-satunya perusahaan tambang yang mengutamakan pemberdayaan dan potensi lokal.

PT Citra Lampia Mandiri merupakan perusahaan tambang yang berdiri sejak tahun 2007. Berawal dari tim yang melakukan eksplorasi sumber daya mineral di Luwu Timur. Kami berbasis di Desa Lampia, Kabupaten Luwu Timur, Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan dengan luas IUP produksi sebesar 2.660 Hektar.

Visi PT Citra Lampia Mandiri, “Menjadi salah satu perusahaan pertambangan yang berfokus pada laju pertumbuhan dengan membangun kompetensi melalui pengembangan karyawan, pemberdayaan masyarakat lokal, serta berkomitmen dalam menjaga lingkungan.”

Misi PT Citra Lampia Mandiri, Membangun sumber daya manusia yang berkualitas; Menerapkan prinsip Good Mining Practice; Investasi dan ikut berpartisipasi dalam industri pertambangan; Meningkatkan integrasi rantai pasokan nikel untuk memastikan keandalan dan efisiensi; Membangun hubungan yang kuat dengan rekan bisnis dan komunitas keuangan; Mengedepankan keterlibatan masyarakat sekitar area tambang.

 

Good Mining Practice (Praktik Pertambangan Yang Baik)

 

PT Citra Lampia Mandiri selalu berusaha untuk menaati aturan, perencanaan, pengendalian, serta pemulihan dari aktivitas pertambangan terhadap kelestarian lingkungan.

Di tengah maraknya perusahaan tambang yang tidak peduli akan lingkungan dan hanya mengutamakan kepentingan sepihak, PT Citra Lampia Mandiri muncul sebagai salah satu perusahaan pertambangan Nikel yang menerapkan Good Mining Practice secara menyeluruh.

Good Mining Practice sendiri merupakan sistem kaidah penambangan yang mengikuti dan menaati aturan serta terencana dengan baik. Serta menerapkan teknologi yang sesuai yang berlandaskan pada efektifitas dan efisiensi, melaksanakan konservasi bahan galian, mengendalikan dan memelihara fungsi lingkungan, menjamin keselamatan kerja, mengakomodir keinginan dan partisipasi masyarakat, menghasilkan nilai tambah, meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan masyarakat sekitar, serta menciptakan pembangunan yang berlanjutan.

Maka, dapat dikatakan kalau perusahaan Nikel Indonesia (Indonesia Nickel Mining) yang berdiri sejak 2007 ini juga ikut berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan seperti slogan yang kami miliki “Dari Bumi Untuk Bumi.” (red)



BERSAMA ANIS KABA. Dari kiri ke kanan, M Anis Kaba, Muhammad Amir Jaya, Mahrus Andis, dan Anwar Nasyaruddin, di kediaman 
M Anis Kaba, Jl Kelinci Makassar, Selasa, 28 Juni 2022. (Foto-foto: Rahman Rumaday)
 






-----

PEDOMAN KARYA

Rabu 29 Juni 2022

 

Bersama Penyair M. Anis Kaba:

 

 

Era 60-an, Sastrawan Bulukumba Merajai Sulawesi Selatan

 

 

Oleh: Mahrus Andis

(Sastrawan, Budayawan)


Lebih aman naik mobil grab. Itu kesepakatan akhir ketika saya, Amir Jaya, Anwar Nasyaruddin dan Rahman Rumaday  merancang ide berkunjung ke rumah M. Anis Kaba, seorang penyair Sulsel yang pernah membungai khasanah literasi di kolom media massa.

Naik grab ke rumah Anis Kaba, tidak perlu repot. Tinggal pesan mobil, turun di mulut lorong Jalan Kelinci, menyusup ke halaman teduh dan berteriak menyebut nama di depan pintu. Rumah batu yang tampak sudah tua dan menampung aura masa silam, di situlah penyair ini hidup dalam senyap.

M. Anis Kaba lahir di Limbung, Kabupaten Gowa, 21 April 1942. Pernah kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado sampai Sarjana Muda, 1978.

Pertama kali terjun di dunia seni tahun 1959, Anis mendirikan Organisasi Seniman Muda (Orsenim) Makassar. Bersama Mochtar Pabottingi, Anis mengasuh siaran Simphoni Kesenian di RRI Nusantara Makassar yang diselenggarakan oleh Ikatan Seni-Budaya Muhammadiyah (ISBM).

Penyair yang juga aktor drama di tahun 1964 ini terbilang produktif di masanya. Sajak-sajaknya banyak dimuat di berbagai media, antara lain: Mingguan Ekspres, Mingguan Pos Makassar, Mingguan Patria, Majalah BawakaraEng, hingga Harian Pedoman Rakyat di era 1960-1970.

Kumpulan Puisi terbarunya berjudul “Nyanyian Alam”, penerbit Saji Sastra Indonesia, 2000, dengan Pengantar Apresiasi Shaifuddin Bahrum.

“Usia saya 81 tahun,” katanya, setelah menyilakan kami berempat duduk, menikmati kopi yang baru saja dibuatnya dan kue tolobang (sejenis bolu kukus) yang entah dari siapa.

“Apa yang Pak Anis ketahui tentang sastrawan di Sulsel di tahun 50-an dan tahun 60-an?,” kata saya memancing masa silamnya.


Anis mengerutkan kening, membakar sebatang rokok yang kami jadikan oleh-oleh, kemudian memulai bicaranya.

“Sastrawan pertama di Makassar yang saya ingat adalah Arsal Alhabsi. Dialah yang mengajak Rahman Arge, bergiat di dunia seni. Menyusul Husni Djamaluddin, Aspar Paturusi, dan yang lain-lain,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, “Dahulu, saya masih pemula menulis karya sastra. Kiprah saya berkreasi hanya seputar Parepare-Makassar bersama A Makmur Makka. Sedangkan Arsal, Arge, Husni dan Aspar, karyanya sudah merambah ibukota Jakarta.”

“Apa yang Pak Anis ingat tentang sastrawan Sulawesi Selatan di tahun 70-an?” seruduk saya.

Anis Kaba menghisap dalam-dalam rokoknya, lalu bagai kedatangan wahyu dia berkisah, “Nah, cerita ini sedikit ngeri. Para seniman dan budayawan saat itu serasa berkarya dalam ketakutan. Tidak boleh ada kritik. Saya pernah membawakan apresiasi sastra di acara Simphoni Kesenian RRI. Selesai itu, oleh orang yang tidak saya kenal, saya dibawa ke satu tempat yang ngeri. Saya diancam dengan pembunuhan karena dianggap mengeritik karya seorang tentara berpangkat Letkol.”

Kisah ini membuat kami terperangah. Amir terkejut, Anwar menganga, Maman menatap kosong, dan saya berupaya mengingat-ingat nama Letkol yang dia sebutkan itu.

Anis Kaba terus bercerita. Tentara itu berjiwa seni tapi wataknya keras. Dia memelihara Intel preman yang bertugas memata-matai para seniman yang dicurigai mengeritik karyanya. Dirinya dan A. Moein MG termasuk dalam perangkap mata-mata itu.

“Sudahlah. Itu masa silam yang ngeri,” kata Anis sedikit bergidik.

Kami tercenung memikirkan kisah itu. Ruang tamu yang tidak luas disesaki rak buku-buku tua dan karya seni khas daerah lain, terasa beku. Anis Kaba terus menikmati kepulan asap dari kedua bibirnya yang menua. Jam menunjukkan pukul 4 sore. Satu persatu kami shalat ashar di ruang tengah, di antara kliping koran dan rak buku-buku.

“Di tahun 60-an, dinamika penulisan sastra di Sulsel didominasi oleh seniman asal daerah Bulukumba,” lanjut Anis seusai kami menunaikan shalat.

“O ya. Siapa saja mereka?” telisik saya.

“Banyak. Yang saya ingat adalah Hizbuldin Patunru, Mattulada, Tjurong KN (nama samaran T. Konin), Zain Palakka, Aspar Paturusi, Mochtar Pabottingi, dan Fahmi Syariff. Mereka menulis puisi, cerpen, novel, esai budaya dan drama. Karya-karya mereka dimuat di berbagai media mingguan yang terbit di Makassar,” Anis Kaba mengunci bicaranya.

Dia memandang saya dengan bola mata yang layu. Seakan penyair ini ingin mengatakan: “Waktu itu kamu belum siapa-siapa. Apalagi ketiga orang yang duduk di sampingmu itu!”

(Saya tertunduk, membayangkan diri ketawa sambil ta’guling-guling).

Sebelum pulang, saya sempatkan diri membacakan satu puisi M. Anis Kaba di hadapan penyairnya. Dia tampak hidup, wajah cerah menghias gurat-gurat usianya. Inilah puisi itu:

 

Air Makrifat

 

bening-bening air terjun

menyelimuti tebing, mengusik hening

mengalir dan mengalir

menyatu ke bumi

sejuk di hati

 

kabut air membasuh daun-daun hari

dari selubung debu dan murung

jadi teduh, jauh dari sendu

mengalirlah, mengalir

yang dingin dan bening

 

menyirami diri yang sepi

dari bisikan alam sunyi

mengalirlah, mengalir

bisikan hati yang bening

akan kutulis sebelum mati.

 

-Makassar, 2000-

(Dari Kumpulan Sajak "Nyanyian Alam, hal. 48)

 

Nikmat rasanya berbincang dengan Bung Anis Kaba. Menjelang magrib, kami tinggalkan rumahnya. Dia mengantar kami keluar dari “Gang Kelinci” itu. ***

-Mks, 29 Juni 2022-


CITIZEN REPORTER. Peserta dan pemateri, serta Kepala Perpustakaan Unismuh Makassar foto bersama pada Pelatihan Citizen Reporter, Bagi Dosen Mahasiswa dan Tenaga Kependidikan yang diadakan Komunitas TEMAN (Tempat Nongkrong) Lembaga Perpustakaan dan Penerbitan Unismuh Makassar, di Aula Perpustakaan Unismuh Makassar, Selasa, 28 Juni 2022. (Foto: Fakhruddin Sunusi)

 


----

Rabu, 29 Juni 2022

 

 

Perpustakaan Unismuh Makassar Gelar Pelatihan Citizen Reporter

 

 

Citizen Reporter: Sitti Asyirah Syarif

(Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Unismuh Makassar)


-----

Kepala Perpustakaan Unismuh Makassar, Nursinah (kedua dari kiri) foto bersama seusai memberikan sertifikat kepada tiga pemateri, yaitu Hurriah Ali Hasan (paling kiri), Mohammad Yahya Mustafa (kedua dari kanan), dan Syukri. (Foto: Fakhruddin Sunusi)

----
 



MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Komunitas TEMAN (Tempat Nongkrong) Lembaga Perpustakaan dan Penerbitan Unismuh Makassar, menggelar kegiatan Pelatihan Citizen Reporter, Bagi Dosen Mahasiswa dan Tenaga Kependidikan, di Aula Perpustakaan Unismuh Makassar, Selasa, 28 Juni 2022.

Tampil selaku narasumber yakni Dr Muhammad Yahya dengan materi “Jurnalistik Media Online”, Hurriah Ali Hasan ST ME PhD dengan materi “Teknik Publikasi di Media Online”, serta Syukri SSos MSi dengan materi “UU Pers dan ITE: Antara Kebebasan dan Pembatasan”. Moderator pada acara ini, Rasyidi Mahmud SIP, staf Perpustakaan Pusat Unismuh Makassar.

Kepala Lembaga Perpustakaan dan Penerbitan Unismuh Makassar, Nursinah Shum MIP, dalam sambutan singkatnya pada acara pembukaan mengatakan, Perpustakaan Unismuh Makassar tidak hanya dijadikan tempat untuk meminjam buku, namun juga sebagai wadah untuk berdiskusi dan saling bertukar pikiran.

“Kegiatan diskusi seperti ini sudah pernah dilaksanakan, termasuk bedah buku, pelatihan penulisan artikel opini, serta diskusi karya puisi,” kata Nursinah.

Lewat kegiatan ini akan memotivasi civitas akademika kampus lebih rajin mengunjungi perpustakaan Unismuh Makassar. Kegiatan ini dimulai pukul 09.00 Wita sampai sekitar pukul 11.30 Wita, dan dihadiri puluhan mahasiswa, dosen, dan tenaga pengajar lingkup Unismuh Makassar.

Yahya Mustafa yang sehari-hari dosen Ilmu Komunikasi Fisip Unismuh Makassar, dalam materinya mengatakan, ada empat modal bagi penulis citizen reporter yakni; wawasan, diksi, rasa bahasa dan ekonomi kata.

“Selain itu, bagi seorang penulis citizen reporter, harus tetap memperhatikan rumus dalam menulis berita pada jurnalistik,” kata Yahya, yang mantan wartawan Harian Pedoman Rakyat.

Rumus menulis berita, kata Yahya, sering diakronimkan dengan ADIKSIMBA. A itu apa, DI itu dimana, K itu kapan, SI itu siapa, M itu mengapa, dan BA itu bagaimana.

Hurriah Ali Hasan menegaskan bahwa, tulisan baru bisa dikatakan tulisan apabila sudah dibagikan kepada orang lain.

“Jadi, tulisan itu sepatutnya untuk dibaca oleh orang lain, jadi jangan simpan di laptop atau di hape saja,” kata Hurriah yang sehari-hari dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Unismuh Makassar.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menulis berita, kata mantan wartawan Harian Fajar, yaitu ikuti isu yang jadi diskursus publik, rajin membaca media massa, perhatikan langgam penulisan, menulis dengan sudut pandang yang berbeda.

“Menulis meninggalkan jejak digital, maka dari itu tulislah hal yang baik, hal yang membahagiakan diri sendiri dan siapapun yang membacanya,” tandas doktor ekonomi pembangunan Universitas Teknologi Malaysia .

Nara sumber ketiga, Syukri (Plt Ketua Prodi Ilmu Komunikasi Fisip Unismuh Makassar), menegaskan, dalam menulis di media sosial dan media massa, harus diperhatian regulasi pada UU Pers dan UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik).

“Pada beberapa kejadian, ada warga yang membuat pesan pada media sosial yang kemudian harus berhubungan dengan ranah hokum, karena dianggap pencemaran nama baik,” ungkap Syukri yang mantan Ketua Stikom Muhammadiyah Jayapura.

Syukri yang kini tengah melanjutkan studi program doktoral (S3) Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran Bandung, menyarankan guna lebih memantapkan luaran dari pelatihan citizen reporter sebaiknya ditindaklanjuti dengan menggelar workshop

“Sebaiknya ditindaklanjuti dengan workshop agar adik-adik mahasiswa dapat langsung belajar dan praktek dalam membuat citizen reporter,” kata Syukri.

Pelatihan ini disambut antusias oleh mahasiswa, dosen dan beberapa tenaga pendidik lainnya. Suasana didalam ruangan pun cukup santai namun serius saat narasumber menyampaikan materinya masing-masing.

Koordinator TEMAN Lembaga Perpustakaan dan Penerbitan Unismuh Makassar, Fakhruddin Sunusi, menambahkan, lewat kegiatan ini diharapkan mahasiswa semakin paham dan semakin rajin dan bijak dalam menulis dan menyebarkan sesuatu di media daring.

“Beberapa dosen Unismuh telah menjalin komunikasi untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan yang dilaksanakan TEMAN untuk beberapa seri ke depan,” kata Fakhruddin Sunusi yang Pustakawan Unismuh Makassar.


-----

Baca juga:

Penulis Artikel Opini Harus Berani dan Percaya Diri