Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

Ronald (kiri) didampingi seniman dan budayawan Tionghoa Peranakan Bugis Makassar, Moehammad David Aritanto, di Warkop Tenda Merah, Komplek Ruko Jl Gunung Latimojong, Makassar, Selasa, 24 November 2020. (ist)
 

 

 

 

 

 

 

 

 

-----

PEDOMAN KARYA

Kamis, 26 November 2020

 

 

Generasi Hainan Lulusan Singapura Buka Warkop di Makassar

 

 

Sampai saat ini, kita masih banyak menemui warung kopi (warkop) di Kota Makassar yang letaknya pada sudut pertigaan atau sudut perempatan jalan. Pemilik warkop sengaja membuka warung kopinya di sudut jalan agar mudah terlihat dari dua sisi atau dua arah bagi para pengendara atau para pejalan kaki.

Dalam sejarahnya sebelum dan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia, warkop-warkop yang ada di sudut jalan itu umumnya milik warga keturunan Tiongkok, khususnya suku Hainan.

Karena banyaknya suku Hainan yang membuka warkop di perempetan atau di pertigaan jalan di Makassar, maka dulu mereka santer disebut China panyingkuluk (perempatan).

Mereka memilih tempat yang strategis yakni di perempatan jalan, selain agar terlihat dari dua arah, juga agar aroma kopi yang dimasak berhembus keluar dan tercium oleh orang yang melintas.

Seiring perkembangan zaman, banyak generasi muda Hainan yang enggan meneruskan usaha kakek-nenek buyutnya, padahal itulah keahlian usaha para perantau pertama yang berasal dari lumbung kopi dan kelapa di Pulau Hainan, Tiongkok.

Pilihan tidak ikut meneruskan usaha warkop kakek nenek buyut, tidak berlaku pada putra pertama Saiman Sutanto yang bernama lengkap Ronald Ivander Sutanto atau akrab disapa Ronald (22).

Ronald adalah cicit langsung pendiri Warkop Meinam yang berdiri tahun 1940-an. Tan Yu Fuk atau cucu langsung pendiri Warkop Baru, Gustawa Sutanto, membuka usaha warkop di perempatan Jl Sungai Limboto, dan Jl Veteran, Makassar.

Ronald memilih kuliah dan berhasil meraih gelar Bachelor Of Arts (Konots) in Business and Finance di Singapura, dalam bidang manajemen usaha.

Usai menyelesaikan studinya, Ronald memilih kembali ke Makassar untuk membuka warkop Tenda Merah, di Komplek Ruko Jl Gunung Latimojong, yang mulai beroperasi, 23 Februari 2020, dan tetap mempertahankan citarasa tradisional kopi Hainan dalam kemasan konsep modern atau semi-cafe.

“Saya sengaja memilih nama warkop yang berakhir dengan huruf H, dari kata merah, karena warna merah atau warna hokky atau rejeki, sedangkan tenda berarti melindungi atau mengayomi,” kata Ronald, yang didampingi seniman dan budayawan Tionghoa Peranakan Bugis Makassar, Moehammad David Aritanto, kepada wartawan di Makassar, Selasa, 24 November 2020.

Ronald sadar bahwa di tengah upaya pemerintah mendongkrak ekonomi kerakyatan yang berbasis UKM (usaha kecil menengah), ada upaya untuk mengembangkan usaha selai kaya sebagai upaya melestarikan produk khas yang diwariskan kakek-nenek moyangnya dari Pulau Hainan. (asnawin)

ASOSIASI PENGHULU. Pengurus APRI Sulsel foto bersama Kakanwil Kemenag Sulsel, H Khaeroni, di Kantor Kemenag Sulsel, Jl Nuri Makassar, Senin, 23 November 2020. (ist)







------- 

PEDOMAN KARYA

Rabu, 25 November 2020

 

 

Pengurus Asosiasi Penghulu Sulsel Terbentuk, Yusuf Hakim Ketua, Muhammad Ali Sekretaris

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Sejumlah penghulu membentuk organisasi penghulu yang diberi nama Asosiasi Penghulu Republik Indonesia disingkat APRI.

Organisasi ini juga sudah terbentuk di Sulawesi Selatan dengan susunan pengurus inti antara lain Yusuf Hakim sebagai ketua, Ahmad Jazil sebagai Ketua I, Mulkan sebagai Ketua II, Muhammad Ali sebagai sekretaris, dan Beni Susanto sebagai bendahara.

Untuk pengukuhan pengurus tersebut, Yusuf Hakim cs melakukan audiensi dengan Kakanwil Kementerian Agama (Kemenag) Sulsel, H Khaeroni, di Kantor Kemenag Sulsel, Jl Nuri Makassar, Senin, 23 November 2020.

Dalam pertemuan itu, Yusuf Hakim melaporkan rencana pengukuhannya dan berharap kepada Kakanwil Kemenag Sulsel untuk memberikan masukan, bimbingan dan petunjuk dalam melaksanakan tugas di asosiasi kepenghuluan untuk memaksimalkan perannya di tengah-tengah masyarakat.

Yusuf Hakim menyampaikan pihaknya bersama Kementerian Agama akan bekerja dengan baik, melalui asosiasi yang telah dibentuk, karena memiliki tanggung jawab dan peran yang besar untuk ikut berpartisipasi dalam menyukseskan pembangunan. 

Kakanwil Kemenag Sulsel, Khaeroni, menyambut baik terbentuknya PW APRI Sulsel periode 2020-2024, dan berharap organisasi ini bisa terus eksis memberikan pelayanan kepada masyarakat. 

"Kehadiran APRI tentu akan banyak memberikan manfaat kepada masyarakat. Olehnya itu, kami berharap pengurus yang ada dapat bekerja dengan baik, ikhlas, dan penuh tanggung jawab,’’ kata Khaeroni, yang didampingi Kepala Seksi Kepenghuluan Bidang Urais dan Binsyar, H Reski Darma, dan salah seorang staf, Ambo Tuwo. (dir)

Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat. (Foto: Asnawin Aminuddin /  PEDOMAN KARYA)





-------

PEDOMAN KARYA

Rabu, 25 November 2020

 

KALAM

 

 

Ditinggikan Derajatnya, Dihapuskan Kesalahannya

 

 

“Shalat seorang laki-laki dengan berjama’ah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat-gandakan) pahalanya dengan dua puluh lima kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudhu dengan menyempurnakan wudhunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkah pun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)



Umar bertanya, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?” 

Nafi pun menjawab, “Dia adalah seorang yang menghafal Kitab Allah ‘azza wa jalla dan ahli di bidang fara’idh/waris.” 



-------

PEDOMAN KARYA

Selasa, 24 November 2020


KALAM



Bekas Budak Diangkat Jadi Pemimpin



Dari Amir bin Watsilah, dia menuturkan bahwa suatu ketika Nafi bin Abdul Harits bertemu dengan Umar di Usfan (sebuah wilayah di antara Mekah dan Madinah). 

Pada waktu itu Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah. Maka Umar pun bertanya kepadanya, “Siapakah yang kamu angkat sebagai pemimpin bagi para penduduk lembah?”

Nafi menjawab, “Ibnu Abza.” ‘Umar kembali bertanya, “Siapa itu Ibnu Abza?”. Dia menjawab, “Salah seorang bekas budak yang tinggal bersama kami.” 

Umar bertanya, “Apakah kamu mengangkat seorang bekas budak untuk memimpin mereka?” 

Nafi pun menjawab, “Dia adalah seorang yang menghafal Kitab Allah ‘azza wa jalla dan ahli di bidang fara’idh/waris.” 

Umar pun berkata, “Adapun Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam memang telah bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan Kitab (Alquran) ini sebagian kaum dan dengannya pula Dia akan menghinakan sebagian kaum yang lain.”.” (HR. Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin [817])

 



Setelah shalat magrib, saya bersama istri meluncur naik motor ke rumah sakit. Dan di sana adik saya sudah terbaring di IGD dalam keadaan tidak sadarkan diri dan diberi alat bantuan pernafasan. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



-----

PEDOMAN KARYA

Senin, 23 November 2020


CERPEN



Akhirnya Dia Tumbang Juga (1)



Karya: Asnawin Aminuddin


"Akhirnya dia tumbang juga," tulis adik saya di grup WhatsApp (WA) saudara, pada Ahad pagi.

Yang dia maksudkan sebenarnya ialah mobilnya yang terpaksa masuk bengkel dan setelah diperbaiki, dia harus merogoh isi kantongnya sekitar Rp1 jutaan.

Meskipun yang dia maksudkan adalah mobilnya, saya justru menangkap isyarat lain dari kalimat pendek itu. Detak jantung saya tiba-tiba berdebar agak kencang.

Saya berupaya menenangkan diri dan berupaya membuang dugaan yang tidak baik.

Tiba waktu adzan magrib, seseorang yang nomornya tidak terdaftar menelpon saya. Saya mengangkat telpon tersebut dan ternyata dari mertua perempuan adik saya.

Beliau mengabarkan bahwa adik saya dibawa masuk ke rumah sakit karena tiba-tiba pingsan saat menyetir mobil.

Setelah shalat magrib, saya bersama istri meluncur naik motor ke rumah sakit. Dan di sana adik saya sudah terbaring di IGD dalam keadaan tidak sadarkan diri dan diberi alat bantuan pernafasan.

Istri dan anaknya, serta beberapa anggota keluarga tampak menangis sedih di tepi tempat tidur. Sebagian lainnya di luar ruangan.

Tentu saja saya kaget dan detak jantungku pun langsung bergerak cepat, apalagi setelah menyaksikan bahwa adik saya juga diberi alat bantu tambahan berupa pipa yang dimasukkan ke dalam mulutnya.

Pipa itu ternyata berfungsi untuk menyedot cairan muntah dan darah apabila ia tersedak.

Saya pun langsung teringat status adik saya ini tadi pagi di grup WA. Mungkin inilah jawaban dari perasaan saya yang tidak enak setelah membaca statusnya tadi pagi itu.

"Ya Allah, jangan engkau ambil nyawa adik saya. Kami belum siap berpisah dengannya. Terlalu cepat Ya Allah. Isterinya masih membutuhkannya. Anaknya pun demikian. Ya Allah, tolong selamatkan nyawanya, berilah dia kesempatan kembali berkumpul dengan kami," do'a saya dalam hati.

Saya memotret adik saya dan kemudian mempostingnya di beberapa grup WA keluarga. Saya meminta semua anggota keluarga mendo'akan, semoga adik saya ini diberi kekuatan dan kesembuhan.

Maka do'a-do'a pun mengalir dari anggota keluarga yang tersebar di beberapa daerah, termasuk dari provinsi lain.

Kami pun bergantian masuk ke ruangan IGD untuk melihat perkembangannya. Kami menanyakan kepada dokter, dan dokter mengatakan pembuluh darah di otaknya pecah.

Kami menanyakan apa tindakan terbaik yang bisa dilakukan, dan dokter mengatakan operasi bedah syaraf, dan harus dirujuk ke rumah sakit besar yang siap menerimanya. 

Kami langsung mengiyakan, tapi ternyata tak ada satu pun rumah sakit yang siap menerima. Alasannya, pendarahan di syaraf bagian belakang otaknya sudah melebar dan menyentuh syaraf pernafasan. Tidak transportabel untuk dibawa ke rumah sakit lain, karena dikhawatirkan masih dalam perjalanan di mobil ambulans, pasien sudah keburu meninggal.

Keputusan terakhir pun diambil yakni dipindahkan ke ruang ICU di lantai dua rumah sakit itu. Saat tiba ruangan ICU, ternyata tempat tidur dan peralatannya belum siap. 

Lantai ruangan pun belum disapu dan saya agak memaksa meminta sapu untuk menyapu lantai, tapi mereka bilang gampang itu soal membersihkan lantai, karena katanya yang paling penting segera diangkat pasien dari tempat tidur IGD ke tempat tidur ruangan ICU.

Proses memindahkan pasien ternyata butuh waktu sekitar sepuluh menit dan itupun melibatkan beberapa orang laki-laki dewasa, karena adik saya yang tinggi badannya sekitar 176 cm, cukup berat timbangan badannya. Mungkin berkisar 90 kg.

Setelah dipindahkan ke tempat tidur ruangan ICU, semua yang turut membantu diminta keluar, kecuali saya karena hanya diperbolehkan satu orang anggota keluarga menemani pasien.

Perawat pun bergerak cepat memasang alat-alat, termasuk dua botol cairan infus. Namun baru saja alat pendeteksi pernafasan menyala, tiba-tiba adik saya tampak sudah tidak bernafas lagi. Saya memeriksa matanya, tidak ada lagi kehidupan di sana.

Di layar monitor juga terlihat garis-garisnya yang tadinya naik turun, kini terlihat bergerak datar. 

Saya dan perawat sama-sama berteriak memanggil dokter, dan dokter pun datang bersama dua perempuan perawat. Mereka langsung mengambil peralatan dan memompa dada adik saya dengan dua telapan tangan. Di layar monitor, garis-garis terlihat bergeraj naik turun.

Saya juga menelpon istri saya yang berada di lantai satu untuk mengajak semua anggota keluarga naik ke lantai dua ke ruangan ICU.

Mereka pun berdatangan dan beberapa di antaranya terdengar terisak. Kami pun menyaksikan dokter dan perawat bergantian memompa, namun akhirnya mereka menyerah dan mengatakan adik saya "sudah tidak ada." (bersambung)