iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » In Memoriam FPOK IKIP dan Firman Basir


Pedoman Karya 7:15 AM 0


ALMARHUM. Pembawaannya yang murah senyum, supel, dan juga tidak canggung bertemu dengan para dosen, membuat kami merasa benar-benar mendapatkan pemimpin yang benar-benar pemimpin. Prestasi akademik Firman Basir yang cukup menonjol, semakin membuat kami merasa senang dipimpin oleh beliau. Kami menikmati kebersamaan sebagai mahasiswa FPOK IKIP selama empat setengah tahun (sembilan semester).




----------
PEDOMAN KARYA
Ahad, 13 Maret 2016


In Memoriam FPOK IKIP dan Firman Basir


Oleh: Asnawin Aminuddin
(Alumni FPOK IKIP Ujungpandang)

Pertengahan tahun 1986 (tidak terasa sudah 30 tahun berlalu), saya bersama lebih dari 100 orang lainnya dari berbagai daerah di Indonesia, terdaftar sebagai mahasiswa baru pada Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujungpandang (sekarang Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Makassar atau FIK UNM).
Meskipun berasal dari berbagai daerah, kami ternyata cepat akrab satu sama lain dan juga cepat merasakan tumbuhnya rasa persaudaraan di antara kami.
Penyebabnya, selain karena kami memang ingin kuliah pada fakultas yang sama (hobby olahraga dan sebagian besar ingin menjadi guru olahraga), juga karena kami harus melewati suasana menegangkan sekaligus menyenangkan selama beberapa hari melalui kegiatan Orientasi Program Studi dan Pengenalan Kampus (OPSPEK).
Menegangkan karena para mahasiswa senior yang terlibat sebagai panitia OPSPEK (belakangan diubah namanya menjadi OSPEK, singkatan dari Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) memanfaatkan momentum OPSPEK tersebut untuk “mengerjai” kami sekaligus memperlihatkan superioritas mereka atas mahasiswa baru.
Salah satu cara mereka mengerjai kami yaitu dengan menyuruh kami (mahasiswa laki-laki) mengucapkan kalimat: “I love you” kepada salah seorang mahasiswi senior yang juga panitia. Tentu saja, banyak di antara kami yang malu atau tidak berani.
Mereka yang berani mengucapkan kalimat tersebut, langsung dipukul atau dihukum oleh panitia dengan alasan terlalu lancang. Sebaliknya, mahasiswa yang tidak berani mengucapkan kalimat “I love you”, disebut sebagai banci atau bencong. Yah, kami serba salah dan tidak pernah benar.
Cara lain yaitu dengan menyuruh kami menyanyi bersama dengan suara (volume) besar lagu wajib nasional: “Satu Nusa Satu Bangsa”, tetapi semua huruf S diganti menjadi huruf C (kalau tidak salah, acara itu dipandu oleh Suardi, mahasiswa senior asal Soppeng yang sekarang menjabat Kepala Bagian Umum LPMP Sulsel). Maka kami pun menyanyikan lagu tersebut dengan lirik: “Catu Nuca Catu Bangca”. Tentu saja kami semua menyanyikannya sambil tertawa-tawa.
Begitulah antara lain, cara mahasiswa senior “mengerjai” kami, para mahasiswa baru. Meskipun “dikerjai”, kami sama sekali tidak dendam kepada para senior. Kami bahkan menikmati “dikerjai” seperti itu, karena meskipun kadang-kadang menjengkelkan, juga lebih banyak suasana gembiranya.
OPSPEK yang dilangsungkan selama beberapa hari ketika itu, dibagi dua sesi, yaitu sesi fakultas di Kampus FPOK IKIP Banta-bantaeng (waktu itu Dekan FPOK adalah Pak Djafar), dan sesi institut di Kampus IKIP Gunungsari Baru (waktu itu Rektor IKIP adalah Prof Paturungi Parawansa).
Setelah beberapa hari mengikuti OPSPEK, kami kemudian mengikuti Penataran P4 Pola Pendukung 100 Jam. P4 adalah singkatan dari Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Penataran P4 juga dilaksanakan selama beberapa hari di Kampus IKIP Gunungsari Baru.
Dengan adanya dua kegiatan tersebut (OPSPEK dan Penataran P4), maka kami selaku mahasiswa baru, memang merasakan diri sudah terlepas dari suasana dan perasaan sebagai pelajar, karena sudah diantar dengan baik menuju suasana baru, suasana kampus, dan perasaan sebagai mahasiswa (baru).

Ketua Tingkat

Dalam suasana baru sebagai mahasiswa baru, kami kemudian berinteraksi di jurusan (sekarang disebut Program Studi) dan di kelas masing-masing. Dalam interaksi pertama tersebut, kami (jurusan S1 Pendidikan Olahraga) langsung mengadakan semacam rapat untuk pemilihan Ketua Tingkat (dulu Ketua Tingkat artinya Ketua Kelas, tetapi belakangan Ketua Tingkat berubah makna menjadi ketua untuk seluruh mahasiswa satu angkatan).
Proses pemilihan Ketua Tingkat waktu itu berlangsung dalam suasana santai dan sambil tertawa-tawa. Ada beberapa nama yang mengemuka sebagai calon Ketua Tingkat, antara lain Firman Basir, Lambertus Aratukan, dan Faisal, tapi karena Firman Basir kelihatan lebih menonjol penampilannya secara fisik (agak tinggi, agak besar, dan agak hitam, ha..ha..ha..), kami akhirnya sepakat memilih Firman Basir.
Pilihan kami ternyata tidak salah, karena Firman Basir mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Pembawaannya yang murah senyum, supel, dan juga tidak canggung bertemu dengan para dosen, membuat kami merasa mendapatkan pemimpin yang benar-benar pemimpin. Prestasi akademik Firman Basir yang cukup menonjol, semakin membuat kami merasa senang dipimpin oleh beliau.
Kami menikmati kebersamaan sebagai mahasiswa FPOK IKIP selama empat setengah tahun (sembilan semester). Sebagai mahasiswa yang sedang menimba ilmu, kami tentu saja kerap berbeda pendapat, tetapi kami sama sekali tidak pernah bertengkar, apalagi berkelahi (meskipun banyak di antara kami yang aktif berlatih beladiri).

Beragam Profesi

Akhir tahun 1990, kami menyelesaikan studi (dan berhak menyandang gelar Doktorandus, disingkat Drs) dan diwisuda pada Februari 1991. Waktu itu, acara wisuda biasanya diadakan pada setiap Januari, tetapi karena ada pergantian rektor (dari Prof Paturungi Parawansa ke Prof Sjahruddin Kaseng), acara wisudanya ditunda ke bulan Februari.
Menyandang gelar sarjana (Sarjana Pendidikan Olahraga, bukan Sarjana Olahraga), kami kemudian ramai-ramai mendaftar sebagai calon guru, tetapi ternyata ada sebagian di antara kami yang tidak terangkat jadi guru, dan ada pula yang jadi dosen (waktu itu dimungkinkan alumni S1 langsung jadi dosen, jika mengambil jalur skripsi. Sebagian besar mahasiswa hanya mengambil jalur kuliah, artinya tidak wajib menulis skripsi).
Beberapa di antara kami yang tidak terangkat jadi guru atau dosen, akhirnya memilih beralih profesi. Ada yang jadi pengusaha, ada yang berwiraswasta, ada yang kerja di perusahaan swasta, sedangkan saya sendiri terjun ke dunia wartawan.
Belakangan, teman-teman kami yang awalnya terangkat sebagai guru PNS, ternyata kemudian ada yang jadi Kepala Sekolah, ada yang jadi Kepala Dinas Pendidikan, dan ada pula yang jadi pejabat SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) di pemerintah kabupaten/kota, seperti camat atau kepala dinas (bukan dinas Pendidikan).
Firman Basir terangkat jadi Guru Olahraga di MAN (Madrasah Aliyah Negeri) 2 Model Makassar, dan belakangan (setelah meraih gelar doktor) beralih menjadi Widyaswara Badan Diklat Kemenag (Kementerian Agama) Sulsel.
Saya dan Firman Basir cukup sering bertemu, karena beliau beberapa kali menemani isterinya yang dosen PTS (perguruan tinggi swasta) ke kantor Kopertis Wilayah IX Sulawesi atau acara-acara yang dilaksanakan oleh Kopertis Wilayah IX Sulawesi, dan saya kebetulan pernah jadi Humas Kopertis Wilayah IX Sulawesi (2009-2104).

Almarhum

Meskipun sibuk dengan profesi masing-masing, komunikasi di antara kami sesama alumni FPOK IKIP Ujungpandang tetap masih sering terjalin, apalagi sebagian dari kami juga berhimpun sebagai pengurus Ikatan Sarjana Olahraga Indonesia (ISORI) Sulsel.
Salah satu yang sering kami perbincangkan sekaligus dijadikan sebagai bahan untuk bercanda adalah perubahan nama IKIP menjadi UNM (Universitas Negeri Makassar) pada 4 Agustus 1999 (berdasarkan SK Presiden Republik Indonesia No. 93 Tahun 1999 tanggal 4 Agustus 1999).
Kami kerap saling ledek dengan mengatakan bahwa kami adalah “Alumni almarhum IKIP Ujungpandang”, bukan alumni UNM.
Sambil bercanda, kami juga kadang-kadang menghindari disebut sebagai alumni UNM, jika sebutan itu dikaitkan dengan peristiwa aksi anarkis (menutup jalan saat berunjukrasa yang berujung keributan dengan aparat polisi dan masyarakat, atau membakar kampus) yang dilakukan oleh mahasiswa UNM.
“Oh, maaf, saya bukan alumni UNM, saya alumni IKIP, ha..ha..ha..,” begitulah kadang-kadang candaan kami.
Pada Kamis malam, 10 Maret 2016, saya membaca sebuah postingan status yang dibuat salah seorang teman bernama Lily Thamzil Thahir. 
Isi postingannya: “Innlillahi wa inna ilaihi rojiun... Telah berpulang ke rahmatullah kakak laki-laki kami Firman Basir Matong yang sedang menunaikan ibadah umrah di Makkatul Mukarramah. Kepada segenap keluarga dan teman-teman, mohon dimaafkan apabila pernah melakukan kesalahan semasa hidupnya.”
Saya tentu saja sangat kaget dan hampir tidak percaya, kalau nama Firman Basir Matong yang ditulis itu adalah sahabat dan teman kuliah kami di FPOK IKIP Ujungpandang, karena saya tidak tahu kalau Lily Thamzil Thahir itu ternyata adik kandung dari Firman Basir.
Terus-terang selama ini saya memang penasaran dan merasa ada kedekatan emosional dengan Lily Thamzil Thahir, tetapi bukan sekadar karena beliau adalah isteri dari Thamzil Thahir (teman seprofesi sebagai wartawan). Rasa penasaran itu baru terjawab setelah Lily Thamzil Thahir mengkonfirmasi melalui Facebook bahwa dirinya adalah adik kandung dari teman dan sahabat saya, Firman Basir.
Kematian Firman Basir sungguh indah. Teman dan sahabat kami itu meninggal dunia saat menunaikan ibadah umrah dan tepat berada di Mekkah. Selamat jalan kawan. Selamat jalan saudaraku. Semoga amal ibadahmu diterima dan dosa-dosamu diampuni oleh Allah SWT.


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply