iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » Mappairwan, Pegawai Teladan Bekerja Tanpa Pengawasan


Pedoman Karya 10:19 PM 0


“Biasanya saya selalu datang ke kantor paling awal dan pulang paling akhir.”

- Mappairwan -
(Kasubag Keuangan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar)





-------------
PEDOMAN KARYA
Jumat, 13 Mei 2016


Mappairwan, Pegawai Teladan Bekerja Tanpa Pengawasan


Pegawai teladan tidak harus dibuktikan dengan sertifikat atau penghargaan, karena keteladanan itu sesungguhnya adalah bekerja tanpa pamrih, penuh dedikasi, dan berupaya melakukan yang terbaik.
Keteladan seperti itulah yang dicontohkan Mappairwan SSos dalam menjalankan tugas sehari-hari sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Takalar.
“Biasanya saya selalu datang ke kantor paling awal dan pulang paling akhir,” kata pria kelahiran Takalar, 31 Desember 1962, kepada “Pedoman Karya”, di kantornya, beberapa waktu lalu.
Mappairwan yang kini menjabat Kepala Sub Bagian (Kasubag) Keuangan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemkab Takalar, mengatakan, dalam bekerja dan dalam menjalani hidup, dirinya tidak mencari kesenangan, tetapi mencari ketenangan.
Karena itulah, suami dari Hj Asma (pegawai Puskesmas Polongbangkeng Utara, Kabupaten Takalar) mengaku selalu bekerja sepenuh hati, penuh dedikasi, dan tidak memanfaatkan peluang-peluang yang ada untuk kepentingan pribadi.
“Kita harus bekerja tanpa pengawasan, karena pengawasan itu sesungguhnya melekat pada diri kita masing-masing, bahwa apa pun yang kita lakukan selalu diawasi dan dilihat oleh Allah SWT,” ujar Mappairwan sambil menunjuk ke atas.
Sebelum menduduki jabatan Kasubag Keuangan, dirinya sudah berkali-kali pindah tugas, termasuk bertugas di daerah lain di luar Takalar.
Pertama kali bekerja, Mappairwan diangkat sebagai tenaga kontrak pemerintah pusat yang ditempatkan pada Dinas Perkebunan Kabupaten Pangkep tahun 1984-1985. Setelah itu (1986), dirinya ditempatkan sebagai tenaga lapangan pada Dinas Perkebunan Kabupaten Barru, kemudian dipindahkan ke Sinjai (1987) dan di Bone (1988).
“Saya bersama beberapa teman ditempatkan di Bone karena kebetulan ada masalah yang harus diselesaikan disana. Setelah masalah tersebut teratasi, saya kemudian melapor kepada pimpinan dan ternyata saya kemudian diangkat menjadi PNS. Saya ditempatkan di Takalar sebagai tenaga Program Pengwilayahan Komoditas Khusus,” tutur Mappairwan.
Tahun 1990, ia dipindahkan ke PT Kapas Garuda Putih di Sidrap. Perusahaan yang sebelumnya bernama PT Uniteks itu berada di bawah naungan Dinas Perkebunan Tingkat I Provinsi Sulsel.
Tahun 1991 hingga 1998, dirinya ditempatkan kembali di Takalar sebagai pegawai Dinas Perkebunan Takalar. Tahun 1999 hingga 2009, ia dipindahkan ke Dinas Pertanian Rakyat.
Selama empat tahun berikutnya (2010-2013), ayah dua anak ini ditempatkan di Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan, sedangkan dalam dua tahun terakhir (2014-2016), ia ditempatkan di Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Takalar.
“Kita bekerja saja dengan baik, tidak perlu memburu jabatan, karena pasti pimpinan akan menilai kinerja kita masing-masing,” ujar Mappairwan. (hasdar sikki/asnawin)



«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply