iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » Kebesaran Jiwa Mantan Wakil Bupati Selayar


Pedoman Karya 11:36 PM 0


TIDAK RISIH. Mantan Wakil Bupati Selayar dan juga mantan Ketua Muhammadiyah Selayar, Saiful Arif, tanpa rasa risih, apalagi malu, bergabung dan menyatu dengan puluhan peserta Darul Arqam dan Pelatihan Instruktur Wilayah (Dapiwil) Muhammadiyah Sulsel, di Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, 27 Desember 2016 – hingga 01 Januari 2017.




------
PEDOMAN KARYA
Senin, 02 Januari 2017


Kebesaran Jiwa Mantan Wakil Bupati Selayar


Agak jarang kita melihat mantan pejabat negara atau mantan pimpinan organisasi, turun kembali belajar dan berlatih, atau mengikuti pelatihan yang biasanya diikuti para pemula atau yang bukan mantan pejabat dan bukan mantan pimpinan organisasi.
Pemandangan yang jarang kita lihat itu, diperlihatkan oleh sosok Saiful Arif SH (55 tahun), mantan Wakil Bupati Selayar (periode 2010-2015) dan juga mantan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Selayar (periode 2010-2015).
Tanpa rasa risih, apalagi malu, pria kelahiran 29 Juli 1962 itu bergabung dan menyatu dengan puluhan peserta Darul Arqam dan Pelatihan Instruktur Wilayah (Dapiwil) Muhammadiyah Sulsel, di Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, 27 Desember 2016 – hingga 01 Januari 2017.
Ibarat siswa yang sedang mengikuti pelajaran di kelas, atau seperti mahasiswa yang sedang mengikuti perkuliahan di kelas, Saiful Arif duduk bersama peserta lain di ruangan pelatihan mengikuti materi dari para instruktur, mulai hari pertama sampai hari terakhir.
Mantan wartawan harian Pedoman Rakyat ini juga tampak menikmati suasana makan siang atau makan malam bersama dengan para peserta lain, dengan memakai sarung atau celana panjang.
Yang menarik, pelatihan instruktur ini diadakan oleh Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel dan umumnya diikuti oleh para instruktur muda Muhammadiyah, serta jarang sekali diikuti oleh kader yang sedang menjabat atau pernah menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah.
Namun dengan kebesaran jiwanya, Syaiful Arif mengikuti pelatihan instruktur tersebut, serta aktif mengikuti semua kegiatan mulai pembukaan sampai penutupan.

Karena Muhammadiyah

Mengapa dirinya mau mengikuti pelatihan instruktur Muhammadiyah? Mengapa ia tidak risih ikut pelatihan instruktur bersama-sama dengan kader-kader muda Muhammadiyah dan kader senior yang tidak atau belum pernah menjadi pejabat negara sekelas kepala dinas atau wakil bupati?
“Saya memang dua periode diberi amanah sebagai Ketua PDM Selayar, tapi jujur, saya belum pernah ikut pelatihan instruktur di Muhammadiyah,” ungkapnya.
Dia juga berterus-terang bahwa dirinya dipilih oleh Syahrir Wahab (Bupati Selayar periode 2005-2010, dan 2010-2015) untuk mendampinya sebagai calon Wakil Bupati Selayar periode 2010-2015, pertimbangan utamanya karena dirinya sedang memegang amanah sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Selayar.
Ketika itu, ada tiga nama yang diusulkan ke DPP Partai Golkar sebagai calon Wakil Bupati untuk mendampingi Syahrir Wahab yang maju kembali sebagai calon Bupati Selayar periode kedua.
“Rapat pleno DPP Partai Golkar akhirnya memilih saya, salah satu pertimbangannya karena saya sedang mendapat amanah sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Selayar,” papar Saiful.

Menguji Keikhlasan

Pada Musyawarah Daerah Muhammadiyah Kabupaten Selayar tahun 2016, Saiful Arif kembali masuk sembilan besar dan lagi-lagi diminta menjadi ketua, tetapi dengan kebesaran jiwanya, dirinya meminta agar kursi ketua diberikan kepada kader lain.
“Rasa-rasanya tingkat keikhlasan saya jadi lebih teruji pada saat saya bukan ketua. Saya terinspirasi oleh Pak AR (AR Fachruddin, mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah), saya terinspirasi melihat kesederhanaannya, saya melihat langsung rumahnya dan kehidupan sehari-harinya saat saya kuliah di (Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta,” tuturnya.
Keikutsertaannya pada pelatihan instruktur Muhammadiyah dan kesediaannya tetap menjadi pengurus Muhammadiyah tanpa menjadi ketua, sekaligua untuk menunjukkan kepada kader-kader muda Muhammadiyah bahwa tidak ada kata pensiun untuk mengurus Muhammadiyah.
“Pelatihan instruktur yang diadakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel ini diikuti oleh kader-kader lintas generasi. Kehadiran saya disini sekaligus untuk menunjukkan kepada kader-kader yang lebih yunior bahwa tidak ada kata pensiun dalam mengurus Muhammadiyah,” pungkas Saiful. (asnawin)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply