Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Sejarah Bahasa Tionghoa – Indonesia (1)


Pedoman Karya 6:48 PM 0


Bahasa Tionghoa Lama adalah bahasa yang umum pada zaman awal dan pertengahan Dinasti Zhou (abad ke-11 hingga 7 SM). Hal ini dibuktikan dengan adanya ukiran pada artefak-artefak perunggu, puisi Shijing, sejarah Shujing, dan sebagian dari Yijing (I Ching). - Sulaiman Gosalam -






------

PEDOMAN KARYA
Ahad, 15 September 2019


Sejarah Bahasa Tionghoa – Indonesia (1)



Oleh: Sulaiman Gosalam (Go Tjie Kiong)
(Dosen Unhas Makassar / Pembina PITI Sulsel)


Kategorisasi perkembangan Bahasa Tionghoa masih menjadi perdebatan di antara para ahli bahasa. Salah satu sistem yang pertama diciptakan oleh ahli bahasa Swedia bernama Bernhard Karlgren; sistem yang sekarang dipakai merupakan revisi dari sistem ciptaannya.

Bahasa Tionghoa Lama adalah bahasa yang umum pada zaman awal dan pertengahan Dinasti Zhou (abad ke-11 hingga 7 SM). Hal ini dibuktikan dengan adanya ukiran pada artefak-artefak perunggu, puisi Shijing, sejarah Shujing, dan sebagian dari Yijing (I Ching).

Tugas merekonstruksi Bahasa Tionghoa Lama dimulai oleh para filologis dinasti Qing. Unsur-unsur fonetis yang ditemukan dalam kebanyakan aksara Tionghoa juga menunjukkan tanda-tanda cara baca lamanya.

Bahasa Tionghoa Pertengahan adalah bahasa yang digunakan pada zaman dinasti Sui, Dinasti Tang dan Dinasti Song (dari abad ke-7 hingga 10 Masehi). Bahasa ini dapat dibagi kepada masa awalnya - yang direfleksikan oleh tabel rima Qieyun 切韻 (601 M) dan masa akhirnya pada sekitar abad ke-10 - yang direfleksikan oleh tabel rima Guangyun 廣韻

Bernhard Karlgren menamakan masa ini sebagai “Tionghoa Kuno”. Ahli-ahli bahasa yakin mereka dapat membuat rekonstruksi yang menunjukkan bagaimana Bahasa Tionghoa Pertengahan diucapkan. Bukti cara pembacaan Bahasa Tionghoa Pertengahan ini datang dari berbagai sumber: varian dialek modern, kamus-kamus rima, dan transliterasi asing.

Sama seperti bahasa Proto-Indo-Eropa yang bisa direkonstruksi dari bahasa-bahasa Eropa modern, Bahasa Tionghoa Pertengahan juga bisa direkonstruksi dari dialek-dialek modern.

Selain itu, filologis Tionghoa zaman dulu telah berjerih payah dalam merangkum sistem fonetis Tionghoa melalui “tabel rima”, dan tabel-tabel ini kini menjadi dasar karya ahli-ahli bahasa zaman modern. Terjemahan fonetis Tionghoa tehadap kata-kata asing juga memberikan banyak petunjuk tentang asal-muasal fonetis bahasa Tionghoa Pertengahan.

Meskipun begitu, seluruh rekonstruksi bahasa tersebut bersifat sementara. Para ahli telah membuktikan misalnya, melakukan rekonstruksi bahasa Kantonis modern dari rima-rima musik Kantonis (Cantopop) modern akan memberikan gambaran yang sangat tidak tepat mengenai bahasanya.

Perkembangan bahasa Tionghoa lisan sejak masa-masa awal sejarah hingga sekarang merupakan perkembangan yang sangat kompleks. Klasifikasi di bawah menunjukkan bagaimana kelompok-kelompok utama Bahasa Tionghoa berkembang dari satu bahasa yang sama pada awalnya.

Hingga pertengahan abad ke-20, kebanyakan orang Tiongkok yang tinggal di selatan Tiongkok tidak dapat berbahasa Mandarin. Bagaimanapun juga, walaupun adanya campuran antara pejabat-pejabat dan penduduk biasa yang bertutur dalam berbagai dialek Tionghoa.

Mandarin Nanjing menjadi dominan setidaknya pada masa Dinasti Qing yang menggunakan Bahasa Manchu sebagai bahasa resmi.

Sejak abad ke-17, pihak Kekaisaran telah membentuk Akademi Orthoepi (正音書院 Zhengyin Shuyuan) sebagai upaya agar cara pembacaan mengikuti standar Beijing (Beijing adalah Ibukota Qing), tetapi upaya tersebut kurang berhasil.

Mandarin Nanjing akhirnya digantikan penggunaannya di pengadilan kekaisaran dengan Mandarin Beijing dalam 50 tahun terakhir Dinasti Qing pada akhir abad ke-19.

Bagi para penduduk biasa, meskipun berbagai variasi Bahasa Tionghoa telah dituturkan di Tiongkok pada waktu itu, Bahasa Tionghoa yang standar masih belum ada. Penutur-penutur non-Mandarin di selatan Tiongkok juga terus berkomunikasi dalam dialek-dialek daerah mereka dalam segala aspek kehidupan.

Keadaan berubah dengan adanya (di Tiongkok dan Taiwan) sistem pendidikan sekolah dasar yang mempunyai komitmen dalam mengajarkan Bahasa Mandarin. Hasilnya, Bahasa Mandarin sekarang dituturkan dengan lancar oleh hampir semua orang di Tiongkok Daratan dan Taiwan. Di Hong Kong, bahasa pendidikan masih tetap Bahasa Kantonis ,namun Mandarin semakin lama menjadi semakin penting.
    
Empat kelompok utama bahasa Tionghoa di Indonesia adalah Hokkien (Min Selatan; Min Nan), Mandarin, Hakka, dan Kantonis. Selain itu, orang-orang Teochew berbicara dengan dialek mereka sendiri yang memiliki tingkat pemahaman yang sama dengan Hokkien. Namun, perbedaan antara keduanya menonjol di luar wilayah asalnya.

Ada sekitar 2,2 juta penutur asli dari pelbagai varietas bahasa Tionghoa di Indonesia pada tahun 1982: terdiri atas 1.300.000 penutur varietas Min Selatan (termasuk Hokkien dan Teochew); 640.000 penutur bahasa Hakka; 460.000 penutur bahasa Mandarin; 180.000 penutur bahasa Kanton; dan 20.000 penutur dari varietas Timur Min (termasuk dialek Fuzhou). Selain itu, sekitar 20.000 berbicara dengan dialek bahasa Indonesia yang berbeda.
    
Bahasa Mandarin
       
Bahasa Mandarin (Tradisional: 北方話, Sederhana: 北方, Hanyu Pinyin: Běifānghuà, harafiah: "bahasa percakapan Utara" atau 北方方言 Hanyu Pinyin: Běifāng Fāngyán, harafiah: "dialek Utara") adalah dialek Bahasa Tionghoa yang dituturkan di sepanjang utara dan barat daya Republik Rakyat Tiongkok.

Kata "Mandarin", dalam bahasa Inggris (dan mungkin juga Indonesia), digunakan untuk menerjemahkan beberapa istilah Tionghoa yang berbeda yang merujuk kepada kategori-kategori bahasa Tionghoa lisan.

Dalam pengertian yang sempit, Mandarin berarti Putonghua 普通 dan Guoyu 國語 yang merupakan dua bahasa standar yang hampir sama yang didasarkan pada bahasa lisan Beifanghua.
     
Putonghua adalah bahasa resmi Tiongkok dan Guoyu adalah bahasa resmi Taiwan. Putonghua - yang biasanya malah dipanggil Huayu - juga adalah salah satu dari empat bahasa resmi Singapura.
       
Dalam pengertian yang luas, Mandarin berarti Beifanghua (secara harfiah berarti "bahasa percakapan Utara"), yang merupakan sebuah kategori yang luas yang mencakup beragam jenis dialek percakapan yang digunakan sebagai bahasa lokal di sebagian besar bagian utara dan barat daya Tiongkok, dan menjadi dasar bagi Putonghua dan Guoyu. 

Beifanghua mempunyai lebih banyak penutur daripada bahasa apapun yang lainnya dan terdiri dari banyak jenis termasuk versi-versi yang sama sekali tidak dapat dimengerti.
Seperti ragam-ragam bahasa Tionghoa lainnya, ada banyak orang yang berpendapat bahwa bahasa Mandarin itu merupakan semacam dialek, bukan bahasa.

Nama lain dari bahasa Mandarin: Guoyu - (Hanzi: 國語) adalah sebutan lain bagi dialek Utara bahasa Han yang kita kenal sebagai bahasa Mandarin. Guoyu berarti harfiah "bahasa nasional", sesuai dengan kenyataan bahasa Mandarin ditetapkan sebagai bahasa resmi pemerintahan dan nasional di beberapa negara seperti Republik Rakyat Tiongkok dan Republik Tiongkok di Taiwan.

Huayu (Hanzi: 華語) adalah nama lain dari dialek Utara bahasa Han yang kita kenal sebagai bahasa Mandarin sekarang ini. Huayu berarti harfiah "bahasa Hua", merupakan bahasa yang umum digunakan oleh orang Tiongkok dalam hal ini menunjuk kepada bahasa Mandarin yang luas dituturkan.

Kata "Mandarin" dalam Bahasa Indonesia sendiri diserap dari Bahasa Inggris yang mendeskripsikan Bahasa Tionghoa juga sebagai Bahasa Mandarin. Namun sebenarnya, kata “Mandarin” ini diserap bahasa Inggris dari Portugis Mandarin, yang berasal dari Melayu yakni [ˈməntəri] menteri.

Sumber yang lain menyebutkan Mandarin secara harfiah berasal dari sebutan orang asing kepada pembesar-pembesar Dinasti Qing pada zaman dulu.

Dinasti Qing adalah dinasti yang didirikan oleh suku Manchu, sehingga pembesar-pembesar kekaisaran biasanya disebut sebagai Mandaren (Hanzi: 滿大人) yang berarti “Pembesar Manchu”. Dari sini, bahasa yang digunakan oleh para pejabat Manchu waktu itu juga disebut sebagai “Bahasa Mandaren”. Penulisannya berevolusi menjadi “Mandarin” di kemudian hari. (bersambung)

-------
Artikel bagian ke-2:

Sejarah Bahasa Tionghoa – Indonesia (2-habis)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply