Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » » Kisah Pilot dan Pengacara (1)


Pedoman Karya 3:56 PM 0


Butch O’Hare adalah salah satu Lieutenant Commander Angkatan Laut, setara dengan Mayor, di Angkatan Laut Amerika Serikat, pada Perang Dunia II. Dia seorang pilot dan ditugaskan sebagai penerbang tempur yang berpangkalan di kapal induk Lexington. (Foto: Wikipedia)






--------
PEDOMAN KARYA
Jumat, 24 April 2020


Kisah Pilot dan Pengacara (1)


Oleh: Asnawin Aminuddin
(Wartawan Majalah Pedoman Karya)


Banyak kisah inspiratif yang terjadi di dunia ini. Dua di antaranya yaitu kisah seorang pilot dan kisah seorang pengacara di Amerika Serikat. Keduanya hidup sebelum tahun 1945, atau sebelum Indonesia merdeka.

Sang pilot bernama Butch O’Hare, sedangkan sang pengacara bernama Easy Eddie. Kita mulai dari kisah sang pilot, Butch O’Hare, yang bernama lengkap Edward Henry O’Hare.

Butch O’Hare adalah salah satu Lieutenant Commander Angkatan Laut, setara dengan Mayor, di Angkatan Laut Amerika Serikat, pada Perang Dunia II.

Dia seorang pilot dan ditugaskan sebagai penerbang tempur yang berpangkalan di kapal induk Lexington.

Suatu hari, seluruh skadronnya dikirim dalam sebuah misi sangat rahasia. Suatu misi dimana dia akan menjadi salah satu “wing-man” dari formasi tempur pesawat-pesawat di jajaran armada kapal induk Lexington.

Saat dia baru saja naik di udara, dia melihat petunjuk isi tangki bahan bakarnya dan kemudian menyadari bahwa seseorang telah lupa untuk mengisi penuh tangki bahan bakar pesawat kesayangannya itu.

Ini berarti bahwa dia tidak akan punya bahan bakar yang cukup untuk menyelesaikan misinya, apalagi untuk kemudian kembali ke kapal induknya.

Setelah melapor tentang masalah yang dihadapi, komandannya kemudian memerintahkan untuk segera kembali ke kapal induk. Dengan rasa dongkol, karena sebenarnya dia sudah “siap tempur” bersama dengan teman-temannya, dia pun keluar dari formasi dan kembali ke pangkalan.

Pada saat dia kembali ke kapal induk, dia melihat sesuatu yang membuat darahnya mendidih. Satu skadron pesawat tempur Jepang sedang melaju kencang menuju jajaran kelompok gugus tugas armada kapal induknya.

Semua pesawat tempur di kapal induk itu, tengah terbang menjalankan misinya. Jajaran kapal dalam armada kapal induk Lexington, tiba-tiba saja menjadi sasaran empuk musuh.

Para pilot tempur armada Lexington sedang pergi dan kapal induk tempatnya bertugas menjadi sangat tidak berdaya. Tidak ada satupun pesawat yang siap tempur di situ. Dia tidak dapat memanggil teman-teman skadronnya yang tengah terbang ke arah yang sudah cukup jauh dan tidak memungkinkan punya cukup waktu kembali untuk menyelamatkan jajaran armada Lexington.

Dia juga tidak dapat memberi peringatan kepada armadanya akan bahaya yang sedang mendekat. Hanya ada satu cara yang dapat dia lakukan; bagaimanapun juga dia harus mengalihkan pasukan Jepang jauh dari lokasi armadanya.

Mengesampingkan semua pikiran akan keselamatan pribadinya, dia terbang menuju formasi pesawat-pesawat tempur Jepang. Dengan menggunakan senapan mesin kaliber 50 mm yang terpasang di pesawat tempurnya, dia membawa pesawatnya terbang menjulang tinggi dan menyerang pesawat yang satu dan kemudian pesawat lainnya.

Dengan formasi pesawat musuh yang mulai berantakan, dia terus saja menembaki pesawat musuh sebanyak-mungkin sampai semua persediaan amunisi di pesawatnya habis.

Dengan gagah berani, dia melaksanakan serangannya. Dia selalu mencoba menembaki sayap atau bagian belakang pesawat musuh dengan harapan dia dapat merusak pesawat musuh sebanyak-banyaknya, dan membuat mereka tidak dapat terbang normal lagi.

Dan akhirnya, skadron , kelompok pesawat tempur Jepang yang putus asa itu, sebagai akibat dari serangan Mayor O’Hare yang sangat tiba-tiba datangnya, terpaksa terbang beralih ke jalur lain, yang tidak mengarah ke armada Lexington, tempat Mayor O’Hare bermarkas.

Dengan perasaan yang sangat lega, Butch O’Hare dan pesawatnya yang compang-camping kembali ke pangkalan induknya dengan timpang, tertatih-tatih, dengan tangki bahan bakar yang nyaris kering, serta berhasil melakukan pendaratan darurat dengan selamat.

Setelah tiba, dia melaporkan seluruh kejadian yang dialaminya. Gambaran film dari kamera di dalam pesawat O’Hare menceritakan kisah ini.

Kisah yang menunjukkan tentang usaha dan keberanian Butch untuk melindungi jajaran armada kapal induk Lexington. Faktanya, dia telah menghancurkan lima (5) pesawat tempur musuh.

Peristiwa ini terjadi pada 20 Februari 1942, dan atas aksinya itu, Lieutenant Commander Butch O’Hare dinobatkan menjadi penerbang “Ace” Angkatan Laut pertama dalam Perang Dunia II, dan penerbang angkatan laut pertama pula yang dianugerahi Medali Kehormatan Amerika Serikat.

Setahun kemudian (tepatnya pada 26 November 1943), Butch (yang lahir pada 13 Maret 1914) terbunuh di usianya yang ke-29 tahun, dalam sebuah perang udara lainnya guna mempertahankan armada kebanggaannya di perairan internasional panggung perang dunia kedua.

Tanah airnya, lebih-lebih kampung halamannya, tidak ingin memori akan kepahlawanan Perang Dunia II ini sirna begitu saja.

Pemerintah dan Kongres Amerika menetapkan dan mengabadikan nama sang Mayor/Lieutenant Commander Butch O’Hare sebagai nama dari bandara di Chicago sebagai tribute atau penghargaan yang tinggi atas keberanian seorang Butch O’Hare dalam menjunjung tinggi kehormatan Amerika. (bersambung)

------
Sumber:
Hakim, Chappy, 08/11/2009, “2 Cerita Penuh Makna !”, dikutip pada 24 April 2020, http://www.chappyhakim.com/2-cerita-penuh-makna/
Edward O'Hare, https://en.m.wikipedia.org/wiki/Edward_O'Hare, dikutip pada 24 April 2020

------
Bagian kedua:

Kisah Pilot dan Pengacara (2-habis) 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply