iklan

Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » Idrus A Paturusi, Dokter di Medan Lara


Pedoman Karya 8:13 PM 0


Satu komentar untuk buku berjudul: “Idrus A Paturusi, Dokter di Medan Lara”, terutama bagi penyuka baca buku tentang kisah petualangan: Wajib Baca!

Karena petualangan yang sesungguhnya tersaji dalam buku biografi ini, yang berkisah tentang petualangan kemanusiaan di berbagai lokasi bencana oleh kumpulan dokter yang dimotori oleh Prof Idrus Paturusi (mantan Rektor (Universitas Hasanuddin / Unhas, Makassar, red).



------

PEDOMAN KARYA
Kamis, 07 Mei 2020


Idrus A Paturusi, Dokter di Medan Lara


Oleh: Hurriah Ali Hasan
(Editor)


Satu komentar untuk buku berjudul: “Idrus A Paturusi, Dokter di Medan Lara”, terutama bagi penyuka baca buku tentang kisah petualangan: Wajib Baca!

Karena petualangan yang sesungguhnya tersaji dalam buku biografi ini, yang berkisah tentang petualangan kemanusiaan di berbagai lokasi bencana oleh kumpulan dokter yang dimotori oleh Prof Idrus Paturusi (mantan Rektor (Universitas Hasanuddin / Unhas, Makassar, red).

Berbagai bencana telah terjadi di muka bumi ini, baik bencana alam, perang antar-kelompok atas nama agama dan etnis yang hanya bermodalkan parang dan anak panah, ataupun perang skala besar dengan senjata-senjata berat. Dari semua peristiwa itu, selalu ada korban dari pihak yang tidak berdosa. Manusia.

Peristiwa-peristiwa tersebut telah menimbulkan korban tewas hingga ratusan ribu orang. Dan lebih banyak lagi yang mengalami luka yang sangat parah. Di sinilah petualangan-petualangan kemanusiaan itu bermula.

Melalui organisasi Brigade Siaga Bencana Indonesia Timur (BSBIT), memimpin tim medis dari Unhas untuk menyelamatkan nyawa ribuan manusia korban bencana alam di berbagai daerah.

Mulai dari bencana alam di Pulau Flores tahun 1992, gempa di Toli-toli tahun 1996, hingga konflik SARA di Ambon tahun 1999. Belum lagi bencana tsunami di Aceh hingga menjalankan misi kemanusiaan bagi korban perang di Pakistan dan Afganistan.

Petualangan yang tersaji dalam buku ini terus bergulir dari tahun ke tahun, hingga 2019 lalu.

Tentu saja bukan hanya kerja-kerja medis untuk menyelamatkan nyawa manusia korban bencana dan perang yang dikisahkan.

Bagaimana tim ini harus bekerja keras dengan peralatan medis yang seadanya dan tim medis yang terbatas, sementara korban terluka parah yang harus ditangani mencapai ratusan setiap hari.

Selain itu, tantangan maut pun dihadapi oleh Prof Idrus bersama timnya, ketika berada di lapangan berpacu dengan malaikat pencabut nyawa saat menangani korban yang sedang sekarat.

Di Afghanistan, Prof Idrus bersama timnya sempat mengalami todongan senjata dari pihak yang berperang. Demikian pula saat menangani korban konflik bersenjata di Ternate, tak ada jaminan keamanan bagi mereka dari pihak berwenang.

Itu berarti, tim ini, selain menjalankan misi kemanusiaan, juga harus tetap menjaga sendiri nyawa mereka agar tetap dapat dipertahankan di tubuh masing- masing.
Ini hanyalah sedikit kisah dari buku edisi lux setebal 353 halaman ini.

Selama ini, peristiwa bencana alam dan perang yang diberitakan oleh berbagai media, hanya menyampaikan kejadian-kejadian dan korbannya saja. Namun melalui buku ini, saya akhirnya dapat membayangkan bagaimana peristiwa itu benar-benar telah menghancurkan kehidupan manusia yang mengalaminya.

Mereka telah kehilangan harta benda, keluarga, fisik mereka menjadi cacat dan terutama trauma mental akibat peristiwa tersebut.

Ada banyak pelajaran penting yang dapat diambil dari kisah petualangan kemanusiaan dari buku ini, yaitu tentang keberanian, kekompakan dalam tim, kepercayaan antar-anggota tim, dan dukungan moral yang muncul kepada sesama manusia di tengah-tengah peristiwa yang memilukan hati.

Dan kita patut bersyukur bahwa selalu ada orang baik di sekeliling kita. Semoga orang-orang baik seperti ini terus tumbuh dan bertambah di tengah kita.

Buku ini telah menginspirasi bahwa setiap kita pun dapat membantu sesama, walau bantuan yang diberikan hanya sebesar sebiji zarrah.

Terima kasih atas Misi Kemanusiaannya, Prof Idrus A Paturusi.


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply