Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

Sosok

» » » » Bahagia Ibu Meninggal


Pedoman Karya 7:21 AM 0


“Kalian tau? Ibu bahkan memintaku untuk memakaikannya baju baru agar kalian tak malu memiliki ibu sepertinya. Ibu bahkan rela hidup susah asal kalian bahagia,” ucapku kali ini dengan suara yang sudah parau. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)

 





-----
PEDOMAN KARYA
Selasa, 08 September 2020


CERPEN


Bahagia Ibu Meninggal


Karya: Chie Amoy


“Tih, kamu sudah siapkan makanan?” tanya ibu kepadaku saat aku ingin memandikannya.

“Sudah bu. Ibu mau Utih ambilkan?” tanyaku.

“Nggak usah Tih. Kita nunggu kakak-kakakmu datang,” ucapnya dengan suara yang lemah.

“Hemm. Kita mandi yah bu,” kataku lalu membopong tubuh ibu.

“Tih, ibu mau pakai baju yang baru kamu belikan itu yah Tih. Biar kakak-kakakmu tidak malu sama penampilan ibu,” ucap ibu yang saat itu sedang aku mandikan.

“Iya bu, nanti Utih pakaikan baju itu,” ujarku lalu memakaikan baju keinginan ibu setelah selesai memandikannya.

Aku membawa ibu untuk duduk di ruang tamu yang juga sekalian menjadi tempat nonton televisi.

“Bu, Utih suapin yah?” tanyaku.

“Tapi Nduk, kalau kakak-kakakmu datang gimana?” ibu balik bertanya.

“Kalau mereka datang, nanti Utih suapin ibu lagi,” ucapku membujuk ibu agar mau makan.

“Ya sudah Tih, ibu mau,” jawabnya dan langsung saja aku menyuapinya sampai makanannya habis.

“Bu, istrahat yah,” kataku setelah selesai menyuapinya.

“Iya sedikit lagi Tih, ibu mau menunggu kakak-kakakmu datang dulu,” kata ibu.

Aku yang mendengarnya sekali lagi tak mampu menahan bulir bening yang mengalir dengan derasnya.

*

“Bu, kita istirahat di kamar yah?” kataku kepada ibu yang seharian duduk di samping jendela rumah kami.

“Tapi Nduk, kalau mereka datang gimana? Ibu sudah sangat rindu,” kata ibu.

“Kalau mereka datang nanti Utih bangunin ibu lagi,” kataku.

“Tapi Tih .....” kata Ibu yang segera aku potong.

“Bu, ibu disini sudah dari siang bu. Ini sudah sangat larut, sudah pukul dua belas malam bu. Nanti dada ibu sakit lagi bu,” kataku lalu membopong tubuh ringkih itu ke kamar.

Semenjak bapak meninggal dan ibu sakit, aku selalu tidur bersama ibu, karena biasanya ibu langsung drop.

*

“Tih, kamu sudah membelikan jajan untuk Adi dan Dio?” tanya Ibu pagi ini.

“Belum bu, nanti Utih belikan yah,” kataku sambil menyuapi ibu.

“Kenapa belum dibelikan Tih? Uangmu habis? Pakai uang ibu Tih, nggak apa-apa kita susah, asal Adi dan Dio senang di rumah ibu Tih,” kata ibu.

“Iya Bu, nanti selesai menyuapi ibu, Utih pergi ke warung yah bu,” kataku yang dibalas oleh anggukan ibu.

Ada sesak yang tak mampu aku jelaskan yang sedang berdesakan. Aku adalah Mutia Riska. Anak bungsu di keluargaku.

Aku memiliki tiga orang kakak-kakak. Kak Abdi, kak Sinta dan kak Rifan, dan memiliki keponakan anak dari kak Abdi yaitu Adi dan Dio.

Ketiga kakak-kakakku memilih tinggal di kota bersama pasangan mereka. Sudah dua tahun mereka tidak pernah pulang ke rumah hanya janji yang mereka berikan. Selama dua tahun pun, ibu selalu menanti kepulangan mereka sampai waktu larut.

Bukan aku tidak pernah menghubungi mereka. Sering aku menghubungi mereka, namun alasan sibuklah yang selalu aku terima. Mereka memang akan mengirimi ibu uang jika aku meminta, namun jika aku tidak meminta mereka pun akan melupakannya.

Aku bekerja sebagai tenaga honorer di kantor kecamatan disini, gaji itulah yang aku pakai untuk kehidupanku dan ibu, namun tak akan cukup jika ibu Drop dan harus dirawat.

Sakit rasanya ketika melihat ibu yang bertaruh nyawa namun terus memanggil nama kakak-kakakku. sebuah kata rindu itu sangat menyiksanya.

“Bu, ayoo kita istrahat di kamar bu, ini sudah jauh malam bu,” kataku.

Namun kali ini aku tak mendapatkan jawaban. Aku langsung berlari mendekati ibu yang sudah bermandikan keringat.

“Ya Allah bu, ini kenapa bu?” teriakku histeris.

Ibu tak menjawab hanya wajahnya terlihat menahan sakit. Ibu tak pernah sesakit ini sebelumnya. Aku langsung memanggil tetangga dan membawa ibu ke rumah sakit. Ibu langsung diberi tindakan dan dimasukan ke ruang ICU.

“Tih, kamu sudah menghubungi kakak-kakakmu?” tanya pamanku.

“Astaghfirullah, Utih lupa paman,” jawabku lalu berusaha menghubungi mereka.

Namun nihil, tak ada satupun dari mereka yang bisa kuhubungi. Aku juga mencoba menghubungi kakak iparku namun tetap saja tak ada hasil.

“Nggak bisa dihubungi” ucapku dengan suara yang parau.

“Ya sudah, mungkin mereka sedang istrahat,” kata pamanku.

“Istrahat apanya? Ini mereka baru saja apload foto sedang liburan,” Asih sepupuku menyela.

“Apa? Coba aku lihat Sih,” kataku lalu mengambil ponsel Asih.

Aku yang tadinya tak punya tenaga seakan langsung terisi full karena amarahku. Aku langsung mengirimi mereka pesan mengabarkan keadaan ibu yang sedang kritis. Sesaat kemudian dokter memanggilku.

“Ada apa dok?” tanyaku.

“Bu, kondisinya sangat kritis, dari tadi beliau terus memanggil nama-nama anaknya. Sebaiknya ibu langsung menghubungi saudara ibu,” kata dokter.

“Iya dok, terima kasih” ucapku pelan.

Rasanya lemas, lututku seakan tak mampu menopang tubuhku. Air mataku mengalir dengan derasnya.

Malam ini terasa sangat panjang, aku tak bisa beristirahat sedikitpun. Aku tak ingin pergi dari samping ibu sedetik pun. Aku terus mengelus rambut ibu dan membacakan ayat suci Al-Qur’an.

Pukul 03.20 dini hari tiba-tiba ibu kejang dan sesak. Aku langsung berlari memanggil dokter. Dengan cepat dokter berlari ke ruang ibu. Pamanku ikut ke ruangan ibu, aku mencoba berdiri di samping ibu dan berbisik

“Bu, Utih ikhlas,” ucapku.

Lalu aku berjalan keluar dan menunggu di luar bersama asih, sedang pamanku mendampingi dokter, aku terus bershalawat namun air mataku seakan tak bisa untuk keluar.

Selang berapa menit dokter keluar bersama paman.

“Tih, sabar yah, ibumu sudah tidak ada,” kata paman sambil memelukku.

“Alhamdulilah,” ucapku setelahnya aku barucap “Innalillahi wainna ilaihi raji’un.”

Aku membawa jenazah ibu kembali ke rumah. Kabar meninggalnya ibuku diketahui oleh kakak-kakakku melalui tetanggaku, karena aku memang tak ingin mengabari mereka.

Aku mengurus semua setiap prosesnya. Entah kenapa air mataku tak ada yang mengalir.

“Ibuuuuuu!” teriak Kak Abdi lalu berlari ke samping jenazah ibu.

Kakakku yang lain pun terdengar histeris.

“Ibu maafkan aku Bu!”

“Ibu ampuni aku buuuu!”

“Ibuuuuuu!” Teriak mereka bersahutan.

Mereka terus memeluk jenazah ibu. Aku hanya terdiam melihat mereka sampai jenazah ibu dikuburkan. Saat pulang terlihat kakak-kakakku masih menampakkan penyesalan

“Tih,” ucap Kak Abdi ingin memelukku.

“Jangan menyentuhku!” bentakku.

“Apa maksudmu?” tanya kakak iparku.

“Aku tak ingin tangan durhaka menyentuhku!” ucapku sinis.

“Apa maksudmu Tih? Aku tak melihatmu bersedih, aku tak melihatmu sakit, aku tak melihatmu kehilangan,” kata Kak Sinta.

Aku mencoba tak memperdulikan mereka, namun Mas Abdi masih terus mencoba membujukku.

“Kalian tahu apa tentang sedih hah?” teriaku histeris.

“Kalian tahu apa tentang sakit? Kalian tahu apa soal kehilangan?” kali ini air mataku seakan memaksa untuk keluar.

“Kalian mau tau apa itu sedih? Sedih itu ketika melihat ibu yang terus duduk di kursi itu, menunggu kedatangan kalian dari siang sampai larut. Kalian tau apa itu sakit? Sakit itu ketika melihat ibu yang bertaruh nyawa namun tak melupakan nama kalian,” aku berhenti sejenak.

“Kalian tau apa itu kehilangan? Kehilangan itu ketika melihat tatapan sendu itu terus memandangi jalan berharap kalian muncul dan memeluknya,” teriakku yang terus meraung.

“Kalian tau? Ibu bahkan memintaku untuk memakaikannya baju baru agar kalian tak malu memiliki ibu sepertinya. Ibu bahkan rela hidup susah asal kalian bahagia,” ucapku kali ini dengan suara yang sudah parau.

“Kalian durhaka. Kalian durhaka membiarkan ibu menanggung rindu. Aku bahkan tak ingin mengakui kalian sebagai kakak,” kataku.

“Kalian tau kenapa aku tak menangis? Karena aku bahagia, Ibu tak lagi menahan sakit ketika tubuhnya harus ditusuk dengan jarum. Aku bahagia karena ibu tak lagi sakit, dan yang paling membuatku bahagia karena ibu tak lagi menderita menanggung rindu,” kataku yang sudah terduduk karena badanku terasa sangat lemas.

Kakak-kakakku hanya mampu menangis mendengarkanku.

“Satu lagi,” kataku.

“Mulai sekarang aku akan mengambil mobilmu Kak Abdi, yang dibeli memakai uang ibu. Segera kembalikan uang yang ibu modali untuk usahamu Kak Rifan. Dan segera tinggalkan rumah yang ibu belikan untukmu Kak Sinta. Kalian sungguh tak pantas menerima kemurahan ibu. Aku ingin membangunkan ibu sebuah panti asuhan agar banyak anak yang mengelilinginya,” ucapku datar tanpa menoleh ke arah mereka.

Mereka tak ada yang mampu menjawabku karena terus meraung karena penyesalan.

“Kalian tau? Ada satu tempat yang bahkan kalian berkeliling dunia pun tak akan kalian temukan. Yaitu rahim ibu. Rahim yang telah kalian tempati saat Allah memberimu kehidupan. Dan kalian justru memilih pergi ke tempat lain saat orang yang meminjamkan rahimnya sedang bertaruh nyawa,” kataku.

----------
Keterangan:
-         Cerpen ini beredar di grup WhatsApp (WA) dan ternyata ceritanya sangat menarik. Sayangnya, tanpa nama penulis. Kami kemudian berselancar di internet dan menemukan cerpen ini dimuat di grup Facebook “Komunitas Bisa Menulis”, pada 29 Agustus 2020.
-         Penulisnya Chie Amoy. Kami kemudian menghubungi penulisnya, dan atas izinnya, Cerpen ini kami muat di laman www.pedomankarya.co.id.
-         Terima kasih Chie Amoy. (red)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply