Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » Pasang Surut Perdamaian antara Rusia dan Ukraina


Pedoman Karya 12:31 AM 0

Penulis berpendapat bahwa jika perang ini selesai karena kesepakatan yang dilakukan oleh kedua belah pihak, bukan karena intervensi yang dilakukan oleh NATO dan Amerika, bisa dikatakan bahwa Volodymyr Zelensky dan Vladimir Putin tidak akan kehilangan muka masing-masing.

Yang akan kehilangan muka adalah NATO dan Amerika, karena itu akan membuktikan bahwa NATO dan Amerika tidak mampu menangani konflik antara Rusia dan Ukraina dengan baik

 

------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 20 Mei 2022

 

OPINI

 

 

Pasang Surut Perdamaian antara Rusia dan Ukraina

 

 

Oleh: Achmad Amzal Maulana

(Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Fajar Makassar)

 

Desember 2021 terjadi sebuah peristiwa, dan peristiwa ini memanaskan panggung politik global karena Rusia menempatkan 100 ribu tentara pasukan di perbatasan Ukraina, dan beberapa pakar mengatakan bahwa hal ini dapat memicu Perang Dunia Ketiga (World War III).

Semua ini bermula dari permintaan Presiden Rusia Vladimir Putin kepada NATO dan negara-negara Barat. Yang pertama, Vladimir Putin meminta kepada NATO dan Amerika untuk menghentikan semua aktivitas militer di daerah yang berada di Eropa timur.

Yang kedua, Vladimir Putin meminta kepada NATO dan Amerika untuk berhenti merekrut anggota baru. Dan yang ketiga, Vladimir Putin meminta kepada NATO dan Amerika untuk berhenti ikut campur dalam segala di Eropa timur.

Namun seperti yang sudah diduga, NATO dan Amerika menolak permintaan Vladimir Putin karena merasa bahwa Rusia tidak berhak untuk mengatur-atur kedaulatan sebuah negara.

Akan tetapi Vladimir Putin tidak main-main dengan permintaannya. Vladimir Putin mengancam jika permintaanya tidak digubris oleh pihak NATO dan Amerika, maka Vladimir Putin akan melakukan invasi berskala besar kepada Ukraina untuk mengembalikan wilayah Ukraina kepada Rusia.

Dan untuk menunjukkan keseriusannya pada tuntutan tersebut di dalam Press Conferencenya, Vladimir Putin menegaskan bahwa Rusia siap untuk perang nuklir.

Konflik antara Rusia dan Ukraina tidak terjadi dalam 1-2 tahun belakangan, akan tetapi konflik ini sudah lama terjadi. Pada tahun 1990-an, walaupun Ukraina sudah menjadi negara yang berdaulat akan tetapi Ukraina masih belum terlepas dari bayang-bayang Rusia.

Pada tahun 2004, terjadi sebuah Revolusi yang bernama Revolusi Orange. Revolusi Orange adalah sebuah pergerakan masyarakat Ukraina untuk lepas dari bayang-bayang Rusia dan masyarakat Ukraina meminta kepada pemerintah Ukraina agar Ukraina benar-benar menjadi negara yang berdaulat.

Singkat cerita, revolusi ini sukses dan berhasil mengangkat seorang presiden baru di Ukraina yang bernama Viktor Yushichenko. Viktor Yushichenko ingin melepas Ukraina dari pengaruh Rusia dan ingin bergabung kepada negara-negara Barat.

Keadaan ini membuat Rusia sangat tidak nyaman. Rusia melakukan filtrasi ke dalam politik dalam negeri dari Ukraina. Filtrasi tersebut berhasil pada 2010 dengan terpilihnya Viktor Yanukovych sebagai Presiden Ukraina.

Viktor Yanukovych sendiri adalah orang yang sangat pro terhadap Rusia. Sejak Viktor Yanukovych terpilih menjadi presiden Ukraina, hubungan antara Ukraina dengan NATO dan Amerika benar-benar kandas karena Viktor Yanukovych sangat berpihak kepada Rusia.

Karena tindakan tersebut, masyarakat Ukraina tidak senang dan melakukan revolusi lagi pada tahun 2014. Hasil dari revolusi tersebut mendepak Viktor Yanukovych sebagai Presiden Ukraina.

Saat terjadi kekosongan akibat dari revolusi tersebut, Rusia mengambil secara paksa daerah Crimea. Selain mengambil daerah Crimea, Rusia juga mendukung penuh kelompok separatis pro Rusia di daerah Ukraina Timur.

Pada tahun 2019, terpilihlah Volodymyr Zelensky sebagai Presiden baru Ukraina. Volodymyr Zelensky merupakan orang yang sangat anti dengan Rusia dan menyatakan keberpihakan kepada NATO dan pihak barat.

Volodymyr Zelensky menyatakan secara tegas bahwa Ukraina di bawah kepemimpinannya tidak ingin berada di bawah bayang-bayang Rusia. Volodymyr Zelensky menyatakan secara terang-terangan bahwa Ukraina ingin bergabung dengan NATO.

NATO pun menyambut hal tersebut dengan sangat baik. Karena bagi NATO, ketika Ukraina bergabung dengan NATO, maka NATO dapat membuat pangkalan militer di bagian Eropa timur dan hal ini tentunya membuat Rusia geram.

Vladimir Putin sebenarnya tidak ingin adanya perang antara Rusia dan Ukraina, dengan cara Vladimir Putin membuat essay yang dipublish oleh situs resmi Kremlin yang berjudul On Historical Unity of Russians and Ukrainans.

Menurut analisa penulis, di dalam essay tersebut Vladimir Putin mengatakan bahwa orang Rusia dan orang Ukraina memiliki satu kesatuan dengan dasar bahasa, agama, dan sejarah.

Pada essay tersebut juga mengatakan bahwa Vladimir Putin mengizinkan Ukraina untuk merdeka. Pada essay tersebut juga mengatakan bahwa Rusia yang telah membantu Ukraina menstabilkan ekonomi sebagai negara yang baru merdeka.

Vladimir Putin mengatakan bahwa hubungan antara Rusia dan Ukraina sangat menguntungkan Ukraina itu sendiri. Vladimir Putin mengatakan bahwa kerjasama antara Rusia dan Ukraina selama tahun 1991-2013 telah menghemat anggaran sebesar 83 miliar dollar dan Vladimir Putin mengatakan bahwa kalau hubungan antara Rusia dan Ukraina diteruskan, maka Ukraina akan mendapat keuntungan yang lebih besar.

Vladimir Putin di dalam essaynya juga menyayangkan apa yang terjadi sekarang. Menurut Vladimir Putin, banyak pihak anti-Rusia yang berupaya campur tangan antara hubungan Rusia dan Ukraina.

Menurut Vladimir Putin, masyarakat Ukraina adalah masyarakat yang bertalenta dan pekerja keras. Vladimir Putin mengatakan bahwa mundurnya perekonomian Ukraina, susahnya masyarakat Ukraina untuk hidup, itu disebabkan oleh pemerintah Ukraina yang berkuasa sekarang yakni orang-orang anti Rusia.

Vladimir Putin menutup essay tersebut dengan mengatakan bahwa Rusia tidak pernah anti dengan Ukraina dan tidak akan pernah akan anti dengan Ukraina, seperti apa jadinya Ukraina ke depan tergantung dengan masyarakat Ukraina sendiri. 

Negosiasi perdamaian antara Rusia dan Ukraina telah berlangsung saat ini. Juru Bicara Vladimir Putin, Dmitry Peskov menuturkan bahwa ada empat hal yang diinginkan Rusia dari Ukraina.

Pertama, Ukraina harus menghentikan semua kegiatan militer. Kedua, Ukraina harus mengakui kemerdekaan Donbass. Ketiga, Ukraina harus mengakui kedaulatan Rusia di Crimea. Dan yang keempat, Ukraina harus menyatakan netralitas di dalam konstitusi.

Menurut opini penulis, untuk poin pertama itu bukan isu yang besar untuk Ukraina karena dengan menghentikan semua kegiatan militer, Rusia akan berhenti pula menginvasi Ukraina.

Tetapi menurut penulis adalah yang sulit dipenuhi adalah poin kedua dan ketiga. Karena melepas Donbass dan Crimea adalah tindakan yang sulit bagi Ukraina dan mempertahankan keduanya juga cukup sulit.

Penulis beranggapan bisa saja satu daerah tersebut menjadi alat tawar untuk mendapatkan daerah yang lain. Kemungkinan yang lain menurut opini penulis adalah bisa jadi poin kedua dan poin ketiga dijadikan alat tawar untuk poin keempat.

Dengan menyatakan netralitas kemungkinan Ukraina untuk bergabung dengan NATO akan tertutup. Tapi di satu sisi setelah kekecewaan yang terjadi, dimana Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky merasa bahwa Ukraina selama ini bertempur sendiri, janji NATO dan Amerika untuk melindungi Ukraina tidak pernah Ukraina rasakan, perlindungan langsung dari pasukan NATO dan Amerika untuk daerah-daerah Ukraina belum ada.

Bisa saja menurut penulis bahwa Volodymyr Zelensky akan berpikir ulang ditambah lagi kalau dilihat sampai sekarang, pasukan NATO dan Amerika tidak terjun fisik ke dalam medan perang. Itu terbukti dengan hancurnya kota-kota di Ukraina, permintaan Ukraina terhadap daerah No-Flying Zone juga ditolak.

Pihak Barat hanya berfokus kepada sanksi yang diberikan untuk Rusia. Menurut penulis hal ini akan membuat persepsi di kalangan masyarakat Ukraina bahwa NATO tidak benar-benar ada untuk mereka.

Menurut analisa penulis, jika kesepakatan terjadi maka Volodymyr Zelensky akan sangat besar melewatkan kesempatan untuk bergabung dengan NATO, tapi untuk bergabung dengan Uni Eropa masih diperjuangkan.

Penulis menduga bahwa negosiasi ini akan berjalan dengan alot. Penulis menemukan hal yang menarik dari empat poin yang diinginkan Rusia dari Ukraina. Penulis tidak menemukan poin yang mengharuskan Volodymyr Zelensky untuk turun dari jabatan sebagai Presiden Ukraina.

Padahal di dalam beberapa kesempatan Vladimir Putin ingin agar Volodymyr Zelensky untuk turun dari jabatan kepresidenannya, hal ini menambah daya tawar Rusia kepada Ukraina.

Penulis berpendapat bahwa jika perang ini selesai karena kesepakatan yang dilakukan oleh kedua belah pihak, bukan karena intervensi yang dilakukan oleh NATO dan Amerika, bisa dikatakan bahwa Volodymyr Zelensky dan Vladimir Putin tidak akan kehilangan muka masing-masing.

Yang akan kehilangan muka adalah NATO dan Amerika, karena itu akan membuktikan bahwa NATO dan Amerika tidak mampu menangani konflik antara Rusia dan Ukraina dengan baik.***

 


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply