Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » Kapolri, Sambo Bukan Homo Terorisme


Pedoman Karya 7:23 AM 0

Dikarenakan kebringasan, kesannya sehingga sungguh menakutkan oleh siapapun. Bahkan, Kapolri juga terkesan terbata-bata saat penyampaian, __untuk menonaktifkan Ferdy Sambo berbintang dua dan menghabisi ajudannya di rumah dinasnya. Ternyata, berkaitan kekuasaan dilumatkan pada Ferdy Sambo melebihi Rambo dalam layar lebar.
 




-----

PEDOMAN KARYA

Senin, 12 September 2022


OPINI SASTRAWI

 

 

Kapolri, Sambo Bukan Homo Terorisme

 

 

Oleh: Maman A Majid Binfas

(Akademisi, Sastrawan, Budayawan)

 

Homo sodomi merupakan sebuah perilaku manusia bersifat kelainan jiwa yang melakukan pelecehan seksual melalui anus, dan bisa juga dikategorikan sebagai seks anal gaya binatang.

Sifat homo kebinatangan ini, sebenarnya juga tidak pernah dicontohin oleh binatang bersodomi. Namun, kebiasaan binatang memang ditakdirkan bergaya hubungan badan demikian, tetapi tidak melalui anus, baik pada yang berbeda atau sesama jenisnya.

Lalu, kelainan dicerminin oleh karakter yang berhomo sodomi, termasuk sensansi diksi “jeruk makan jeruk” atau polisi tembak polisi. Bahkan, mungkin tidak terlalu keliru, manakala juga kawin dengan sesama jenis, dan itu hampir sama diidentkkan pemaknaannya.

Termasuk juga di dalam goresan ini, semua beridentikan pada makna homoseksual yang menyimpang, dikarenakan logika sungsang atas nama hak asasi dalam demokrasi keliaran yang sungguh bringasan melebihi animal sekalipun.

Dikarenakan kebringasan, kesannya sehingga sungguh menakutkan oleh siapapun. Bahkan, Kapolri juga terkesan terbata-bata saat penyampaian, __untuk menonaktifkan Ferdy Sambo berbintang dua dan menghabisi ajudannya di rumah dinasnya. Ternyata, berkaitan kekuasaan dilumatkan pada Ferdy Sambo melebihi Rambo dalam layar lebar, sebagaimana dikutip Antara/Akbar Nugroho Gumay dalam Warta Ekonomi, Jakarta 11/9/2022, sbb.

“Kapolri Jenderal Listyo Sigit mengakui Ferdy Sambo punya pengaruh besar sehingga penyidik ketakutan saat mengusut kematian Brigadir Yosua Hutabarat atau Brigadir J.”

Hal ini lantaran jabatan Kadiv Propam yang melekat pada Ferdy Sambo membuat dia memiliki kekuatan besar.

Pertanyaan, kenapa bisa demikian? Berarti selama ini, manakala tidak diviralkan dan diketahui oleh publik, maka rambo kekuasaan padanya telah meraja, bahkan mungkin kebringasan melebihi itu, selain kepada Brigadi J. _dimaksudkan.

Tidak terlalu keliru manakala publik, dan pengamat memaknai secara bebas tentang dugaan dan motif diidentikkan kepada F Sambo, dkk, juga kepada Polri selama ini, terkhusus pada Densus 88 berhingga 303, KM 50 dll. Belum lagi, peran komandan merah putih dan hitam kelam nasib bagi kaum diduga diterorismekan dan diradikalismekan yang dikesankan selama ini.

Semoga kesan homo sodomi di atas, tidak terjadi dialamatkan kepada personaliti, dan terlebih di dalam tubuh secara institusi Polri. Maka, jangan dibiasakan pula ditutupi dengan gumpalan kegelapan. Nanti juga akan menghanguskan, baik diri dan keluarga maupun secara institusi pula__bagaikan senjata makan tuan.

Mungkin dapat berakibat bah polisi tembak polisi yang sedang viral saat ini. Jelas terjadi, sekalipun tak diidentikkan dengan terorisme, baik di dalam institusi Polri berperintahan saat ini.

Keanehan itu nyata dikarenakan pelakunya bukan orang Islam, maka tidak dianggap sebagai tindakan terorisme, sekalipun dilakoni di rumah dinas dengan penuh kesadisan__ di luar batas kemanusiaan melebihi tindakan terorisme dikesankan selama ini, baik oleh Pemerintah di sini maupun Baratisme menghomokadalismenya.

Bahkan para pelakonnya juga yang berseragam bintang Pacasilais berketuhanan diyakininya, tetap saja gelap gulita terpanen. Ya, syukurlah pelakunya bukan Islam, andaikan ya, maka tentu tertuduh terorisme bertuan dipanen juga __ hentakan gumamnya sopir grab saat itu.

Walau, hentakan gumamnya sopir tersebut, mungkin terkesan sepele, namun sungguh dahsyat maknanya, sungguh menusuk dan menampar temperamen perilaku aparat pemerintah selama ini.

Selama ini, terkesan hanya berdagelan tempramen premanisasi dan juga sensasi menghinati amanat diembannya. Padahal amanat itu diemban dan esensinya mereka mestinya menaungi rakyatnya bah pohon thuba di surga firdausin. Gumamnya supir grab bagaikan sindiran, sebagaimana orang Badui bertanya kepada Nabi Muhammad SAW mengenai pohon di surga.

Kemudian,  Rasulullah Saw  menjawab, yang artinya:

“Ada. Di surga ada sebuah pohon bernama Thuba.”

Pohon thuba itu selalu menaungi surga Firdaus. Insya Allah akan dipanen dengan pelita cahaya terang berbintang tanpa gelap gulita bah penghianatan amanah yang tersistematis di dunia ini.

Tentu, kesan di atas ini, jangan pula dianggap lebay terlalu berlebihan oleh tuan pemerintah yang lagi nikmati berkuasa. Namun, kesan ini menjadi tanda cinta, agar kiranya tuan-tuan tetap dicinta. Sebagaimana para pemimpin telah tulus mencintai rakyat dan negerinya berhingga kini dikenang jua. Dikarenakan mereka mengedepankan kesucian pikiran yang berakar hatinurani.

Berakar logika yang diyakini tulus, guna menghindari kesan sungsan gaya sodomi. Harapan kami tetap pada akar hatinurani, dan semoga

Tuan bertuankan kata hati

berakar cinta demi kita

Negeri Indonesia tercinta.

 

Dan kepada Kapolri, kini atas keterbukaannya sebagaimana disarankan oleh Presiden Jokowi__ mesti juga dijempolin, manakala nanti dapat diwujudkan berhingga hukum mati bukan lagi dikesan angin surga.

Bahkan begitu juga kepada siapa saja __termasuk, pemerintah Jokowi yang bertautan hingga akar rumput. Harapannya, semoga masih punya mata batin bernurani berhingga husnul khotimah tanpa tembakan homo sodomi yang berakhir su’ul khotimah.

 

Wollahu 'alam

Uhamka Press, Jakarta tetap Jaya__


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply