Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » Kritik Sastra Tidak Harus Membuat Kita Mati


Pedoman Karya 4:37 AM 0

Tulisan ini refleksi sebuah polemik puitika antara dua penyair melalui beranda fesbuk. Polemik ini saya sebut polemik puitika lantaran dialektika keduanya disampaikan melalui larik-larik puisi yang padat. Goenawan Monoharto (ingat: bukan Goenawan Mohammad), penyair dan direktur penerbitan Lamacca Makassar, terlibat polemik dengan Aspar Paturusi, sastrawan asal Sulsel yang menetap di Jakarta.

 




-----

PEDOMAN KARYA

Senin, 05 Desember 2022

 

Polemik Puitika Goenawan dan Aspar:

 

 

Kritik Sastra Tidak Harus Membuat Kita Mati

 


Oleh: Mahrus Andis

(Sastrawan, Kritikus Sastra)

 

Tulisan ini refleksi sebuah polemik puitika antara dua penyair melalui beranda fesbuk. Polemik ini saya sebut polemik puitika lantaran dialektika keduanya disampaikan melalui larik-larik puisi yang padat.

Goenawan Monoharto (ingat: bukan Goenawan Mohammad), penyair dan direktur penerbitan Lamacca Makassar, terlibat polemik dengan Aspar Paturusi, sastrawan asal Sulsel yang menetap di Jakarta.

Berawal ketika Goenawan menulis puisi tanpa judul di beranda fesbuknya sebagai berikut:

 

   "malam makin

    dekat terang/ air

    mata kian

    berenergi/ jatuh di

    tanah haus/

    menumbuh pohon/

    hidup/ rimbun

    berbuah

    tiada bermusim "

 

Puisi yang ditulis 30 November 2022 ini menyiratkan sehampar harapan untuk hadirnya power kehidupan baru. Tentu harapan ini adalah doa "terang" bagi seorang Goenawan, terutama menjelang pergantian tahun.

Rupanya Aspar Paturusi tidak sekadar menikmati, tapi juga mengerahkan power puitiknya untuk menelisik diksi "berenergi" pada larik puisi Goenawan tersebut. Dalam kotak komentar, Aspar menulis:

“Apaan air mata kian berenergi. Kata energi itu membuat tidak puitik. Cari yang lain. Bahasa Indonesia itu kaya.”

Mendapat kritik seperti itu, adakah Goenawan Monoharto tenang-tenang saja,  bagai wayang yang adem dimainkan ?

Bisa ya. Namun, boleh jadi juga ada detak labil di hati bagai sebiji mur goyah dari bautnya. Karena itu, tanpa harus bersitegang lewat bahasa vulgar, Goen (panggilan akrabnya) mencoba menulis puisi yang bernada subtil, seperti berikut:

 

   “diam sejenak tuan/

    pada malam

    suram/

    garis gerimis air

    mata/

    membasah hati/

    biar jadi lembut/

 

    ingat tuan/

    jangan usik sunyi/

    dengan gerutumu”

 

Puisi ini, ditulis tidak langsung menjawab kritik Aspar di kolom komentar sebagaimana lazimnya diskusi online. Akan tetapi, Goenawan menuliskannya di beranda lain fesbuknya. Dari sudut hermeneutika (baca: ilmu tafsir), cara ini dilakukan untuk membangun etika polemik dan menghindari hadirnya bola-bola liar yang jauh dari substansi persoalan.

Aspar Paturusi, sebagai sastrawan yang sudah lama lebur dalam pengalaman puitika, berhasil menangkap sinyal "nyeri" akibat terusik di balik puisi Goenawan. Dia merasakan kode linguistik "tuan" dalam puisi itu sebagai subjek yang diletakkan pada dirinya. Maka dengan bahasa yang lembut, dia membalas puisi Goen sebagai berikut:

 

“tuan tidak menggerutu

hanya menampung

gerimis air mata

dengan kelopak mata

yang tak pernah kedip

menatap wajahmu

 

nah jangan biarkan kerut sedih

menoreh wajah lembut

seakan ditikam tajam cahya mentari

 

kini menarilah

gerak indah

gemulai menyentuh

hati lagi gundah

senyumlah

itulah obatnya

 

dekap erat tubuhnya

ketika dia tegak di hadapanmu

nah kan, tuan tak menggerutu”

 

Jawaban puisi di atas menjadi penanda kearifan seorang Aspar dalam diskusi. Dia merasa “tertuduh” sebagai “tuan yang menggerutu” atas pilihan diksi “berenergi” pada puisi Goenawan. Tapi ia tidak perlu marah-marah karena kritiknya dinilai “mengusik sunyi”. Malah Aspar menawarkan kesejukan. Ia mengajak penyair menari, mengobati rasa gundah dengan senyum. Bahkan, dia pun melebarkan tangan, ingin merangkul dan didekap ketika suatu saat keduanya bertemu.

Untuk melihat dimensi pragmatik-sosiologis di balik hadirnya puisi Aspar Paturusi dan Goenawan Monoharto tersebut, kita dapat memanfaatkan teori para ahli sastra. Salah satu di antaranya, teori Strukturalisme Genetik (Lucien Goldmann 1913-1970).

Teori ini mengungkap makna-makna yang terselimut di balik teks sebuah karya. Termasuk, tentunya, causalitas hadirnya kritik Aspar Paturusi terhadap diksi “berenergi” yang (mungkin juga) Goenawan merasa harus merenungi kembali pilihan estetika puisinya itu.

Sengaja saya tulis narasi ini. Tujuannya jelas, untuk menyatakan kepada siapa saja, khususnya pegiat sastra, bahwa kritik tidak harus membuat kita mati.***

 

Makassar, 05 Desember 2022


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply