-----------
PEDOMAN KARYA
Senin, 28 Desember 2015
ARTIKEL
Sejarah dan Potret
Aisyiyah Sulawesi Selatan
Oleh: Hadisaputra
(Mantan Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Sulsel)
Aisyiyah adalah organisasi perempuan yang
bergerak dalam bidang sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan. Sebagai komponen
organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah didirikan pada 27 Rajab 1375,
bertepatan dengan 19 Mei 1917, di Yogyakarta oleh KH Ahmad Dahlan.
Bermula dari perkumpulan gadis-gadis dalam
pengajian rutin yang dikenal sebagai Sapa Tresna tahun 1914, para kader
'Aisyiyah kemudian berkembang dengan mengajak para ibu rumah tangga, untuk
memikirkan persoalan kemasyarakatan, khususnya masalah peningkatan harkat kaum
perempuan.
Aisyiyah di Sulawesi Selatan diawali
dengan berdirinya Aisyiyah Cabang Makassar yang dirintis oleh Hj Fatimah
Abdullah (istri dari KH Abdullah, Ketua Muhammadiyah Cabang Makassar saat itu)
dan Sitti Maemunah Dg Mattiro (istri H Muhammad Yusuf Daeng Mattiro, Wakil
Ketua Muhammadiyah Cabang Makassar saat itu).
Status Aisyiyah kemudian meningkat menjadi
Pimpinan Daerah pada 1937, dengan Ketua Hj Fatimah Abdullah.
Pada tahun 1940, diadakan Konferensi
Muhammadiyah Sulsel yang dirangkaikan dengan Konferensi Aisyiyah, di Sengkang,
Kabupaten Wajo. Konferensi tersebut memutuskan bahwa Ketua Pimpinan Daerah
Aisyiyah Sulawesi Selatan adalah St Dawiah SS Djam’an, dibantu oleh Sitti
Halimah Bakkas, Sitti Hasran Daeng Makerra, Sitti Ramlah Kasim, dan Sitti
Ramlah Azis.
Konferensi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di
Bantaeng pada tahun 1950, memilih Sitti Ramlah Azis sebagai Ketua Pimpinan
Daerah Aisyiyah.
Setelah Aisyiyah Sulawesi Selatan
mendapatkan otonomi, maka pada 1968, Pimpinan Daerah Aisyiyah berubah menjadi
Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara, dengan susunan
pengurus (Periode 1968 -1971) adalah Sitti Ramlah Azis sebagai ketua, Sitti
Halimah Bakkas sebagai sekretaris, dan Hj Zainab Daeng Tanaga sebagai
bendahara.
Pada periode berikutnya, ketika Sulawesi
Tenggara berdiri sendiri, maka nomenklaturnya berubah menjadi Pimpinan Wilayah
Aisyiyah Sulawesi Selatan.
Pimpinan Daerah
Seiring berjalannya waktu dengan berbagai
macam perubahan dan perkembangan yang terjadi, Aisyiyah di Sulawesi Selatan pun
mengalami perkembangan yang cukup pesat.
Kini, Pimpinan Daerah Aisyiyah sudah
terbentuk pada 23 kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan, yaitu PDA Kota
Makassar, PDA Gowa, PDA Takalar, PDA Jeneponto, PDA Bantaeng, PDA Bulukumba,
PDA Selayar, PDA Sinjai, PDA Bone, PDA Maros, PDA Pangkep, PDA Barru, PDA
Parepare, PDA Sidrap, PDA Pinrang, PDA Enrekang, PDA Tana Toraja, PDA Soppeng,
PDA Wajo, PDA Palopo, PDA Luwu, PDA Luwu Timur, dan PDA Luwu Utara.
Pada periode 2005-2010, terjadi Pemekaran
Propinsi Sulawesi Barat sehingga pada tanggal 10 Dzulhijjah 1427 H / 31
Desember 2006 M diadakan Musyawarah Pembentukan Aisyiyah Sulawesi Barat. Pada
Pemekaran tersebut, tiga Pimpinan Daerah Aisyiyah yaitu PDA Majene, PDA Mamuju,
dan PDA Polman bergabung menjadi Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Barat.
Pada periode 2010-2015, di bawah
kepemimpinan Nurhayati Azis, sebagai ketua, dan Hidayah Quraisy sebagai
sekretaris, Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Selatan telah memiliki 23
Pimpinan Daerah, 191 Pimpinan Cabang, dan 644 Pimpinan Ranting.
Amal Usaha
Selain itu, amal usaha Aisyiyah juga
senantiasa berkembang pada bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan
kesejahteraan sosial.
Pada bidang pendidikan, Aisyiyah di Sulsel
memiliki Kelompok Bermain sejumlah 94 buah, Taman Kanak-Kanak Aisyiyah
Busthanul Athfal sebanyak 420 buah, Taman Pendidikan Al-Qur’an sebanyak empat
buah, SD Aisyiyah sebanyak dua buah (Kota Makassar dan Kabupaten Wajo), SMP
Aisyiyah sebanyak dua buah (Kota Makassar dan Gowa), Madrasah Aliyah satu buah
(Kabupaten Gowa), dan Pondok Pesantren Ummul Mukminin Aisyiyah satu buah (Kota
Makassar).
Di bidang kesehatan, Aisyiyah di Sulawesi
Selatan memiliki amal usaha kesehatan, yaitu Rumah Sakit Umum Sitti Khadijah di
kabupaten Pinrang, Rumah Sakit Bersalin Sitti Khadijah Kota Parepare, Rumah
Bersalin Sitti Khadijah III Aisyiyah di Kota Makassar, Rumah Bersalin Sitti
Khadijah di Kota Palopo.
Selain itu, BKIA Aisyiyah di Kabupaten
Enrekang, BKIA Aisyiyah di Kabupaten Pangkep, BKIA ‘Aisyiyah di Kabupaten
Barru, Balkesmas di Kabupaten Sidrap,
Balkesmas di Kabupaten Wajo, Pos kesehatan Pesantren Ummul Mukminin ‘Aisyiyah
Sulsel di Kota Makassar, Pos Kesehatan Panti Asuhan Bahagia ‘Aisyiyah Cab.
Makassar di Kota Makassar, dan Pos
Kesehatan Panti Asuhan Saadatul Banaat
di Bulukumba.
Aisyiyah di Sulsel juga bergerak di bidang
ekonomi, dengan mengelola amal usaha berupa Badan Usaha Ekonomi Keluarga
Aisyiyah (BUEKA) di 23 Kabupaten/Kota,
Koperasi ‘Aisyiyah di Kabupaten Bantaeng dan Takalar, serta Unit Usaha ‘Aisyiyah Wilayah
Sulawesi Selatan yang meliputi Persewaan Gedung, dan toko pusat oleh-oleh khas
Sulawesi Selatan.
Dalam bidang Kesejahteraan Sosial,
‘Aisyiyah di Sulawesi Selatan memiliki Panti Asuhan yang tersebar di sejumlah
Kabupaten/Kota, yaitu Panti Asuhan Bahagia ‘Aisyiyah Cabang Makassar, kota
Makassar, Panti Asuhan Ummu Aiman Aisyiyah Cabang Mamajang Kota Makassar, Panti
Asuhan “Sejati” ‘Aisyiyah Cab. Ujung Tanah Kota Makassar.
Ada juga Panti Asuhan “Abadi” Aisyiyah
Kota Parepare, Panti Asuhan “ Sejahtera”‘Aisyiyah Kabupaten Sidrap, Panti
Asuhan Sitti Khadijah” Aisyiyah
Kabupaten Pinrang, Panti Asuhan “Al- Mubarak” Camba Aisyiyah Kabupaten Maros,
Panti Asuhan “ Amrullah” Limbung Aisyiyah Kabupaten Gowa, Panti Asuhan “
Mushlihah” Aisyiyah Kabupaten Jeneponto, Panti Asuhan “Sa’adatul Banaat”
Aisyiyah Kabupaten Bulukumba, Panti Asuhan “Darul Arqam” Aisyiyah Cabang
Gantarang Bulukumba, Panti Asuhan “Al-Hudayah Mawaddah Marahmah” Labakkang
Aisyiyah Kabupaten Pangkep, dan Panti Asuhan “Sakinah” Aisyiyah Kabupaten
Bantaeng.
Dengan segenap potensi tersebut, wajar
saja jika ‘Aisyiyah Sulsel dianggap sukses mengemban amanah sebagai tuan rumah
Muktamar Satu Abad ‘Aisyiyah (Juli 2015). Muktamar tersebut telah menorehkan
Pokok-pokok Pikiran ‘Aisyiyah Abad Kedua. Inilah peta jalan (road map) gerakan
perempuan Muhammadiyah ke depan.***
