Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » Yudhistira Sukatanya: Kita Butuh Penulis Cerita Anak


Asnawin Aminuddin 6:44 AM 0

SASTRA SABTU SORE. Obrolan Santai Sastra Sabtu Sore, di Taman Baca Masjid Ashabul Jannah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Sabtu, 03 April 2021, juga diisi dengan pembacaan puisi. (Foto: Rusdin Tompo)
 





-------

Senin, 05 April 2021

 

 

Yudhistira Sukatanya: Kita Butuh Penulis Cerita Anak

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Membangun gerakan literasi harus dimulai sejak dini, sehingga perlu disediakan buku-buku cerita yang berkualitas untuk anak, terutama buku-buku cerita rakyat yang sarat dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.

“Kita butuh penulis cerita anak yang akan menghadirkan buku-buku bermutu, untuk menggerakkan literasi di masa depan,” kata Yudhistira Sukatanya, Ketua Harian Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKKSS), pada Obrolan Santai Sastra Sabtu Sore, di Taman Baca Masjid Ashabul Jannah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel, Jalan Sultan Alauddin, Makassar, Sabtu, 03 April 2021.

Kegiatan Sastra Sabtu Sore yang mengusung tema “Yuk, Ngobrol Buku Anak”, kata Yudhistira, momennya tepat, karena diadakan dalam rangka Hari Buku Anak Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 02 April. Kegiatan ini diadakan atas kerjasama LAPAKKSS dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Provinsi Sulsel.

“Terima kasih kepada Bapak Hasan Sijaya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulsel, yang begitu responsif terhadap kegiatan literasi yang digagas teman-teman,” kata pria yang akrab disapa Kak Yudhi itu dalam sambutannya.

Hadir sejumlah penggiat literasi, penulis, sastrawan, pustakawan dan pemerhati sastra seperti Bachtiar Adnan Kusuma, Muhammad Amir Jaya, Idwar Anwar, Heri Rusmana, Kak Heru, Rusdin Tompo, dan Andi Asmar.

Acara bincang-bincang dan pertunjukan sastra dengan konsep taman ini, dipandu oleh Shafira Devi Amorita, dan menghadirkan Madia S Nura, penulis buku cerita anak Sulsel sebagai pembicara.

Madia, yang dikenal juga sebagai pendongeng, hadir berbagi pengalaman seputar buku-buku yang ditulisnya. Diungkapkan bahwa dia mulai menulis buku cerita anak sejak tahun 2017, setelah menang sayembara yang diadakan Balai Bahasa Sulsel. Setelah itu, dia ditawari menulis buku cerita anak Sulawesi Selatan.

“Menulis buku cerita anak, bukan sesuatu yang saya sengaja. Karena semula saya menulis puisi, esai, dan cerita dongeng,” kisah Madia.

Pengalamannya ketika kesulitan mencari cerita sebagai materi dongeng lantas membuat dia tergerak. Bukan saja karena kebanyakan materi ceritanya dari luar, melainkan juga karena ditulis dengan gaya orang dewasa. Padahal, kalau menggunakan sudut pandang anak-anak akan lebih mudah dipahami.

Madia termasuk produktif karena sudah menulis 7 buku cerita anak, antara lain “Pung Julung-julung”, “Perpustakaan Paman Burhan”,  “Ayam Warna Warni”, dan “Sangiang Serri dan Kucing Penjaga Padi.”

Buku “Pung Julung-julung” diakui merupakan pengalaman emosionalnya di masa kecil, saat menunggu ibunya mendongeng di lego-lego depan rumahnya.

“Menjadi penulis cerita anak begitu menyenangkan, karena saya berusaha menggunakan sudut pandang anak-anak, apalagi bagi saya di komunitas pendongeng. Senang jika setelah tampil ada yang membekas dalam ingatan anak-anak,” kata Madia.

Selain berbagi inspirasi tentang kisah menulis buku cerita anak, acara Sastra Sabtu Sore diisi dengan penampilan pengisi acara yang juga dominan anak-anak.

Kolaborasi seniman dan anak-anak menjadi pertunjukan yang menarik. Syahrir Patakaki Daeng Nassa yang membawakan dua puisi, masing-masing “Kelong Pakpilajarang” (Nyanyian Pendidikan) dan “Tau Toata” (Orang Tua Kita), secara spontan mengajak Rahmawati Yusra dan Kalila Karim, murid SDN Borong.

Yudhistira Sukatanya dan Istrinya, Dewi Ritayana, memboyong 3 cucunya berkolaborasi dengan seniman Basri B Sila. Mereka tampil membawakan puisi yang sarat nilai religius berjudul “Meniti Helai-helai Cahaya.”

Selain itu, ada penampilan dari Lady Veleska Kristian, murid kelas 6 SD, yang membawakan lagu “Mappadendang” dan “Ammakku”. Juga pembacaan puisi dan lagu dari murid-murid SDN Borong, yakni Andi Muhammad Huga, Fatimah Azzahra, dan Jesica.

Dukungan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulsel pada acara ini tampak dengan hadirnya Abdul Hadi, Kepala UPT Perpustakaan, dan Hj Feby Primajanti, Kepala Seksi Layanan Perpustakaan.

Feby menyampaikan bahwa sudah ada Layanan Perpustakaan Ibu dan Anak yang bisa dimanfaatkan untuk diskusi dan pelatihan, serta kegiatan literasi lainnya. (Rusdin Tompo)


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply