-----------
PEDOMAN KARYA
Jumat, 14 Mei 2021
Kelong Pendidikan Religius (10):
Bosi
Misse’, Bara’ Misse’, Menteng Misse’ Pa’jekoa, Manai Misse, Ayokayya Rikallonna
Oleh: Bahaking Rama
Kehadiran siklus musim
hujan atau musim barat, menjadi faktor penting kaum tani di masa lampau. Hujan
berkepanjangan menggenangi sawah tadah hujan. Pada kondisi begitu, kegembiraan
kaum tani lahir. Ia mempersiapkan perangkat alat pertanian untuk menggarap
sawah, sambil melantunkan Kelong;
“Bosi misse’ bara’ misse’,
menteng misse’ pa’jekoa, manai misse, ayokayya rikallonna.”
Arti bebasnya: “Hujan
lagi, barat lagi, siap lagi alat pengolah sawah dan alat pemandu haluan
sepasang kerbau penarik bajak.”
Diawali ritus keagamaan, kaum
tani tulus-ikhlas mengolah sawahnya, berniat sambil berdo’a semoga Allah
memberkati usahanya, menjadikan padi yang ditabur, tumbuh-subur dalam
pemeliharaan hingga masa panen tiba.
Kaum tani sangat
mensyukuri dan ikhlas menerima hasil kerjanya, apapun kondisinya. Apakah panen
raya, panen biasa, atau gagal panen. Prinsip hidupnya, manusia berusaha, Allah
yang menentukan.
Kaum tani berharap, hasil
panen yang diraihnya, bermanfaat bagi kehidupan manusia dan kemanusiaan. Beras
hasil panennya, menjadi rezeki yang berkah sebagai konsumsi, makanan bahan
pokok.
Kaum tani makan dan minum
tidak berlebih-lebihan. Ia sangat menghargai hasil karyanya, ia makan beras,
nasi secukupnya, menghindari sifat mubazzir.
Beras menjadi bahan
penting dalam kehidupan sosial. Jika petani kedatangan tamu, beraslah
oleh-olehnya sebagai tanda persahabatan menghargai tamu. Acara pesta
pernikahan, khitanan, dan kematian keluarga, dan tetangga, beraslah bawaannya bukan
uang.
Penghargaan kaum tani
pada beras sangatlah terbilang tinggi. Ia tabu, pantang menyentuh beras dengan
kaki. Kaum tani sedih jika ada beras, makanan terbuang percuma. Ia tak menyisakan
makanan di piring. Kalau saja ada sisa makanan, ia letakkan di tempat tertentu,
dengan niat semoga bisa menjadi rezeki makhluk lain, ayam, kucing, tikus,
semut, dan makhluk lainnya sebagai rakmatan lil alamin. Itulah sifat petani
menghargai hasil karyanya.
Pegawai, pengusaha, dan
pekerja lainnya, seringkali terkesan
mubazzir, amalusysyaithan. Pada acara pesta, di warung makan, di pantai,
dan tempat lainnya, sering terlihat makanan terbuang percuma, mubazzir. Makanan
di sisa tanpa memperhitungkan tenaga, pikiran keringat, dan air mata kaum tani
dalam mengolah, memelihara karya taninya.
Hargailah kaum tani,
petani kita semua. Nikmatilah makanan yang disantap. Habiskan hingga butir
terakhir di piring makan, siapa tahu, berkah Allah pada makanan itu, ada pada
butir terakhir. Semoga. Aamiin YRA
Pao-Pao Gowa. Senin, 03
Mei 2021
----------
Artikel berikutnya: Jai Bintoeng ri Langi’, Jai Kassi’ ri Tamparang, Jaiyang Pole Tumappa’linga-lingaya
Artikel sebelumnya: Kelong Pendidikan Religius (9): Manna Majai Tedonnu, Susajakontu Punna Tena Sikolanu
