-------
PEDOMAN KARYA
Ahad, 10 Mei 2026
Presiden Prabowo,
Dijilatin Demi Jabatan
Oleh: Maman A. Majid Binfas
(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)
Ungkapan “jilatan” dalam aksara politik,
jika merujuk pada konteks hegemoni kekuasaan dan penggunaan tulisan untuk
kepentingan tertentu. Seringkali, dikaitkan dengan narasi yang menyanjung,
memuji, atau membenarkan tindakan penguasa melalui tulisan/narasi diksi
berbahasa.
Termasuk, ungkapan-ungkapan yang memuja
kelompok sendiri secara berlebihan dalam ranah politik, yang sering kali
berujung pada eksklusivisme dan intoleransi, dapat dipandang sebagai bentuk “jilatan”
pada kepentingan kelompok sendiri / ingroup sambil menjatuhkan pihak lain.
Mesti disadari juga, sesungguhnya Presiden
Prabowo merupakan buah plus atas jasa dari mantan mertuanya Presiden Soeharto
sebagai ingroup Orde Baru, memang tak bisa dipungkiri. Terutama saat jadi
anggota TNI sehingga pangkatnya bisa melesat luar biasa hingga mengalahkan
senior_seniornya saat itu_yang telah lama ber_antrian guna menanti
peringkatnya.
Bahkan, boleh dikatakan Prabowo, juga buah
yang telah berguguran jatuh, dan mekar kembali dari jasa reformasi yang
dikibarkan dengan lokomotif utama oleh Prof. Dr. Amien Rais.
Kini, mesti siumanlah jangan pula para
pengikutnya lupa kulitnya, dan berlebihan pikun
hingga berdaratan juga berlautan akan tapak jejak sejarah.
Manakala, kini Prabowo telah melesat jadi
Presiden, bukan berarti dibebaskan dari otokritik, baik bersifat hoaks atau
hots di alamatkan kepadanya, demi jabatan mesti dijilatin.
Hoaks atau Hots akan takedown sodomites
berdinamik, bukan berbiduan komunikasi hanya badutan bersorak saja.
Bukan hanya mengedepankan berisik
dengkulan dengan berlogika ceboan. Mestinya komunikatif dengan durasi
dialogisan di dalam berkontraksi sehingga menjadi solusi.
Benar atau tidak, bukan mengedepan lapor
nan selalu terdampar menjadi alur didaur untuk dibolak balik kembali
Hoaks atau Hots akan takedown tentang
aksara sodomites, mestinya terbuka saja sebagai bukti memang tidak terjadi.
Tetapi, bila dibungkam akan terkesan
memang apa adanya, bukan lagi host entah hoaks. Bah situs porno tetap
merajalela yang terkesan dibiarkan tak
takedown di mana mana bercampur aduk yang menggerogoti moral generasi bangsa.
Ikut Campuran
Ikutan mencicipi nasi campuran, tentu sama
rasanya, dan juga pulang tetap barengan
Begitu pula, berenang barengan, tentu sama
basa, apalagi saling percikan. Memang pepata lama “berbaur dengan penjual
minyak wangi akan kecipratan wanginya”
Begitu pula dengan pemulung sampah, tentu
ikutan berlumuran dengan ragam aroma tumpuannya.
Termasuk, aroma tumpuan berhamburan
ungkapan “jilatan dan tidak percaya” di dalam aksara politikalisasinya, demi
pelumasan jabatan, baik menteri maupun ingroup dipolesnya.
Sekalipun, ada klaim bahwa Kemenag
Nasaruddin Umar menyebut Amien Rais penjilat tampaknya tidak didukung oleh
sumber berita arus utama yang kredibel, melainkan merupakan bagian dari
perdebatan atau konten di media sosial. Namun, respon publik tentu beragam,
sehingga saya turut menggores diksi berikut ini.
Kemenag Mestinya
Mestinya Kemenag, Nasaruddin Umar, tak
berdiksi menjilat, sekalipun pribadinya memang lagi sedang menjilat jidatan
akan jabatan!
Kemenag mestinya jadi tumpuan berpayung
untuk semua komponen, sekalipun berbeda keyakinan !
Bukan semakin meruncing suasana dengan
diksi keberpihakan pada komponen yang saling berjilatan, demi mengukuhkan
jabatan kagetan saja, tanpa memahami dirinya akan jejak kemunculannya
dikemudian hari.
Kemudian, Mensos, Saifullah Yusuf / Gus
Ipul mengeceh dengan gayanya; “Sekali lagi, kalau Pak Amiem Rais itu saya
selalu ingat apa yang sering disampaikan Gus Dur pada waktu itu. Memang tidak
bisa dipercaya. Itu aja,” 6/5/2026. Kesiuman Mensos tentang ucapan Gusdur / KH
Abdurrahman Wahid.
Mantan Presiden, memang didiksikan beliau.
Namun, esensinya dilontarkan saat itu, tidak lain adalah hanya untuk meredam
gelora masa NU yang membara karena beliau diturunkan. Bahkan massa arus bawah
NU membabat pohon di pinggir jalan raya, dan mau nekatan ke Jakarta untuk
mengepung senayan.
Maka, Gusdur mengalihkan sasaran kepada Prof.
Amien Rais, sekalipun Gusdur telah mengetahui dari titisan ramalan oleh
kakeknya, bahwa nanti ada cucunya yang akan menjadi Presiden, namun tidak lama
bertahan karena kondisi.
Jadi, kesan komentar tersebut, andaikan
Gusdur masih hidup, tentu akan berkelakar santai_ “itu saja koq repot” Ipul_😊.
Lihat saja kedekatan saya / Gusdur dengan Buya Syafi'i Ma’arif juga baik sama
Mas Amien Rais_ tak ada dendam apapun yang mesti dikibarkan lagi.
Niat Baik Dikibarkan
Manakala niat baik pun, masih juga dibalas
dengan hitung-hitungan akan untung ruginya, karena demi jabatan, maka tidak
akan bersalaman dengan Rahmatan lil alamin yang diberkahi Tuhan.
Apalagi, kepada orang tua, keluarga dan
teman serta sesama makhluk Tuhan yang bertautan dengan QS. Al-Muddatstsir: 6-7
yang berarti;
“Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi
(dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.”
Juga lebih berkesan lagi di dalam QS.
Al-Insan: 9 yang berarti: “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah
karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dan tidak
pula (ucapan) terima kasih darimu.”
Esensi berbuat baik tanpa pamrih yang
lebih utama di hadapan Tuhan, sekalipun dengan niatan. Tetapi, bila tak
terbalas, tentu hal demikian, biarkan Tuhan menilainya. Terpenting, telah
dikibarkan dengan penuh keyakinan tulus berkalam kebeningan tulen.
Termasuk, niat baik berdurasi otokritik
kepada Presiden Prabowo beserta jajarannya yang lagi bertegangan tinggi, dan
mungkin berlebihan khawatirin akan terjadi arus reformasi jilid dua akan
berkibar dan berkalam.
Jadi, sebaiknya Presiden beserta jajaran
tidak perlu berlebihan host untuk membalas diksi otokritik. Akan lebih elok
jujur apa adanya sehingga diksi tidak berkeliaran. Tentu, harapan bersama,
adalah tidak lain agar Bangsa Indonesia akan lebih berkibar dengan benar. Tentu
kepada akar yang “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” / Negeri yang baik
(subur/makmur) yang diridhoi Tuhan_QS. Saba' :15,
Tentu, tidak ada lagi yang akan berdiksi
dijilatin atau hoaks di hots atau sebaliknya didagelankan, demi jabatan saja
agar tergenggam. Wallahu a’lam.
