Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » Kelong Pendidikan Religius (2): Teako Malanre Nikatuwo Kasiasi


Asnawin Aminuddin 9:01 PM 0

“Ana’, teako malanre nikatuwo kasiasi, lompoko sallang, nanu balasaka te’ne”. Arti bebasnya, “Wahai anakku, janganlah bosan diasuh dalam kondisi kesulitan pangan karena kemiskinan. Ibu tulus dan berharap anakku tumbuh sehat-panjang usia, supaya kelak bisa sukses dan membahagiakan orang tua.” (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)
 







-----

PEDOMAN KARYA

Ahad, 02 Mei 2021

 

Kelong Pendidikan Religius (2):

 

 

Teako Malanre Nikatuwo Kasiasi, Lompoko Sallang, Nanu Balasaka Te’ne

 

 

Oleh: Bahaking Rama

(Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin)


Kasih sayang yang tulus seorang ibu kepada anaknya, ia tak pernah berharap balas, bagai sang surya menyinari dunia. Ibu ikhlas menimang dan mengasuh anaknya, meskipun ia dalam kondisi lelah - kepayahan.

Tak mengenal siang atau malam, meskipun ia dalam kesulitan memenuhi hajat hidup karena nasib kemiskinan harta. Ibu selalu berharap agar anaknya tumbuh dan berkembang menjadi manusia sehat, saleh, beriman dan bertaqwa, serta ikhlas menerima kondisi kemiskinan ibunya.

Setiap anaknya rewel karena haus dan kelaparan, setiap itu pula sang ibu berpesan dengan kelong;

“Ana’, teako malanre nikatuwo kasiasi, lompoko sallang, nanu balasaka te’ne”. Arti bebasnya, “Wahai anakku, janganlah bosan diasuh dalam kondisi kesulitan pangan karena kemiskinan. Ibu tulus dan berharap anakku tumbuh sehat-panjang usia, supaya kelak bisa sukses dan membahagiakan orang tua.”

Kini ibu sudah tiada, ibu sudah wafat, di alam kuburnya menanti do’a tulus dari sang anak.

Kini ibu sudah sepuh-tua renta, setiap saat menanti kasih sayang sang anak. Gerakan fisik sang ibu sudah tidak kuat. Tidak sekuat waktu mengasuh anaknya dahulu. Pendengarannya menurun tidak sepeka mendengar tangisan anaknya dahulu.

Pandangan matanya redup tidak setajam lagi sewaktu mengawasi anaknya dahulu. Ucapannya tidak lagi mampu menyuarakan kelong. Dalam hatinya selalu berbisik; “Anakku, kuharap kehadiranmu menghiburku dalam kesendirian di rumah gubuk. Anakku tidak kunjung datang. Apakah sibuk mengurus isteri dan harta?”

Ibu di alam kubur menunggu do’a keselamatan dari sang anak. Ibu di rumah gubuk menunggu kehadiran kasih- sayang dari anak dan cucu-cicitnya. Semoga harapan sang ibu tercapai, berhasil mendidk anak saleh yang setiap saat dapat mendo’akan keselamatan ibunya dan membahagiakannya di hari tua. Aamin. (bersambung)

-----

Artikel sebelumnya:


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply