Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » Dinamika Kehidupan Lorong Bisa Jadi Ide Penulisan Buku


Pedoman Karya 9:23 PM 0

DISKUSI BUKU. Akademisi UIN Alauddin yang juga penulis buku, Fadli Andi Natsif (memegang buku) tampil sebagai satu pembicara pada Diskusi Buku dalam rangka HUT ke-414 Kota Makassar, di Lorong Daeng Jakking, Kelurahan Parangtambung, Kecamatan Tamalate, Sabtu, 06 November 2021. (ist)





------- 

Selasa, 09 November 2021

 

 

Dinamika Kehidupan Lorong Bisa Jadi Ide Penulisan Buku

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Ada banyak kisah warga di lorong (gang) yang layak ditulis dan dijadikan buku. Hubungan antar-tetangga, aktivitas anak-anak bermain, kegiatan ibu-ibu yang menumbuhkan kepedulian warga, serta suasana kehidupan sosial lainnya, bisa jadi ide penulisan buku.

Hal itu mengemuka dalam diskusi menyambut usia Kota Makassar ke-414 tahun bertema “Buku, Lorong, dan Kota”, di Lorong Daeng Jakking, Kelurahan Parangtambung, Kecamatan Tamalate, Sabtu, 06 November 2021.

Diskusi diadakan oleh Komunitas Anak Pelangi (K-Apel), Anak Pelangi Institut, dan Komunitas Puisi (KoPi) Makassar,

Ide diskusi ini dari buku “Green Tea dan Bunga” karya Rahman Rumaday. Ada tiga tema bahasan dalam buku yang ditulis berdasarkan postingan-postingan di medsos ini, yakni spiritualitas, cinta, dan kepedulian. Dalam buku itu, kegiatan K-Apel juga dibahas.

Bang Maman, begitu founder K-Apel ini akrab disapa, mengaku berani membukukan tulisannya karena mendapat motivasi. Itu pula yang jadi alasan, mengapa diskusi dilakukan, agar ibu-ibu lorong mau menuangkan pengalamannya. Peserta kegiatan memang didominasi oleh ibu-ibu binaan K-Apel.

Selain Rahman Rumaday sebagai pemantik diskusi, hadir Dr Fadli Andi Natsif, akademisi dan penulis, Rusdin Tompo, penulis buku dan penggiat literasi, serta Nurul Septiani, pegiat sosial dan relawan Think Survive.

Kegiatan dipandu oleh Suriati Tubi, yang dikenal sebagai penggerak lorong.

Nurul Septiani, menilai bahwa dalam buku “Green Tea dan Bunga”, penulis mendorong dan menggugah kita untuk bertindak. Bukan sekadar berpikir tapi harus ada tindakan nyata untuk melakukan perubahan.

Menurutnya, penulis mengingatkan kita bahwa sebagai makhluk sosial, kita saling tergantung dan saling membutuhkan. Tergambar dari materi tulisannya yang banyak membahas tentang silaturahmi, tolong-menolong, kepedulian, dan keberpihakan.

 

Fadli Andi Natsif mengutip ayat dalam Alquran, yang menyatakan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu.

“Karena itu, penting untuk kita membaca. Bahkan, ada perintah membaca, Iqra, yang merupakan inti literasi. Dengan membaca, seseorang akan bertambah wawasan dan dapat bersikap kritis terhadap informasi yang diperoleh,” kata Fadli.

Dosen UIN Alauddin Makassar ini mengaku selalu membeli buku dan juga selalu membawa buku kemana-mana.

Di beranda Facebook-nya dia pernah menulis, dirinya merupakan pembeli buku, penulis buku, pembaca buku, dan sekali-kali menjual buku. Katanya, dia termasuk dosen yang selalu menganjurkan mahasiswa membeli buku. Supaya mahasiswa punya kebiasaan membaca dan kaya referensi.

Penikmat kopi yang tumbuh dan besar di lorong ini, mengapresiasi buku “Green Tea dan Bunga”. Menurutnya, buku yang ditulis dari postingan di beranda Facebook ini perlu ditiru. Karena banyak postingan kita yang bagus dan layak didokumentasikan menjadi buku.

 

Potret Masyarakat Kota

 

Rusdin Tompo, mengungkapkan pengalamannya menjadi editor buku “MasaDPan Makassar, Dinamika Demokrasi dan Pemerintahan”. Dia tertarik mengumpulkan tulisan-tulisan tentang Pilkada Makassar, dan 100 hari masa pemerintahan Walikota Makassar-Wakil Walikota Makassar, periode 2014-2019, Moh Ramdhan Pomanto dan Syamsu Rizal, setelah istilah “lorong” menjadi jargon politik.

Menurut penulis buku yang juga dikenal sebagai aktivis anak itu, lorong sebagai sisi lain potret masyarakat kota, memang punya cerita menarik. Dia memberi contoh kisah pendampingan anak-anak di salah satu gang di Jakarta.

Anak-anak di situ kesulitan belajar lantaran kebiasaan menonton TV dan tidak ada ruang bermain bagi mereka. Kegiatan pemberdayaan kemudian dilakukan dengan pendekatan seni drama/teater.

Dia memotivasi K-Apel dan dampingannya untuk menulis cerita-cerita kegiatan yang dilakukan. Dia yakin, ada banyak kisah menarik dan inspiratif dari anak-anak dan ibu-ibu yang layak ditulis dan dibukukan.

Acara diskusi “Buku, Lorong, dan Kota” ditutup dengan pembacaan puisi oleh Ibu Harfia, berjudul “Bawa Aku Kembali”, karya Rahman Rumaday. Setelah Maghrib, acara dilanjutkan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. (ahy)

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply