Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » 60 Tahun TVRI: Hadiah Buku “Kematian” Buat Daeng Nojeng


Pedoman Karya 1:53 PM 0

Penulis, Mahrus Andis (kiri) menyerahkan buku Cerita Panjang "Puisi Kematianku", kepada Dr Azis Nojeng, di Kafefaca, Jl Adhyaksa, Makassar, Rabu, 24 Agustus 2022. 
 






-----

PEDOMAN KARYA

Kamis, 25 Agustus 2022

 

 

60 Tahun TVRI: Hadiah Buku “Kematian” Buat Daeng Nojeng

 

 

Oleh: Mahrus Andis

(Sastrawan, Budayawan)

 

Bertemu dengan teman, Dr Azis Nojeng, di Kafefaca, saya teringat TVRI (Televisi Republik Indonesia) yang saat ini berusia 60 tahun. Profil DaEng Nojeng (panggilan akrab dosen Unismuh Makassar ini) sangat dikenal di banyak kalangan. Selain aktif di seni panggung, dia pun pembawa acara di Radio Gamasi dan pengisi siaran seni-budaya TVRI Sulsel.

Kemunculannya di Meja Solusi Fosait (Forum Sastrawan Indonesia Timur), Rabu, 24 Agustus 2022, dipicu rasa kerinduan bertemu dengan teman-teman diskusi. Maka riuhlah seketika beranda depan Kafebaca.

Penyair Muhammad Amir Jaya, pelukis Ishakim Arts, cerpenis Anwar Nasyaruddin, dan Wartawan Rusdy Embas, langsung menyambut DaEng Nojeng dengan ucapan hangat: “Selamat Datang Wahai Anak Hilang.”

Ucapan itu sekadar basa-basi atas “menghilang”-nya DaEng Nojeng, beberapa saat, di beberapa kegiatan literasi Fosait. Saya pun ikut menyambutnya dengan sebuah buku cerita panjang berjudul “Puisi Kematianku.”

Buku ini menjadi hadiah buat DaEng Nojeng dalam rangka Hari Ulang Tahun TVRI ke-60.

“Tapi, kenapa buku kematian? Dan apa kaitannya dengan HUT TVRI?” protes DaEng Nojeng sebelum menerima buku itu.

“Terima saja dulu. Soal TVRI dengan usianya yang ke-60, nanti dijelaskan,” celetuk Ishakim Arts.

“Maaf, ini hadiah biasa. Tak ada hubungan antara TVRI Sulsel dengan cerita kematian,” sergah saya.

“Anggaplah buku itu menjadi koreksi atas matinya dinamika ideologi seni budaya TVRI Sulsel di usia 60 tahun,” sambar Amir Jaya.

Kami pun tertawa, namun wajah DaEng Nojeng tampak bingung, tidak paham di balik guyon teman Fosait.

“Begini, DaEng. Buku itu tidak ada kaitannya dengan TVRI. Kebetulan saja Anda hadir dan saya ingin menghadiahkan buku itu sebagai dakwah mengingat kematian,” jelas saya, dan mata DaEng Nojeng tiba-tiba terbelalak mendengar kalimat peringatan kematian itu. Maka, Ishakim pun kembali turun tangan.

“Tadi, kami menonton siaran TVRI. Ternyata hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-60. Banyak hal yang membuat hati kami bertanya-tanya, antara lain, mengapa siaran budaya di Stasiun TVRI Sulsel terlalu miskin? Bahkan boleh disebut mati dinamika ideologinya,” kata Ishakim.

“Maksud elu?” tanya DaEng Nojeng dengan gaya humornya.

“Kita yang ada di Fosait ini umumnya pengamat TVRI sejak tahun 1970-an. Ada banyak hal yang hilang di acara Seni dan Budaya TVRI Sulsel, di usianya yang ke-60 tahun ini,” timpal saya.

“Betul. TVRI Sulsel perlu instrospeksi, khususnya pada rubrik siaran seni-budayanya,” seruduk Si Wartawan, Rusdy Embas, dan mendapat anggukan dari cerpenis Anwar Nasyaruddin.

“Terus apa masalahnya dengan saya? Na saya bukanka’ orangnya TVRI kodong?” protes  DaEng Nojeng.

“Anda orang dekatnya TVRI Sulsel, karena sering dikavling mengisi siaran budaya di situ. Ya, paling tepat bisa menjadi pipa penyalur aspirasi penonton untuk siaran seni-budaya,” jawab Amir Jaya.

“Aspirasi apantumae?” tanya DaEng Nojeng dengan tetap dialek Mangkasaraqnya.

Saya mengerling Ishakim. Rupanya dia tahu isyarat mata saya itu. Maka, dengan gaya seorang diplomat Belanda, Ishakim memaparkan apa harapan Fosait terhadap Stasiun TVRI Sulsel di usianya yang ke-60 tahun itu.

“Begini, kami di Fosait ingin menitipkan beberapa masukan kepada TVRI Sulsel. Antara lain, rubrik Apresiasi Seni-Budaya pada setiap Minggu itu agar mengubah waktu siarannya. Diupayakan tidak bertepatan dengan shalat Magrib. Idiom budaya yang ditampilkan pun harus sesuai dengan latar budaya masyarakat Sulsel. Misalnya, sapaan ‘Opa’ pada pembawa acaranya kurang pas. Mungkin bisa diganti dengan sapaan DaEng, Tetta, atau Ambo' na, supaya lebih akrab di hati masyarakat penonton,” kata Ishakim memulai titipannya.

“Ya. Sependapat dengan usulan itu,” celetuk Amir Jaya, seraya menambahkan, “Juga perlu pengembangan metode penyajian siaran. Di Sulsel ini tidak hanya ada kesok-kesok untuk sinrilik, tapi ada juga musik lainnya seperti gambus, kecapi, ganrang poce, rabbana, pui-pui, basing-basing, dan banyak lagi jenis musik lokal yang tidak boleh dilupakan.”

Mendengar itu, DaEng Nojeng manggut-manggut. Dia bersedia menjadi pipa penyalur berbagai saran Fosait itu.

“Dulu, di tahun 1980-an, ada acara Apresiasi Sastra dalam bentuk pembacaan dan pembahasan puisi para sastrawan di daerah ini. Ada juga Bina Teater, Belajar Menggambar dan Drama Remaja. Kenapa rubrik siaran yang mengedukasi penonton seperti itu, saat ini hilang?” geledah Anwar Nasyaruddin.

“Menurut saya, sebaiknya TVRI Sulsel kembali menyempurnakan siaran Seni-Budayanya seperti dulu. Ulang tahunnya ke-60 ini tidak cukup tampil dengan slogan besar ‘Terus Merawat Negeri’, tapi harus membuktikan slogan itu dengan kreativitas yang semakin dinamis membangun bangsa melalui apresiasi seni-budaya lokal dan nasional,” simpul saya.

Bincang lepas yang berkonten imajinasi itu berlangsung dengan santai. Sesekali Kafebaca menggelegar oleh suara ketawa kami yang, sepertinya hidup ini, tanpa permasalahan.*

 

Makassar, 24 Agustus 2022


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply