Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » Nadiem dan Noda Buhulan


Pedoman Karya 3:58 PM 0

Dan lain sisi, ada lagi berkomentar bersifat satire terselubung kesan buhulan pada goresan saya tentang “Noda dan Romantisme” dengan menampilkan fotogaferi mas Nadien Makarim disuapin oleh isterinya, kesannya tanpa mesti dicemburui.
 





------

PEDOMAN KARYA

Senin, 16 Januari 2023

 

 

Nadiem dan Noda Buhulan

 

 

Oleh: Maman A. Majid Binfas

(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)

 

 

Pada media online yang lain dan juga Pedoman Karya (Juli 2022), saya mengutip Filsuf Socrates yang hidup tahun 399 sebelum masehi saja, telah mengukir fitnahan untuk dihardik; “Jika engkau menginginkan kebaikan, segeralah laksanakan sebelum engkau mampu. Tetapi, jika engkau menginginkan kejelekan, segeralah hardik jiwamu karena telah menginginkannya.”

Kemudian, Filsuf Augustinus yang hidup 400 SM juga telah berpandangan tentang nafsu manusia berlebihan. Bahkan, manusia juga mempunyai kuasa untuk berkehendak, seperti Tuhan. Tetapi, terkadang manusia menggunakan kehendak itu dengan cara yang salah, seperti mengatakan kata-kata kotor dan fitnah.

Dan bagi meyakini akan pesan Tuhan, terutama kaum mukmin. Mungkin lebih bermutu lagi, manakala meyakini firman Tuhan dan Sabda Nabi_Nya mengenai fitnahan.

Tuhan menantang dengan pertanyaan yang sangat menggelitik dan sungguh tajam di dalam QS. Al-Hujurat: 12, tentang ghibah atau fitnahan yang artinya__

“... Apakah di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? tentu kalian akan merasa jijik... (?)”

Kemudian, esensi gambaran tentang menjijikkan juga berdimensi ghibah tersebut, dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh HR. Thabrani, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“.. . pelaku ghibah dosanya tidak akan diterima, kecuali ia dimaafkan oleh yang dighibahi.”

Kemudian, esensi ghibah berdasarkan hadits yang diriwatkan oleh HR Muslim no. 2589, Rasulullah SAW bersabda yang artinya,

“Tahukah engkau apa itu ghibah?”

Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.”

Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?”

Jawab Nabi SAW, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” 

Fitnahan juga berupa sindiran dalam bentuk syair atau diksi berunsur sastra yang lainya, kemudian dinamai Satire.

Satire berasal dari bahasa latin, yaitu satura yang berarti kritikan atau kecaman tajam terhadap suatu fenomena; dan tidak merasa puasnya hati suatu golongan (pada pemimpin yang dzalim).

Lebih singkatnya, pengertian satire adalah salah satu jenis puisi baru yang berisikan sindiran atau kritikan.

Namun, masih ada lagi bentuk pantun dan syair puisi bersifat lokalisasi yang berdasarkan pesanan untuk diangkat di permukaan sebagai natizen. Tujuan tiada lain, adalah untuk menanggapi tulisan orang lain dengan nyeleneh, sekalipun tidak paham tentang akar esensi yang sesungguhnya__ terpenting, ditanggapi agar dapat imbalan, baik berupa amplopan maupun konksinyasi sogokan berupa jabatanisasi.

Misalnya, sebagai sample akan ditampilkan berikut ini berselaras dimaksudkan di atas, sekalipun tidak sama kadar esensinya. Namun, hal itu berlaku di media online, baik di WhatsApp (WA) maupun Facebook.

Di antaranya, goresan saya berikut ini ada yang menanggapi secara jujur apa adanya, dan juga ledekan terselubung bersifat buhulan yang berdomain pada kesan dapat dikategorikan satire buhulan.

 

BUHULAN

 

Jangan terlalu bergantung pada buhulan kejahatan gelap gulita nyata dan sungguh menyesatkan, dikarenakan hendak memonopoli rasa kedengkian.

Bahkan berani membuang rahmat rasa kecintaan Tuhan, _ justru yang menyelamatkan dari kerusakan mental jiwa bermata nurani dunia berakhiratan_

Seandainya, kita memang beriman dan benar mau meyakini kebeningan kebenaran sesungguhnya __berjiwa husnul khotimah bah pesan Tuhan.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam posisi suka dan disukai.

Maka, bergabunglah dengan hamba-hamba –Ku dan masuklah ke dalam surga Ku”_ (QA al-Fajr 27-30).

Semoga, ayat ini menjadi bekal jiwa nurani berlogika brilian yang diberkahi Tuhan__ lebih baik bersalaman santun dengan buhulan husnul khotimah berhingga kiamatan sekalipun __ Aamiin ___.

 

Goresan di atas ini, ada beberapa komentar bermunculan, baik bersifat selubung buhulan satere maupun apa adanya. Di sini, saya tampilkan dulu, _yang tulus dan jujur apa adanya, di antaranya komentar oleh Najamuddin (mantan sekretaris Desa Doridungga), beliau berkomentar, _”Sehat terus bang INSPIRATOR.”

Kemudian ditanggapi oleh saya; “Pak Najamuddin, Sama2 inspirator di dalam menegakan kebenaran yang prinsipil, demi nurani yang haqiki__🤝.

Selanjutnya, beliau menanggapi, “... sepanjang kita jalan pada kebenaran, Insya Allah posisi kita tetap pada yang HAQIQI.”

Dan lain sisi, ada lagi berkomentar bersifat satire terselubung kesan buhulan pada goresan saya tentang “Noda dan Romantisme” dengan menampilkan fotogaferi mas Nadien Makarim disuapin oleh isterinya, kesannya tanpa mesti dicemburui, berikut ini.

 

Noda dan Romantisme

 

Memang nilai luhur pendididikan beresensi pada asas tujuan utamanya mencerdaskan. Namun, disayangkan ternodai dengan kepentingan politik sistematis memangsa, baik berupa proyekalisasi mark-up anggaran maupun intimidisi strukturalisme, demi kepentingan sesaat dan menyesatkan.

Hal ini disesalkan dan keluhkan oleh banyak pihak, _ terutama oleh pelaku lapangan yang memperjuangkan nurani kecerdasan dan kejujuran dalam mendidik generasi bangsa_

Bukan juga berarti mark_up mengelambungkan, itu sama dengan disuapin oleh isteri sebagai tanda romantisnya_bah mas Nadiem Makarim berhingga melambung aduhai_💘

 

Tak boleh cemburu

yang lain boleh mencumbu

tanpa mesti melalui fotograferi

google 2023

 

Dari goresan ini, berluncuran tanggapan yang menggoresin kata, sekalipun berseragam baju dinas TNI di profil Facebook-nya. Goresinnya tentang tulisan romantis di atas, yakni oleh oknum benama Dhesino Lawa. Ia seakan meramu diksi bersifat satire dikesanin dari pesanisasinya.

 

Dhesino Lawa:

“Itu semua mainan duniawi

Ada masa kelak akhiri

Bila tak mampu menghindari

Cukuplah kita lindungi diri

 

     Hasrat hati ingin berlari

     Menggapai angan wujudkan mimpi

     Namun raga lemah berdiri

     Terbelenggu asa berbalut iri

 

Hanya satu harapan pasti

Agar bisa selamatkan negeri

Bangun hasrat muhasabah diri

Menanti takdir Illahi Rabbi..

 

Kemudian, saya terpaksa menanggapi luncuran tersebut dengan clausa lebih kurang; “Diksinya Dhesino Lawa juga agak menarik, manakala dimaknai dengan goresan saya kemarin, membebaskan buhulan dari akar iri juga  kedengkeian_ yang lebih kutang begini__

“... Jangan terlalu bergantung pada buhulan kejahatan gelap gulita nyata dan sungguh menyesatkan, dikarenakan hendak memonopoli rasa kedengkian.

Bahkan berani membuang rahmat rasa kecintaan Tuhan, __ ..”

 

Lanjutan, tulisan ini sebagaimana di atas, dan selanjunya, Dhesino Lawa berkoment; “.. Alhamdulillah, sekedar goresan semoga menjadi bahasa qalbu dan kelak diterjemahkan oleh akhlak sehingga berharap mendekati pencapaian angan untuk menggapai husnul khotimah. Aamiin yaa Rabbal'alamiin 🤲🤲🤲... *

 

Lalu, saya balas dengan diksi “Dhesino Lawa

Semoga dapat dimaknai.. 😊..”

 

Sebelumnya, ada peluncuran komentar dari Amiruddin Amir, “Kurikulum merdeka, dipaksakan demi merubah karakter pendidikan, alhasil masih dicoba, entah apa kurikulum setiap periode presiden diganti kurikulum

Hanya orang orang cerdas yg tau..”

Dan saya turut membalas, “Berarti merdeka tak merdeka dong”, dan Amir tak mau surut untuk meluncurin komentarnya lagi, “... iya,  pendidikan belum merdeka...”

Jadi, tidak selamanya, dialogis melalui media sosial itu akan bernilai kosong dan liar belantara blukaran. Namun, tergantung peran logika dalam memainkan argumentatif yang positif sehingga bermakna keilmuan multidisipliner (penulis, di Pedoman Karya yang berjudul _0_ (kosong) 01-01-2023).

Sekalipun, sangat ringan dari goresan recehan dan peluncuran beberapa komentar yang berbuhulan di atas, namun bermakna positif. Termasuk, tidak beridentik pula dengan fotograferin romantis Nadiem Makarim, dan hanya pemanis saja buka jua Noda Buhulan sehingga diakhir diksi goresan saya berdiksi:

 

Tak boleh cemburu

yang lain boleh mencumbu

tanpa mesti melalui fotograferi

google 2023

 

Apalagi

Memburu cemburu

jauh api dari gasnya juga

langit berjingga tak mungkin berjenggotan pula.

 

Wallahu a’lam

 

...

UHAMKA tetap unggul dan terdepan dalam melintasi peradaban nan berikhtiar tegap guna melenyapkan zaman kebiadaban__


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply