-----
PEDOMAN KARYA
Senin, 28 Juli 2025
Catatan EBIFF 2025 Samarinda Bagian Penutup:
Tantangan EBIFF
Menjadi Jembatan Inklusi Ekobis dan Budaya
Oleh: Yudhistira Sukatanya
Riuh tepuk tangan dan tawa bahagia sayup
mereda. Kabel sound system digulung rapi. Layer LED dan dekorasi dicopot. Baliho
dilipat, diikat dan lampu-lampu panggung off. Mobil box dan truk bak terbuka
siap berjalan pergi dari sisi venue, penanda pesta usai sudah.
East Borneo International Folklore
Festival (EBIFF) 2025 yang berlangsung sejak tanggal 24 hingga 29 Juli 2025 di
Samarinda, menghadirkan 5 (lima) kontingen mancanegara, yakni India, Korea
Selatan, Romania, Rusia, dan Polandia.
Partisipan dari 5 (lima) Provinsi serta
kontingen dari 10 Kabupaten / Kota se-Kaltim, masing-masing kini telah pulang,
kembali ke kampung halaman.
EBIFF 2025 tidak hanya menghadirkan 400-an
artis luar dan dalam negeri, tapi juga memberi akses luas bagi pengusaha UMKM
dan pelaku ekonomi kreatif, untuk bersama-sama menampilkan dan menyajikan
produk-produk ekraf dengan desain serta varian terbaru, termasuk kuliner khas
dengan sentuhan inovasi terkini. Bahkan guna dimeriahkan event ini dilaksanakan
kegiatan lomba bernyanyi lagu daerah dan Fashion Show Berkain.
Begitulah EBIFF 2025 dikemas ala Festival
(festa) yang berarti pesta atau acara meriah yang diadakan dalam rangkaian
pekan gembira rakyat, diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan, bersenang-senang
tapi juga menautkan silaturahmi, sambung rasa yang inklusif.
Ancangan pelaksana EBIFF yang untuk kali
kedua pada tahun 2025 ini , kolaborasi Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan
Timur dengan International Council of Organizations of Folklore Festival (ICOFF) dapat menghadirkan 10.000 penonton, meningkat jumlahnya dibandingkan
5000 penonton pada tahun 2024.
Dinas Pariwisata Kaltim bahkan mematok
target pendapatan dari EBIFF 2025 sebesar Rp18 miliar, meningkat dari
pencapaian target tahun sebelumnya sebesar Rp12 miliar.
Setelah pesta usai dan euforia berlalu
maka perlu adanya interospeksi, koreksi dan evaluasi pada berbagai hal dengan
menjawab sejumlah pertanyaan yang menyiratkan tantangan:
Mampukah event EBIFF 2025 ini hadir lebih
terorganisir dan lebih semarak? Mampukah event EBIFF 2025 ini menjadi ruang
terbuka yang inklusif untuk saling mengenal lebih dekat melalui budaya, seni,
dan interaksi personal?
Mampukah event EBIFF 2025 ini mencapai
target pendapatan sebesar Rp12 miliar? Mampukah event EBIFF 2025 ini menjadi
pintu masuk peluang kerja sama di berbagai sektor,bisa diperluas me njadi kerja
sama di bidang ekonomi, pariwisata, hingga Pendidikan?
Aneka peluang dan tantangan perlu dijawab
dengan perancangan strategi dan langkah-langkah yang komprehensif serta
mendatangkan keuntungan, kesejahteraan dan kebahagiaan,
***
Mampukah event EBIFF 2025 ini hadir lebih
terorganisir dan lebih semarak?
Kota Samarinda pada tahun 2024 penduduknya
berjumlah 881.25 ribu jiwa. Jumlah penduduk metronya: 1.050.000.Jumlah
tertinggi di antara kabupaten/kota lain di Provinsi Kalimantan Timur.
Persentase penduduk usia produktif berada
pada usia (15-59 tahun) mencapai 67,22% dari total populasi. Luas wilayah ini
718,23 KM2 meliputi 10 Kecamatan dengan prioritas program pembangunan pada
sektor jasa ( khususnya jasa retail ), property dan industri pengolahan.
Wikipedia
Kalimantan Timur luasnya adalah 127.346,92
km². Populasi provinsi ini pada akhir tahun 2024 sebanyak 4.123.303 jiwa. Hasil
utama provinsi ini adalah hasil tambang seperti minyak, gas alam dan batu bara.
Sektor lain yang kini sedang berkembang adalah agrikultur, pariwisata dan
industri pengolahan. (Wikipedia)
Pada EBIFF 2025 ditetapkan delapan titik
lokasi menjadi pusat-pusat pelaksanaan, diantaranya Halaman Kantor Gubernur
Kalimantan Timur, Lamin Etam- Kompleks Rumah Jabatan Gubernur, GOR Kadri Oening,
Temindung Creative Hub, IKN, SMA, Pantai Watu Balik Papan.
Sayangnya menyikapi hal ini kurang
disiapkan moda transportasi yang interkoneksi. Misalnya pada jadual tertentu
ada bus yang stand by untuk mengantar jemput penumpang atau penonton dari venue
ke venue.
Sejumlah penonton pun mengeluhkan
kurangnya sosialisasi kegiatan. Mereka berharap untuk event selenjutnya
memasifkan publikasi dan promosi kegiatan yang lebih komprehensif, menggunakan
multiplatform dan melibatkan kontent kreator usia muda atau juga pendengung-buzzer.
Salah satu kegiatan komplementer yang
luput disiapkan adalah kegiatan literasi, tidak saja dengan menyelenggarakan
diskusi atau presentasi formal atau informal, atau bekerjasama dengan Dinas
Perpustakan dan Arsip Daerah guna menyediakan pojok baca atau perpustakaan
mobile dimana buku bertema budaya dari masing-masing peserta tersedia. Lomba
penulisan esai bertema EBIFF dengan berbagai hadiah menarik dapat mengundang
partisipasi warga.
Masalah penempatan artis partisipan juga
dipertanyakan. Mengapa tempatnya saling terpisah jauh, lagi pula terasa ada
diskriminasi. Akibatnya interaksi antara artis lokal dengan mancanegara tidak
terjadi, apalagi kesempatan berbaur terlalu minim.
Jika janji yang diucapkan Rudy
Mas’ud-Gubernur Kalimantan Timur dalam sambutannya mengatakan bahwa tahun depan
(2026) EBIFF akan difasilitasi dengan 700 kamar untuk seluruh partisipan.
Maka janji tersebut patut disambut dengan hati gembira.
Mampukah event EBIFF 2025 ini menjadi
ruang terbuka yang inklusif untuk saling mengenal lebih dekat melalui budaya,
seni, dan interaksi personal?
Dengan adanya EBIFF sebenarnya potensial
jadi ruang terbuka yang inklusif untuk menjalin interaksi personal dari masing
masing etnik dengan komunitas rantaunya. Kontingen dari provinsi atau
kota/kabupaten bisa dirancang dipertemukan dengan kerukunan keluarga atau
paguyuban masing- masing etnik.
Di saat mana mereka saling temu kangen,
mengenal lebih dekat serta berdiskusin tentang budaya dan seni bahkan mungkin
bisa membuka peluang dan percakapan bisnis. Selain itu interaksi peserta dengan
paguyubannya akan berdampak pada antusias kedatangan penonton.
Pimpinan kontingen Sulawesi Selatan Dewi
Ritayana menyatakan, komunikasi dan interaksinya dengan Pengurus Kerukunan
Keluarga Sulawesi Selatan ternyata sangat membantu timnya mengatasi masalah
penginapan.
Hal yang sama diakui pula oleh Andi Tenri
Lebbi -koreografer tari dan pimpinan kontingen Nusa Tenggara Timur. Ia dibantu
penyediaan akomodasi penginapan oleh tokoh masyarakat daerahnya. Untuk itu
keduanya menyampaikan terima kasih dan apresiasi.
Dewi Ritayana- Pimpinan kontingen Sulawesi
Selatan pun berharap agar pemerintah daerahnya dapat menyelenggarakan event
serupa. Karena Potensi Sulawesi Selatan cukup kuat. Misalnya untuk venue acara,
bisa saja dengan merenovasi dan merekondisi Gedung Triple C di Kawasan Jalan
Metro Tanjung Bunga, Makassar untuk dapat digunakan sebagai Creative Hub.
Tempat interaksi, seni,budaya, ekonomi kreatif dan UMKM.
Mampukah event EBIFF 2025 mencapai target
pendapatan Rp12 miliar?
Pendapatan dari event EBIFF tentu tidak
hanya dihitung dan bergantung pada sumber dana dari Pemerintah dan sponsor
seperti Bank Kaltimtara, Pupuk Kaltim, Bayan Grup, PT Watu Pantai Lamaru. Tapi
lebih diutamakan adalah barapa hasil dari terjadi sirkulasi ekonomi dan bisnis
pada sektor swasta, UMKM dan pelaku ekonomi kreatif yang lebih dinamis.
Jika mengutamakan pendapatan dari adanya
interaksi bisnis UMKM dan pelaku ekonomi kreatif bagaimana strategi
pemasarannya. Jika melihat pada apa yang terjadi di beberapa outlet maka sulit
diharapkan berhasil optimal. Simak saja di beberap venue bagaimana both ditata,
cara menjajakan dan promosi produk yang dikerjakan apa adanya.
Untuk pendapatan dari sektor perhotelan,
wisata belanja, wisata kuliner, transportasi dan jasa lainnya jika hanya dengan
mengandalkan kedatangan partisipan acara, potensinya sangat kecil dan perlu
dimassifikasi. Mengapa tidak disejalankan dengan program great sale dan diskon
hotel, gratis pemeriksaan kesehatan dan lainnya.
Mampukah event EBIFF 2025 ini menjadi
pintu masuk peluang kerja sama di berbagai sektor, bisa diperluas menjadi kerja
sama di bidang ekonomi, pariwisata, hingga Pendidikan?
Efek positif EBIFF dalam hal kerja sama di
bidang ekonomi, pariwisata, hingga Pendidikan wajib mendapat perhatian serius.
Perwujudannya harus melibatkan para pihak baik G to G mapun B to B dan
stageholder pentahelix lainnya. Pemerintah Daerah Provinsi Kaltim dengan
International Council of Organizations of Folklore Festival (ICOFF) wajib
merancang kelanjutannya dengan cermat dan baik.
“Kami benar-benar surprise.
Penyelenggaraan di Samarinda sangat rapi dan profesional. Kami bahkan sedang
mempersiapkan agar Kongres Dunia CIOFF digelar di Samarinda pada Oktober 2026,”
ungkap Presiden CIOFF Indonesia, Said Rachmat, menyatakan kekagumannya atas
pelaksanaan EBIFF 2025.
Ia melanjutkan, “Jika rencana tersebut
terlaksana, maka sekitar 50 negara anggota CIOFF akan hadir di Kalimantan
Timur.”
Menurut Said, Samarinda berpotensi menjadi
tuan rumah kegiatan budaya tingkat dunia jika komitmen dan kualitas seperti
yang ditampilkan di EBIFF terus dipertahankan. Warganya yang ramah Tamah,
kotanya aman dan nyaman juga dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan destinasi
wisata unggulan Kaltim, termasuk Pulau Maratua, Derawan, Pantai Lamaru di
Balikpapan, termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN).
Seperti itu selintas refleksi yang jadi
tantangan pelaksanaan EBIFF atau festival serupa di masa datang jika berharap
dapat menjadi jembatan inklusi Ekobis dan Budaya. Salah satu jalan dalam
pemajuan kebudayaan sebagaimana Amanah UU Nomor 5 tahun 2017.
Riuh tepuk tangan dan tawa bahagia sayup
mereda, tetamu sudah pulang lalu, apa?***
