Amnesti dan Abolisi

Kedua remaja ini sengaja bertemu di restauran tempatnya mengadu batin. Mereka adalah pasangan kekasih yang tinggal menunggu hari pernikahan. (int)

 

-----

PEDOMAN KARYA

Kamis, 07 Agustus 2025

 

CERPEN

 

Amnesti dan Abolisi

 

Karya: Mahrus Andis

 

Di sebuah restauran mewah, ombak kecil di tepi pantai terlihat dekat dari jendela. Seperti hanya riak berselimut busa, tapi terdengar hempasan ringan memukul pasir. Sore ini, langit agak mendung. Suasana kota lengang. Biasanya restauran ini disesaki pengunjung, namun entah sekarang tidak.

“O, baru ingat. Ini bukan hari libur. Pantaslah pengunjung tidak ramai,” kata Abolisi memecah diam di antara mereka.

“Bagus. Kusuka yang seperti ini. Tidak riuh. Apalagi tidak ada musik horeg,” timpal Amnesti.

Kedua remaja ini sengaja bertemu di restauran tempatnya mengadu batin. Mereka adalah pasangan kekasih yang tinggal menunggu hari pernikahan.

“Pesan coto saja, ya? Aku ingin coto Makassar,” saran Abol.

“Boleh. Tapi aku ingin soto. Rindu makan soto Betawi,” pinta kekasihnya.

Mereka pun menyampaikan pesanan kepada pelayan.

“Minumnya?” tanya gadis mungil yang sedang melayani.

“Saya teh hangat manis,” jawab Nesti.

“Sama,” sergah Abol.

Pelayan mengangguk ceria disertai senyum produk restauran.

“Mengapa selalu sama? Kita pesan makan dan minum yang sama,” celetuk Nesti.

“Tidak seluruhnya sama. Kamu soto dan saya coto. Kamu Betawi dan saya Makassar,” cetus Abol.

“Beda hurup saja. Ada S dan ada C,” ucap Nesti.

“Tidak hanya hurup, tapi juga bahasa. Soto dibuat dari daging sapi. Sedang coto, bahannya dari capi.”

“Apa itu capi?” Nesti tak paham.

“Capi adalah bahasa Bugis-Makassar. Artinya juga sapi.”

Mereka tertawa seraya mencicipi hidangan pembuka pesanannya.

Suasana restauran mulai terusik. Seorang bule memesan lagu daerah. Judulnya, “Nupakkammaku” yang artinya “Sampai hatimu”. Lantunan suara penyanyi cantik itu membuat sepasang bule manggut-manggut. Keroncong Makassar sangat nikmat di hati siapa saja yang mendengarnya. Abol dan Nesti tak sadar ikut irama musik. Kaki Nesti nampak bergoyang-goyang di kolong meja.

“Asyik, ya? Coto Makassar dengan lagu Makassar seirama,” komentar Abol sambil menatap mata Nesti.

“Soto Betawi juga sepadan nikmatnya dengan irama Makassar,” timpal Nesti.

“Kalau begitu, di pesta nikah kita nanti menunya harus ada coto Makassar dan soto Betawi, ya?” usul Abol.

“Dan juga musik to riolo, ya DaEng?”

Abol mengangguk. Ia juga menyukai musik Makassar klasik.

Nesti tiba-tiba tercenung. Terbayang di benaknya soto Betawi. Di antara porsi-porsinya, terbayang pula dua sosok wajah yang akrab di hati Nesti. Kedua wajah ini sama-sama memiliki kesukaan menikmati soto. Tak sadar, Nesti tersenyum tipis.

“Kok senyum sendiri. Ada yang lucu?” Abol merasa.

“Tidak. Aku ingat Om di Jawa,” Nesti sekadar menjawab.

Wajah Abol berkerut, ia merasa Nesti memendam sesuatu.

“Omku, Prabu dan Joko,” lanjut Nesti.

“Kenapa mereka?”

“Suka makan soto.”

“Terus, hubungannya?” telisik Abol.

Matanya tajam menatap bayangan wajahnya di bola mata calon istrinya.

“Hubungannya itu. Soto tidak berhasil menyatukan pikiran mereka.”

“Ah, aku tak paham maksud kamu, Nes!”

Abol mengerutkan kening.

“Om Prabu memilih selera lain. Dia tinggalkan soto Betawi,” ceplos Nesti.

“Dia memilih coto Makassar?” kejar Abol.

Nesti terdiam. Ia sedang berpikir tentang bahasa yang tepat.

“Nes! Apakah om kamu itu beralih menyukai coto?” desak Abol.

Mendengar itu, Nesti tersentak, lalu katanya: “Tidak, Abol. Om Prabu memilih nasi goreng.”

Suasana restauran mulai ramai. Senja merambat perlahan. Keroncong Makassar berganti lagu dangdut. Judulnya “Judi”. Sepasang kekasih bergegas meninggalkan restauran yang mewah itu, kembali ke gubuk derita masing-masing.*

 

Bulukumba, 04 Agtustus 2025

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama