-----
PEDOMAN KARYA
Senin, 27 Oktober 2025
Gendang Beleq:
Identitas Budaya Suku Sasak Lombok
Catatan Agus K
Saputra
Gendang
Beleq merupakan salah satu warisan budaya yang sangat berharga bagi masyarakat
Suku Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sebagai alat musik tradisional
yang berukuran besar, gendang ini bukan hanya berfungsi sebagai instrumen
hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai filosofis, historis, dan spiritual
yang mendalam.
Dalam
konteks kehidupan masyarakat Sasak, Gendang Beleq menjadi simbol semangat
kebersamaan, persatuan, serta keharmonisan antara manusia dan alam.
Menurut
Kepala Taman Budaya NTB Surya Mulawarman, kajian terhadap Gendang Beleq
mencakup berbagai aspek penting.
“Mulai
dari sejarah dan asal usulnya, fungsi serta perannya dalam kehidupan sosial
masyarakat, makna simbolis yang terkandung di dalamnya, hingga upaya
pelestariannya di tengah arus modernisasi,” ujar Miq Surya pada 5 Agustus 2025,
saat membersamai Team Gendang Beleq latihan untuk tampil di Istana Negara dalam
rangka peringatan HUT RI Ke-80.
Catatan
ini berusaha menelusuri Gendang Beleq sebagai identitas budaya Sasak yang
hidup, bernilai, dan terus berkembang dari masa ke masa.
Istilah
Gendang Beleq berasal dari dua kata dalam bahasa Sasak, yaitu gendang yang
berarti alat musik pukul berbentuk tabung dan beleq yang berarti besar. Dengan
demikian, Gendang Beleq berarti “gendang besar.”
Menurut
catatan sejarah, Gendang Beleq sudah ada sejak masa kerajaan-kerajaan lokal di
Lombok dan berfungsi sebagai alat musik pengiring para prajurit yang berangkat
ke medan perang. Suaranya yang keras dan menggema dipercaya mampu membangkitkan
semangat juang serta menakuti musuh di medan tempur.
Selain
menjadi penyemangat perang, Gendang Beleq juga dimainkan ketika para prajurit
kembali dari medan laga sebagai bentuk penghormatan dan perayaan kemenangan.
Dalam konteks ini, Gendang Beleq bukan sekadar alat musik, melainkan simbol
keberanian, kebanggaan, dan semangat kepahlawanan masyarakat Sasak.
Seiring
perjalanan waktu, fungsi Gendang Beleq mengalami transformasi. Dari alat
perang, kini ia lebih banyak digunakan dalam upacara adat dan kegiatan sosial,
seperti merariq (pernikahan adat), sunatan (khitanan), ngurisang (potong rambut
bayi), serta begawe beleq (upacara besar).
Perubahan
fungsi ini menunjukkan kemampuan masyarakat Sasak dalam menyesuaikan tradisi
dengan dinamika zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai aslinya.
Fungsi
dan Peran Sosial Budaya
Gendang
Beleq menempati posisi penting dalam sistem sosial masyarakat Sasak. Fungsinya
tidak terbatas pada bidang kesenian, tetapi juga mencakup aspek sosial,
religius, dan kultural. Dalam berbagai upacara adat, tabuhan Gendang Beleq
selalu hadir untuk memberikan suasana khidmat sekaligus semarak.
Misalnya,
dalam prosesi merariq, Gendang Beleq menjadi pengiring arak-arakan pengantin
sebagai simbol penyatuan dua keluarga besar.
Selain
itu, Gendang Beleq juga berfungsi sebagai sarana komunikasi dan hiburan
masyarakat. Dalam konteks sosial, kehadirannya mampu mempererat hubungan
antarwarga, menciptakan rasa persaudaraan, serta memperkuat solidaritas
kelompok. Dalam konteks modern, pertunjukan Gendang Beleq bahkan telah menjadi
daya tarik wisata budaya Lombok yang sering ditampilkan dalam festival
pariwisata nasional maupun internasional.
Dalam
permainan Gendang Beleq, terdapat dua jenis gendang utama yang dimainkan secara
berpasangan, yaitu gendang mama (gendang laki-laki) dan gendang nina (gendang
perempuan). Pembagian ini bukan tanpa makna—ia menggambarkan prinsip
keseimbangan dan keharmonisan antara unsur maskulin dan feminin dalam
kehidupan.
Selain
dua gendang utama, ansambel Gendang Beleq juga dilengkapi dengan alat musik
lain seperti gong, reong, oncer, petuk, seruling, serta alat ritmis seperti
ceng-ceng dan pencek.
Ansambel
ini biasanya dimainkan oleh 13 hingga 17 orang, jumlah yang diyakini
melambangkan rakaat dalam salat wajib umat Islam. Artinya, setiap pertunjukan
Gendang Beleq tidak sekadar ekspresi artistik, melainkan juga perwujudan
nilai-nilai spiritual dan religius masyarakat Sasak.
Bagi
masyarakat Sasak, Gendang Beleq memiliki makna simbolis yang mendalam. Ia
merupakan representasi semangat, keberanian, dan kebersamaan. Tabuhan kerasnya
melambangkan detak semangat hidup dan kekompakan masyarakat yang senantiasa
bergerak bersama dalam harmoni.
Dalam
konteks spiritual, Gendang Beleq juga mencerminkan hubungan manusia dengan alam
semesta.
Bahan-bahan
pembuat Gendang Beleq sepenuhnya berasal dari alam—batang kayu besar, kulit
hewan, dan tali dari serat alami. Proses pembuatannya dilakukan dengan penuh
kehati-hatian dan ritual tertentu yang mencerminkan penghormatan terhadap alam.
Nilai
ini menunjukkan pandangan ekologis masyarakat Sasak yang menempatkan alam bukan
hanya sebagai sumber daya, tetapi juga sebagai entitas yang harus dijaga
keseimbangannya.
Selain
itu, filosofi Gendang Beleq juga tercermin dari nilai-nilai yang dikandungnya.
Di antaranya adalah nilai keindahan (keanggunan dalam seni tabuh), ketekunan
(karena memainkan gendang memerlukan latihan terus-menerus), kesabaran (dalam
menjaga irama dan harmoni kelompok), kebijakan (dalam menghormati tradisi),
serta kepahlawanan (sebagai warisan sejarah masa perang).
Nilai-nilai
ini menjadikan Gendang Beleq bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga media
pendidikan karakter bagi masyarakat Sasak.
Dalam
kajian semiotika, Gendang Beleq dapat dipahami sebagai sistem tanda budaya.
Setiap elemen—baik bentuk fisik, pola tabuhan, kostum pemain, maupun gerak
tubuh penabuh—memiliki makna simbolik tersendiri. Misalnya, warna-warna cerah
pada kostum penabuh melambangkan keceriaan dan semangat hidup, sedangkan
gerakan berputar saat bermain mencerminkan dinamika kehidupan yang terus
bergerak dan berubah.
Dari
segi estetika, pertunjukan Gendang Beleq menyajikan perpaduan harmonis antara
ritme, gerak, dan visual. Irama yang menghentak disertai tarian energik para
penabuh menciptakan suasana yang memikat. Unsur keindahan tidak hanya terletak
pada suara, tetapi juga pada performativitas kolektif yang mencerminkan
kekompakan dan semangat gotong royong—dua nilai fundamental dalam masyarakat
Sasak.
Perkembangan
dan Tantangan Pelestarian
Seiring
perkembangan zaman, Gendang Beleq terus beradaptasi tanpa kehilangan
identitasnya. Saat ini, banyak sanggar seni di Lombok yang aktif mengajarkan
generasi muda memainkan Gendang Beleq.
Pemerintah
daerah bersama komunitas budaya juga rutin menggelar festival Gendang Beleq
untuk memperkenalkan kesenian ini ke khalayak yang lebih luas, termasuk
wisatawan mancanegara.
Namun
demikian, Gendang Beleq juga menghadapi berbagai tantangan. Di antaranya adalah
berkurangnya minat generasi muda terhadap kesenian tradisional akibat pengaruh
budaya populer, serta menurunnya jumlah perajin alat musik tradisional.
Untuk
itu, pelestarian Gendang Beleq perlu dilakukan melalui strategi yang
komprehensif: memperkuat pendidikan budaya di sekolah, memberikan dukungan
ekonomi kepada perajin dan seniman lokal, serta memanfaatkan teknologi digital
untuk promosi dan dokumentasi kesenian tradisional.
Menariknya,
beberapa kelompok masyarakat Sasak juga masih memandang Gendang Beleq sebagai
sesuatu yang maliq (sakral). Artinya, kesenian ini tidak boleh diperlakukan
sembarangan karena diyakini memiliki kekuatan spiritual tertentu. Pelanggaran
terhadap pantangan ini dapat mendatangkan tulah manuh (musibah).
Keyakinan
tersebut menunjukkan bahwa bagi masyarakat Sasak, Gendang Beleq bukan hanya
seni pertunjukan, tetapi juga bagian dari sistem kepercayaan yang hidup.
Gendang
Beleq adalah cerminan dari kekayaan budaya Suku Sasak yang tidak hanya bernilai
estetis, tetapi juga filosofis dan spiritual. Ia lahir dari semangat kolektif
masyarakat yang menghargai keberanian, kebersamaan, dan keharmonisan dengan
alam.
Dari
alat perang hingga simbol kebudayaan, Gendang Beleq telah melewati perjalanan
panjang yang membentuknya menjadi ikon identitas Lombok.
Di
tengah arus globalisasi dan modernisasi, keberadaan Gendang Beleq menjadi
pengingat pentingnya menjaga akar budaya lokal. Pelestarian Gendang Beleq bukan
hanya upaya mempertahankan tradisi, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap
jati diri bangsa yang plural dan kaya akan nilai-nilai luhur.
“Selama
tabuhan Gendang Beleq masih bergema di tanah Lombok, selama itu pula semangat
dan kebersamaan masyarakat Sasak akan terus hidup dalam denyut kehidupan
mereka,” pungkas Lalu Surya Mulawarman.
#Akuair-Ampenan,
27-10-2025
