Karst yang Terluka di Balocci Pangkep

Embun pagi baru saja menguap dari dinding kapur di Desa Majannang, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Di antara hijaunya perbukitan dan sunyi lembah batu, asap putih perlahan membumbung dari tungku-tungku pembakaran kapur. Bau hangus batu gamping menguar di udara. (ist)

 

------

Jumat, 17 Oktober 2025

 

Karst yang Terluka di Balocci Pangkep

 

- Aktivis Soroti Dugaan Tambang Kapur di Kawasan Geopark Pangkep

 

PANGKEP, (PEDOMAN KARYA). Embun pagi baru saja menguap dari dinding kapur di Desa Majannang, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Di antara hijaunya perbukitan dan sunyi lembah batu, asap putih perlahan membumbung dari tungku-tungku pembakaran kapur. Bau hangus batu gamping menguar di udara.

Bagi para pencinta alam di Sulawesi Selatan, pemandangan itu bukan sekadar aktivitas ekonomi biasa. Mereka menilai, ada yang tidak semestinya terjadi di kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan karst lindung dan menjadi bagian dari Geopark Maros–Pangkep, salah satu warisan alam dunia yang diakui UNESCO.

“Informasi dari warga menyebut, pembakaran kapur di sana sudah berlangsung tiga tahun,” ujar Andi Agung Iskandar, Direktur Advokasi Lembaga Mitra Lingkungan Sulawesi Selatan, Kamis, 9 Oktober 2025.

Proses pembakaran dilakukan dengan mengikis tebing karst untuk membangun tungku, lalu menambang batu gamping sebagai bahan baku pembuatan kapur. Aktivitas itu, kata dia, dilakukan oleh CV Saka Utama Abadi sejak 2023 di area yang seharusnya dilindungi .

“Ini kebanggaan kita bersama yang seharusnya dijaga oleh semua pihak — masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha,” tegas Andi Agung.

Bersama komunitas pencinta alam Sulsel, Agung turun langsung ke lapangan. Mereka mewawancarai sejumlah warga sekitar, mencatat perubahan bentuk tebing, dan mengonfirmasi temuan itu kepada Badan Pengelola Geopark Maros–Pangkep. Hasilnya, badan pengelola memastikan bahwa wilayah tersebut termasuk dalam bentangan Geopark.

“Artinya, besar kemungkinan lokasi pabrik kapur itu berada di kawasan lindung,” kata Agung.

Kawasan karst bukan sekadar batu kapur yang menjulang. Ia adalah laboratorium alam raksasa yang menyimpan sejarah bumi dan kehidupan. Lapisan-lapisan batunya merekam jejak jutaan tahun proses geologi, sementara celah dan guanya menjadi rumah bagi aneka flora dan fauna langka.

Selain itu, karst berfungsi sebagai penyimpan air alami. Air hujan meresap melalui retakan batu dan tersimpan di lapisan bawah tanah, menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya. Jika struktur karst rusak, air akan hilang, tanah mengering, dan ekosistem kehilangan keseimbangannya.

Dalam konteks Geopark Maros–Pangkep, bentangan karst ini juga menjadi warisan budaya dan ekonomi. Setiap lekuk tebing dan gua menyimpan nilai sejarah manusia purba, sementara keindahannya menarik ribuan wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara.

Karena itu, kerusakan sekecil apa pun di kawasan ini dapat menimbulkan dampak ekologis dan sosial yang luas. “Kalau kerusakan besar terjadi, bukan tidak mungkin status Geopark Maros–Pangkep akan dicabut UNESCO. Itu bukan hanya kehilangan bagi warga sekitar, tapi juga bagi Indonesia,” ujar Agung dengan nada prihatin.

Atas dasar itu, Lembaga Mitra Lingkungan Sulsel dan komunitas pencinta alam Sulsel mendesak pemerintah daerah serta dinas terkait untuk meninjau izin usaha perusahaan yang disebut, serta menghentikan aktivitas industri yang berpotensi melanggar prinsip konservasi kawasan karst dan geopark nasional.

“Jika tidak ada tindakan tegas, kami akan membawa kasus ini ke penegak hukum,” kata Agung.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak CV Saka Utama Abadi belum berhasil dikonfirmasi mengenai dugaan aktivitas pembakaran kapur di kawasan karst Desa Majannang. Redaksi masih berupaya mendapatkan keterangan resmi dari pihak perusahaan untuk menjaga keberimbangan pemberitaan.

Sementara itu, di balik tebing-tebing kapur yang mulai retak, api tungku pembakaran masih menyala. Angin pagi membawa butiran debu halus, seolah menjadi pesan diam dari alam yang sedang menahan perih — menunggu kapan tangan manusia kembali belajar mencintainya. (asnawin)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama