-------
PEDOMAN KARYA
Jumat, 17 Oktober 2025
Tongkat yang
Dibuang: Metafora Pemimpin yang Lupa Rakyat
Oleh: Usman Lonta
Yang pertama dicampakkan oleh orang buta
ketika matanya telah melihat adalah tongkatnya. Begitu pula banyak pemimpin
yang, setelah mendapat “penglihatan” kekuasaan, justru melupakan tangan-tangan
rakyat yang dahulu menuntunnya meniti jalan gelap menuju puncak.
Tongkat itu bukan sekadar alat bantu,
melainkan simbol kepercayaan, harapan, dan doa orang kecil yang rela berkorban
demi perubahan. Namun, ketika cahaya kekuasaan menyilaukan, rasa terima kasih
sering berubah menjadi kesombongan, dan rakyat kembali menjadi sekadar angka
dalam daftar pemilih.
Begitulah ungkapan Prof Hamdan Juhannis
dalam sambutannya pada acara pengukuhan Guru Besar pada intitusi yang
dipimpinnya, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar pada
tanggal 14 Oktober 2025.
Namun buru-buru beliau sambung bahwa para
Guru Besar yang ada di sini tidak demikian perilakunya. Terbukti, bahwa Guru
Besar yang dikukuhkan hari ini mengungkapkan secara tulus ungkapan terima kasih
kepada para gurunya ketika mereka duduk di bangku SD hingga perguruan tinggi.
Mereka mengenang jasa-jasanya.
Lain halnya dalam kehidupan sosial,
terutama menjelang pesta demokrasi, rakyat selalu tampil sebagai pahlawan.
Mereka yang mendengarkan janji-janji, ikut rapat umum, rela antre di bawah
terik matahari hanya untuk memastikan satu tanda di kertas suara menjadi bagian
dari sejarah.
Tapi setelah pesta demokrasi usai, rakyat
acapkali hanya menjadi “penonton” dari
kebijakan yang dibuat atas nama mereka. Pemimpin yang dulu berjanji untuk
“melihat lebih jernih” justru sibuk mematut diri di cermin kekuasaan, menikmati
pantulan dirinya sendiri.
Fenomena ini bukan hal baru. Sejak dahulu,
kekuasaan selalu punya efek memabukkan. Ia bisa membuat seseorang lupa siapa
yang menuntunnya hingga ke puncak. Dalam tradisi politik kita, banyak pemimpin
lahir dari rakyat kecil—anak petani, anak guru, anak nelayan—yang awalnya
memahami penderitaan, lalu bersumpah akan memperjuangkannya.
Namun ketika kursi empuk dan pendingin
ruangan menggantikan tikar bambu dan panasnya lapangan kampanye, empati itu
perlahan menguap. Mereka tidak lagi berjalan di tanah yang sama dengan rakyat,
melainkan melayang di atas awan birokrasi dan protokol kehormatan.
Padahal, tongkat itu (rakyat) masih
berdiri di tempat yang sama. Ia tetap memikul beban hidup, menghadapi harga
yang naik, lapangan kerja yang sempit, Pemutusan Hubungan Kerja (PKH) yang
setiap saat mengintai, pendidikan tinggi yang tak terjangkau, dan pelayanan
publik yang lamban.
Ironisnya, suara mereka hanya kembali
dianggap penting ketika musim pemilu tiba. Di luar itu, mereka adalah “beban
statistik” yang sekadar menghiasi laporan pembangunan.
Metafor “orang buta dan tongkat” yang
diungkapkan oleh Prof Hamdan Juhannis, menggambarkan relasi timpang antara
rakyat dan pemimpinnya.
Ketika pemimpin belum berkuasa, ia
membutuhkan rakyat untuk “melihat jalan”. Ia mendengarkan keluh kesah,
menyambangi pasar, memeluk nenek tua, mencium bayi, dan berbicara tentang
harapan. Tapi begitu kekuasaan memberikan penglihatan baru, yaitu akses,
fasilitas, kehormatan, ia merasa tidak lagi membutuhkan tongkat itu lagi.
Padahal, justru di saat ia melihat itulah,
tanggung jawabnya menjadi lebih berat: untuk tetap memegang tongkat, bukan
karena ia buta, tetapi karena tongkat itulah yang menjaga langkahnya agar tidak
tergelincir.
Gejala ini dapat dilihat dalam berbagai
kebijakan publik yang dibuat tanpa mendengar suara rakyat. Pembangunan sering
diukur dari angka-angka ekonomi, bukan dari kesejahteraan manusia secara nyata.
Keberhasilan diukur dari proyek stragi
Nasional, inprastruktur dan gedung baru, bukan dari berkurangnya kelaparan atau
meningkatnya keadilan sosial. Seolah pembangunan adalah panggung besar yang
hanya bisa ditonton, bukan ruang tempat rakyat turut menentukan arah.
Lebih menyedihkan lagi, sebagian rakyat
justru mulai terbiasa dilupakan. Mereka sudah terlalu sering ditinggalkan,
hingga apatis menjadi pilihan aman. Sering terungkap dalam alam bawa sadar
publik “Semua pemimpin sama saja,” begitu sering kita dengar.
Padahal, apatisme rakyat adalah tanda
paling berbahaya dalam demokrasi. Ia membuat tongkat patah, membuat orang buta
itu berjalan tanpa arah, dan akhirnya jatuh di lubang yang sama berulang kali.
Namun jika ditelisik lebih dalam, tidak
semua pemimpin melupakan tongkatnya. Masih ada sosok-sosok yang menolak mabuk
kekuasaan, yang sadar bahwa jabatan adalah amanah, bukan trofi. Mereka inilah
yang tetap turun ke lapangan, mendengar keluhan tanpa protokol, dan memastikan
kebijakan tidak berhenti di meja birokrasi.
Namun, jumlah mereka sering kalah oleh
yang menjadikan kekuasaan sebagai panggung untuk memperkaya diri dan
kelompoknya. Mereka yang sadar sering terpinggirkan karena dianggap “tidak
realistis” atau “tidak politis.”
Mungkin sudah saatnya rakyat di bawah
bimbingan para Guru besar (anrong Guru) juga belajar untuk tidak mudah
menyerahkan tongkat itu begitu saja. Demokrasi bukan sekadar memilih, tapi juga
mengawal, mengingatkan, bahkan mengkritik ketika arah langkah mulai salah.
Rakyat tidak boleh merasa rendah karena tanpa mereka, pemimpin kehilangan
pijakan. Tongkat itu, walau sederhana, adalah penuntun yang menentukan arah
sejarah.
Ketika orang buta kembali sadar betapa
berharganya tongkatnya, mungkin ia akan menyesal telah membuangnya terlalu
cepat. Begitu pula seorang pemimpin yang kehilangan kepercayaan rakyat, ia baru akan sadar bahwa kekuasaan tanpa
dukungan adalah kekosongan. Tongkat itu mungkin tampak sepele, tapi tanpa
tongkat, setiap langkah menuju masa depan akan berisiko jatuh di tempat yang
sama.
Pada akhirnya, kepemimpinan sejati
bukanlah tentang seberapa jauh seseorang bisa berjalan setelah melihat, tetapi
seberapa kuat ia bertahan untuk tetap menggandeng tongkatnya, yaitu rakyat bahkan ketika penglihatannya sudah pulih.
Karena hanya dengan itu, kekuasaan akan tetap berpijak pada kemanusiaan, bukan
kesombongan.
Wallahu a’lam bishshawab,
Terima kasih Prof Hamdan, menginspirasai
tulisan ini
Sungguminasa, 16 Oktober 2025
