------
PEDOMAN KARYA
Senin, 22 Desember 2025
Kisah Nabi Muhammad SAW (24):
Ka’bah Dipugar,
Kabilah Berselisih, Muhammad Jadi Penengah
Penulis: Abu Hasan Ali An-Nadwi
Dalam pengerjaan Ka’bah orang-orang
Quraisy dibagi menjadi empat bagian. Setiap kabilah masing-masing mendapat
pekerjaan satu sudut yang harus dirombak dan dibangun kembali.
Pemugaran Ka’bah dimulai dengan
memindahkan patung Hubal dan patung kecil lainnya. Setelah itu, pekerjaan
dilanjutkan dengan membersihkan pelataran dan membongkar dinding serta fondasi.
Muhammad ikut terlibat dalam pekerjaan yang berlangsung berhari-hari itu.
Ada sebuah batu fondasi berwarna hijau
yang tidak bisa dibongkar dengan cara apa pun. Karena itu, batu itu mereka
biarkan. Selanjutnya, didatangkanlah batu-batu granit biru dari bukit
sekitarnya. Sebuah bahan pencampur semen bernama bitumen yang didatangkan dari
Syria pun mulai digunakan.
Pemugaran Ka’bah ini sebenarnya lebih
menyerupai perbaikan hasil karya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Fondasi Ka’bah ditinggikan sampai empat
hasta ditambah satu jengkal atau sekitar dua meter. Dalamnya diuruk tanah
menjadi lantai yang sulit dicapai air apabila banjir datang kembali. Bersamaan
dengan itu, pintu di sisi timur laut pun diangkat setinggi fondasi.
Dinding dinaikkan sampai 18 hasta. Saat
itulah Ka’bah mulai diberi atap bekas kapal yang kandas itu. Sebuah tangga
untuk naik turun juga disiapkan. Kini Ka’bah bebas dari banjir. Isinya
terlindungi dari hujan, panas dan tangan jahil pencuri.
Pembangunan berjalan lancar sesuai dengan
rencana sampai dinding tembok mencapai tinggi satu setengah meter dan tiba
saatnya batu hitam, Hajar Aswad, ditempatkan kembali ke tempatnya semula di
sudut timur.
Karena ini merupakan upacara suci penuh
kehormatan, berebutlah setiap kabilah untuk melaksanakannya. Kabilah Abdu Dar
merasa lebih berhak daripada kabilah lain sehingga kedua kelompok saling beradu
mulut sampai suasana menjadi semakin panas.
Di tengah keadaan itu, muncul Abu Umayyah
bin Al Mughirah. Ia adalah orang tua yang dihormati dan dipatuhi. Ia pun
mengajukan sebuah usul yang disetujui oleh semua pihak.
“Serahkanlah putusan ini di tangan orang
yang pertama kali memasuki pintu Shafa,” kata Abu Umayah.
Hajar Aswad
Ternyata yang datang pertama kali dari
pintu Shafa adalah Muhammad. Orang-orang pun bersorak lega.
“Ini dia Al Amin,” seru mereka.
“Dia adalah orang yang bisa dipercaya.
Kami yakin dia bisa memecahkan persoalan ini. Kami akan menerima putusannya,”
ujar yang lain.
Orang-orang Quraisy pun menceritakan
persoalan yang mereka alami. Muhammad yang saat itu belum berumur 30 tahun,
memandang mereka dengan matanya yang teduh dan bijaksana.
Muhammad melihat berkobarnya api
permusuhan pada mata setiap orang dari masing-masing kabilah Quraisy. Keadaan
ini benar-benar genting. Kalau salah mengambil keputusan, akan terjadi
pertumpahan darah di antara kabilah-kabilah itu.
Muhammad berpikir sejenak, lalu dia
berkata, “Tolong bawakan sehelai kain.”
Kain pun segera diberikan. Muhammad
mengambil dan menghamparkan kain itu. Dia lalu mendekati Hajar Aswad.
Diangkatnya batu hitam itu dan diletakkan di tengah-tengah.
“Hendaknya, setiap ketua kabilah memegang
ujung kain ini,” kata beliau lagi.
Kemudian, para ketua kabilah memegang
ujung kain dan bersama-sama mengangkat Hajar Aswad. Di tempat Hajar Aswad
semula berada. Muhammad mengangkat dan meletakkannya kembali.
Semua pihak merasa amat puas dengan
keputusan Muhammad yang adil itu. Demikianlah, pada waktu muda. Rasulullah
telah menjadi orang yang cerdas dan bijaksana.
Putra Putri Muhammad
Khadijah adalah wanita teladan yang
terbaik. Beliau wanita yang penuh kasih, setia, dan menyerahkan seluruh
hidupnya untuk suami tercinta. Khadijah juga wanita yang subur. Setelah lima
belas tahun berumah tangga, Khadijah melahirkan enam orang anak. Mereka adalah
Ruqayyah, Zainab, Ummi Kultsum, Fatimah, Qasim, dan Abdullah.
Namun, Qasim dan Abdullah wafat ketika
masih bayi, sedangkan keempat anak perempuan yang lain tetap hidup hingga
dewasa. Kita dapat membayangkan betapa sedihnya Muhammad dan Khadijah
kehilangan kedua putra mereka.
Ketika pulang ke rumah dan duduk di
samping Khadijah, Muhammad sering melihat kesedihan di wajah istrinya itu. Saat
itu, mempunyai anak laki-laki bagi masyarakat jahiliah adalah hal yang amat
penting dan dianggap sebagai sebuah kebanggaan.
Sebaliknya, mempunyai anak perempuan
adalah hal yang amat memalukan, bahkan banyak orang yang memilih mengubur bayi
perempuannya hidup-hidup dari pada membesarkannya.
Tentu saja Muhammad dan Khadijah tidak
merasa malu memiliki anak-anak perempuan. Mereka menyayangi semua anak mereka
tanpa pilih kasih. Apalagi putri bungsu mereka, Fatimah, yang saat itu masih
berusia lima tahun, anak cantik yang sedang lucu-lucunya. Hanya saja kehilangan
dua anak laki-laki yang masih bayi merupakan derita yang berat bagi orangtua
mana pun.
Kekayaan Terbesar
Rasulullah pernah berkata bahwa kekayaan
terbesar adalah istri yang salehah. Khadijah adalah kekayaan terbesar
Rasulullah pada saat-saat paling sulit dalam hidup beliau. (bersambung)
