![]() |
| Saat itu, di dekat Ka'bah telah berkumpul para pembesar Quraisy. Mereka melihat Rasululllah, Abu Jahal bertanya dengan congkak, “Hai Muhammad! Adakah engkau mendapat suatu perkara baru lagi?”.(int) |
------
PEDOMAN KARYA
Jumat, 16 Januari 2026
Kisah Abu Jahal Menertawakan Isra’ Mi’raj
Setelah melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj,
dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina, kemudian naik ke
langit dan ke Sidratul Muntaha, lalu turun kembali ke bumi di Masjidil Aqsa,
dan pulang ke Masjidil Haram, Rasulullah SAW langsung ke rumah Ummu Hani (anak
dari Abu Thalib).
Sebelum melakukan perjalanan Isra’ dan Mi’raj,
pada malam itu Rasulullah SAW memang bermalam di rumah sepupunya itu. Menjelang
fajar Rasulullah membangunkan Ummu Hani dan keluarganya.
“Oh Ummu Hani,” sabda Rasulullah, “Seperti
engkau maklum, semalam aku shalat malam terakhir bersama kamu. Kemudian aku ke
Baitul Maqdis dan shalat di sana. Baru saja, saat ini, kita shalat subuh
bersama.”
Rasulullah kemudian bangkit, meninggalkan
Ummu Hani yang masih terperangah. Ummu Hani tahu beliau akan keluar dan
mengabarkan Isra' dan Mi'raj kepada orang banyak.
Rasulullah berdiri dan berjalan ke pintu
begitu cepat seolah-olah tidak sabar lagi untuk mengabarkan perjalanan ini.
Padahal, beliau tahu apa akan dikatakan orang Quraisy yang selama ini
memusuhinya. Namun, semangat Rasulullah tidak terhalangi oleh hal-hal semacam
itu.
Rasa khawatir Ummu Hani menggunung
seketika. Begitu cepatnya langkah Rasul sehingga Ummu Hani terpaksa menarik
jubah Rasul dengan tergesa-gesa.
“Ya Rasulullah, jangan mengatakannya pada
khalayak ramai. Nanti mereka menuduh engkau berdusta dan mereka akan
menghinamu,” kata Ummu Hani.
Rasulullah tersenyum menentramkan, “Demi
Allah, saya akan tetap mengatakannya.”
Ummu Hani tidak bisa berkata apa-apa lagi
melihat tekad Rasulullah yang sudah demikian kuat. Ketika Rasulullah pergi,
dilihatnya beliau dengan pandangan khawatir. Ummu Hani segera memanggil seorang
hamba sahayanya, seorang perempuan dari Habasyah.
“Pergilah, ikuti Rasulullah dan dengar
yang dikatakan kaumnya terhadap beliau,” kata Ummu Hani.
Hamba sahaya itu pun bergegas pergi.
Saat itu, di dekat Ka'bah telah berkumpul
para pembesar Quraisy. Mereka melihat Rasululllah, Abu Jahal bertanya dengan
congkak, “Hai Muhammad! Adakah engkau mendapat suatu perkara baru lagi?”
“Ya, aku baru mendapat suatu perkara yang
baru,” jawab Rasulullah.
“Apa itu? Ceritakanlah,” Abu Jahal bersiap
mengejek.
“Semalam aku pergi ke Baitul Maqdis,”
jawab Rasulullah.
Senyum Abu Jahal melebar, “Ke Baitul
Maqdis dan pagi-pagi begini sudah kembali tiba disini?”
“Ya, semalam aku pergi di Baitul Maqdis,”
kata Rasulullah.
Abu Jahal tertawa sambil menggeleng-geleng
heran, “Apakah kamu berani menyatakan hal ini di muka kaumku? Kalau memang
berani, saya akan memanggil mereka. Ceritakanlah kepada mereka hal yang telah
kamu katakan kepadaku tadi!”
“Baik, panggil mereka kemari,” tegas
Rasulullah.
Seketika itu juga, Abu Jahal pergi
memanggil semua pembesar Quraisy dan orang-orang biasa. Dalam waktu singkat,
semua orang berduyun-duyun ke hadapan Rasulullah.
“Hai Muhammad!” Seru Abu Jahal.
“Katakanlah kepada kaumku sekarang seperti
yang kamu katakan tadi kepadaku!” kata Rasulullah.
Rasulullah pun bersabda, “Semalam saya
pergi ke Baitul Maqdis.”
Orang-orang terperangah. Semua orang yang
hadir disitu bersikap seolah-olah kurang jelas mendengar kata-kata Rasulullah.
“Pergi kemana, Muhammad?” tanya mereka.
“Semalam saya pergi ke Baitul Maqdis,”
jawab Rasulullah.
Seketika itu, gemparlah suasana. Suara
tawa dan cemooh menggemuruh. Mengalahkan suara-suara itu Abu Jahal berteriak,
“Muhammad itu memang selalu mengada-ada dengan ucapannya!”
Olok-olok makin terdengar riuh. Ada yang
mengejek. Ada yang tertawa. Ada yang bertepuk tangan.
Bagi bangsa Arab, tepuk tangan adalah
bukan tanda semangat. Tepuk tangan atau menaruh tangan di atas kepala adalah
tanda mengejek dan hinaan bagi seseorang yang kata-katanya dianggap tidak bisa
dipercaya.
Orang-orang itu memanggil Abu Bakar.
Mereka ingin tahu yang akan dikatakan Abu Bakar, orang yang selama ini begitu
kukuh kepercayaannya kepada Rasulullah.
Abu Bakar Membenarkan Cerita Rasulullah
“Kalian berdusta,” kata Abu Bakar kepada
orang-orang yang datang kepadanya.
“Sungguh, Muhammad kini berada di Ka'bah
sedang berbicara dengan orang banyak,” kata mereka.
“Kalaupun itu yang dikatakannya,” kata Abu
Bakar, “Tentu dia bicara yang sebenarnya. Dia mengatakan kepadaku bahwa ada
berita dari Tuhan, dari langit ke bumi pada waktu malam atau siang aku percaya.
Padahal tadi itu lebih mengherankan daripada berita sekarang ini.”
Abu Bakar kemudian mendatangi Rasulullah.
Saat itu, orang-orang Quraisy sedang meminta Rasulullah menggambarkan bentuk
Baitul Maqdis. Mereka tahu, Rasulullah belum pernah satu kali pun berkunjung ke
tempat itu. Sementara itu, beberapa orang dari mereka telah terbiasa berdagang
sampai ke Syam dan melewati Baitul Maqdis berkali-kali. Abu Bakar adalah salah
seorang yang pernah berdagang ke sana.
Mendengar Rasulullah begitu tepat
menggambarkan keadaan Baitul Maqdis, Abu Bakar berkata di hadapan semua orang,
“Rasulullah, saya percaya!”
Bahkan, orang-orang kafir sekali pun
menggeleng-geleng kepala, heran bercampur kagum mendengar kata-kata Abu Bakar.
Mereka menghormati kesetiaan dan tingginya rasa percaya Abu Bakar kepada
Rasulullah.
Rasulullah sendiri sangat gembira
mendengar perkataan Abu Bakar. Padahal saat itu, semua orang di hadapannya
tengah bertanya-tanya, mengejek, dan mencaci. Bahkan yang lebih menyakitkan,
beberapa orang yang sudah memeluk Islam kembali murtad karena tidak percaya
dengan apa yang Rasulullah sampaikan.
Sejak saat itu Rasulullah memberi julukan
kehormatan dan kesayangan “As-Shiddiq” kepada Abu Bakar. Artinya adalah “yang
tulus hati”, “yang sangat jujur."”
Bukti dari Kafilah
Merasa belum cukup mendengar betapa tepat
gambaran Rasulullah tentang Baitul Maqdis, orang-orang Quraisy meminta bukti
yang lain.
Rasulullah mengatakan, bahwa dalam
perjalanan, beliau melewati beberapa kafilah yang sedang dalam perjalanan
menuju Mekah atau ke arah Syam. Rasulullah mengatakan bahwa di salah satu
kafilah, seekor unta terjerembab karena terkejut oleh kehadiran Buraq. Rasulullah
juga mengatakan tempat kafilah itu berada.
“Saya melanjutkan perjalanan,” demikian
sabda Rasulullah, “Sampai tiba di Dhajanan, melewati sebuah kafilah bani fulan.
Kutemukan mereka semua sedang tertidur. Mereka mempunyai sebuah guci yang
tertutup. Saya membuka tutupnya dan meminum air itu lalu menutupnya kembali.”
Sudah menjadi kebiasaan kafilah Arab untuk
menyediakan guci minum yang bisa dinikmati oleh siapa pun tanpa perlu izin
lagi. Bahkan biasanya yang disediakan adalah susu.
“Sebagai bukti kafilah itu sekarang sedang
menuruni dataran tinggi Baydha di celah Tan'im. Kafilah itu dipimpin seekor
unta berwarna kelabu dengan muatan dua kantong, yang satu hitam dan yang lain
belang,” kata Rasulullah.
Orang-orang kemudian bergegas menuju celah
itu. Mereka menemukan bahwa unta pertama yang mereka jumpai sedang memimpin
kafilah memang persis seperti yang digambarkan Rasulullah.
Orang-orang juga bertanya kepada anggota
kafilah itu tentang guci air.
“Ketika kami bangun pada pagi hari tadi,
guci itu masih tertutup, tetapi isinya kosong. Padahal semalam guci itu penuh
berisi air,” jawab anggota kafilah.
Orang-orang saling berpandangan mengakui
yang Rasulullah katakan. Terlebih lagi setelah itu, mereka bertanya pada
rombongan kafilah lain tentang unta yang terjerembab.
“Kami memang terkejut mendengar sesuatu
seperti apa yang bergerak cepat di langit. Sesuatu itu membuat seekor unta kami
terkejut dan terjerembab,” ungkap mereka.
Demikian bukti-bukti kebenaran Isra' Mi'raj sudah begitu kuat. Namun, orang-orang seperti Abu Jahal tidak bisa berubah menjadi orang beriman. (asnawin aminuddin)
