-----
PEDOMAN KARYA
Kamis, 15 Januari 2026
Kisah Nabi Muhammad SAW (26):
Malaikat Jibril
Bacakan Surah Al-‘Alaq, Muhammad Diangkat Jadi Nabi
Penulis: Abu Hasan Ali An-Nadwi
Makhluk yang datang itu adalah Malaikat
Jibril. Ia datang membangunkan Muhammad yang sedang tidur karena kelelahan.
Jibril berkata kepada Muhammad, “Iqra (Bacalah)!”
Dengan hati yang masih rasa terkejut,
Muhammad menjawab, “Apa yang harus saya baca.”
Kemudian Malaikat Jibril mendekap sehingga
Muhammad merasa lemas. Jibril melepaskan dekapannya, lalu berkata lagi,
“Bacalah!”
Kejadian itu berulang sampai tiga kali.
Kemudian, setelah Muhammad berkata, “Apa yang harus saya baca?” barulah
Jibril membacakan Surat Al ‘Alaq ayat
pertama hingga ayat kelima:
“(1) Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhanmu Yang menciptakan, (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,
(3) Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, (4) Yang mengajar (manusia)
dengan perantaraan kalam, (5) Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.”
Setelah mengucapkan ayat-ayat itu,
Malaikat Jibril pun pergi meninggalkan Muhammad yang hatinya terhujam oleh
firman Allah tadi.
Muhammad mendadak tersentak sadar. Beliau
terbangun dari ketakutan sambil bertanya-tanya dalam hati, “Siapa gerangan yang
kulihat tadi? Apakah aku telah diganggu jin?”
Beliau menoleh ke kiri dan ke kanan,
tetapi tidak ada siapa pun. Muhammad diam sebentar dengan tubuh gemetar. Beliau
lalu lari ke luar gua, menyusuri celah-celah gunung sambil mengulang pertanyaan
dalam hati, “Siapa gerangan yang menyuruhku membaca tadi?”
Mendadak, Muhammad mendengar namanya
dipanggil. Panggilan tersebut terasa dahsyat sekali. Beliau memandang ke
cakrawala dan melihat malaikat dalam bentuk manusia. Muhammad tertegun
ketakutan dan terpaku di tempatnya. Ia memalingkan wajah, tetapi di seluruh
cakrawala, ke mana pun beliau memandang rupa malaikat yang indah itu tidak juga
berlalu.
Ketulusan Khadijah
Di rumah, Khadijah tiba-tiba merasa
khawatir dengan nasib suaminya. Beliau mengutus
orang untuk mencari suaminya itu, tetapi tidak berhasil menemukannya.
Sementara itu, setelah rupa malaikat
menghilang, Muhammad berjalan pulang dengan hati yang sudah dipenuhi wahyu
Allah. Dengan jantung yang terus berdenyut keras dan hati berdebar ketakutan,
beliau pulang ke rumah.
“Selimuti aku,” pinta Muhammad kepada
Khadijah.
Khadijah segera menyelimuti suaminya yang
menggigil kedinginan seperti terkena demam. Setelah rasa takutnya mereda,
beliau memandang Khadijah dengan tatapan mata meminta kekuatan dan
perlindungan.
“Khadijah, kenapa aku?” kata Muhammad.
Kemudian, Muhammad menceritakan semua yang
telah terjadi. Beliau juga berkata bahwa ia takut semua itu bukan datang dari
Allah, melainkan gangguan jin.
“Wahai putra pamanku,” jawab Khadijah
penuh sayang, “bergembiralah dan tabahkan hatimu. Demi Dia yang memegang hidup
Khadijah, aku berharap kiranya engkau akan menjadi nabi atas umat ini. Sama
sekali Allah takkan mencemoohkanmu sebab engkaulah yang mempererat tali
kekeluargaan dan jujur dalam berkata-kata. Engkau selalu mau memikul beban
orang lain dan menghormati tamu serta menolong mereka yang dalam kesulitan atas
jalan yang benar.”
Kata-kata Khadijah itu menuangkan rasa
damai dan tenteram ke dalam hati suaminya yang sedang gelisah. Khadijah
benar-benar yakin bahwa suaminya itu bukan diganggu jin. Beliau malah memandang
suaminya itu dengan penuh rasa hormat.
Muhammad pun segera tenang kembali. Beliau
memandang Khadijah dengan penuh kasih dan rasa terimakasih. Tiba-tiba, sekujur
tubuhnya terasa amat letih dan beliau pun tertidur lelap.
Sejak saat itu, berakhirlah kehidupan
tentang seorang Muhammad. Mulai saat itu, kehidupan penuh perjuangan keras dan
pahit akan dilaluinya sebagai seorang Rasulullah, utusan Allah.
Kabar dari Waraqah bin Naufal
Khadijah menatap suaminya yang tertidur
pulas itu. Dilihatnya kembali suaminya yang tertidur dengan nyenyak dan tenang
sekali. Khadijah membayangkan apa yang baru saja dituturkan suaminya. Firman
Allah dan Malaikat yang indah. Luar biasa!
“Semoga kekasihku ini memang akan menjadi
seorang nabi untuk menuntun umat ini keluar dari kegelapan,” demikian pikir
Khadijah.
Saat berpikir demikian, senyumnya
mengembang. Namun, senyum itu segera menghilang, berganti rasa takut memenuhi
hati tatkala dibayangkan nasib yang bakal menimpa suaminya itu apabila
orang-orang ramai menentangnya.
Demikianlah, pikiran bahagia dan sedih
terus berganti-ganti dalam benak Khadijah. Akhirnya, beliau memutuskan untuk
menceritakan hal ini kepada seseorang bijak yang dipercayanya.
Khadijah pun pergi menemui pamannya,
Waraqah bin Naufal, seorang pendeta Nasrani yang jujur, dan menceritakan semua
yang didengarnya dari suaminya.
Waraqah bertafakur sejenak, lalu berkata,
“Mahasuci Ia, Mahasuci. Demi Dia yang memegang hidup Waraqah. Khadijah,
percayalah, suamimu telah menerima 'namus besar' 1) seperti yang pernah
diterima Musa. Sungguh, dia adalah nabi umat ini. Katakan kepadanya supaya
tetap tabah.”
Khadijah pulang. Dilihatnya suaminya masih
tertidur. Dipandanginya suaminya itu dengan rasa kasih dan penuh ikhlas,
bercampur harap dan cemas. Tiba-tiba, tubuh suaminya menggigil, napasnya
terlihat sesak dengan keringat memenuhi wajah. (bersambung)
.....
1) Namus Besar yang dimaksud Waraqah bin Naufal berasal dari bahasa Yunani, noms, artinya kitab undang-undang atau kitab suci yang diwahyukan. Namus bukan istilah dalam Al Qur'an. (bersambung)
.....
Kisah Nabi Muhammad (25):
Muhammad Mencari Kebenaran Lewat Alam dan Pergi ke Gua Hira
