-----
PEDOMAN KARYA
Rabu, 18 Februari 2026
Februari 2026,
Empat Perayaan Besar Hadir Berdekatan di Indonesia
Oleh: YMT Sjahrir Tamsi
Bulan Februari tahun ini menghadirkan
suasana religius yang istimewa di berbagai penjuru Tanah Air. Dalam rentang
waktu yang hampir bersamaan, umat beragama di Indonesia memperingati dan
memasuki sejumlah momentum sakral.
Tahun Baru Imlek, Rabu Abu, awal Ramadhan,
serta menjelang Hari Raya Nyepi. Keempatnya berlangsung dalam suasana yang
relatif berdekatan, menciptakan atmosfer spiritual yang kental di tengah
masyarakat yang majemuk.
Tahun Baru Imlek dirayakan oleh umat
Khonghucu dan masyarakat Tionghoa sebagai simbol pembaruan, harapan, dan
syukur. Tradisi membersihkan rumah, berkumpul bersama keluarga, serta berbagi
kebaikan menjadi penanda dimulainya lembaran baru.
Sementara itu, umat Katolik memasuki masa
Prapaskah melalui Rabu Abu, yakni sebuah momentum refleksi dan pertobatan yang
mengingatkan manusia pada kerendahan hati dan kesadaran akan hakikat kehidupan.
Di waktu yang hampir bersamaan, umat Islam
bersiap menyambut dan menjalani ibadah puasa Ramadan, bulan suci yang sarat
dengan nilai pengendalian diri, peningkatan kepedulian sosial, serta penguatan
spiritualitas.
Tak lama berselang, umat Hindu juga akan
memperingati Hari Raya Nyepi. Hari suci yang dijalankan dengan Catur Brata
Penyepian, yaitu menahan diri dari aktivitas duniawi untuk mencapai keheningan,
introspeksi, dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Meski berbeda dalam tata cara dan tradisi,
keempat momentum tersebut memiliki benang merah yang kuat dan merupakan: ajakan
untuk membersihkan diri, merendahkan Hati, menahan ego, serta mempererat
kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai universal ini menjadi titik temu yang
memperlihatkan kedalaman spiritual bangsa Indonesia.
Di berbagai daerah, suasana toleransi dan
saling menghormati tampak nyata. Ucapan selamat lintas agama mengalir, aparat
keamanan bersiaga memastikan kelancaran ibadah, dan masyarakat menunjukkan
sikap saling menghargai. Kondisi ini mencerminkan praktik nyata semangat
Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.
Pengamat sosial dan tokoh masyarakat
menilai, momentum berdekatan ini menjadi pengingat bahwa Keberagaman
se-Nusantara di Indonesia tercinta ini, bukanlah sumber perpecahan, melainkan
kekuatan kolektif. Di tengah dinamika global dan tantangan sosial yang
kompleks, harmoni antarumat beragama menjadi fondasi penting bagi Stabilitas
Nasional.
Februari 2026 pun dipandang bukan sekadar
pergantian bulan dalam kalender, melainkan ruang refleksi bersama bagi seluruh
elemen bangsa. Doa-doa yang dipanjatkan dari Vihara, Gereja, Masjid, dan Pura,
mengalir dalam ragam cara, namun bermuara pada harapan yang sama yaitu:
Kedamaian, Kesejahteraan, dan Persatuan Indonesia.
Momentum ini mempertegas bahwa di tengah
perbedaan keyakinan dan tradisi, bangsa Indonesia tetap dapat berjalan
berdampingan. Keberagaman Nusantara menjadi energi pemersatu untuk terus
membangun negeri secara beradab dan bermartabat.***

