Ramadhan, Waktunya Mereset Diri dan Kehidupan

Yang perlu kita tanyakan ketika berpuasa bukan: “Apa menu berbuka hari ini?” Akan Tetapi pertanyaan yang terpenting adalah: “Apa yang sudah berubah dari diri saya hari ini?” (Foto: Andi Baso Gazali)  

 

-----

Rabu, 18 Februari 2026

 

Kultum Ramadhan 1:

 

Ramadhan, Waktunya Mereset Diri dan Kehidupan

 

Oleh: Furqan Mawardi

(Muballigh Akar Rumput)

 

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah yang masih memberikan kita umur, kesehatan, dan kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan terbaik dalam menjalani kehidupan yang penuh makna.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Tidak semua orang diberi kesempatan bertemu bulan Ramadhan. Ada yang tahun lalu masih bersama kita, tetapi hari ini telah kembali ke hadapan Allah. Maka jika kita masih diberi umur untuk menyambutnya, maka kita harus banyak bersyukur dan bersungguh-sungguh beribadah. Jangan sampai bulan mulia ini kita jadikan hanya sekadar rutinitas tahunan yang hampa tanpa makna.

Ramadhan sesungguhnya adalah bulan kita mereset kehidupan. Dalam dunia teknologi, ketika sistem sudah berat, penuh hingga eror, dan tidak berjalan optimal, maka solusinya adalah reset. Kurang lebih demikian pulalah dalam  kehidupan kita.

Selama sebelas bulan, mungkin hati kita dipenuhi kelalaian. Shalat yang sering ditunda. Lisan yang masih mudah menyakiti. Waktu kita banyak habis hanya untuk hal yang sia-sia. Bahkan mungkin hubungan kita dengan Allah terasa jauh kering dan hampa.

Alhamdulillah saat ini bulan Ramadhan kita berjumpa kembali, yang perlu dipahami bahwa bulan Ramadhan ia datang bukan hanya untuk mengubah jadwal makan kita, tetapi untuk menghidupkan kembali hati yang sedang sakit bahkan mungkin juga sudah mulai mati.

Allah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Jelas di ayat ini bahwa tujuan Ramadhan bukan hanya pada menahan lapar dan haus, tetapi lahirnya pribadi yang lebih bertakwa.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Reset Ramadhan itu terlihat dalam beberapa hal. Kita mulai memperbaiki shalat yang selama ini terburu-buru. Kita mulai dekat dengan Al-Qur’an yang lama terabaikan. Kita belajar menahan marah, menjaga lisan, dan mengendalikan diri. Kita kembali merasakan nikmatnya sedekah, doa, dan sujud yang panjang.

Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri tanpa harus menunggu sempurna. Karena yang Allah lihat bukan kesempurnaan kita, tetapi kesungguhan kita untuk berubah.

Yang perlu kita tanyakan ketika berpuasa bukan: “Apa menu berbuka hari ini?” Akan Tetapi pertanyaan yang terpenting adalah: “Apa yang sudah berubah dari diri saya hari ini?” Karena Ramadhan yang terbaik bukan yang paling meriah, tetapi yang paling mengubah hati dan kehidupan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Mari jadikan Ramadhan kali ini sebagai titik balik kehidupan. Tinggalkan dosa-dosa lama, perbaiki ibadah, lembutkan hati, dan dekatkan diri kepada Allah. Siapa tahu, ini adalah Ramadhan terakhir kita. Dan siapa tahu, inilah Ramadhan yang akan menjadi sebab Allah mengampuni seluruh dosa kita.

Semoga ketika Ramadhan berakhir nanti, kita tidak kembali menjadi pribadi yang lama, tetapi menjadi hamba yang lebih taat, lebih tenang, dan lebih dekat kepada Allah.

Sebagai penutup, Mari kita berdoa:

Ya Allah, jadikan Ramadhan sebagai bulan perubahan bagi diri kami. Ya Allah, selama Ramadhan ini, berikan kami kekuatan dan kemudahan untuk beribadah di siang hari maupun di malam hari selama Ramadhan. Ampuni dosa-dosa kami, lembutkan hati kami, dan jadikan kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bertakwa. Aamiin ya Rabbal ‘aalamin.***

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama