Meruntuhkan Dinding Prasangka: Sekolah Kristen Elim Kunjungi Ponpes Ash-Shalihin Gowa

Guru dan santri Ponpes Ash-Shalihin Gowa foto bersama guru dan siswa Sekolah Kristen Elim Makassar, di Pondok Pesantren Ash-Shalihin Gowa, Jumat, 13 Februari 2026. (ist)  

 

-----

Sabtu, 14 Februari 2026

 

Meruntuhkan Dinding Prasangka: Sekolah Kristen Elim Kunjungi Ponpes Ash-Shalihin Gowa

 

GOWA, (PEDOMAN KARYA). Prasangka-prasangka di kepala manusia sering tumbuh dari jarak, dan menjadi sebuah dinding yang menghalangi. Dinding itu akan retak ketika manusia memilih untuk saling mengenal.

Dinding prasangka itu kerap berdiri kokoh di antara perbedaan manusia. Membatasi pandang. Mengerdilkan rasa. Dan menjauhkan manusia dari manusia.

Pagi itu, Jumat, 13 Februari 2026, dinding prasangka tersebut akhirnya retak oleh tawa dan sapaan dalam kunjungan silaturrahim Sekolah Kristen Elim Makassar ke Pondok Pesantren Ash-Shalihin Gowa.

Sebuah kunjungan silaturahmi yang bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang perjumpaan, menghapus prasangka-prasangka, menumbuhkan pengertian dalam perbedaan-perbedaan antarumat dalam beragama.

Wakil Ketua Yayasan Perguruan Kristen Toraja (YPKT) Makassar, Chris Batara dalam sambutannya begitu merasakan semangat persatuan yang begitu kuat. Ke depan perlu kegiatan yang menambah keakraban dengan Sekolah Kristen Elim dan sekolah Islam dalam hal ini Pondok Pesantren Ash-Shalihin.

Sementara menurut Kepala Madrasah Aliyah Ash-Shalihin Gowa, Hesti Nurfatihah, mengatakan bahwa kunjungan ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan sebuah langkah nyata dalam program Literasi Keagamaan Lintas Budaya.

Dengan membawa semangat kebersamaan, kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memupuk sikap toleransi antarumat beragama sejak dini.

Lebih lanjut, kegiatan ini menjadi bukti bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang harus dijaga bersama demi kedamaian bangsa.

Sepanjang acara, suasana hangat sangat terasa. Para peserta dari Siswa sekolah Kristen Elim dan Pondok Pesantren Ash-Shalihin terlibat dalam dialog ringan dan kegiatan bersama yang mencerminkan wajah Indonesia yang inklusif -terbuka.

Melalui kunjungan ini, diharapkan generasi muda Makassar dapat menjadi duta perdamaian yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, tanpa memandang latar belakang agama.

Fasilitator ice breaking dari Humind Wellbeing Center, Inggrid, mengatakan, hal ini menjadi ajang luar biasa untuk meruntuhkan perbedaan dan menyatukan dalam persamaan. Mereka semua anak bangsa yang perlu dibangun kecintaan kepada sesama. Para murid diajak bermain bersama melalui permainan kekompakan.

Pertemuan ini diakhiri dengan komitmen bersama untuk terus menjaga komunikasi dan kolaborasi di masa depan, demi mewujudkan masyarakat yang harmonis dan saling menghargai.

Akhirnya, menurut Pengasuh PP Ash-Shalihin, Muhammad Kafrawy, bahwa Prasangka Islam tentang Kristen, Kristen terhadap Islam, akhirnya menemukan retaknya. Perjumpaan membuka mata bahwa yang tampak berbeda di permukaan, sejatinya dipersatukan oleh nilai kemanusiaan yang sama. (asmi)

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama