![]() |
| Ummu Jamil meraba-raba lehernya. Di leher itu, ada untaian kalung yang amat indah. Ia mempertontonkan perhiasannya itu kepada Abu Bakar sampai Abu Bakar merasa jengah dan memalingkan wajahnya. |
------
PEDOMAN KARYA
Selasa, 24 Februari 2026
Kisah Nabi Muhammad SAW (30):
Muhammad Berseru
dari Atas Shafa
Penulis: Abu Hasan
Ali An-Nadwi
Rasulullah ï·º menaiki Bukit
Shafa. Kemudian dengan suara lantang, beliau memanggil-manggil, “Wahai
orang-orang Quraisy! Wahai orang-orang Quraisy!”
Penduduk Mekah yang sibuk
dengan urusannya terkejut dan menoleh.
“Muhammad berseru dari atas
Shafa!” seru mereka.
Seketika, orang-orang datang
berduyun sambil bertanya-tanya khawatir, “Ada apa?”
Rasulullah SAW memandang
kerumunan orang di bawah yang menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.
“Bagaimana pendapat kalian
kalau kuberi tahu bahwa di balik bukit ini ada pasukan berkuda yang siap
menyerbu. Percayakah kamu kepadaku?” tanya Rasulullah ï·º.
“Kami percaya!” jawab
orang-orang yang berkerumun itu.
Mereka melanjutkan, “Kami
tidak akan meragukan kata-katamu. Tidak pernah kami mendengar engkau berdusta.”
Rasulullah ï·º menarik napas dan
menyampaikan seruannya, “Aku mengingatkan kalian sebelum datang siksa yang amat
berat! Wahai orang-orang Quraisy, Allah memerintahkan aku untuk memberi
peringatan kepada kalian bahwa yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat
adalah mengucapkan kalimat ‘Laa ilaaha illallaah Muhammadurrasulullah’.”
Sejenak orang-orang tampak
terpesona. Namun, Abu Lahab yang juga hadir di situ, dengan cepat naik darah.
Ia berseru keras-keras mencaci Rasulullah ï·º, “Celaka engkau, Muhammad! Binasa
dan celakalah seluruh hari-harimu! Hanya untuk omong kosong itukah kamu
mengumpulkan kami?”
Rasulullah ï·º tidak berkata
apa-apa dihina sekeras itu. Beliau hanya menatap tajam wajah Abu Lahab. Setelah
teriakan Abu Lahab itu, orang-orang Quraisy seperti disadarkan dari rasa
terpesonanya. Mereka bubar dengan bermacam tingkah. Ada yang mengerutkan
kening, ada yang berbisik-bisik, ada yang melirik Rasulullah SAW sambil
tersenyum mencibir.
Hinaan Abu Lahab itu tidak
dibiarkan Allah. Turunlah firman yang mengutuk perbuatan itu.
Turunnya Surah
Al-Lahab
Allah berfirman: mengutuk Abu
Lahab.
Binasalah kedua tangan Abu
Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
Tidaklah berfaedah kepadanya
harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
Kelak dia akan masuk ke dalam
api yang bergejolak.
Dan (begitu pula) istrinya,
pembawa kayu bakar.
Yang di lehernya ada tali dari
sabut. (Surah Al-Lahab, 111: 1-5)
Wahai Abu Lahab, sekarang apa
yang akan engkau katakan? Dengarlah, keponakanmu Muhammad tidak akan pernah
lagi bungkam terhadap orang yang menentangnya. Keponakanmu Muhammad tidak akan
pernah lagi menerima caci maki dan hinaan dari siapa pun sekali pun dari
pamannya sendiri.
Jika caci maki itu ditujukan
pada ajaran Allah yang dibawanya, keponakanmu Muhammad bahkan siap terjun ke
medan laga untuk menghadapi orang-orang yang sombong dan congkak seperti
dirimu.
Wahai Abu Lahab dengarkanlah!
Dengarkanlah firman Allah yang baru turun itu! Bukankah firman itu seperti
gelegar petir yang menyambar dirimu?
Dirimulah yang binasa, Abu
Lahab! Seluruh hari-harimulah yang binasa! Binasalah kedua tanganmu dan sungguh
engkau akan benar-benar binasa!
Abu Lahab
Nama asli Abu Lahab adalah
Abdul Uzza. Abu Lahab artinya si “Umpan Api”. Bisa dibayangkan betapa sakitnya
hati Rasulullah ï·º dihina Abu Lahab. Abu Lahab adalah paman Rasulullah ï·º.
Lebih dari itu Rasulullah SAW
menikahkan kedua putrinya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum dengan ke dua putra Abu
Lahab, Utbah dan Utaibah.
Ummu Jamil
Selain Abu Lahab, ada seorang
lagi yang amat murka dengan turunnya Surat Al Lahab. Dia adalah Ummu Jamil,
istri Abu Lahab. Begitu mendengar bunyi Surat Al Lahab yang disampaikan orang
kepadanya, hati Ummu Jamil menggelegak marah.
Ia keluar rumah dan berjalan
ke sana kemari mencari sasaran pelampiasan kemarahan. Tidak lama kemudian, ia
bertemu dengan Abu Bakar. Amarahnya naik ke ubun-ubun.
“Apa maksud temanmu
melantunkan syair tentang diriku?” bentak Ummu Jamil kepada Abu Bakar.
Abu Bakar mengerti bahwa yang
dimaksud Ummu Jamil adalah Rasulullah. Sebenarnya, saat itu Rasulullah ada di
sisi Abu Bakar, tetapi Allah menutupi beliau dari pandangan Ummu Jamil.
“Demi Allah, temanku itu tidak
pandai bersyair!” sanggah Abu Bakar.
“Bukankah temanmu itu
mengatakan bahwa di leherku ada tali dari sabut yang dipintal?” tanya Ummu
Jamil.
Ummu Jamil meraba-raba
lehernya. Di leher itu, ada untaian kalung yang amat indah. Ia mempertontonkan
perhiasannya itu kepada Abu Bakar sampai Abu Bakar merasa jengah dan
memalingkan wajahnya.
“Inilah tali sabut yang
dimaksud temanmu itu?” ejek Ummu Jamil sambil tersenyum, “Tidakkah ini
merupakan tali sabut paling indah di dunia?”
Ummu Jamil kemudian
berlenggak-lenggok genit sambil mempermainkan kalungnya. Ia tertawa dengan
congkak. Abu Bakar tidak membalas, beliau cuma memejamkan mata.
Melihat Abu Bakar yang tetap
tenang, Ummu Jamil melengos pergi sambil mengomel, “Semua orang Quraisy tahu
bahwa aku adalah putri kebanggaan mereka!”
Ummu Jamil adalah wanita yang
sangat cantik. Ummu Jamil berarti “Ibu Kecantikan”. Namun, seperti suaminya,
Ummu Jamil sangat membenci Rasulullah dan kaum Muslimin. Begitu bencinya sampai
ia menyuruh budak-budaknya melemparkan kotoran dan batu kepada Rasulullah
setiap kali beliau lewat. (bersambung)
Kisah Nabi Muhammad SAW (29):
Rasulullah Ajak Keluarganya Masuk Islam, Zubair Minta Disuguhi Arak
