------
Kultum Ramadhan:
Ramadhan Bulan Meng-upgred Iman, Bukan
Cuma Update Status
Oleh: Furqan Mawardi
(Muballigh Akar Rumput)
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji
bagi Allah yang kembali mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, bulan
pembaruan, bulan perbaikan, bulan “upgrade” bagi jiwa-jiwa yang ingin
bertumbuh. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ï·º, teladan
dalam konsistensi iman dan keteguhan akhlak.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Hari ini kita hidup di zaman yang serba
cepat. Setiap detik ada pembaruan. Status diperbarui. Story berganti. Timeline
bergerak tanpa henti. Kita terbiasa dengan istilah “update”. Namun Ramadhan
datang dengan satu pertanyaan penting, yakni sudahkah kita meng-update iman
kita?
Kita begitu sigap memperbarui tampilan
luar. Foto terbaik dipilih, kata-kata dirangkai, serta momen terbaik tidak
pernah luput untuk dibagikan.
Tetapi Ramadhan tidak berbicara tentang
apa yang terlihat manusia. Ramadhan berbicara tentang apa yang dilihat Allah.
Puasa adalah ibadah yang sunyi. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah kita
sungguh menahan lapar dan dahaga kecuali Allah. Di sinilah pendidikan itu
dimulai, yakni pendidikan kejujuran tanpa pengawasan.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang
beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan akhirnya bukan sekadar menahan
lapar, tetapi meningkatnya kualitas takwa, dan Itulah “upgrade” yang
sesungguhnya.
Jamaah sekalian,
Generasi hari ini hidup dalam tekanan yang
tidak ringan. Tekanan untuk terlihat sukses. Tekanan untuk selalu relevan.
Tekanan untuk tidak tertinggal. Akibatnya, banyak yang cemas jika tidak diakui,
gelisah jika tidak dipuji, dan merasa kosong ketika tidak diperhatikan.
Ramadhan hadir untuk menata ulang
orientasi itu.
Rasulullah ï·º bersabda:
Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ لاَ ÙŠَÙ†ْظُرُ Ø¥ِÙ„َÙ‰ صُÙˆَرِÙƒُÙ…ْ
ÙˆَØ£َÙ…ْÙˆَالِÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙ„َÙƒِÙ†ْ ÙŠَÙ†ْظُرُ Ø¥ِÙ„َÙ‰ Ù‚ُÙ„ُوبِÙƒُÙ…ْ ÙˆَØ£َعْÙ…َالِÙƒُÙ…ْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan
harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Perkataan nabi ini sangat revolusioner.
Bahwa nilai seorang manusia di sisi
Allah bukan pada seberapa banyak yang melihat kita, tetapi seberapa tulus hati
kita.
Maka Ramadhan bukan tentang tampil lebih
religius di hadapan manusia. Namun ramadhan adalah tentang menjadi lebih jujur
di hadapan Allah.
Hadirin yang dimuliakan oleh Allah. Bagaimana
kita tahu iman kita sedang meningkat? Bukan hanya karena status kita bernuansa Islami.
Bukan hanya karena unggahan kita bertema Ramadhan.
Tetapi ketika sudah mulai dengan: Lisan
kita lebih terjaga, emosi kita lebih
terkendali, hati kita lebih lembut,
serta kepedulian sosial makin meningkat.
Jika sebelum Ramadhan kita mudah marah,
lalu kini lebih sabar itulah upgrade. Jika dulu lalai shalat, kini lebih tepat
waktu itulah upgrade.
Jika dulu sulit memaafkan, kini lebih
lapang itulah upgrade.
Itulah pembaruan yang sejati. Jangan
Biarkan Ramadhan Berlalu Tanpa Perubahan
Jamaah yang dirahmati Allah,
Setiap aplikasi butuh pembaruan agar tidak
usang. Setiap perangkat butuh peningkatan agar tidak tertinggal. Dan hati kita
pun butuh Ramadhan agar tidak mengeras. Jangan sampai Ramadhan hanya ramai di
media sosial, tetapi sepi di dalam hati.
Jangan sampai status berubah, tetapi
karakter tetap sama. Mari kita jadikan bulan ini sebagai momentum pembaruan
total. Bukan hanya memperindah tampilan luar, tetapi memperkuat fondasi dalam.
Kita tutup dengan doa: Ya Allah, perbarui
iman kami. Perindah akhlak kami. Jadikan Ramadhan ini titik balik kehidupan
kami. Dan jangan Engkau biarkan bulan suci ini berlalu tanpa perubahan dalam
diri kami. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
